Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. Bayangan Mahkota Phoenix
Kau pernah mengatakan bahwa ibumu sakit, bukan? Bahwa adikmu masih membutuhkan obat setiap bulan?" Air mata mulai menggenang di mata pelayan itu.
"Ampuni hamba..." Mei'er bersimpuh dengan ketakutan.
"Aku tidak ingin menyakiti siapa pun." Lan Zifey mermbungkuk membelai pipinya seolah sedang menenangkan seorang anak.
"Aku hanya ingin kebenaran didengar. Jika kau membantuku, keluargamu akan mendapatkan uang untuk pengobatan dan kehidupan yang lebih baik."
Mei'er menunduk hingga dahinya menyentuh lantai.
"Hamba mengerti, Yang Mulia..." Suara pelayan itu parau, menekan tangisnya.
"Bagus." Lan Zifey menarik tangannya kembali.
"Jangan menghafal terlalu banyak kata. Ceritakan saja bahwa kau pernah melihat Shen Rui berada di sekitar kediaman permaisuri pada malam hari. Jika mereka bertanya lebih jauh, katakan bahwa kau tidak berani mengawasi seorang pengawal kerajaan." Ia berhenti sejenak, mengernyit dahinya sesaat.
"Ketakutan akan membuat kesaksianmu tampak lebih meyakinkan daripada seratus kalimat yang dihafalkan." Desisnya puas, membayangkan skenario yang telah di susunnya terasa begitu sempurna di dalam kepalanya.
Mei'er tidak menjawab.
"Bangunlah."
Pelayan itu berdiri dengan kaki gemetar. Lan Zifey kembali menghadap cermin, mengagumi bayangan yang ada di hadapannya itu, mahkota phoenix itu seperti lukisan di khayalannya tersampir indah di atas puncak kepalanya.
"Dan satu hal lagi."
"Ya, Yang Mulia?"
"Mulai hari ini, kau tidak pernah berbicara denganku mengenai urusan ini." Tegasnya sambil mengibas lengan bajunya
Mei'er terdiam, tak berani bersuara apalagi membantah.
Lan Zifey menatapnya melalui pantulan cermin.
"Apakah kau mengerti?"
"Hamba mengerti."
"Pergilah."
Pelayan itu membungkuk berkali-kali sebelum meninggalkan ruangan. Ketika pintu tertutup, Lan Zifey mengambil cangkir tehnya.
Teh itu telah dingin.
Ia tetap meminumnya sampai habis.
...***...
Istana kekaisaran Weiyang dibangun dengan kemegahan yang seolah hendak menantang langit. Dari Gerbang Naga Agung hingga Aula Harmoni Tertinggi, setiap bangunan berdiri di atas fondasi batu putih, dihiasi pilar-pilar merah dan atap keemasan yang memantulkan cahaya matahari. Naga berukir membelit tiang-tiang utama, sementara burung phoenix menghiasi pintu dan jendela kediaman para perempuan kerajaan.
Lorong-lorongnya begitu panjang hingga langkah seorang manusia terdengar seperti gema dari dunia lain. Di antara halaman-halaman luas, para pelayan bergerak dengan kepala tertunduk, membawa nampan, dokumen, pakaian, dan berbagai keperluan istana. Para pengawal berjaga di setiap gerbang, zirah mereka berkilau diterpa sinar pagi.
Namun, kemegahan itu menyimpan banyak rahasia.
Di istana tempat ribuan orang hidup berdampingan, kata-kata dapat menjadi senjata yang lebih tajam daripada pedang. Sebuah bisikan mampu menjatuhkan seorang pejabat. Sebuah cerita palsu dapat menghancurkan sebuah keluarga. Dan sebuah kesaksian yang dibeli dapat mengubah seorang perempuan terhormat menjadi bahan hinaan seluruh kerajaan. Lan Zifey memahami semua itu dengan sangat baik. Karena itu, ketika tandunya melintasi koridor menuju Aula Qinzheng, ia tidak membawa kemarahan.
Ia membawa air mata.
Tandu berwarna merah tua itu dihiasi sulaman bunga peoni emas. Empat orang pengusung berjalan serempak, diikuti enam pelayan perempuan dan dua kasim yang membawa payung sutra untuk melindunginya dari sinar matahari. Ketika rombongan melewati halaman Paviliun Fengyi, Lan Zifey memerintahkan tandunya berhenti sejenak.
Dari tempat duduknya, ia dapat melihat ujung atap paviliun yang menjulang di balik pepohonan. Bangunan itu tampak anggun, seolah tidak ada apa pun yang terjadi di dalamnya.
