NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:156.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Firasat Seorang Ibu

Rumah Ratih jauh lebih sederhana dibandingkan rumah keluarga Gultom yang megah. Meski begitu, bangunan itu terawat dan nyaman di tempati.

Arvandra Jayasena sedang membongkar kamar yang selama ini ditempati Levia. Laci nakas dibukanya satu per satu. Lemari pakaian. Kotak penyimpanan. Bahkan kasur pun ia angkat, berharap menemukan buku nikah mereka.

"Di mana dia nyembunyiinnya?" gerutunya frustrasi.

Selama ini, setiap kali ia meminta buku nikah untuk mengurus perceraian, Levia selalu melakukan tindakan nekat.

Mulai dari menodongkan pisau ke lehernya sendiri. Mengiris pergelangan tangan. Membenturkan kepala ke dinding. Hingga yang terakhir... melompat ke sungai.

"Sial!"

Brak!

Kakinya menghantam pintu lemari hingga mengeluarkan bunyi keras. Vandra mengusap wajahnya kasar. Rahangnya mengeras menahan emosi.

"Buku itu pasti masih ada."

Dengan langkah panjang, ia keluar dari kamar dan menuju ruang tengah.

Ratih yang sedang melipat pakaian mengangkat wajah. "Kenapa mukamu kusut kayak gitu?"

Bukannya menjawab pertanyaan ibunya, Vandra malah balik bertanya. "Bu, Ibu tahu gak Levia nyimpan buku nikah di mana?"

Ratih meletakkan pakaian di pangkuannya. "Ibu gak tahu."

Vandra mendesah panjang. "Kalau gak ada buku nikahnya, proses cerainya bakal makin lama."

Ratih menatap putranya beberapa saat. "Memangnya kamu bener-bener sudah gak mau ngasih Levia kesempatan?"

Vandra menatap ibunya. "Kesempatan apa lagi, Bu?"

Ratih menarik napas pelan. "Semua ini gak bakal sejauh ini kalau sejak awal kamu bener-bener jalanin pernikahan kalian."

Vandra langsung menggeleng. "Bu... aku nikahin dia karena dijebak. Ibu tahu itu."

"Benar." Ratih tidak menyangkal. "Levia memang salah. Tapi setelah akad selesai, dia sudah menjadi istrimu, Van."

Vandra terdiam.

Ratih melanjutkan, "Kalau memang dari awal kamu gak berniat nerima dia sebagai istri, seharusnya dulu kamu nolak nikahin dia dan nanggung segala konsekuensinya."

Vandra mengembuskan napas keras. "Bu, yang anak Ibu itu aku atau Levia sih? Ibu selalu aja belain dia."

Ratih kembali bicara pada putranya dengan nada tenang. "Ibu gak sedang membela siapa pun. Ibu hanya mengatakan apa yang Ibu lihat. Levia memang salah karena maksa kamu nikah. Tapi kamu juga salah karena setelah nikah, kamu tetep menutup pintu hatimu rapat-rapat."

Vandra terkekeh pahit. "Gimana aku bisa nganggep dia istri kalau aku sama sekali gak cinta sama dia? Tiap ketemu, dia selalu maksa aku. Nuntut perhatian. Ngancem bunuh diri. Bikin keributan di depan orang banyak. Bahkan di depan anak buahku. Ibu tahu gimana malunya aku?"

Ratih terdiam.

"Apa Ibu pernah mikirin perasaan aku?"

Beberapa saat tak ada yang bicara, hingga akhirnya Ratih mengembuskan napas pelan. "Ibu cuma mikirin kalian berdua. Makanya ibu sedih. Kalian sama-sama terluka dalam pernikahan ini."

Vandra menggeleng. "Bedanya, aku gak pernah milih pernikahan ini, Bu."

