"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Piala Bergilir
“Apakah dokumen traktat perbatasannya belum selesai, Sonia?”
Suara Salvatore terdengar jelas ketika pria itu melangkahkan kakinya memasuki ruang kerja utama militer mereka. Disana, Sonia sedang duduk di kursinya sambil memegang pena dan sesekali membalik lembaran dokumen yang sedang dia teliti.
Begitu mendengar suara Salvatore, Sonia sempat mendongakkan kepalanya. “Oh, kau datang lagi,” katanya. “Belum sepenuhnya selesai, ada banyak yang harus direvisi dan dikaji ulang.”
Salvatore berjalan mendekat, berdiri di belakang kursi Sonia membuat bayangan tinggi dan gagahnya menutupi seluruh tubuh Sonia. Ia sedikit menunduk untuk melihat lembaran dokumen yang sedang diteliti oleh Sonia lebih jelas.
“Masih lumayan banyak, butuh bantuan?” Tawarnya.
Sonia tertawa kecil. Mendongakkan kepalanya menatap Sal, “kalau kau mau membantu, aku akan sangat berterimakasih. Masih banyak sekali yang harus direvisi malam ini.”
Sal berjalan memutari meja, menatap dokumen itu dari depan. “Kau benar. Besok harus sudah disampaikan kepada raja. Aku bisa saja membantumu, tapi…”
Kalimat Salvatore yang menggantung itu membuat Sonia bertanya-tanya. Wanita itu menyeritkan dahinya. “Tapi, apa?” Tanyanya.
“Tapi…” Salvatore menatap ke jendela, hari sudah cukup larut. Kalau dia membantu Sonia, dia akan pulang terlambat lagi. “Aku akan pulang terlambat lagi.”
Sonia menatap Salvatore yang tampak menimbang-nimbang situasi, lalu terkekeh pelan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, memutar penanya di antara jemari dengan santai.
"Biasanya juga kau sering pulang terlambat, Sal. Memangnya apa masalahnya?" tanya Sonia ringan, nada suaranya terdengar begitu wajar, seolah keberadaan seorang istri di kediaman utama sama sekali bukan hal yang perlu diprioritaskan. "Lagi pula, Nyonya Ardan pasti mengerti. Ini urusan negara yang mendesak. Besok dokumen ini harus sudah di hadapan Raja."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Sonia—sebuah asumsi yang menempatkan kesibukan militer di atas segalanya, berasumsi bahwa Kate akan selalu memaklumi pengabaian yang terus berulang.
Salvatore terdiam sejenak. Di dalam kepalanya yang terbiasa diatur oleh prioritas komando dan tugas negara, argumen Sonia kembali bekerja dengan sangat efisien.
Benar juga, batin Salvatore. Dokumen traktat ini menyangkut keamanan perbatasan dan titah langsung dari Raja. Ini adalah tanggung jawab utamanya sebagai seorang jenderal. Mengenai Kate... bukankah istrinya sendiri sudah mengatakan beberapa hari lalu bahwa ia hanya kelelahan dan baik-baik saja? Jika Kate baik-baik saja, maka tidak ada alasan logis bagi Salvatore untuk meninggalkan tugas penting ini hanya demi pulang tepat waktu.
Logika taktis itu kembali menang telak, memadamkan sisa-sisa pertimbangan domestik yang sempat singgah di benaknya.
"Kau benar," balas Salvatore datar, suaranya kembali mantap tanpa keraguan. "Kita selesaikan revisi ini sekarang."
Salvatore menarik kursi di sebelah Sonia, mengambil beberapa lembar dokumen di tumpukan berbeda, dan mulai memfokuskan seluruh perhatiannya pada deretan peta serta pasal-pasal perjanjian tersebut.
Malam semakin larut di dalam ruang kerja militer itu. Salvatore mengorbankan jam istirahatnya, tenggelam dalam urusan negara bersama rekannya, sementara di kediaman utama, kamar tidur mereka kembali menyisakan keheningan panjang yang kian membeku.
***
Sementara di kediaman Ardan. Kate masih berdiri bersedekap dada menatap menghadap ke jendela. Balkon kamarnya belum ditutup, Kate masih bisa merasakan hembusan angin malam yang dingin menusuk ke tubuhnya.
