Sejak lahir, Emira Prawira hanyalah boneka hidup—dirancang untuk patuh, dibentuk untuk menyenangkan pria yang telah dijodohkan dengannya. Ia menelan setiap penghinaan, tersenyum di depan kamera, dan berpura-pura bahagia sebagai tunangan Marko Gunawan, sang pewaris dingin yang tak pernah sedetik pun memandangnya dengan lembut.
Tapi semua berubah saat seorang pria kembali ke dalam hidupnya.
Daniel Mahendra—konglomerat muda yang dijuluki "sang kaisar", pria paling berkuasa sekaligus paling diidamkan di negeri ini. Di mata dunia ia dingin dan tak tersentuh. Namun di hadapan Emira, ia rela menurunkan seluruh takhtanya. Posesif, memuja, dan tak kenal batas: "Cukup minta, dan akan kuberikan segalanya."
Ketika keluarga yang seharusnya melindunginya justru mengkhianatinya, Emira harus memilih—terus menjadi korban, atau bangkit menjadi wanita yang ditakuti dan dicintai. Di balik senyum lembutnya tersimpan dendam yang membara, rahasia keluarga yang berdarah, dan sebuah dunia kekuasaan yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naysol C., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
— Emira Prawira —
Pemuda yang berdiri di depanku ini bersikeras bahwa kami saling mengenal, tapi kenapa aku tak bisa mengingatnya? Kudorong dia dan kukatakan bahwa ia salah orang.
Meski aku tak berhasil mengingat siapa dirinya, entah kenapa aku tidak merasa perlu menyembunyikan watak dan sifat asliku di hadapannya. Sudah lama aku tak pernah semarah ini.
Tidak, tunggu... Memang pernah ada masa ketika aku menunjukkan diriku yang sebenarnya kepada seseorang. Tapi pemuda itu berambut hitam lurus, bermata biru sewarna safir, dan berkulit putih.
Tidak mungkin. Tapi... deskripsi itu hampir sama persis dengan orang ini. Tidak... apa yang kupikirkan. Ini pasti cuma kebetulan.
Namun ketika ia mencium tanganku dan memanggilku dengan panggilan sayang yang dulu selalu diucapkan pemuda itu, tanpa sadar aku berucap, "Dani..."
Daniel tersenyum lalu memelukku. "Kupikir kamu sudah melupakanku... Aku hampir gila karena kamu tak bisa mengingatku."
Aku gugup, wajahku sedikit merona oleh tindakannya. "H-hei, apa yang kamu lakukan, lepaskan aku."
Ia melepaskan pelukannya. "Ha ha ha... gadis kecil, ucapanmu masih saja sedingin dulu."
"Cih..." Aku menyilangkan lengan sambil menggodanya. "Rupanya caramu bicara juga belum hilang. Kamu masih saja angkuh dengan sikap layaknya kaisar."
Tiba-tiba ponselku berdering. Panggilan dari Regina. Kuangkat teleponnya.
* * *
"Emira, CEO Marko menanyakanmu dan—" suara Regina terdengar.
Lalu Marko merampas ponsel dari tangan Regina dan berkata dengan geram, "Di mana kamu? Kenapa panggilanku tidak kamu angkat? Kembali ke kantor sekarang juga. Kamu tahu betul CEO Prawira sebentar lagi tiba, para pendampingnya sudah ada di sini."
Aku menjawab dengan gugup, "Maaf, maaf. Aku cuma keluar sebentar membeli beberapa hal di apo—"
"AKU TIDAK PEDULI SEDIKIT PUN ALASANMU KELUAR, POKOKNYA—" bentak Marko.
Saat itu aku sempat mendengar suara Selena yang berusaha menenangkan Marko.
Rasa tak berdaya membuatku hampir menangis.
Daniel, yang tampak nyaris meledak melihat cara Marko bicara kepadaku, bergerak lebih dulu sebelum aku sempat menyahut. Ia mendekat dan menciumku, menutup mulutku agar tak bisa menjawab. Bersamaan dengan itu, ia merampas ponsel dengan mudah, sebab aku terpaku, tak mampu mencerna apa yang sedang terjadi.
"Hei, Emira, kembali sekarang juga—" suara Marko masih terdengar.
Daniel melepaskan bibirnya dariku dengan senyum puas, mengamati reaksiku yang merona. "Selamat pagi, Pak Marko. Saya CEO Daniel. Maaf telah membuat Anda menunggu, tapi sekretaris Anda sedang mengantar saya ke ruangan Anda. Jangan lampiaskan kemarahan Anda kepadanya hanya karena saya kurang mengenal arah."
Suara Marko mendadak gugup. "T-tidak, maafkan saya. S-saya tidak tahu, ini salah paham. Dia tidak memberitahu bahwa sedang mengantar Anda. Saya kira dia membolos dari jam kerjanya."
"Baiklah, supaya tidak menunda-nunda lagi, saya harap segalanya sudah disiapkan untuk memulai rapat. Begitu saya tiba, saya akan langsung menuju ruang pertemuan," ujar Daniel.
