NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Anak Kost

Sisi Gelap Anak Kost

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Lelaki/Pria Miskin / Slice of Life
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Cerita terinspirasi kisah nyata!

Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.

Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.

Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 - Kotak Surat

Galih berdiri tertegun di samping tas ransel hitam misterius itu. Di dalam ruangan berukuran dua kali tiga meter tersebut, atmosfer mendadak terasa makin sesak. Ancaman teror tak kasat mata yang beberapa hari lalu sempat menghantuinya, mulai dari bayangan langkah kaki di depan pintu hingga insiden aneh saat ia terbangun tanpa busana, kini seolah berlipat ganda dengan kehadiran barang titipan Aldi yang berpotensi menyeret mereka ke dalam lingkaran hitam kriminalitas.

Namun, sebelum ia sempat merumuskan tindakan apa yang harus diambil terhadap tas tersebut, aroma keringat dan debu jalanan yang menempel di tubuhnya mengingatkan Galih pada rasa lengket yang menyiksa. Setelah seharian bergelimang asap kompor di dapur warung Pak Susilo, ia sangat butuh membersihkan diri.

"Dri, aku mau mandi sebentar ya," pamit Galih singkat kepada Indri yang masih termenung menatap tas hitam itu.

Indri mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya. "Iya, Galih. Hati-hati..."

Galih menyambar handuk kusam dan pakaian gantinya, lalu melangkah keluar kamar menuju area kamar mandi umum yang terletak di bagian belakang lorong. Suasana kostan pada jam-jam menjelang malam itu tampak remang-remang. Lampu koridor yang memancarkan cahaya kekuningan redup menciptakan bayangan panjang di setiap sudut papan kayu.

Sesampainya di kamar mandi, Galih menutup pintu papan dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air dingin dari gayung. Sensasi segar seketika menyapu kulitnya, membantu meluruhkan kepenatan dari pikirannya yang kusut. Namun, kenyamanan itu tidak berlangsung lama.

Tepat saat Galih baru saja membilas kepalanya dengan air sabun, pendengarannya menangkap suara decitan halus dari luar pintu papan.

Klek... Sret...

Gerakan tangan Galih terhenti. Ia menahan napas, menajamkan indra pendengarannya di tengah gemericik air. Ingatannya langsung melayang pada kejadian beberapa malam lalu, ketika ia kedapatan diintip saat mandi di tempat yang sama.

Dengan gerakan cepat dan penuh waspada, Galih meraih handuknya, melilitkannya erat-erat di pinggang, lalu menyentak pintu kamar mandi hingga terbuka lebar.

"Siapa di luar?!" bentak Galih keras, matanya melotot tajam menyapu lorong belakang yang sunyi.

Lagi-lagi, tidak ada orang sama sekali. Lorong itu kosong melompong. Namun, begitu Galih hendak melangkah kembali ke dalam untuk merampungkan mandinya, pandangannya tidak sengaja menangkap sebuah benda asing tergeletak tepat di depan ambang pintu kamar mandi.

Sebuah kardus kecil berwarna cokelat berpita merah muda tampak tergeletak manis di sana.

Galih mengernyitkan dahi, diliputi rasa curiga bercampur ngeri. Dengan hati-hati, ia berjongkok dan mendekati kardus tersebut. Menggunakan ujung jarinya yang basah, ia membuka tutup kardus kecil itu perlahan-lahan.

Di dalam kotak tersebut, terdapat dua benda yang membuat darah Galih berdesir dingin, sebuah boneka kecil beruang usang yang salah satu matanya tampak tercabut, dan selembar secarik kertas robekan buku tulis dengan tulisan tangan menggunakan spidol merah yang berantakan.

Galih meraih kertas tersebut dan membaca isinya:

“Aku suka kamu...”

Seketika, bulu kuduk di sekujur tubuh Galih merinding hebat. Sensasi dingin yang menusuk tulang merayap naik dari punggung hingga ke tengkuknya. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan.

