Asih gadis berparas cantik yang merupakan salah satu kembang desa, banyak laki-laki yang mengejar cintanya tak hanya pemuda desa, duda dan laki-laki beristri pun mengejar cinta Asih. Namun kemalangan menimpa nya Asih ditemukan seorang warga tergeletak tak bernyawa disalah satu kebun warga. Siapakah orang yang tega berbuat keji terhadap Asih?
Yuk baca terus kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arztha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Andre menoleh ternyata diantara pepohonan depan halaman rumahnya ada yang sedang memperhatikan nya.
"Jon itu apa jon? "
"Mana bos? "
"Itu loh. "
Andre pun menunjuk kearah pepohonan. Jono mengikuti arah yang Andre tunjuk tadi.
"Iiitu setan bos. "
"MAS ANDRE. "
"Ngapain lo kesini. Pergi sana jangan ganggu gue sama yang lainnya."
Dengan gemetar andre pun memberanikan diri untuk mengusir kuntilanak itu.
"MAS ANDRE NGGAK MAU DEKAT ASIH LAGI. "
"Asih mau apa lo kesini? "
"ASIH MAU MAIN SAMA MAS ANDRE. "
"Sana main sama teman teman lo. "
" NGGAK MAU, ASIH MAU MAINNYA SAMA MAS ANDRE. "
Setelah mengatakan itu Asih pun kembali menghilang entah kemana.
"Astagfirullah kenapa dia datang kesini. "
"Gimana ini bos? apa kita keorang pintar aja biar nggak diganggu Asih terus. "
Andre terdiam ia memikirkan apa yang dikatakan Jono. Apa memang ia harus ke orang pintar agar tidak diteror Asih terus?.
"Emang lo ada kenalan orang pintar? "
"Ada bos, ki Ageng namanya dia tinggal di desa sebelah. "
"Nanti deh gue pikir-pikir lagi. "
"Oke bos, si Asih udah berani datang kesini dia. "
"Ia parah ini Jon masa udah datang kerumah aja. "
"Udah percaya kan bos si Asih gentayangan. "
🦇🦇🦇
Keringat sebesar biji jagung pun keluar dari pelipisnya. Andre mulai resah, dalam tidurnya Andre belakangan ini selalu gelisah entah mimpi apa Andre saat tidur. Namun wajahnya pucat seperti orang yang sedang ketakutan.
"Astaga, udah nggak beres ini sih. "
Andre terbangun dengan nafas yang tersengal sengal.
"Apa gue ke orang pintar aja ya, capek kalau begini terus. Besok deh minta anter Jono kan dia yang tau. "
Andre memandang langit langit kamarnya. Andre merasa ada yang memperhatikan nya disudut lemari nya. Andre memberanikan diri untuk menoleh walaupun enggan. Betapa terkejutnya saat ada sosok yang tengah mengintip nya dibelakang lemari itu.
"Astaga, pergi sana. "
"HIHIHI HIHIHI."
"Mau lo apa sih, jangan ganggu gue terus. "
"KAMU HARUS MATI. "
"Engga, PERGI SANA. "
Teriakan Andre pun terdengar sampai keluar. Anak buahnya yang mendengar teriakan si bos langsung berlarian menuju kamar bos nya.
"Bos kenapa bos. " Jono mengetuk pintu kamar Andre.
"Buka aja kali nggak dikunci. " pintar Raka.
Jono, Raka, Rizal dan Ahmad terpaksa membuka paksa pintu kamar Andre. Terlihat Andre sedang meringkuk dengan tubuh yang bergetar.
"Bos lo kenapa? " Jono mendekati Andre.
"Bos sadar bos. " Raka menepuk pipi Andre agar segera sadar.
Mereka terus menyadarkan Andre. Perlahan Andre sudah mulai terlihat tenang. Dia pun melihat sekitar nya ternyata hanya ada anak buahnya.
"Lo kenapa sih bos sampai teriak gitu. " Jono bertanya saat Andre sudah mulai tenang.
"Dia datang lagi Jon, bahkan di dalam mimpi gue pun dia muncul. Tadi dia ada di samping lemari itu. " Andre menunjuk ke arah lemarinya.
"Dia siapa bos? " Ahmad mulai penasaran.
"Asih." Bukan Andre yang menjawab melainkan Jono.
"Loh si bos di datangi Asih juga? " Tanya Raka yang tak percaya.
Andre mengangguk.
"Besok kita keorang pintar Jon, capek gue diteror terus. "
"Oke bos besok gue anterin. "
"Gue ikut. " ucap Raka, Rizal dan Ahmad secara bersama.
"Yaudah besok pagi kita kesana. " putus Jono.
"Ini udah jam berapa sih? " tanya Andre.
"Jam 3pagi bos. "
Mereka pun masih berkumpul di kamar Andre.
"Gue buat kopi dulu. " Rizal beranjak dari duduknya.
"Sekalian Zal. " pinta Raka.
"Sekalian cemilannya. " pinta Andre.
"Siap bos. "
Sambil menunggu Rizal membuatkan kopi mereka pun terus bercerita tentang kejadian kejadian yang mereka alami beberapa hari belakangan ini.
Banyak penampakan yang selalu muncul belakang ini. Yang terparah teror yang Supri alami ia hampir saja kehilangan nyawanya.
Rizal pun kembali bergabung dengan minuman dan cemilan yang ia bawa di nampan yang cukup besar.
Jono mengernyit. "Banyak amat? "
"Biar nggak mondar-mandir. " sahut Rizal.
"Tumben pintar. " ledek Raka.
Bantal pun melayang tepat di wajah Raka.