NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Di dalam ruangan Bu Ani, udara sejuk pendingin udara berbaur dengan aroma kertas buku. Devan yang sedang berdiri menanti Bu Ani menyelesaikan stempel dokumen langsung menyadari kehadiran dua sosok gadis yang baru saja masuk. Sudut matanya melirik ke arah pintu, berharap menemukan satu sosok lagi yang biasa berada di sana. Namun, pintu kayu itu kembali tertutup, dan hanya ada Adel serta Jesica.

Melihat kedatangan dua sahabat Alya, Bima langsung menyenggol lengan Raka. Senyum jahilnya yang khas mulai mengembang.

"Ehem! Ada duo heboh nih," goda Bima sembari menaik-naikkan alisnya. Ia kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dengan raut pura-pura bingung, lalu melirik Devan dengan tatapan penuh godaan. "Eh, tunggu dulu... kok cuma berdua? Trio maut IPA 1 biasanya kan kayak paket hemat, nempel terus bertiga. Mana si Alya, Jes?"

Raka ikut menimpal sambil terkekeh pelan. "Iya nih, padahal ada yang dari tadi matanya udah celingukan kayak kehilangan induk ayam."

Devan mendengus pelan, menatap Bima dan Raka dengan tatapan peringatan, walau sejujurnya telinganya sendiri mendadak tajam menunggu jawaban.

Adel yang sedang memegang amplop cokelatnya mendesah pelan, sama sekali tidak berniat meladeni gurauan Bima. "Alya ada di luar, lagi duduk di bangku koridor," jawab Adel jujur dengan nada suara yang sedikit redup.

"Lho? Kenapa kagak diajak masuk sekalian? Di luar kan mulai panas," sahut Bima lagi, masih penasaran.

"Alya belum bawa uangnya hari ini," potong Jesica, mewakili perasaan sahabatnya. "Dia bilang gak enak kalau cuma masuk dan berdiri di dalam tanpa ngapa-ngapain, makanya dia milih menunggu di luar aja."

*Deg.*

Kalimat sederhana dari Jesica bagaikan kunci yang membuka seluruh teka-teki di kepala Devan. Seketika, potongan-potongan kejadian sejak kemarin tersusun sempurna. Wajah pucat Alya, matanya yang redup dan penuh beban di lapangan, tatapan lamunannya yang hampir membuat gadis itu tertabrak mobil Devan di parkiran, hingga rumah kayu sederhana di ujung gang sempit yang Devan datangi diam-diam kemarin sore.

Devan mengepalkan tangannya di dalam saku celana. *Jadi ini alasannya,* batin Devan meringis perih. Alya tidak sedang sakit fisik. Gadis genius itu sedang dihantam kenyataan pahit, berjuang sendirian memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang pembayaran *study tour* yang wajib itu tanpa harus membebankan orang tuanya.

Devan menarik napas panjang. Setelah menyelesaikan urusannya dengan Bu Ani, ia melangkah keluar ruangan. Dari sudut matanya saat melewati pintu, ia melihat Alya terduduk menunduk di bangku kayu luar, tampak begitu kecil dan rapuh di tengah beban besar yang dipikulnya. Devan menahan diri untuk tidak mendekat saat itu juga, tahu betul bahwa menghampirinya di depan umum hanya akan merusak benteng harga diri yang dijaga rapat oleh gadis itu.

Saat bel istirahat pertama berbunyi, Devan menarik ketiga temannya ke area tribun lapangan basket yang sepi. Angin berhembus cukup kencang, menerpa rambut Devan yang berantakan.

"Ada apa sih, Dev? Muka lo serius amat kayak mau bagi-bagi warisan," cetus Raka heran sambil menduduki undakan semen tribun.

Devan bersedekap, menatap Raka, Bima, dan Reno secara bergantian. "Kemarin sore gua ngikutin Alya pulang."

"APA?!" Bima hampir saja menyemburkan air mineral yang baru diminumnya. "Lo... seorang Devan Narendra, ngikutin cewek pulang?! Demi apa?!"

"Dengerin gua dulu," potong Devan tegas, membuat ketiganya membisu. Devan pun menceritakan semuanya secara detail. Tentang Alya yang hampir tertabrak karena melamun memikirkan biaya, tentang gang sempit dan rumah kayu papan milik keluarga Alya yang sangat sederhana, hingga alasan Alya yang enggan masuk ke ruang guru tadi pagi.

Raka, Bima, dan Reno membatu. Candaan dan godaan yang tadinya hendak meluncur dari mulut mereka mendadak menguap tanpa sisa.

"Gua mau bayarin biaya *study tour* dia," ujar Devan lurus, tanpa keraguan sedikit pun di matanya. "Tapi gua tahu Alya. Dia punya harga diri yang tinggi banget. Kalau gua langsung kasih uangnya atau bayarin atas nama gua, dia pasti bakal nolak mentah-mentah dan ngerasa dikasihani."

