Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.
Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.
Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.
menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Evolusi Berdarah dan Gema Pasukan Baja
Di dalam relung gua terdalam yang kini berfungsi sebagai pusat komando Kekaisaran Goblin, aroma menyengat dari darah, keringat, dan sihir pekat mendominasi udara.
Altair duduk dengan tenang di atas singgasananya yang terbuat dari tumpukan batu obsidian. Di hadapannya, sebuah transformasi mengerikan tengah berlangsung. Puluhan goblin liar dari suku Grush, serta beberapa kelompok kecil lain yang berhasil ditaklukkan selama seminggu terakhir, sedang menjalani proses inisiasi mutlak: Ujian Akar Beracun.
Mereka dipaksa menelan akar Venom-weed—tumbuhan parasit yang tumbuh di rawa-rawa Hutan Misti.
Bagi monster lemah, akar itu adalah racun mematikan yang melelehkan organ dalam. Suara rintihan dan jeritan tertahan terdengar saat belasan goblin liar memuntahkan darah hitam sebelum akhirnya tumbang, mati membusuk menjadi genangan daging. Namun, di bawah tatapan dingin sang Kaisar, mereka yang bertahan hidup mengalami mutasi fisik yang instan.
Kulit hijau pucat mereka menebal dan berubah menjadi hijau pekat berkilap. Otot-otot yang tadinya kurus kering membesar merobek kulit lama mereka, mengubah mereka dari Goblin Hijau biasa menjadi Hobgoblin berdada bidang dengan kekebalan racun tingkat menengah.
Di barisan paling depan, Grush sang mantan kepala suku liar berdiri dengan postur yang baru. Kakinya yang sempat dihancurkan Altair kini telah pulih secara tidak wajar berkat mutasi paksa tersebut, meninggalkan bekas luka tebal yang mengerikan. Raksasa putih bermata satu itu kini mengenakan zirah kulit beruang kasar dan memegang kapak batu raksasa. Wajahnya yang beringas kini sepenuhnya kosong dari ambisi liar, digantikan oleh kepatuhan kosong seorang prajurit perisai daging.
"Yang Mulia," lapor Anrus, berjalan pelan dengan tongkatnya. "Dari total seratus dua puluh goblin liar yang kita tangkap, empat puluh mati karena racun. Delapan puluh sisanya berhasil berevolusi menjadi Hobgoblin. Kini kita memiliki hampir dua ratus prajurit kasta menengah."
Altair mengangguk pelan. "Dua ratus pasukan perisai daging. Ini fondasi yang cukup untuk skenario terburuk."
Di sisi takhta, Zyrus sang Pangeran Ungu yang kini telah tumbuh setara dengan anak berusia enam tahun manusia, sedang duduk bersila. Mata kuningnya menatap lekat-lekat pada sekelompok mana berbentuk bola api kecil yang melayang di atas telapak tangannya. Kecerdasan dan afinitas sihir bocah itu berkembang dengan kecepatan yang membuat Anrus—seorang sarjana goblin berusia puluhan tahun—merasa bodoh.
Tiba-tiba, dari arah lorong utama, suara kepakan sayap kelelawar gua terdengar berisik, disusul oleh derap langkah cepat yang panik.
Dua Goblin Hijau dari unit pengintai perbatasan meluncur ke lantai batu dan terseret hingga ke bawah undakan takhta Altair. Napas mereka memburu, dan kulit mereka pucat pasi karena teror.
"Kaisar! Yang Mulia Kaisar!" pekik salah satu pengintai dengan suara melengking. "Manusia! Manusia datang seperti lautan! Mereka membakar pinggiran barat daya!"
Perhatian seluruh ruangan seketika terpusat pada pengintai itu. Api di tangan Zyrus padam saat bocah ungu itu menoleh dengan tatapan analitis yang tidak wajar untuk usianya.
"Tenang," suara Altair mengalun rendah, memancarkan aura dominasi yang seketika membungkam kepanikan di dalam gua. "Jelaskan apa yang kalian lihat."
Pengintai itu menelan ludah, menempelkan dahinya ke lantai. "B-Banyak sekali, Yang Mulia! Pasukan lapis baja, kuda-kuda raksasa, dan penyihir berjubah abu-abu. Jumlah mereka ribuan! Mereka membawa bendera bergambar singa emas dan bendera perak! Mereka bergerak lurus membelah rawa-rawa barat daya, tepat menuju ke arah sarang ini!"
Mendengar laporan itu, tongkat kayu di tangan Anrus terjatuh berdenting ke lantai batu. Wajah tua Purple Goblin itu dilanda keputusasaan absolut.
