"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Ada Revisi di bab 32 harap di baca ulang ya guys, takut nggak nyambung kalau baca bab 33 nya hehehehe....Yang sudah baca versi lengkapnya tinggal lanjut!
Arin menatap atap kamar kecil yang menurut dia sangat nyaman. Di sini dia tenang, Arin sedang memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya, kalau ingin jujur dia sangat hawatir dengan keadaan Ibu Tina, tapi mendengar dia sudah di rawat Rahma, membuat hatinya sedikit lega, meski di relung hatinya seperti di cubit, dia tidak rela Rahma menggantikan posisinya merawat Ibu Tina. Tapi dia harus ikhlas, sepertinya Rahma lah wanita yang paling tepat untuk Aga.
Tekat Arin sudah bulat untuk menceraikan Aga, Arin tahu akan sulit meminta perceraian dari Mas Aga, apalagi mas Aga seorang Letnan, sebuah perceraian pasti akan berpengaruh dalam jabatannya. Tapi dia tidak mau tersiksa setiap hari, dia sudah lelah dengan semua ini.
Arin harus memikirkan alasan perceraian yang tidak akan berdampak bagi Aga, dia bukan hawatir dengan lelaki itu, tapi dia takut Ibu Tina Drop apalagi Arin pamit hanya untuk pulang.
"Mbak Arin?"
Suara ketukan pintu dari luar membuat Arin bangun, perlahan dia bangun dan membuka pintu.
"Ada apa Na?"
"Mas Dewa barusan telfon, dia mau ke sini, apa boleh?"
Arin menghembuskan nafas berat, dia bukannya tidak mau bertemu Dewa, tapi dia takut Aga mengawasi Dewa. Dia takut karena kedatangan Dewa, Aga jadi tahu di mana dia sekarang.
"Bilang jangan ke sini dulu, aku takut Aga mengawasi dia Na, aku tidak ingin mas Aga nemuin aku lagi"
"Baiklah mbak, Nana akan bilang ke Mas Dewa"
Jawab Nana sambil sedikit meringis sungkan, pasalnya Dewa sudah ada di rumahnya, dia juga mendengar percakapan mereka di balik tembok kamar ini.
"Ya sudah mbak Arin istirahat dulu"
Begitu Arin menutup pintu, Dewa keluar dari tempat persembunyiannya, dia sudah lega melihat Arin baik-baik saja.
"Sepertinya dia masih patah hati" Gumam Dewa pada Nana.
"Tentu saja Mas, Rahma saja sekarang sudah menguasai toko kue dan rumah Mas Aga, Pengabdian Mbak Arin selama bertahun-tahun ini seakan sia-sia, Mbak Arin seperti tidak di hargai sama sekali"
Tangan Dewa mengepal erat, dia tidak terima Arin di perlakukan seperti ini.
"Aga memang egois!" Geramnya.
"Mas mau di sini nunggu mbak Arin?"
Dewa menggeleng, ibunya sudah menelfon puluhan kali agar dia segera pulang. Jadi Dewa tidak bisa lama-lama di sini.
Dewa mengeluarkan satu gepok uang lima puluh ribuan dari sakunya, dia memberikan uang itu untuk Nana.
"Apa ini Mas? Nana nggak bisa terima"
"Ini uang untuk beli makanan, kamu pesan saja masakan kesukaan Arin, beli yang enak-enak untuk dia, kalau perlu aku panggilkan koki bintang lima ke rumah ini"
"Tidak perlu mas, Nana bisa masak kog"
Nana mengambil beberapa lembar uang itu.
"Ini saja cukup"
Dewa berdecak kesal, dia selama ini bantu tulang siang malam hanya untuk Arin, hanya lima juga tidak ada apa-apa baginya.
"Sudah terima saja, besok ajak dia jalan-jalan, nanti aku transfer ke rekening kamu"
"Jangan Mas! Ini saja sudah cukup, Nana pastikan mbak Arin makan enak, besok Nana juga akan bawa mbak Arin jalan-jalan"
"Terima kasih, aku percayakan Arin sama kamu"
Nana mengagguk cepat. Beruntung sekali Mbak Arin di cintai ugal-ugalan oleh Mas Dewa. Mereka sangat cocok. Nana tidak rela jika Mbak Arin kembali pada Mas Aga, semoga saja mereka cepat cerai.
*****
Dewa sampai di rumahnya, dia sempat heran saat melihat ada mobil asing terparkir di garasi rumahnya.
"Mungkin ada tamu" Batin Dewa. Dia berjalan santai ke rumah, dia sama sekali tidak perduli dengan panggilan telfon yang dilakukan mamanya sejak dalam perjalanan tadi. Mungkin ada ratusan lebih, Dewa sengaja mengatur mode senyap di ponselnya agar tidak terganggu dengan panggilan itu.
Saat sampai di depan pintu, Dewa membuka pintu itu, dia langsung di sambut oleh beberapa orang asing yang tidak dia kenal.
"Dewa sini nak, kenalkan ini Putri anak teman mama"
Dewa menatap gadis itu, dia sama sekali tidak suka dengan tamu yang di bawa mamanya. Dewa langsung menarik tangan gadis itu, tanpa bicara dan mengatakan sepatah apapun. Dia membawa wanita itu masuk ke dalam rumah.
