"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.
Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Clara memilih tempat yang salah untuk mempermalukan Naira.
Ia mengundang Dimas, beberapa dokter muda, dua influencer kesehatan, dan teman-teman lama mereka ke sebuah klub menembak eksklusif di pinggir Jakarta. Alasannya sederhana: acara amal untuk korban kecelakaan lalu lintas. Ada sesi donasi, makan siang, dan permainan menembak sebagai hiburan.
Alasan sebenarnya lebih sederhana.
Clara ingin menunjukkan bahwa Naira hanya kebetulan berani di ruang operasi karena semua orang memberinya panggung.
Di tempat yang tidak bisa disembunyikan dengan teori medis, Naira akan terlihat biasa.
Atau begitulah yang Clara pikirkan.
Naira datang karena Dokter Bagus meminta. Klub itu juga menggalang dana untuk pasien yang kemarin ia operasi. Naira tidak suka acara sosial seperti itu, tetapi keluarga pasien memohon agar ia hadir sebentar.
Begitu ia masuk, Clara langsung menyambut dengan senyum hangat.
"Mbak Naira, terima kasih sudah datang. Aku kira Mbak sibuk sekali."
"Aku memang sibuk."
Senyum Clara kaku setengah detik.
Dimas berdiri di belakang Clara. Ia tampak ingin mendekat, tetapi menahan diri. Sejak kejadian di rumah sakit, ia beberapa kali mengirim pesan kepada Naira. Semua hanya dibalas oleh Maya jika berkaitan dengan dokumen.
Rendi juga ada, bersama dua teman Dimas yang dulu sering menertawakan Naira di acara keluarga.
"Wah, Bu Naira ikut main juga?" salah satu dari mereka berkata. "Hati-hati ya. Ini bukan pisau dapur."
Beberapa orang tertawa.
Dimas menatap temannya. "Jaga bicara."
Naira melirik Dimas.
Terlambat sekali pria itu belajar menegur.
Clara cepat menengahi. "Ah, bercanda saja. Mbak Naira pasti tidak tersinggung. Tapi kalau Mbak tidak nyaman, tidak perlu ikut sesi menembak."
"Aku ikut."
Clara berkedip. "Yakin?"
"Kamu mengundangku untuk itu, kan?"
Kali ini beberapa orang benar-benar diam.
Instruktur klub datang menjelaskan aturan. Senjata yang dipakai adalah pistol standar latihan, peluru diawasi ketat, jarak target seratus meter untuk peserta lanjutan dan lima puluh meter untuk pemula.
Clara langsung berkata, "Untuk Mbak Naira, mungkin yang dua puluh lima meter saja."
Instruktur menatap Naira. "Ibu pernah latihan sebelumnya?"
Naira mengambil pelindung telinga dari meja. "Pernah."
"Level?"
"Cukup agar tidak menembak kaki sendiri."
Instruktur tertawa, mengira itu lelucon.
Raka yang baru masuk dari pintu samping mendengarnya dan tersenyum tipis.
Naira menoleh. "Kamu kenapa di sini?"
"Donatur."
"Tentu."
Raka berdiri tidak jauh darinya, tetapi tidak mendekat. Sejak Naira memperingatkan soal batas, ia memang menjaga jarak fisik dengan disiplin yang hampir menyebalkan.
Dimas melihat Raka dan rahangnya mengeras.
Clara menangkap itu.
Ia tersenyum lebih manis.
"Mbak Naira mau coba dulu? Tidak apa kalau meleset. Kita semua di sini belajar."
Naira memakai pelindung telinga, mengambil pistol, mengecek magazine, chamber, safety, lalu mengangkat senjata.
Gerakannya terlalu rapi.
Instruktur yang tadi santai langsung berdiri tegak.
Dimas melihat tangan Naira.
Stabil.
Tidak ada gemetar. Tidak ada gerakan pamer. Hanya efisiensi dingin yang pernah ia lihat sekilas saat Naira keluar dari ruang operasi.
"Target seratus meter," kata Naira.
Clara tertawa kecil. "Mbak, tidak perlu memaksakan diri."
Naira tidak menjawab.
Tembakan pertama berbunyi.
Lalu kedua.
Ketiga.
Keempat.
Kelima.
Tidak ada jeda panjang. Tidak ada drama. Setelah peluru kelima, Naira menurunkan pistol dan melepas pelindung telinga.
Petugas target yang memeriksa layar terdiam.
Instruktur mendekat. "Hasilnya?"
Petugas itu menelan ludah.
"Lima tembakan. Semua masuk sepuluh."
Ruangan latihan mendadak hening.
Salah satu teman Dimas tertawa gugup. "Mungkin targetnya error."
Instruktur langsung menatapnya. "Sistem digital kami baru dikalibrasi pagi ini."
Clara menatap layar dengan wajah pucat.
"Tidak mungkin," bisiknya.
Naira meletakkan pistol di meja. "Mau coba jarak lain?"
Tidak ada yang menjawab.
Raka bertepuk tangan pelan satu kali.
"Bagus."
Naira menatapnya. "Jangan mulai."
Raka langsung berhenti.
Dimas melihat interaksi itu dengan dada sesak. Raka hanya berkata satu kata, dan Naira memperingatkannya. Pria itu patuh. Sementara selama lima tahun, Dimas membuat Naira mengulang luka yang sama berkali-kali.