"Singa emas... itu lambang keluarga Viscount Rejerson. Dan perak adalah milik Baron Cass," gumam Anrus bergetar. "Dua ribu lima ratus manusia?! Hutan ini akan diratakan! Yang Mulia, kekuatan tempur Anda memang luar biasa, tapi menghadapi kavaleri berat dan ratusan penyihir manusia sekaligus di medan terbuka adalah bunuh diri!"
Alih-alih marah atau panik, Altair justru menyandarkan punggungnya ke singgasana. Seringai tipis yang sangat mematikan perlahan terbentuk di bibirnya.
"Sistem memindai memori Cassvia, dan aku tahu betul bagaimana arogansi bangsawan manusia bekerja," gumam Altair tenang. "Mereka rela membakar hutan ini bukan sekadar untuk mencari putri mereka. Pasti ada pemicu lain... keserakahan."
Zyrus, yang sejak tadi menyimak, mendongak menatap ayahnya. "Mereka menginginkan sesuatu yang berharga dari kita, Ayahanda?"
Altair menatap putranya dan tersenyum bangga. "Benar, Zyrus. Asosiasi Petualang hanya bergerak jika ada koin emas. Mereka pasti mendengar rumor tentang kebangkitan monster kasta tinggi... mungkin mereka berpikir seekor Black Goblin telah lahir."
"Lalu apa yang akan kita lakukan, Ayahanda?" tanya Zyrus.
"Kita tidak akan melawan badai dengan berdiri di tengahnya," jawab Altair, bangkit berdiri. Jubah hitamnya berkibar. "Anrus, perintahkan para pekerja untuk mengepak semua batu mana, sumber daya, dan tahanan! Kita akan bermigrasi jauh ke selatan... ke wilayah sang Penguasa Badai, Griffin."
Anrus terkesiap. Berjalan masuk ke wilayah Griffin adalah tindakan ekstrem, namun bertahan di sini juga berarti kematian.
"Bagaimana dengan wanita-wanita bangsawan itu, Yang Mulia?" tanya Anrus. "Membawa manusia akan memperlambat pergerakan kita."
"Mereka adalah rahim kekaisaran, Anrus. Nyawa mereka lebih berharga dari seluruh Hobgoblin di ruangan ini," jawab Altair dengan nada absolut yang tak bisa dibantah.
Di dalam kepalanya, Altair telah memperhitungkan semuanya. Berkat manipulasi genetik dari sistemnya, siklus kehamilan para wanita itu dipadatkan menjadi hanya satu minggu, dengan masa pemulihan pasca-melahirkan selama satu bulan. Lyra dan Cassvia adalah indukan berkualitas tinggi yang akan terus melahirkan pangeran-pangeran tempur dan komandan legiun selama bertahun-tahun ke depan. Membuang mereka sama saja dengan membuang masa depan pasukannya.
"Kita akan membawa mereka. Tetapi," senyum Altair melebar, matanya memancarkan kelicikan iblis, "kita harus memastikan para bangsawan dan petualang manusia itu berhenti mengejar kita untuk selamanya. Kita akan mematahkan harapan mereka di dalam gua ini."
"M-Mematahkan harapan mereka?"
"Beberapa hari yang lalu, aku menyuruh para pengintai menculik dua wanita muda dari desa penebang kayu di perbatasan," ucap Altair dingin. "Usia dan postur tubuh mereka tidak jauh berbeda dengan Cassvia dan Lyra."
Mata Anrus melebar saat ia mulai memahami rencana jenius dan kejam sang Kaisar.
"Kenakan sisa-sisa gaun Lyra dan potongan pelat zirah perak Cassvia pada kedua tawanan desa itu," perintah Altair tanpa emosi. "Patahkan tulang mereka agar terlihat seperti disiksa, lalu bunuh dan bakar wajah serta tubuh mereka sampai tidak bisa dikenali lagi. Tinggalkan mayat hangus itu di ruang tahanan utama sebagai 'hadiah' selamat datang untuk Baron dan Viscount."
Udara di dalam gua terasa semakin membeku mendengar taktik psikologis tersebut. Altair tidak hanya menghindari pertempuran yang mustahil dimenangkan, tetapi ia juga memanipulasi kenyataan. Saat tentara manusia itu menemukan mayat hangus berbalut barang-barang putri mereka, kesedihan akan menggantikan amarah. Perburuan akan berhenti, dan Altair akan mendapatkan waktu bertahun-tahun untuk membangun kembali kerajaannya dalam damai.
"Malam ini, Cassvia akan melahirkan," Altair berbalik, melangkah turun dari takhta. "Begitu anak dari Ksatria Perak itu lahir, bakar sarang ini dan kita bergerak ke selatan."