Mendapat ungkapan rasa suka atau perhatian tentu adalah hal yang membahagiakan bagi kebanyakan pemuda normal. Namun, cara penyampaian yang penuh misteri, teror pengintaian di kamar mandi, serta suasana kostan yang angker dan penuh intrik ini membuat Galih sama sekali tidak merasa tersanjung. Sebaliknya, ia merasa sedang diteror oleh seseorang yang mengalami kelainan mental atau penguntit misterius (stalker) yang mengawasinya secara intensif.

"Sialan... Siapa sebenarnya yang berbuat iseng begini?!" gumam Galih dengan gigi gemeretak menahan geram.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Galih buru-buru masuk kembali ke dalam kamar mandi, menyelesaikan bilasannya dengan tergesa-gesa, mengenakan pakaiannya, dan menyambar kardus misterius beserta boneka itu.

Dengan langkah lebar dan penuh emosi, Galih berjalan cepat menyusuri lorong menuju kamarnya. Namun, karena gerakannya yang terlalu tergesa-gesa dan pandangannya yang tertuju ke depan, ia tidak memperhatikan tikungan sudut lorong dekat dapur.

Brukk!

Galih menabrak seseorang cukup keras hingga membuat tubuh orang tersebut terdorong mundur dan hampir kehilangan keseimbangan. Beruntung Galih dengan sigap merentangkan tangannya, menahan bahu orang itu agar tidak terjatuh ke lantai.

"Aduh!" desis sesosok wanita kaget.

Galih terperanjat saat melihat siapa yang ditabraknya. Wanita berambut terurai dengan balutan pakaian santai itu adalah Fika, tetangga sebelah kamar yang juga istri dari pria yang kerap lembur malam.

Fika mendongak, menatap Galih dengan napas sedikit terengah. Begitu menyadari siapa yang menabraknya, senyuman manis dan ramah langsung terkembang di bibir tebalnya.

"Eh... Galih. Kamu jalannya kok tergesa-gesa banget sih? Mau ke mana?" tanya Fika dengan nada suaranya yang lembut dan manja, sementara matanya melirik sekilas ke arah kardus dan boneka yang dipegang Galih.

Galih merona kaku, merasa sangat bersalah. Ia buru-buru melepaskan tangannya dari bahu Fika. "Ah, maaf... Maaf banget, Mbak Fika. Aku nggak sengaja, jalannya tadi terlalu buru-buru karena ada urusan penting."

Fika terkekeh renyah, melambaikan tangannya santai. "Iya, nggak apa-apa kok, santai aja. Kamu ini ada-ada saja."

Di tengah permintaan maaf itu, secercah kecurigaan mendadak melintas di benak Galih. Mengingat Fika adalah salah satu orang yang paling sering berada di sekitar lorong ini, dan wanita itu secara kebetulan muncul tepat setelah ia menemukan kardus teror di kamar mandi, pikiran Galih mulai menerka-nerka.

'Apakah... apakah semua teror pengintaian dan boneka ini adalah ulah Mbak Fika?'

Namun, Galih segera menepis pikiran liar itu. Tidak mungkin Fika melakukan hal seseram itu padanya.

"Ya udah, Mbak Fika... Aku permisi dulu mau masuk kamar," pamit Galih cepat-cepat, lalu melangkah melebihi wanita itu.

"Iya, silakan, Galih," jawab Fika tersenyum ramah.

Galih langsung mendorong pintu kamar Indri, masuk ke dalam, dan membanting kuncinya rapat-rapat. Wajahnya tampak kusut dan tegang saat ia melempar kardus berisi boneka dan surat ancaman itu tepat di atas meja kecil di hadapan Indri.

Indri yang sedang duduk memerhatikan tas hitam milik Aldi sontak terlonjak kaget melihat kemarahan di wajah suaminya. "Ada apa lagi, Galih? Kenapa muka kamu pucat begitu?"

