Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 21
Senja melangkah keluar dari pintu utama rumah mertuanya, menarik napas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya dengan udara malam yang segar. Beban berat yang selama dua tahun menghimpit dadanya seolah terangkat sebagian. Namun, baru beberapa langkah ia menuruni anak tangga teras, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dengan kasar.
"Senja! Tunggu!"
Senja tersentak kaget saat tubuhnya ditarik berbalik. Di hadapannya, Adam berdiri dengan napas memburu, sudut bibirnya berdarah akibat pukulan sang ayah, dan sorot mata pria itu memancarkan kepanikan luar biasa.
"Lepaskan tangan saya, Mas!" tukas Senja tajam, mencoba meronta dari cengkeraman Adam.
"Nggak! Kamu nggak bisa pergi begitu saja, Senja!" desis Adam putus asa, mencengkeram lengan Senja lebih erat hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Cabut gugatannya! Tolong... tarik kembali berkas perceraian itu di Pengadilan Agama!"
Senja menatap pria yang pernah dinikahinya itu dengan tatapan penuh ketidakpercayaan.
"Kamu sudah gila, Mas? Setelah semua bukti perselingkuhanmu dengan Arum terbongkar di depan Papa dan Mama, kamu masih punya muka meminta saya mencabut gugatan?"
"Aku mohon, Senja!" suara Adam melemah, berubah menjadi rengekan memelas yang menjijikkan.
"Aku tarik talakku! Aku batalkan semuanya! Kita perbaiki rumah tangga kita, ya? Anggap saja kejadian kemarin tidak pernah ada. Kalau kamu cabut gugatan itu, Papa dan Mama tidak akan mencoretku dari hak waris, dan perusahaanku bisa diselamatkan! Dan aku juga akan berusaha menjadi suami yang baik, suami yang layaknya seperti yang lain. Kita bisa benar-benar menjadi suami istri dan punya anak... Bukannya itu yang kamu inginkan, Senja?"
Senja tertawa getir, sebuah tawa sinis yang belum pernah didengar Adam sebelumnya. Adam benar-benar menilai Senja hanya seperti itu. Bahkan dia tak memikirkan perasaan Senja selama ini. Dia fikir Senja sebucin itu padanya.
"Jadi, alasan kamu ingin menarik talak dan mempertahankan pernikahan ini cuma karena harta dan perusahaanmu?" Senja menatap tajam manik mata suaminya.
"Bukan karena kamu menyesal, bukan karena kamu menghargai saya, tapi karena kamu takut jatuh miskin?! Lagi pula siapa yang mau menyerahkan diri pada pria seperti kamu yang dengan mudahnya berhubungan dengan wanita lain. Apalagi sampai punya anak darimu. Maaf Mas Adam, aku tak sebodoh dan secinta itu sama kamu. Aku masih waras dan ingin hidup bahagia! Sana minta tolong sama Arum kesayangan kamu!"
"Senja, bukan begitu..."
"Lepaskan tangan saya, Adam!" bentak Senja dengan suara bergetar penuh amarah, mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghempaskan tangan suaminya.
"Dua tahun saya bertahan, dua tahun saya menjadi istri yang sabar saat kamu memperlakukan saya seperti bayangan, dan dua tahun saya menutupi kebusukanmu dari keluarga kamu! Cukup! Perkawinan ini sudah mati sejak hari pertama kamu mengkhianatinya! Begtupun degan cinta saya sudah mati semenjak Arum mengirimkan semua bukti perselingkuhan kamu, Mas!"
Adam tertegun, kehilangan kata-kata mendapati wanita yang selama ini dikenal penurut dan lembut kini menjelma menjadi sosok yang begitu berani dan tak tergoyahkan.
"Tolong jangan persulit proses persidangan nanti dan selamat hiduo bahagia bersama dengan wanita yang sangat kamu cintai. Maaf kalau selama dua tahun menjadi istrimu aku memiliki banyak kekurangan. Selamat tinggal!"
Dalam keputusasaannya yang memuncak, Adam kembali maju, hendak mencengkeram bahu Senja secara paksa.