Clara memaksa tersenyum. "Hebat sekali, Mbak. Aku tidak tahu Mbak punya hobi seperti ini."
"Aku juga tidak tahu kamu punya hobi mengatur kemampuan orang lain."
Beberapa orang menahan napas.
Wajah Clara memerah. "Aku hanya..."
Sebelum ia selesai, salah satu peserta pria yang sejak tadi minum kopi di sudut mengambil pistol latihan dari meja sebelah. Gerakannya terlalu cepat dan salah. Moncong pistol mengarah ke Naira saat ia bercanda dengan temannya.
Instruktur berteriak, "Senjata turun!"
Tapi Clara, yang berdiri paling dekat dengan meja, refleks mundur dan menyenggol lengan pria itu.
Pistol terangkat.
Semua terjadi dalam satu detik.
Naira bergerak sebelum suara panik selesai. Ia memutar tubuh, menendang pergelangan pria itu, lalu menangkap pistol yang terlepas di udara. Dalam gerakan yang sama, ia mengunci safety dan menahan tangan pria itu ke meja.
Pria itu berteriak kesakitan.
Ruangan membeku.
Naira menatapnya. "Jari tidak masuk trigger kalau tidak siap menembak. Itu aturan pertama."
Instruktur bergegas mengambil pistol. Wajahnya pucat. "Maaf, Dok. Ini kelalaian kami."
"Kelalaianmu hampir membunuh orang."
Clara berdiri gemetar. "Aku tidak sengaja. Aku cuma kaget."
Naira menoleh padanya. "Kamu selalu tidak sengaja saat sesuatu hampir melukaiku."
Dimas melangkah mendekat. "Naira..."
"Jangan."
Satu kata itu menghentikannya.
Raka sudah berada di sisi lain, tetapi tetap tidak menyentuh Naira. Matanya dingin menatap pria yang memegang pistol tadi.
"Nama," katanya kepada Hanif.
Hanif langsung mencatat.
Naira menatap Raka. "Tidak perlu."
"Perlu. Ini acara amal. Standar keamanan mereka buruk."
"Laporkan resmi. Jangan macam-macam."
"Aku tahu."
Jawaban itu terlalu patuh lagi.
Clara melihatnya. Rasa takut dan iri bercampur di wajahnya.
Ia baru sadar masalahnya bukan hanya Naira ternyata dokter.
Naira juga perempuan yang bisa membuat pria seperti Raka Wiratama menahan diri.
Dan itu jauh lebih berbahaya daripada lima peluru yang tepat di tengah sasaran.
Setelah acara dibubarkan, Dimas mengejar Naira sampai area parkir.
"Aku antar pulang."
Naira membuka pintu mobilnya. "Tidak perlu."
"Kamu hampir celaka."
"Aku menyelamatkan diri."
"Aku tahu, tapi..."
"Itu masalahmu, Dimas." Naira menatapnya. "Kamu baru ingin berada di dekatku setelah tahu aku bisa pergi tanpa kamu."
Dimas terdiam.
Mobil Naira pergi.
Di belakangnya, Raka tidak mengejar. Ia hanya berdiri di dekat mobilnya sendiri, menatap Dimas sebentar.
"Kamu membiarkan perempuan seperti itu merasa sendirian selama lima tahun."
Dimas mengepalkan tangan. "Itu bukan urusanmu."
Raka membuka pintu mobil. "Benar. Itu dosa kecilmu sendiri."
Mobil Raka melaju pergi, meninggalkan Dimas di parkiran dengan suara tembakan yang masih berdenging di kepalanya.
Di dalam mobilnya, Clara duduk sendirian dan menatap tangannya yang masih gemetar.
Ia tidak takut pada pistol tadi. Bukan itu.
Ia takut pada cara semua orang melihat Naira setelah lima tembakan itu. Tidak ada lagi tawa, tidak ada lagi nada meremehkan. Bahkan instruktur klub menunduk ketika Naira bicara, seperti murid yang ketahuan salah.
Clara membuka kamera depan ponsel. Matanya masih cantik, wajahnya masih lembut. Selama ini, wajah seperti itu cukup untuk membuat orang percaya.
Tapi Naira tidak pernah menangis untuk dipercaya.
Naira hanya bergerak, dan orang-orang diam.
Ponsel Clara bergetar.
Tania: Clar, hati-hati. Kayaknya Naira bukan orang biasa.
Clara mengetik balasan.
Justru karena itu dia harus dijatuhkan sebelum semua orang tahu.
Ia menatap pesan itu beberapa detik, lalu menghapusnya sebelum terkirim. Untuk sekarang, ia harus tetap menjadi perempuan baik.
Di sisi lain parkiran, Dimas masih belum masuk mobil.
Ia melihat bekas garis putih di lantai tempat Naira berdiri saat menembak. Lima peluru, lima titik sempurna. Tidak ada kebetulan di sana.
Rendi berkata pelan, "Pak, Dokter Clara menunggu."
Dimas mengangguk, tetapi matanya tetap pada garis itu.
"Rendi, cari tahu di mana Naira pernah belajar menembak."
"Baik, Pak."
Dimas masuk mobil dengan perasaan bahwa setiap jawaban baru tentang Naira hanya akan membuka pertanyaan yang lebih menyakitkan.
Namun ia tetap ingin tahu.