Ratih menatap putranya lama. Tatapan itu dipenuhi rasa iba. "Ibu gak tahu kenapa...."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Tapi setelah Levia hampir tenggelam hari ini, Ibu punya firasat... mungkin kali ini dia bener-bener bakal lepasin kamu."

Ratih mengalihkan pandangan ke jendela yang masih terbuka. Cahaya sore mulai meredup.

"Kalau nanti dia bener-bener tanda tangan surat cerai tanpa ngancem bunuh diri lagi..." Ratih kembali menatap putranya. "...apa kamu bakal nyesel pernah kenal sama dia?"

Vandra terdiam.

Entah kenapa, bayangan Levia di tepi sungai kembali muncul di kepalanya. Cara wanita itu menatapnya terasa asing. Bahkan saat membalas ucapannya, tidak ada lagi tatapan memohon yang selama ini selalu ia lihat. Namun hanya sesaat. Ia segera menepis pikiran itu.

"Dia cuma pura-pura amnesia, Bu."

Ratih mengernyit.

"Pasti cuma buat bikin aku batalin cerai." Vandra mengembuskan napas kasar. "Dia pikir main tarik ulur begini bakal bikin aku ngurungin niat buat ceraiin dia? Dia salah."

Ratih menggeleng pelan. "Ibu udah kenal Levia sejak dia masih kecil. Kalau memang dia akting, Ibu pasti bisa lihat. Tapi tadi..." Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lirih. "Sorot matanya beda."

Vandra terkekeh hambar. "Orang putus asa bisa ngelakuin apa aja, Bu. Termasuk akting."

Ratih tidak membantah. Hanya saja, firasatnya sejak tadi tidak berubah sedikit pun.

Di dalam hati, ia justru berkata, "Semoga kamu gak baru sadar saat bener-bener kehilangan dia."

***

Dari jendela kamarnya, Levia memandangi langit pagi yang baru saja menyingsing. Senyumnya tersungging kala matanya dimanjakan oleh pemandangan langit yang masih dihiasi semburat jingga.

"Selamat pagi!" ucapnya pada dirinya sendiri. "Hari pertama misi nasional, DIMULAI!"

Dengan penuh semangat ia keluar dari kamarnya, lalu berhenti di depan kamar Bram Gultom. Tangannya terangkat mengetuk pintu.

Tok. Tok. Tok.

Bram menggeliat. Dengan mata masih setengah terpejam, ia melirik jam di nakas. Pukul lima lewat sepuluh.

"Siapa pagi-pagi begini?" gumamnya.

Tok. Tok.

"Yah... bangun."

Suara itu membuat Bram langsung terduduk.

"Via?"

Ia segera turun dari ranjang dan membuka pintu. Begitu pintu terbuka, ia mendapati Levia sudah berdiri rapi mengenakan setelan olahraga berwarna hitam dengan jaket tipis. Rambutnya dikuncir sederhana, wajahnya masih tanpa riasan.

Bram berkedip beberapa kali. "Via...?"

"Pagi, Yah." Levia tersenyum. "Ayo olahraga."

"...Apa?"

"Ayo jalan pagi."

Bram masih menatap putrinya tanpa berkedip. "Olahraga?"

"Iya."

Bram spontan menoleh ke belakang, memastikan dirinya tidak salah kamar. "Lho... ini kamar Ayah, 'kan?"

Levia mengangguk polos. "Iya."

"Berarti... Ayah belum bangun di dunia lain?"

Levia sampai terkekeh. "Ya enggaklah."

Bram mengusap wajahnya pelan. "Via... kamu lagi demam?"

Levia langsung menyentuh dahinya sendiri. "Enggak."

Bram ikut menempelkan telapak tangannya ke dahi putrinya. "Normal...."

Kini Levia yang menghela napas. "Yah, aku serius."

"Ayah juga serius." Bram masih terlihat bingung. "Selama dua puluh lima tahun, kamu paling anti disuruh bangun pagi, apalagi jalan pagi."