Tanpa basa-basi, Galih menceritakan seluruh kejadian yang baru saja ia alami di kamar mandi umum, bagaimana ia kembali diintip, menemukan kardus misterius di depan pintu kamar mandi, hingga secarik kertas bertuliskan “Aku suka kamu” yang menyeramkan itu.

Namun, di luar dugaan Galih, reaksi Indri sama sekali bukan rasa takut atau simpati. Alih-alih merasa ngeri terhadap teror tersebut, mata Indri seketika membelalak tajam. Wajah wanita itu mendadak memerah padam, bukan karena malu, melainkan oleh kobaran api cemburu yang tiba-tiba meletup di dadanya.

"Apa?!" bentak Indri setengah berteriak, suaranya melengking tinggi memecah kesunyian kamar. Ia bangkit berdiri, menatap Galih dengan dada bergemuruh hebat dan napas memburu. "Jadi ada perempuan lain di kostan ini yang berani-aninya ngirim surat cinta dan neror kamu?!"

Galih terperanjat mundur, sama sekali tidak menyangka Indri akan bereaksi seperti itu. "Dri, sabar dulu! Masalahnya bukan soal cinta-cintaan! Ini bentuk teror! Ada orang sakit jiwa yang ngikutin dan ngintip aku!"

"Aku nggak peduli itu teror atau bukan!" potong Indri dengan nada suara semakin meninggi, air mata cemburu dan frustrasi seolah mendesak di pelupuk matanya. "Kamu itu sekarang suami siri aku, Galih! Di saat aku lagi hamil anakmu, maksudku, di saat aku lagi hamil dan kita tinggal satu kamar, ada perempuan jalang lain yang berani godain dan ngirim boneka ke suamiku?! Sialan! Berani banget dia ngerebut perhatian kamu!"

Indri menatap Galih dengan sorot mata penuh amarah posesif yang amat pekat, membuat Galih terdiam membeku di tempatnya.

1
Ardan
ingat warung pak susilo, jangan langsung ditinggalkan, kasihan ledua orang paruh baya tsb, bikin warungnya rame dan maju dulu galih
Ardan
misteri nya blm terpecahkan, antara horor atau ada orang usil nih
fara sina
lanjut kak. semangat selalu ya nulisnyaa
fara sina
ini gak adil. indri kamu bener bener jahat. padahal galih ga ada salah apa apa sama kamu. kamu memanfaatkan kebaikan galih.
fara sina
mas Adit gamau bantu?? kenapa ya🥺 inget mas Adit mas Adit 1 piring Indomie kamu ga ada niatan bantuin
fara sina
sangking baiknya kamu ya galih. padahal kenal belum ada seminggu
fara sina
galih orangnya gaenakan ya. serius jadi orang gaenakan itu gaenak. serba salah
fara sina
kenapa ga pernah akur begitu ya
fara sina
Waduh Galih, jangan senyum kecut aja dong... Hati-hati itu Fika tetangga sebelah beneran takut atau cuma modus malam-malam begini?
fara sina
gerak geriknya serem ya kaya bukan manusia
fara sina
ikutan sedih ya lih, banyak banyak berdoa biar warungnya laris manis.
fara sina
yess, cari cuan dulu ya buat modal nantinya. kalo udah ada modal tambahan juga cari kerja yang gajinya lumayan
fara sina
yuk bisa yuk galih cita citanya bisa terwujud
fara sina
tapi kayanya mba Fika bukan orang jahat ya
fara sina
duh, hati hati galih. jangan gampang menerima pemberian orang asing yang baru kenal apalagi makanan
fara sina
🥺 tetap semangat ya galih. semoga nantinya cepet dapet kerjaan
fara sina
gatau, aku bukan laki laki. kayanya gasemua sama dah
Ekka
aneh
fara sina
sekaligus baik dan pengertian. tau galih ga ada duit inisiatif ngasih duit
fara sina
keuntungan biar banyak yang kos wkwkwk pak Yono
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!