NovelToon NovelToon
Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Bagas Hirmawan

Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.

Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.

Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.

Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.

Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 — Anak yang Pernah Dibunuh

Anak berambut putih itu berdiri di balik pintu rahasia. Sepasang matanya hitam sepenuhnya, tanpa pupil maupun pantulan cahaya. Wajahnya menyerupai Gu Chen ketika masih kecil, tetapi ekspresinya jauh lebih dingin daripada seseorang yang telah melewati kematian berkali-kali.

“Aku ingin kalian membantuku membunuhnya lagi.”

Gu Chen menatapnya tanpa berkedip. “Kau baru saja mengatakan bahwa kau dibunuh oleh penciptaku. Sekarang kau ingin aku membunuh orang yang sama. Masalahnya, aku bahkan tidak tahu siapa orang itu.”

“Kau tahu.”

“Aku tidak tahu.”

“Kau hanya tidak mengingatnya.”

Gu Chen menghela napas. “Kalau setiap orang yang tidak kukenal terus menyuruhku mengingat sesuatu, sepertinya aku harus membuka kedai khusus untuk menjual ingatan. Mungkin hasilnya lebih baik daripada terus berusaha menyelamatkan dunia.”

Lin Yue meliriknya. “Kau masih sempat memikirkan bisnis?”

“Justru karena dunia ini kacau, aku harus memikirkan sumber penghasilan.”

Tidak ada yang tertawa.

Anak itu mengangkat tangan kanannya. Di pergelangan tangannya terdapat gelang kayu dengan sembilan garis dan lingkaran kosong, sama persis dengan salah satu gelang yang dibawa Gu Chen. Namun, ada satu perbedaan kecil: pada gelang milik anak itu, lingkaran kosong tersebut memiliki retakan tipis yang membelahnya menjadi dua.

Gu Chen mengeluarkan kedua gelang yang mereka temukan sebelumnya.

Begitu ketiganya berada dalam jarak berdekatan, sembilan garis pada permukaan kayu mulai bergetar. Udara di lorong berubah berat. Botol-botol berisi nama di ruangan belakang berdenting bersamaan, seolah sesuatu sedang mengetuk dari dalamnya.

Gu Yuan segera melangkah maju.

“Jangan dekatkan gelang itu.”

Gu Chen menoleh. “Kau tahu apa yang akan terjadi?”

“Aku tahu apa yang pernah terjadi.”

“Itu bukan jawaban.”

“Untuk kali ini, anggap saja itu peringatan.”

Gu Chen menatap ayahnya beberapa detik, lalu menurunkan tangannya. Getaran gelang perlahan berhenti, tetapi anak berambut putih itu justru tersenyum tipis.

“Kau masih sama, Gu Yuan. Selalu berusaha melindunginya dari kebenaran, seolah kebohongan bisa membuatnya tetap menjadi manusia.”

Wajah Gu Yuan mengeras.

“Diam.”

Satu kata itu membuat lorong bergetar.

Bai yang berdiri di belakang mereka tiba-tiba memegangi kepalanya. Ia terhuyung, lalu menabrak rak kayu. Beberapa botol jatuh dan pecah. Nama-nama di dalamnya berubah menjadi kabut hitam sebelum menghilang.

“Bai!” Lin Yue segera menopang tubuhnya.

Bai mengangkat wajah. Untuk sesaat, mata kanannya berubah menjadi hitam seluruhnya. Ketika ia berbicara, suaranya bukan lagi suara yang biasa mereka dengar.

“Jangan biarkan anak itu menyentuh gelang ketiga.”

Gu Chen menoleh ke pergelangan tangan anak berambut putih itu.

Gelang ketiga.

Berarti gelang yang mereka miliki bukanlah satu-satunya.

“Di mana gelang itu?” tanya Gu Chen.

Bai mencengkeram lengan Lin Yue. “Bukan di sini. Gelang ketiga tidak pernah dibuat.”

Anak berambut putih itu tertawa pelan.

“Benar. Gelang itu tidak pernah dibuat. Karena pemiliknya tidak pernah dilahirkan.”

Keheningan menyelimuti ruangan.

Gu Chen memandang anak itu, lalu Bai, kemudian Gu Yuan. Reaksi mereka berbeda, tetapi satu hal tampak jelas: ketiganya mengetahui sesuatu yang belum ingin mereka ungkapkan.

Gu Chen paling membenci keadaan seperti itu.

“Baiklah,” katanya. “Kita berhenti bermain teka-teki. Aku akan bertanya satu kali, dan kalian akan menjawab dengan jelas. Siapa sebenarnya dirimu?”