"Soalnya sekarang aku pengin sehat," jawab Levia penuh senyuman dan antusiasme.

Kalimat sederhana dan ekspresi wajah itu membuat Bram terdiam.

"Dokter bilang berat badanku harus diturunin pelan-pelan. Katanya mulai aja dari jalan kaki."

Sorot mata Bram perlahan melembut. "Jadi... kamu benar-benar mau olahraga?"

"Iya."

"Bukan mimpi?"

Levia tertawa kecil. "Kalau Ayah masih ragu, cubit aja pipinya."

Bram benar-benar mencubit pipinya sendiri. "Aduh!"

Levia langsung menutup mulut menahan tawa.

"Lho... sakit."

"Nah, berarti bukan mimpi."

Untuk pertama kalinya sejak kejadian di sungai, tawa kecil terdengar dari bibir Bram. "Dasar."

Ia menggeleng sambil tersenyum. "Tunggu lima menit. Ayah ganti baju dulu."

"Oke."

Saat Levia menunggu di depan kamar, Bram buru-buru masuk kembali. Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan tubuh ke daun pintu. Matanya mulai memanas.

"Istriku..." gumamnya lirih sambil menatap foto mendiang sang istri di atas meja kecil. "Anak kita ngajak aku olahraga...."

Sudut bibirnya terangkat. "Kalau kamu masih ada, pasti kamu juga bakal senang lihat dia begini."

Bram mengusap cepat sudut matanya, lalu mengambil pakaian olahraga dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan daripada biasanya.

 

Ninis memandangi punggung Levia yang semakin menjauh. Sudut bibirnya perlahan terangkat.

"Kalau memang Levia yang dulu sudah hilang, berarti aku harus mencari cara baru."

Matanya menyipit. "Dan kali ini, aku gak akan gagal."

 

...✨"Kadang seseorang baru menyadari arti kehadiran, saat orang yang selalu mengejar akhirnya memilih berhenti."✨...

.

To be continued

1
Anitha
Pramono kamu itu srorang Jendral tahukan arti tanggung jawab dan hukum ..

good Vandra tetap dengan Pendiriannya tidak akan mundur
Anitha
Dih si Jendral malah suruh anaknya jangan mengakui kesalahannya yang telah di buat,dan mau menekan Vandra..dasar anak sama Bapak sama saja..

Bagus Vandra dan Levia jangan pernah mundur hadapi bersama💪
anonim
Bram dan Levia sudah meninggalkan meja makan.

Ninis, Bu Sari, juga Herman mencicipi ayam panggang masakan Levia.

Baru percaya bagaimana rasa masakan Levia.
anonim
Bram bilang, ini salah satu masakan terenak yang pernah dia makan.

Levia tertawa mendengarnya.

Bram jadi teringat istrinya yang suka masak untuknya.

Kalau Ayahnya suka, mulai sekarang Levia yang akan masak. Bram terharu mendengarnya.
anonim
Bram penasaran dengan rasa masakan putrinya. Mulailah Bram menyendok sedikit sup beserta potongan ikan.

Suapan pertama mata Bram membulat. Enak rupanya, masih belum percaya Levia yang masak.

Untuk suapan kedua Bram mengambil lebih banyak. Setelah menelan suapan kedua, Bram menggeleng pelan sambil tersenyum.

Bram memuji rasa masakan dan cara penyajiannya yang cantik.

Mendengar pujian Bram untuk putrinya, Bu Sari sampai melongo, Ninis masih sirik berpikir negatif.

Bram menikmati makan malamnya, menambah nasi setengah porsi.
Uthie
Bagus Vandra...tegas 👍👍😡
anonim
Makan malam sudah tersaji beberapa hidangan di meja yang sama sekali berbeda dari biasanya.

Makanan sehat hasil masakan Levia sudah tertata rapi, warnanya terlihat cerah, aroma masakan menggugah selera siapapun yang menciumnya.

