NovelToon NovelToon
Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Elang

"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.

Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.

Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.

Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7 — Bayi di Atas Feri

Surya menatap kartu nama Prof. Tarmidi, lalu mengembalikannya dengan kedua tangan.

"Terima kasih, Prof. Tapi saya tidak bisa menerima."

Alis profesor itu terangkat. "Karena nominalnya?"

"Bukan. RSUD Dr. Soetomo memberi saya kesempatan saat seluruh internet memanggil saya pembunuh. Pak Hendra juga ada di sana ketika saya belum punya apa-apa. Saya belum ingin pergi."

Prof. Tarmidi tidak tersinggung. "Loyalitas itu mahal, Dokter Surya. Pastikan rumah sakitmu tahu nilainya."

Pak Hendra memastikan mereka tahu.

Dua hari kemudian, dia memasuki kantor Direktur sambil membawa salinan tawaran RS Dharmais. Surya duduk di sisi meja. Pak Bambang membaca angka Rp500.000.000 per tahun, lalu memijat pangkal hidungnya.

"Anggaran awal kita untuk dokter baru adalah Rp400.000.000," katanya.

"Kalau begitu biarkan dia ke Jakarta," jawab Pak Hendra.

Surya menoleh. "Bapak—"

"Diam. Bapak sedang menjualmu mahal."

Pak Bambang meletakkan kertas. "Empat ratus juta sudah jauh di atas dokter umum baru. Bayu menerima angka itu karena rekomendasi khusus keluarganya."

"Bayu tidak punya bagian jasa tindakan seperti yang kita minta untuk Surya. Dan Bayu belum pernah menyelesaikan operasi yang ditinggalkan profesor."

"Hendra, saya mengelola rumah sakit pemerintah. Berhenti memperlakukan perekrutan seperti transfer pemain sepak bola."

"Bagus. Berarti jangan kehilangan pemain terbaik karena pelit."

Negosiasi berjalan hampir satu jam. Pak Hendra membawa data operasi, jumlah pasien, dampak publik, dan tawaran eksternal. Dia tidak meminta rumah sakit mengabaikan aturan. Dia meminta kontrak yang mengikat Surya sebagai dokter umum setelah proses kelulusan dan registrasi selesai, dengan kewenangan tindakan bertahap di bawah kredensial komite medik.

Pak Bambang akhirnya menyandarkan tubuh.

"Rp700.000.000 per tahun, ditambah jasa tindakan sesuai kredensial. Evaluasi setiap enam bulan. Tidak ada loncatan kewenangan tanpa persetujuan komite."

Pak Hendra mengulurkan tangan. "Setuju."

"Saya belum bicara dengan Surya."

"Anak saya pintar. Dia setuju."

Surya melihat angka pada kontrak. Gaji setahun itu lebih besar daripada jumlah uang yang pernah dilihat ibunya sepanjang hidup. Namun yang membuat dadanya hangat adalah satu kalimat di bawahnya: penempatan utama di IGD, di bawah supervisi dr. Hendra Susanto.

"Saya setuju, Pak Direktur."

Tanda tangannya mengering di atas materai.

Beberapa hari kemudian, Surya dan Rizki mendapat hari libur singkat. Mereka menaiki kapal feri dari Surabaya menuju Madura untuk memenuhi undangan komunitas medis sekaligus mengantar dokumen kerja sama.

"Tujuh ratus juta setahun," kata Rizki di dek penumpang. "Traktir saya kopi saja masih hitung-hitungan."

"Kalau saya traktir terus, kamu tidak belajar mandiri."

"Saya tidak butuh pendidikan karakter. Saya butuh es kopi."

Seorang pramugari kapal bernama Mei tertawa saat melewati mereka. "Yang satu dokter kaya, yang satu korban kelaparan?"

Rizki langsung merapikan rambut. "Mbak bisa membedakan hanya dengan sekali lihat. Hebat."

"Bisa. Yang kelaparan paling berisik."

Sebelum Rizki sempat membalas, jeritan terdengar dari bagian tengah kabin.

"Tolong! Ada yang hamil!"

Surya berlari.

Seorang perempuan terbaring di antara kursi. Roknya basah oleh darah dan cairan ketuban. Kontraksi datang cepat. Suaminya berlutut di sampingnya, panik sampai tangannya tidak mampu membuka ponsel.

"Usia kandungan?" tanya Surya.

"Tiga puluh delapan minggu. Rekam medisnya di Malang. Kami mau pulang setelah mengunjungi keluarga."

Surya memeriksa kondisi ibu. Bayi sudah turun. Tak ada waktu untuk menunggu kapal berbalik atau ambulans tiba di dermaga.