Anak itu menatapnya.

“Aku adalah orang yang seharusnya menjadi dirimu.”

“Bukan nama. Bukan identitas. Siapa dirimu?”

“Aku adalah kehidupan pertama yang kau buang.”

Gu Chen terdiam.

Anak itu melanjutkan, “Sebelum Gu Yuan memberimu nama Gu Chen, sebelum kau memperoleh ingatan tentang Desa Qingyuan, sebelum para pemain menghapus jejakmu dari sejarah, ada seseorang yang hidup dengan tubuh yang sama. Seseorang yang memiliki nama, kehendak, dan tujuan sendiri.”

“Dan orang itu adalah kau?”

“Bukan.”

Jawaban itu membuat Gu Chen mengernyit.

Anak itu menempelkan telapak tangannya ke dada.

“Orang itu adalah aku.”

Pada saat yang sama, tulisan merah muncul di udara.

\[PERINGATAN: KONFLIK IDENTITAS MENINGKAT.\]

\[IDENTITAS KETIGA: AKTIF.\]

\[IDENTITAS PERTAMA: TERDETEKSI.\]

\[IDENTITAS SAAT INI: GU CHEN.\]

\[TIGA IDENTITAS TIDAK DAPAT MENEMPATI SATU KEHIDUPAN.\]

Gu Chen membaca setiap baris dengan saksama. Ada sesuatu yang janggal. Pesan tersebut tidak menyebutkan identitas ketiga sebagai pencipta, meskipun tulisan sebelumnya menyatakan bahwa pencipta pertama telah ditemukan.

Ia menatap anak itu.

“Kau bukan penciptaku.”

“Tidak.”

“Dan kau bukan identitas pertamaku?”

Anak itu terdiam sejenak.

“Aku adalah sesuatu yang ditinggalkan oleh identitas pertamamu. Sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak sanggup ingat.”

Gu Chen merasa kepalanya berdenyut. Bukan karena rasa sakit yang biasa muncul ketika ia menggunakan Pemutus Benang, melainkan karena ada sesuatu di dalam dirinya yang berusaha menanggapi perkataan anak itu.

Sebuah ingatan muncul sekilas.

Ruangan putih.

Lantai dipenuhi garis hitam.

Seorang anak berdiri di hadapannya, menangis tanpa suara.

Lalu sebuah tangan terulur.

Bukan untuk menyelamatkan anak itu.

Melainkan untuk menghapusnya.

Gu Chen tersentak mundur. Napasnya memburu, sementara darah hangat mengalir dari hidungnya.

Lin Yue segera memegang bahunya.

“Gu Chen, apa yang kau lihat?”

“Entahlah.”

Ia menyeka darah di bawah hidungnya.

“Tapi sepertinya masa laluku benar-benar tidak menyukaiku.”

Anak berambut putih itu tidak lagi tersenyum.

“Kau mulai mengingatnya. Bagus. Sekarang, bantu aku membunuh orang yang melakukan itu.”

Gu Chen menatapnya tajam.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak akan membunuh seseorang hanya karena kau memintanya. Aku bahkan belum tahu apakah ingatan yang kau tunjukkan benar-benar milikku.”

Anak itu mengepalkan tangannya.

“Kalau kau menolak, dia akan membunuhmu lagi.”

“Kalau begitu, biarkan dia datang.”

“Dia sudah datang.”

Seketika, semua lampu di lorong padam.

Bukan hanya cahaya dari lentera Lin Yue. Cahaya yang berasal dari kristal spiritual di dinding, kilau pada botol-botol nama, bahkan pantulan samar dari permukaan logam ikut menghilang. Kegelapan yang tersisa terasa tidak wajar, seolah ruangan itu telah kehilangan hak untuk memantulkan cahaya.

Gu Yuan menarik Gu Chen ke belakangnya.

“Jangan bergerak.”

Dari ujung lorong terdengar langkah kaki.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Seseorang muncul di depan pintu rahasia. Sosoknya mengenakan jubah putih sederhana, rambutnya hitam sebahu, dan wajahnya tampak biasa saja. Tidak ada mata hitam, lingkaran di mata kiri, atau aura mengerikan seperti Pemain Pertama yang pernah mereka temui.

Justru karena itu, Gu Chen merasa lebih waspada.

Orang itu memandang anak berambut putih di balik pintu.

“Akhirnya kau ditemukan.”

Anak itu mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya, ketakutan muncul di wajahnya.

Gu Chen memperhatikan perubahan itu.