Namun, Lan Zifey mengetahui bahwa di balik pintu-pintunya yang terkunci, seorang perempuan sedang menghadapi kehancuran yang telah dipersiapkannya selama bertahun-tahun. Ia menurunkan tirai tandu sedikit.
"Teruskan perjalanan."
Tandu kembali bergerak. Lan Zifey menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata. Ia membayangkan mahkota phoenix. Membayangkan seluruh perempuan istana berlutut di hadapannya. Membayangkan para pejabat memanggilnya dengan gelar yang selama ini hanya menjadi impiannya.
Lalu, di antara semua bayangan itu, ia melihat wajah Wang Laoyin.
Wajah yang tenang. Mata yang tajam. Senyum yang tidak pernah dipaksakan. Kecantikan yang membuat Raja Han Quan melupakan dunia ketika memandangnya.
Lan Zifey membuka mata.
"Berhenti memujanya," bisiknya kepada bayangan perempuan itu.
"Mulai hari ini, dunia akan melihatmu sebagaimana aku selalu melihatmu."
Seorang perempuan yang mustahil disentuh itu akan mendekat
***
Aula Qinzheng merupakan ruang utama tempat Raja Han Quan menerima laporan pemerintahan dan membahas urusan penting kerajaan.
Langit-langitnya tinggi, dihiasi lukisan naga emas yang melingkar di antara awan. Pilar-pilar besar berwarna merah tua menyangga bangunan, sementara lantainya tersusun dari batu giok putih yang dipoles hingga memantulkan bayangan. Di ujung aula, sebuah singgasana kayu cendana hitam berdiri di atas panggung bertingkat tiga, dinaungi ukiran naga dengan mata bertatahkan batu giok hijau. Di kedua sisi singgasana, para pejabat berdiri menurut kedudukan mereka.
Pagi itu, tidak ada pembacaan puisi. Tidak ada laporan panen. Tidak ada pembahasan mengenai perbatasan. Hanya ada satu kabar yang menguasai pikiran semua orang: pengawal pribadi permaisuri ditemukan tewas di ranjangnya.
Raja Han Quan duduk di singgasana dengan wajah muram.
Ia belum mengganti jubah kekaisaran yang dikenakannya ketika datang ke Paviliun Fengyi. Matanya tampak lelah, sementara garis rahangnya mengeras seperti batu yang dipahat dengan amarah. Di hadapannya, Menteri Kehakiman sedang menjelaskan langkah awal penyelidikan.
"Yang Mulia, tabib kerajaan telah memeriksa jenazah Shen Rui. Menurut pemeriksaan awal, korban meninggal sebelum fajar. Penyebab kematian belum dapat dipastikan sampai pemeriksaan lebih lanjut selesai."
"Apakah ada tanda perlawanan?" tanya raja Han Quan berusaha terlihat tenang.
"Ada luka pada dada korban, tetapi kami belum dapat memastikan apakah luka itu merupakan penyebab kematian atau diberikan setelah korban meninggal." Jawab sang menteri.
Raja mengetukkan jari pada sandaran singgasana.
"Bagaimana ia memasuki Paviliun Fengyi?" Pertanyaan itu terdengar dalam emosi yang campur aduk, antara marah dan kesal dan curiga.
"Kami masih menyelidikinya, Yang Mulia."
"Bagaimana ia dapat melewati para penjaga?" Cecar Raja Han Quan gusar, semua pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya belum mendapat jawaban yang memuaskan hatinya.
Menteri itu menundukkan kepala.
"Kami belum memperoleh jawaban."
Raja mengembuskan napas keras.
"Aku ingin seluruh penjaga yang bertugas malam tadi diperiksa. Periksa pintu, jendela, lorong, dan semua orang yang memiliki akses ke paviliun. Tidak boleh ada seorang pun yang dibebaskan dari pemeriksaan hanya karena kedudukannya." Kalimat itu merupakan perintah yang tak ingin dibantah
"Baik Yang Mulia, titah diterima." Menteri kehakiman segera menyahut dan memberikan isyarat pada seorang komandan bawahannya yang berdiri di sudut ruangan untuk pergi menjalankan perintah itu.
Sebelum pembahasan berlanjut, seorang kasim mengumumkan dari pintu aula.
"Selir Lan Zifey memohon untuk menghadap Yang Mulia!"
Semua kepala menoleh ke arah pintu aula.
(Bersambung lagi yaaaa😄 tapi author janji gak lamaaa😄)