Bu Emi sampai senyum-senyum sendiri melihat kelakuan putranya itu.
"Sepertinya anak kita jodoh ya Jeng?" Kekeh Bu Emi.
"Iya, mereka nampak serasi"
Kedua ibu-ibu itu sudah sangat senang mengira Dewa setuju dan suka dengan gadis yang dia kenalkan pada putranya.
Namun beberapa menit kemudian, gadis cantik dan feminim itu berlari dari dalam sambil menangis sesenggukan. Bu Emi begitu terkejut melihatnya.
"Putri kamu kenapa?"
Ibu putri langsung berdiri mengejar putrinya, sedangkan Bu Emi di buat melongo sendiri dengan kelakuan putranya, dengan amarah yang meluap-luap Bu Emi masuk ke rumah mencari keberadaan putranya.
Ternyata Dewa tengah makan di meja makan dengan santainya tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Kamu apain putri Wa!"
"Nggak dewa apa-apain"
Wajah Bu Emi makin merah padam, dia semakin kesal pada Dewa, sampai Bu Emi menggebrak meja makan dengan begitu keras, gelas di atas meja itu sampai bergetar, namun Dewa tidak takut sama sekali.
"Kamu keterlaluan Dewa!"
Dewa hanya tersenyum kecil, dia berdiri mendekatkan wajahnya pada sang mama.
"Mama yang keterlaluan"
Setelah mengatakan itu, Dewa berlalu begitu saja tanpa menengok lagi ke belakang.
*****
Rahma membawa bubur yang baru saja dia beli, sudah dua hari ini dia di rumah Tante Tina, dia juga mengurus toko tantenya. Meski agak kerepotan, Rahma terpaksa melakukan ini, dia merasa bersalah karena sudah membuat istri Aga pergi dari rumah. Meski bukan seratus persen kesalahan nya. Ini semua juga karena Aga sendiri yang memanfaatkan dia jadi pacar pura-pura, salah sendiri dia salah faham dengan sang istri, balas dendam Aga sendiri yang membawanya sampai di titik ini. Tapi dia tidak tega saat melihat Tante Tina sakit sendirian, Aga mencari Arin, sudah dua hari dia tidak pulang, membuat Tante Tina makin hawatir.
"Tante makan dulu"
Rahma mencoba membangunkan Tantenya,dua hari ini Tante Tina tidak mau makan, matanya bengkak karena terus menangis menghawatirkan keadaan menantunya.
"Aga sudah pulang?" pertanyaan itu membuat Rahma bingung harus menjawab apa.
"Belum tante"
"Kenapa dia belum pulang? Apa dia belum menemukan Arin? dia kan letnan. Harusnya mencari seseorang itu mudah baginya, kenapa Arin belum juga ketemu"
Rahma menaruh lagi bubur yang dia bawa, sudah dua hari Tante Tina tidak makan, hanya minum air dan sedikit buah saja. Rahma hawatir tantenya jatuh sakit.
"Tante Aga pasti nemuin Arin, Tante makan dulu ya?"
"Tante mana berselera ma, Arin saja tidak tahu bagaimana kabarnya? Apa dia sudah makan? Apa dia tidur dengan nyaman dua hari ini"
Bu Tina terus kepikiran menantu yang sudah dia anggap sebagai putrinya sendiri.
"Arin pasti baik-baik saja, Tante juga harus jaga kesehatan, nanti kalau Arin pulang, dia pasti sedih lihat Tante sakit begini. Tante makan ya? Dikit aja Tante"
Bu Tina mengagguk, Rahma benar, dia tidak boleh sakit saat Arin pulang nanti. Bu Tina mengambil mangkuk berisi bubur di nakas, dia makan dengan perlahan tanpa perlu di suapi Rahma.
Rahma merasa kasihan dengan Tante Tina, bagaimana kalau sampai Tante Tina tahu Arin kabur dari rumah? Bagaimana kalau dia tahu kelakuan putranya pada sang menantu? Tante Tina pasti semakin sedih.
kl kabur beneran pasti kluar kota Naik bus ganti kapal pesiar pasti gk Ada yg nemuin. ntah Arin itu goblok apa tolol jd wanita. pdhl dah dewasa dah pernh kawin tp ttp oon.
niat kabur Dr awal pergi jauh ganti nmr jng hub orang rumah lagi. kemarin mncing hub mertua oalah alah. cewek plin plan.
terus aja Rin keraskan hatimu buat dirimu sama ky si Aga yg suka menyimpan dendam jd kamu ga ada bedanya sama si Aga kan
heran koq bisa si Dewa tau2 nongol bawa bunga bawa cincin, ntar pas mereka lg pandang2 an ato pegangan tangan si Aga nongol tuh, lanjut lg salah pahamnya gitu aja terus ga kelar2
kl wanita mandiri pasti saat pertama kabur dah ganti nmer kabur baik bus yg jauh ntah kluar pulau bgitu.
tp ini mlh milih nyari laki lain pdhl status masih istri orang. gk jelas bnget. wanita murah.
kl merasa suami mu gk baik ya cerai sblm pergi ni mlh jd wanita murah meriah.
sepertinya takdir tdk akan membawamu ke Dewa deh 🤭😆