Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Klak klak klak.
Sembilan pria lainnya ikut mengokang senjata mereka dengan wajah penuh niat membunuh.
Sony sama sekali tidak terlihat takut ditodong oleh puluhan senjata mematikan.
Dia malah tersenyum lebar menatap mereka dari atas.
"Aku sedang mencari pria paruh baya bernama Viktor."
"Kalian beri tahu dia bahwa mimpi buruknya sudah datang menjemput."
Sony berbicara dengan nada suara yang menggema memenuhi seluruh ruangan bawah tanah itu.
"Berani sekali kau menyusup kemari bocah."
"Tembak dia sekarang juga sampai mati."
Pria berbadan besar itu langsung menarik pelatuk senapannya tanpa ragu.
Dor dor dor.
Rentetan peluru panas melesat cepat ke arah posisi Sony berdiri.
Percikan api dari ujung laras senapan menerangi ruangan gelap itu.
Brak trang.
Peluru-peluru itu hanya menghantam pagar besi dan dinding beton di belakangnya.
Sony sudah menghilang dari balkon itu dalam sekejap mata.
"Ke mana perginya keparat itu?"
"Terus awasi semua sudut ruangan, dia pasti bersembunyi di sekitar sini."
Para penjahat itu mulai kebingungan dan memutar arah moncong senjata mereka.
Tiba-tiba, suara sedingin es terdengar tepat dari tengah-tengah kerumunan mereka.
"Aku ada di sini, teman-teman."
Wush.
Sony tiba-tiba muncul di antara dua orang penjahat bersenjata api.
Tangannya bergerak secepat kilat menebas leher bagian belakang mereka berdua.
Brak krak.
Dua orang penjahat itu langsung pingsan dan ambruk ke lantai tanpa sempat berteriak.
"Itu dia, cepat tembak kepalanya."
Penjahat lainnya langsung menembakkan senjata mereka dengan panik ke arah Sony.
Dor dor.
Sony merunduk dengan sangat luwes menghindari terjangan peluru mematikan itu.
Dia lalu menendang salah satu meja kayu tebal hingga terbalik ke udara.
Brak.
Meja kayu itu menghantam tiga orang penjahat hingga mereka terpental ke belakang.
"Arghhh."
Mereka mengerang kesakitan saat tulang rusuk mereka patah terkena hantaman meja.
Kini hanya tersisa lima orang penjaga yang masih berdiri dengan wajah pucat pasi.
Mereka tidak pernah melihat manusia yang bisa bergerak secepat bayangan seperti ini.
"M-monster."
"Tembak dia terus jangan sampai berhenti."
Mereka memberondong peluru secara membabi buta ke segala arah karena ketakutan.
Namun tembakan membabi buta itu sama sekali tidak ada yang mengenai tubuh Sony.
Sony memanfaatkan kepanikan mereka dengan sangat sempurna.
[Mata Dewa menganalisis kelemahan lima target tersisa]
[Semua target memiliki titik buta di area pertahanan atas kepala]
Sony melompat tinggi ke udara menggunakan tumpuan sebuah kursi besi.
Dia berputar di udara dan mendaratkan tendangan memutar ke wajah dua penjaga sekaligus.
Bugh bugh.
Dua penjaga itu langsung terlempar menghantam dinding beton hingga tidak sadarkan diri.
Darah segar mengalir dari hidung dan mulut mereka yang hancur.
Sony mendarat dengan mulus di lantai dan langsung melesat ke arah tiga penjaga terakhir.
Trak krak krak.
Hanya dalam waktu kurang dari dua detik, Sony sudah mematahkan pergelangan tangan mereka semua.
Senjata api mereka berjatuhan ke lantai dengan suara berdentang keras.
"Ampun, tolong jangan bunuh kami."
Tiga penjaga terakhir itu langsung berlutut menangis meminta ampun pada Sony.
Mental bertarung mereka sudah hancur lebur melihat kekuatan mutlak pemuda itu.
Sony mengibas-ngibaskan kedua tangannya yang bersih tanpa ada noda darah sedikit pun.
Dia sama sekali tidak berniat membunuh cecunguk kelas bawah ini malam ini.
"Kalian tidurlah yang nyenyak di lantai kotor ini."
Sony menendang tengkuk mereka bertiga satu per satu hingga mereka jatuh pingsan seketika.
Bruk bruk bruk.
Suasana ruangan bawah tanah itu kembali menjadi sangat hening.
Hanya terdengar erangan pelan dari para penjahat yang terkapar di lantai.
Ting.
[Sistem Pemberitahuan: Seluruh penjaga lapis pertama berhasil dilumpuhkan]
[Tuan tidak menerima kerusakan fisik sama sekali]
Sony mengabaikan kotak biru itu dan memusatkan pandangannya ke arah ruangan kaca di ujung.
Pintu ruangan kaca itu perlahan terbuka dari dalam.
Seorang pria paruh baya bersetelan jas merah marun melangkah keluar sambil merokok cerutu.
Itu adalah Viktor, sang pemimpin cabang Sindikat Bayangan yang selama ini dicari oleh Sony.
Viktor sama sekali tidak terlihat panik melihat seluruh anak buah elitnya dikalahkan.
Dia menatap Sony dengan pandangan dingin dan penuh perhitungan.
"Kau punya nyali yang sangat besar untuk membuat kekacauan di rumahku, Sony."
Viktor bersuara dengan nada serak yang menggema menakutkan.
"Aku sudah menunggumu datang sejak pagi tadi."
Sony membalas tatapan pria tua itu dengan senyum seringai yang jauh lebih mematikan.
"Kau seharusnya lari dan bersembunyi saat tahu aku mulai mencari namamu, Viktor."
"Karena malam ini, markas kebanggaanmu ini akan menjadi kuburan massal untuk kalian semua."
Viktor malah tertawa keras mendengar ancaman arogan dari pemuda di depannya itu.
Hahaha.
Dia membuang cerutunya ke lantai dan menginjaknya hingga padam.
"Kau boleh saja merasa hebat setelah mengalahkan tikus-tikus bodohku ini, bocah."
"Tapi kau tidak akan bisa keluar dari ruangan ini hidup-hidup setelah bertemu dengan mereka."
Viktor menepukkan kedua tangannya sebanyak tiga kali ke udara.
Plok plok plok.
Seketika, dari balik bayangan gelap di belakang Viktor, muncul dua sosok tinggi besar.
Mereka berdua mengenakan pakaian serba hitam dengan topeng baja menutupi separuh wajah.
Keduanya membawa senjata tajam berupa pedang melengkung yang sangat panjang.
Aura membunuh yang pekat langsung menguar kuat dari tubuh kedua orang itu.
"Perkenalkan, ini adalah Si Kembar Hitam dari markas pusat organisasiku."
"Mereka akan memenggal kepalamu dan menjadikannya hiasan di meja kerjaku malam ini."
Viktor tersenyum sangat lebar merasa kemenangan sudah berada di pihak mutlaknya.
Sony menatap tajam ke arah dua pembunuh bayaran legendaris tersebut.
Mata Dewanya mulai berdenyut pelan menganalisis energi yang dipancarkan oleh musuh barunya.
Pertarungan hidup dan mati yang sesungguhnya di markas gelap ini akhirnya benar-benar dimulai.