"Kamu tidak boleh pergi meninggalkanku dalam keadaan hancur seperti ini! Kamu istriku! Kamu harus membantuku!"
BUGH
Sebelum tangan Adam menyentuh Senja, sebuah bayangan tegap bergerak cepat dari kegelapan halaman. Sebuah kepalan tangan kokoh melayang dan mendarat telak di rahang Adam, membuat tubuh pria itu tersungkur jatuh ke atas paving block halaman rumah.
"Jangan pernah sentuh Bu Senja dengan tangan kotor Anda, Pak Adam Surya," suara dingin bernada mengintimidasi menggelegar di udara.
Adam meringis kesakitan sambil memegang rahangnya yang kembali dihantam, lalu mendongak dengan amarah meluap. Di hadapannya kini berdiri Rian, asisten pribadi Angkasa dengan tatapan setajam elang, melindungi Senja di belakang punggungnya.
"Siapa kamu, hah?! Berani-beraninya kamu ikut campur urusan rumah tangga orang lain!" geram Adam bangkit berdiri dengan sempoyongan, mencoba menyerang balik.
Rian sama sekali tidak gentar. Ia bahkan mengangkat sebelah alisnya dengan senyum meremehkan.
"Saya pengawal resmi dari perusahaan tempat istri Anda bekerja. Dan atas instruksi langsung dari CEO kami, saya diperintahkan untuk memastikan keselamatan Bu Senja tanpa gangguan dari pria pengecut manapun."
Mendengar kata-kata CEO dan perusahaan tempat Senja bekerja, mata Adam membelalak lebar.
"Angkasa...? Jadi semua ini... semua kehancuran ini... kalian berdua yang merencanakannya?!"
Senja melangkah keluar dari balik punggung Rian, menatap Adam untuk terakhir kalinya dengan kepala terangkat tinggi.
"Jangan salahkan orang lain atas perbuatan kamu sendiri, Mas Adam," ucap Senja tenang.
"Urusan kita sudah selesai. Tunggu panggilan sidang dari pengadilan."
Tanpa membuang waktu lagi, Rian membukakan pintu mobil SUV hitam yang terparkir tepat di depan gerbang. Senja langsung masuk ke dalam kabin yang hangat, meninggalkan Adam yang berdiri mematung sendirian di bawah lampu taman yang redup, meratapi kehancuran total hidupnya seorang diri.
Di dalam kabin SUV hitam yang senyap dan ber-AC dingin, Senja menyandarkan punggungnya ke jok kulit. Napasnya masih memburu, sisa-sisa adrenalin dan emosi yang meluap-luap saat menghadapi Adam tadi masih bergemuruh di dadanya.
Di kursi pengemudi, Rian menutup pintu mobil dengan mantap lalu duduk di balik kemudi. Pria berjas rapi itu melirik Senja melalui kaca spion tengah.
"Anda tidak apa-apa, Bu Senja? Tidak ada bagian tubuh yang terluka saat pria tadi menarik tangan Anda?" tanya Rian profesional, namun menyiratkan kepedulian.
Senja menggeleng pelan, mengusap pergelangan tangannya yang sedikit kemerahan akibat cengkeraman Adam. "Saya baik-baik saja, Pak Rian. Terima kasih banyak. Kalau Anda tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan dilakukan Adam tadi."
Rian tersenyum tipis. "Sudah menjadi tugas saya, Bu. Terutama atas instruksi langsung dari Pak Angkasa."
Senja menoleh ke arah jendela samping. Di luar sana, di bawah temaram lampu taman, bayangan Adam masih berdiri mematung di atas paving block, dikuasai keputusasaan mutlak setelah kehilangan segalanya dalam satu malam.
"Pak Angkasa..." gumam Senja pelan, setengah pada dirinya sendiri. "Di mana beliau sekarang?"
"Pak Angkasa sedang menunggu kita di lantai dasar parkiran gedung apartemen anda," jawab Rian sambil menyalakan mesin mobil.
"Beliau ingin mendengar laporan langsung mengenai jalannya konfrontasi di rumah keluarga suami Anda."