Nada Marko berubah riang. "Tentu, CEO Daniel, jangan khawatir soal ketepatan waktu, silakan santai saja."
"Terima kasih. Kalau begitu, sampai nanti." Daniel menutup panggilan.
* * *
Tidak mungkin.
Dani adalah CEO Daniel Mahendra, orang yang menjadi mitra dalam perjanjian kerja sama kami. Aku tak boleh menyinggungnya. Tapi aku masih canggung soal ciuman tadi, sampai-sampai aku tak berani menatapnya. Aku tak percaya pemuda itulah orang yang menerima ciuman pertamaku.
Daniel tersenyum melihatku menghindar. "Kalau begitu, Nona Sekretaris, bisakah Anda menjadi pemandu saya?"
Aku mengalihkan tatapan dan melangkah lebih dulu. "S-suatu kehormatan menjadi pemandu Anda, Pak Daniel. Silakan ikuti saya."
Sepanjang aku mengantarnya ke ruang rapat, banyak staf perempuan yang meleleh dan mendesah kagum kepadanya, sementara para staf laki-laki membicarakan prestasi dan postur tubuhnya yang bagus. Cuma dengan mendengar dan melihat seisi kantor berkerumun di belakang kami, aku ingin sekali kabur dan menyerahkan tugas memandunya kepada orang lain.
Tapi itu mustahil. Kalau kulakukan, Marko pasti akan marah kepadaku jika ada yang tidak beres dalam negosiasi ini. Aku harus mengakui, Daniel telah mencegahku menjadi lebih dibenci oleh tunanganku. Tapi tetap saja tidak benar ia mencium orang tanpa persetujuan. Aku tak peduli kalau itu memang kebiasaannya, tapi aku harus menegaskan bahwa ia tidak boleh melakukan itu kepadaku.
Ketika kami hanya berdua di dalam lift, aku berbalik dan berkata dengan serius, "Maaf, CEO Daniel, tapi yang tadi itu, saya harap tidak terulang lagi. Saya tak tahu Anda punya kebiasaan macam apa... tapi biar jelas, saya sudah punya tunangan, dan saya harap Anda menghormatinya. Hubungan kita hanya bisa sebatas urusan pekerjaan, tak peduli kita pernah saling kenal sebelumnya. Saya akan sangat berterima kasih jika Anda mengabaikan saya, seolah kita orang asing sepenuhnya."
Daniel mengernyit mendengar ucapanku. Ia menyudutkanku ke satu sisi lift, sikapnya serius dan mendominasi. "Pertama, aku tidak punya kebiasaan mencium sembarang orang. Kedua, aku sudah tahu kamu punya tunangan, tapi orang itu bahkan tak menghargaimu sebagai perempuan. Ketiga, kita bukan orang asing."
Aku tetap dingin. "Maaf, jadi kamu menyelidikiku?" Aku mengernyit. "Tak masalah kalau begitu. Demi proyek ini, kuharap kamu mengabaikanku, supaya kita terhindar dari salah paham."
Nadanya tenang meski jengkel. "Ini karena tunanganmu Marko, kan? Itu sebabnya kamu ingin menjauhkanku, bukan?"
"Kalau kamu tahu dia tunanganku, tolong jaga jarak demi kebaikan semua orang."
Daniel menghela napas. "Emira, sekadar informasi, selama ini aku tak pernah melupakanmu. Soal proyek itu cuma dalih supaya aku bisa menemuimu. Aku sedikit pun tak tertarik pada tawaran perusahaan, atau pada tunanganmu Marko yang tak becus itu."
Aku mendorongnya, marah. "Kamu tak boleh menghina Marko seperti itu. Lagi pula, kamu tahu betapa pentingnya proyek ini bagi perusahaan. Banyak orang mengerahkan tenaga demi menarik perhatianmu, dan sekarang kamu bilang tak peduli." Aku memalingkan wajah dan berbisik pelan, "Aku tak mengerti kenapa kamu melakukan semua ini."
Daniel memandang lurus ke arah pintu lift. "Karena selama bertahun-tahun ini hanya ada satu perempuan di mataku." Mendengar kata-kata itu, jantungku mulai berdebar liar dan wajahku terasa terbakar. Belum pernah aku merasakan hal semacam ini, bahkan terhadap Marko, orang yang selama bertahun-tahun kukagumi. "Dan perempuan itu adalah kamu."
Beberapa detik setelah Daniel selesai bicara, pintu lift terbuka. Di hadapan kami berdiri Marko bersama Selena, tampak layaknya sepasang suami istri, dan orang-orang Daniel.
Tapi kali ini aku tak peduli melihat mereka bersama. Sebaliknya, kurasakan mereka berdua justru orang asing sepenuhnya. Kali ini tak ada rasa sakit di dadaku, tak ada keinginan menangis, dan tak ada pula amarah. Meski terdengar aneh bagiku, aku justru merasakan kelegaan dan sedikit kedamaian saat berada di dekat Daniel.