Reno menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah tak percaya. Ia menatap Devan seolah-olah sahabatnya itu baru saja berubah menjadi orang lain. "Gila... sumpah, Dev. Ratusan cewek kaya, anak pejabat, sampai model yang ngejar-ngejar lo dari dulu kagak ada yang bisa bikin lo kayak gini. Malah Alya... cewek yang hidupnya serba pas-pasan dan sama sekali kagak ngelirik lo, yang berhasil bikin lo sedalam ini."

"Gua kagak peduli dia kaya atau miskin," sahut Devan dingin namun penuh penekanan. "Dia beda. Dan gua gak bisa diam aja ngeliat dia menderita sendirian."

Bima menghembuskan napas panjang, menepuk bahu Devan. "Oke, Bos. Kita percaya lo udah bucin tingkat dewa. Sekarang masalahnya, gimana cara bantu dia tanpa bikin dia merasa tersinggung?"

Sementara itu, di sudut meja kantin yang agak terpencil, suasana tak kalah haru tengah terjadi.

Adel dan Jesica menatap Alya yang hanya mengaduk-aduk es teh manisnya tanpa berniat meminumnya. Sejak kemarin, kedua sahabatnya itu bukanlah orang bodoh. Mereka sangat tahu kondisi ekonomi keluarga Alya, dan mereka sadar betul bahwa keheningan Alya sejak pengumuman Bu Ani adalah karena masalah biaya.

Adel tiba-tiba merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah amplop tebal lalu mendorongnya perlahan ke hadapan Alya di atas meja.

Alya tersentak, menghentikan adukan sedotannya. Ia menatap amplop itu, lalu beralih menatap Adel dan Jesica bergantian dengan dahi berkerut. "Ini... apa, Del?"

"Al," Jesica membuka suara dengan nada lembut, menggenggam tangan Alya yang dingin di atas meja. "Kita sahabat lo. Kita tahu lo lagi bingung mikirin biaya *study tour*, kan?"

"Gue sama Jesica udah sepakat," sambung Adel mantap, menatap mata Alya tulus. "Ini uang tabungan kita berdua. Cukup kok buat melunasi biaya lo. Lo pakai ini dulu ya, Al? Gak usah dipikirin kapan balikinnya. Yang penting lo ikut sama kita."

Dada Alya berdesir hebat. Rasa hangat dan haru menjalar di sekujur tubuhnya melihat kebaikan kedua sahabatnya. Matanya mendadak berkaca-kaca, menahan bulir air mata yang hampir saja menetes. Sungguh, memiliki Adel dan Jesica adalah salah satu anugerah terbesar dalam hidupnya.

Namun, perlahan tapi pasti, Alya mendorong kembali amplop tersebut ke arah Adel. Wajahnya yang pucat menampilkan senyuman paling tulus, namun sarat akan penolakan yang tak bisa diganggu gugat.

"Del, Jes... terima kasih banyak," suara Alya bergetar pelan. "Aku bener-bener terharu dan bersyukur punya sahabat kayak kalian. Tapi... aku gak bisa terima uang ini."

"Tapi kenapa, Al?!" protes Adel emosional. "Ini bukan kasihan! Kita sahabat lo! Cuma ini yang bisa kita bantu!"

"Aku tahu kalian tulus," potong Alya halus, menatap kedua sahabatnya dengan pandangan teduh namun kokoh. "Tapi dari kecil, Orang tua aku selalu ngajarin aku untuk berdiri di atas kaki sendiri. Aku gak mau merepotkan kalian. Uang ini hasil tabungan kalian sendiri, kalian berhak pakainya buat kebutuhan kalian."

"Alya, tapi waktunya cuma sampai hari Jumat!" seru Jesica cemas. "Kalau lo gak bayar, nilai sejarah lo gimana? Beasiswa lo gimana?"

Alya menggenggam erat tangan Jesica dan Adel, memberikan ketenangan yang anehnya sanggup membungkam kecemasan kedua sahabatnya itu.

"Masih ada waktu dua hari," bisik Alya tegas, menguatkan dirinya sendiri. "Aku bakal cari jalan keluar sendiri. Kalaupun nanti aku benar-benar gak bisa ikut... itu berarti memang belum rezeki aku. Tapi tolong, biarkan aku berjuang dulu dengan cara aku sendiri ya?"

Adel dan Jesica saling melempar pandang dengan mata berkaca-kaca. Mereka tahu, jika Alya sudah mengeluarkan keputusan dengan raut wajah seperti itu, tak ada seorang pun di dunia ini yang sanggup meruntuhkan pendiriannya.

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!