Sang nyonya Ardan itu menghela napas panjang. “Kenapa aku masih memilih menunggu, ya?” Gumamnya kepada dirinya sendiri.
Kate sudah mewanti-wanti dirinya agar tidak berharap banyak dari Sal. Suaminya belum mengerti, dan sepertinya mau ditunjukkan bagaimanapun, logika suaminya selalu menang. Kate tidak bisa berharap lebih.
Meski begitu, dalam benak Kate, ada secuil perasaan kalau dia ingin suaminya mengerti dia.
“Dia bahkan tidak memberikan kabar kalau mau lembur,” ujar Kate diakhiri helaan napas berat.
Baiklah, untuk malam ini saja, Kate akan jujur tentang perasaannya. Meski awal-awal dia memang membenci Sal, karena memintanya menjadi istrinya sebagai hadiah perang dengan karakternya yang seperti batu giok, tapi kali ini perasaannya mulai berubah.
Sejak tinggal bersama dengan Sal sejak beberapa waktu yang lalu, Kate mulai terbiasa dengan kehadirannya. Dan perasaannya mulai timbul seiring itu. Bukan berarti Kate tiba-tiba jatuh cinta, bukan. Hanya saja, dia jadi lebih peduli. Lebih menggunakan perasaannya.
Kate khawatir kalau Sal pulang malam, tidak ada kabar, apa lagi terluka. Dia sampai rela menurunkan gengsinya untuk menunjukan kekhawatirannya.
Tapi semenjak insiden tepisan pada malam itu, Kate jadi merasa kalau dia dipermainkan.
Perlahan, ingatan Kate melayang kembali ke masa lalu. Masa di mana ia merasa sangat marah dan dihina saat Salvatore meminta dirinya sebagai hadiah atas kemenangan perang seratus tahun—bukan emas melimpah, bukan kastil megah, dan bukan pula kekuasaan wilayah. Bagi seorang putri bangsawan yang penuh gengsi, diperlakukan layaknya trofi perang adalah tamparan keras untuk harga dirinya.
Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, ada sedikit rasa berharga yang terselip dalam bisikan egonya saat itu. Salvatore mengabaikan semua kemewahan dunia hanya demi memilih dirinya. Ada keyakinan tersirat bahwa pria itu menginginkannya sedemikian besar, hingga tak ada harta apa pun yang sanggup menandingi nilainya.
Tapi sekarang... rasa berharga itu berganti menjadi kehampaan yang begitu melukai.
Senyum miring yang getir dan dingin terukir di bibir Kate yang memucat. Angin malam berembus kencang, menyingkap gaun tidurnya dan menerpa wajah porselennya yang kaku.
Mungkinkah dari awal dirinya memang hanya sebuah piala bergilir? Sebuah ambisi dari jenderal perang yang sekadar penasaran ingin menaklukkan Putri Raventhal yang dikenal dingin dan sombong?
Dan kini, begitu Kate mulai terbiasa, begitu dinding pertahanannya perlahan retak dan ia membiarkan dirinya peduli... Salvatore justru melangkah mundur dan meninggalkannya begitu saja di kegelapan. Seolah-olah tantangan itu telah usai, dan trofi yang sudah didapatkan kini tak lagi menarik untuk disentuh.
Kate meremas kedua lengannya erat-erat di depan dada. Hatinya yang terlanjur melunak kini membeku kembali, namun kali ini jauh lebih dingin dan tak tersentuh dari sebelumnya.
"Aneh sekali..." bisik Kate, suaranya nyaris hilang tenggelam bersama hembusan angin malam. "Harusnya sejak awal aku tahu, seorang prajurit hanya suka memenangkan pertempuran, bukan merawat apa yang sudah dia dapatkan."
Tanpa menoleh lagi ke jalanan yang sepi dan tanpa berharap ada derap langkah kaki kuda yang mendekat, Kate memutar tubuhnya. Ia melangkah masuk, menutup rapat pintu balkonnya, lalu memutar kunci dengan denting besi yang dingin.
Malam itu, Kate menetapkan hatinya. Jika Salvatore menganggapnya sekadar trofi yang sudah didapatkan, maka ia akan menjadi trofi batu paling dingin di dalam kediaman Ardan—tak tersentuh, tak terjangkau, dan tak akan pernah lagi meminta untuk diperhatikan.
Meski kadang… hati tidak bisa menuruti keinginan logikanya.
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