“Jadi, ini orang yang ingin kau bunuh?”

Anak itu tidak menjawab.

Orang berjubah putih lalu memandang Gu Chen.

“Dan kau pasti kehidupan yang diberikan Gu Yuan kepadanya.”

Gu Chen menyipitkan mata. “Kau mengenalku?”

“Aku mengenal semua kehidupan yang seharusnya tidak pernah ada.”

Gu Yuan maju, berdiri di antara mereka.

“Pergilah.”

Orang itu tersenyum kecil. “Kau masih memberikan perintah seolah-olah namamu memiliki arti di tempat ini.”

“Aku tidak perlu memiliki nama untuk menghentikanmu.”

“Benarkah?”

Orang berjubah putih mengangkat satu jari.

Tidak ada serangan. Tidak ada ledakan energi. Bahkan udara pun tidak bergerak.

Namun, Gu Yuan tiba-tiba berlutut.

“AYAH!” Gu Chen berusaha maju, tetapi Lin Yue segera menahannya.

Di atas kepala Gu Yuan muncul tulisan yang perlahan terurai, seolah seseorang sedang menghapusnya dari halaman buku.

\[NAMA: GU YUAN.\]

\[STATUS: PENOLAKAN DIMULAI.\]

Gu Chen merasakan kemarahan membakar dadanya. Ia mengangkat tangan dan mencoba menggunakan Pemutus Benang, tetapi tidak menemukan hubungan yang dapat dipotong. Sosok di depannya tidak terhubung dengan pengamat, pemanggil, atau benang yang pernah ia kenali.

Orang itu bukan sedang mengendalikan Gu Yuan.

Ia sedang menolak keberadaan Gu Yuan.

“Jangan gunakan kemampuan itu,” kata Gu Yuan dengan susah payah. “Kau belum memahami apa yang sedang kau hadapi.”

“Lalu aku harus diam saja melihatmu dihapus?”

“Untuk sekali ini, dengarkan aku!”

Gu Chen berhenti.

Itulah pertama kalinya Gu Yuan berteriak kepadanya sejak mereka bertemu kembali.

Orang berjubah putih menurunkan jarinya. Tulisan di atas kepala Gu Yuan berhenti terurai, tetapi belum menghilang sepenuhnya.

“Aku tidak datang untuk membunuhnya,” katanya. “Belum. Aku datang untuk mengambil sesuatu yang menjadi milikku.”

Tatapannya beralih kepada Gu Chen.

“Berikan nama itu kepadaku.”

Gu Chen tidak bergerak.

“Nama siapa?”

Orang berjubah putih menjawab tanpa ragu.

“Nama pertamamu.”

Anak berambut putih itu menggigil. Bai terjatuh berlutut, sementara gelang kayu di tangan Gu Chen retak pada bagian lingkaran kosongnya.

Lalu lonceng hitam di dalam tas Gu Chen berbunyi sendiri.

Dong.

Suara itu bergema ke seluruh ruangan.

Gu Chen membeku.

Itu adalah bunyi ketiga.

Namun, ia tidak pernah menyentuh lonceng tersebut.

Tulisan merah memenuhi udara.

\[PERINGATAN: LONCENG PENGINGAT TELAH BERBUNYI TIGA KALI.\]

\[ARSIP YANG DIHAPUS SEDANG DIPULIHKAN.\]

\[IDENTITAS YANG DITOLAK TELAH MENEMUKAN PEMILIKNYA.\]

Untuk sesaat, orang berjubah putih kehilangan senyumnya.

Dari dalam kegelapan, terdengar suara ribuan orang menyebut satu nama yang sama. Nama yang tidak tercatat dalam buku, tidak tersimpan dalam botol, dan tidak dapat dibaca oleh para pemain.

Gu Chen tidak mampu mendengarnya dengan jelas.

Namun, ia melihat reaksi orang berjubah putih.

Orang itu mundur.

Hanya satu langkah.

Tetapi langkah itu cukup untuk membuat Gu Chen memahami sesuatu yang mengerikan.

Orang yang datang untuk mengambil nama pertamanya ternyata juga takut pada nama tersebut.

Dan dari balik pintu rahasia, anak berambut putih itu berbisik dengan suara gemetar.

“Sekarang kau mengerti, bukan? Aku bukan orang yang harus kau bunuh.”

Ia menatap Gu Chen dengan mata hitamnya.

“Akulah alasan mengapa dia takut membiarkanmu mengingat siapa dirimu.”

Bersambung ke Bab 24 — Nama yang Ditakuti Pencipta

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!