Bram tertegun melihat hidangan di depannya dengan menu beda banget. Sampai mengira ada kedatangan tamu penting dan bertanya pada Bu Sari.

Mendengar Ninis mengatakan yang masak Levia, Bram seperti tak percaya.

Bahkan Bram masih belum percaya ketika Bu Sari mengatakan - Levia yang memasak semuanya.

Bram masih serasa mimpi melihat makanan yang terhidang apa beli dari restoran atau pesan katering.
anonim
Tuh kan Levia sudah tidak percaya sama Ninis yang sok perhatian tapi jelas menjerumuskan.

Levia mau masak sendiri makanan sehat. Bu Sari juru masak keluarga dan Ninis hari ini jadi asistennya.

Bu Sari mengambil semua bahan yang diminta Levia.

Levia mencuci sayuran sendiri. Memotong bahan-bahan masakan dengan ukuran yang sama.

Bu Sari dan Ninis pada heran melihat yang dikerjakan Levia.

Levia dengan dibantu dua asistennya, akhirnya masakan selesai.

Levia sendiri yang menata hasil masakannya. Potongan ayam, sayuran, kentang tumbuk disusun dengan sangat rapi.
Puji Hastuti
apa yang akan di lakukan oleh Pramono?
Siska Sutartini
dih enak aja, mentang anak jendral bisa bebas gitu. udahlah mengancam, mencelakai, ada bukti yg memberatkan juga. dahlah jendral harusnya kau mendidik anakmu dg benar. bukan ngandalin jabatan doang, tapi moral ga ada
Kadek Sri
lanjut
anonim
Vandra jadi kepikiran dengan perubahan yang terjadi pada Levia. Harusnya senang sesuai keinginannya, Levia sudah tidak bikin Vandra merasa tertekan.

Ninis masih mencoba mempengaruhi Levia. Levia yang sekarang sepertinya sudah tidak mau menuruti kemauan Ninis yang terlihat perhatian tapi menjerumuskan.
Anitha
Jabatan yang tinggi tidak berarti apa²,,kalo sudah seperti ini apa mau di kata bukti sudah jelas dari VIDIO yang menunjukan wajah Risa dan Ninis sedang menyusun rencana untuk mencelakai Levia...

Penjarakan saja biar jera,,Ayahnya ikut terseret
lin sya
penasaran klo pramono smkin bodoh dan smkin menghalalkan segala cara bisa bikin risa bebas gk ya, tp smga bukti yg diberikan vandra gk bsa dibeli sm uang, lgian siapa tau jabatan anak dan bpk bsa copot biar mikir klo gk pnya apa2 msih bsa sombong gk
Septi Wijaya
sebaiknya jangan cari jalan keluar dg cara kotor pak... nanti bukan cuma Risa yg ditahan... Anda pun bisa jd tersangka
Kadek Sri
lanjut
Siska Sutartini
tuh kan, masa si ninis dibiarin gitu dikasih pesangon lg. baiklah saatnya memperkarakan mereka. itu vancdra sempat merekam gak ya?
Siska Sutartini
risa oh risa itu namanya obsesi udah bukan cinta lagi. lagian lu buta apa gimana sih, org mau baikan sama bininya sendiri. lah elu siapa? orang luar. mentang2 bapaknya jendral dikira bisa seenak jidat gitu? sekalipun dipaksakan ga bakal berbuah manis
mery harwati
Minum kopi dulu aahh sambil menikmati akhir dari sang Jendral di dunia novel 😍
mery harwati
Apakah kasus hukum di novel ini akan sama dengan kasus² hukum di Negeri Naruto? 🤭
Negeri Naruto tercinta sudah terlalu sesak, mual, pening, muntah dan berakhir mentah oleh kasus² hukum yang menguap bagai uap air yang mendidih & akhirnya air itu dingin dengan sendirinya atw dingin karena dibekukan
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!