"Mei, minta kapten hubungi PSC 119 dan siapkan ruang paling bersih. Rizki, cari kotak medis, kain bersih, sarung tangan, dan lampu tambahan."

Tiga penumpang maju sambil menunjukkan kartu identitas dokter spesialis. Seorang internis, seorang dokter anak, dan seorang ahli bedah.

"Anda dokter kandungan?" tanya salah satunya.

"Bukan."

"Kalau begitu jangan ambil alih persalinan berisiko. Kita tunggu evakuasi."

Perempuan itu menjerit. Kepala bayi sudah tampak.

Surya menatap dokter tersebut. "Evakuasi tidak bisa menghentikan bayi yang lahir sekarang. Kalau Dokter punya rencana lebih cepat, silakan bicara sambil membantu."

Tak ada jawaban.

Persalinan berlangsung di ruang kru yang dikosongkan. Surya memandu napas ibu, melindungi perineum, dan mengendalikan keluarnya bahu. Beberapa menit kemudian, tangis bayi memecah suara mesin kapal.

Rizki mengembuskan napas lega. Dokter anak menerima bayi, mengeringkan dan menilai napasnya.

Namun darah terus mengalir dari ibu.

Rahimnya tidak berkontraksi dengan baik.

"Atonia uteri," kata Surya. "Mulai pijat uterus. Pasang jalur cairan kedua."

Obat uterotonik dari kotak emergensi diberikan, tetapi perdarahan belum cukup berkurang. Wajah ibu semakin pucat. Nadi naik cepat.

Salah satu dokter spesialis menggeleng. "Dia butuh kamar operasi."

"Benar. Dan dia bisa kehabisan darah sebelum sampai."

Surya meminta set jahit darurat kapal. Peralatannya terbatas, tetapi cukup untuk tindakan penyelamatan sementara. Dengan bantuan dokter lain dan persetujuan suami yang dicatat melalui komunikasi darurat, Surya melakukan kompresi uterus dan jahitan B-Lynch untuk menekan perdarahan.

Jarum melintasi jaringan pada posisi yang tepat. Benang dikencangkan bertahap, cukup kuat untuk memberi kompresi tanpa merusak rahim.

Aliran darah berkurang.

Lalu berhenti menjadi ancaman langsung.

Dokter ahli bedah yang tadi meragukannya memandangi pola jahitan. "Itu... bersih sekali."

"Tekanan darah naik," lapor Rizki.

Mei berdiri di pintu sambil memeluk bayi yang sudah dibungkus selimut kapal. "Namanya siapa?"

Sang ibu, masih lemah, menoleh kepada Surya. "Dokter saja yang memberi nama sementara."

Surya melihat getaran lantai di bawah kakinya.

"Feri," katanya. "Supaya dia tidak pernah lupa tempat pertama kali berteriak pada dunia."

Orang-orang tertawa lega.

Kapal merapat kembali ke sisi Surabaya untuk evakuasi. Ambulans rujukan yang berkoordinasi dengan dokter kandungan pasien membawa ibu dan bayi menuju RSUD Kota Malang setelah kondisinya stabil dan cadangan darah disiapkan sepanjang jalur. Surya serta Rizki ikut memastikan serah terima klinis lengkap.

Di rumah sakit, dokter obgin memeriksa jahitan dan mengangguk berkali-kali. "Tidak perlu koreksi. Ini teknik buku teks."

Tiga dokter spesialis dari kapal akhirnya bertanya kepada Pak Hendra melalui sambungan video.

"Dokter Surya residen tahun berapa?"

Pak Hendra tersenyum lebar di layar. "Residen? Dia baru menyelesaikan tahap dokter muda dan kontraknya saja masih hangat."

Ketiganya menoleh bersamaan kepada Surya.

"Hanya dokter muda?"

Rizki menyeringai. "Saya sudah bilang, jangan menilai dari muka muda."

Mei berdiri di sampingnya. "Anda tidak pernah bilang apa-apa."

"Saya menyampaikannya lewat aura."

"Aura lapar?"

Saat mereka kembali ke Surabaya malam berikutnya, Pak Hendra menunggu dengan satu berkas operasi.

"Gunawan mengusulkan kamu untuk transplantasi hati berisiko tinggi," katanya.

Surya membuka berkas itu. Pasiennya rapuh. Waktu iskemia donor akan sempit. Satu kegagalan bisa menyeret nama Direktur, Pak Hendra, dan dirinya sekaligus.

"Sejak kapan Pak Gunawan percaya pada saya?"

Pak Hendra menyipitkan mata.

"Itulah masalahnya. Dia tidak percaya. Dia sedang memasang jebakan."

1
Mayang
jangan mendadak tamat y thor/Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!