Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.
Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.
Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.
Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.
Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Dua bulan terakhir ini, Cinderella benar-benar telah memutus rantai kehidupan lamanya. Ia sama sekali tidak pernah lagi menginjakkan kaki di apartemen studio rahasianya, apalagi kembali ke rumah sewaan orang tua Ember yang suram.
Untuk memastikan fokusnya tak terdistraksi dan keamanannya terjaga di tengah proses pengumpulan kekuatan finansial, Cinderella memilih tinggal di asrama mahasiswa yang terletak di dalam kompleks Universitas California.
Di sana, di dalam kamar sederhana bernuansa hangat, Cinderella menemukan ketenangan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia hidup layaknya mahasiswi biasa yang tenang, anggun, dan teratur.
Di asrama itu pula, Cinderella tidak lagi sendirian. Ia tinggal bersama Prilly—gadis riang yang dulu menjadi rekan kerjanya di bar eksklusif.
Perhubungan nasib dan ketulusan Prilly membuat hubungan mereka berkembang cepat dari sekadar rekan kerja menjadi dua orang sahabat yang saling menguatkan.
Cinderella—dengan kecerdasan analisisnya mengelola sisa aset rahasia dari brankas Mansion Huntington—telah melunasi seluruh biaya pendidikan Prilly di kampus itu hingga tamat.
Bagi Cinderella, uang adalah alat, dan investasi terbaiknya saat ini adalah memastikan Prilly memiliki masa depan yang layak tanpa harus memeras keringat di tempat malam yang kelam.
Prilly sendiri telah mengundurkan diri dari bar, begitu pula dengan raga Ember ini. Cinderella tidak perlu lagi bekerja malam; ia hanya perlu menikmati hari-harinya yang tenang sebagai mahasiswi berprestasi.
Namun, ketenangan itu mendadak goyah malam ini.
Sebuah rumor panas mengguncang seluruh penghuni asrama putra dan putri. Berita itu menyebar bagaikan api menyambar jerami kering: Draxler Lutolf Ashford resmi pindah dan akan tinggal di asrama kampus.
Putra bungsu keluarga konglomerat Ashford—pria yang memiliki mansion pribadi dan penthouse mewah di pusat kota—secara mengejutkan menanggalkan segala kemewahan fasilitas pribadinya hanya demi menempati satu kamar asrama di lantai dua gedung putra.
Dan seluruh isi kampus tahu pasti alasan tunggal di balik keputusan gila tersebut: Draxler sedang terang-terangan mengejar satu-satunya gadis yang pernah ia abaikan.
Suasana ruang makan bersama di lantai dasar asrama malam itu terasa luar biasa riuh.
Lampu-lampu gantung memendarkan cahaya kekuningan yang hangat, memantul di atas meja-meja kayu panjang tempat para mahasiswa menyantap makan malam.
Prilly menyenggol lengan Cinderella dengan siku tangannya, matanya membelalak menatap ke arah pintu masuk ruang makan.
"Ember... lihat itu," bisik Prilly seraya menahan napas. "Pangeran es itu benar-benar gila. Dia sungguhan pindah ke asrama!"
Cinderella yang sedang menyuapkan sendok sup hangatnya hanya melirik tipis tanpa menghentikan gerakannya.
"Biarkan saja. Dia hanya sedang memainkan perannya sebagai pemuda yang frustrasi."
Dari arah pintu, Draxler melangkah masuk.
Pria berpostur tinggi tegap itu mengenakan kaus polos hitam berserat halus yang melekat pas di dadanya yang bidang, dipadu celana kain santai.
Penampilannya yang kasual justru membuat aura tampannya makin mencolok di antara para mahasiswa asrama lainnya.
Di tangannya, ia membawa nampan berisi jatah makan malam asrama.
Manik mata Draxler menyapu seluruh isi ruangan, dan dalam hitungan detik, tatapannya terkunci tepat pada sosok Cinderella yang duduk di sudut meja dekat jendela.
Tanpa ragu, dengan langkah lebar dan percaya diri yang mutlak, Draxler berjalan melintasi kerumunan mahasiswa yang berbisik-bisik heboh. Ia menarik kursi kayu tepat di samping Cinderella dan mendudukinya tanpa meminta izin.
Brak.
Nampan makan malamnya mendarat mulus di atas meja.
Prilly yang duduk di hadapan Cinderella seketika tersedak air minumnya sendiri.
"Uhuk! Maaf... permisi," gugup Prilly seraya menggeser piringnya sedikit, merasa terintimidasi oleh kehadiran kasta teratas kampus itu.
Cinderella meletakkan sendoknya perlahan. Ia memalingkan wajahnya ke samping, menatap Draxler dengan pandangan datar dan alis yang terangkat tipis.
"Kamar asramamu tidak punya meja makan sendiri, Mr. Ashford?" tanya Cinderella dingin.
Draxler menoleh, menatap wajah Cinderella dari jarak yang teramat dekat. Dan untuk pertama kalinya dalam kurun waktu delapan bulan mengenal raga ini—setelah matanya tak lagi ditutupi oleh rasa gengsi dan prasangka buruk—Draxler mendadak terpaku.
Di bawah pendar lampu hangat ruang makan, Draxler baru benar-benar menyadari betapa cantiknya gadis di sampingnya ini.
Kulitnya yang pucat tampak begitu halus bagaikan porselen, garis rahangnya tegas namun anggun, hidungnya terancung sempurna, dan bibir tipisnya yang alami tanpa riasan berlebihan memancarkan daya pikat yang teramat mahal.
Dulu, Draxler terlalu sibuk membentengi dirinya dari keberisikan Ember hingga tak pernah benar-benar menatap betapa mempesonanya paras gadis ini.
Draxler menelan ludahnya susah payah.
Ada jeda beberapa detik di mana ia hanya mematungi wajah Cinderella dengan tatapan terpesona yang telanjang.
"Draxler?" tegur Cinderella lagi, mengibaskan jemarinya di depan wajah pemuda itu.
Draxler terkesiap tipis, dengan cepat menetralkan raut wajahnya yang sempat linglung. Ia berdehem pelan untuk menyembunyikan rasa canggungnya.
"Fasilitas makan di sini berlaku untuk seluruh penghuni asrama, Ember," jawab Draxler dengan suara rendah dan santai, mencoba bersikap acuh tak acuh meski jantungnya berdegup tak beraturan di dalam dada. "Dan aku adalah penghuni resmi mulai malam ini."
"Tapi meja di sebelah sana masih kosong melompong," sela Prilly pelan sambil menunjuk meja ujung dengan polosnya.
Draxler melirik Prilly sebentar, lalu kembali menatap Cinderella. "Aku lebih suka duduk di sini. Makanan di meja ini terlihat lebih enak."
Cinderella menyunggingkan senyum sinis yang tipis. "Makanan kita persis sama, Draxler. Jatah dapur asrama."
"Tapi orang yang duduk di sampingku beda," balas Draxler cepat tanpa ragu sedikit pun.
Prilly menepuk jidatnya sendiri, menahan tawa kecil melihat kekonyolan hubungan dua orang di hadapannya. Pria yang dulu dikenal paling dingin dan tak tersentuh di seluruh universitas, kini melontarkan rayuan murah di meja makan asrama hanya demi mendapatkan perhatian.
Cinderella tidak melayani rayuan itu. Ia kembali meraih garpunya, melanjutkan makan malamnya dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang, sepenuhnya mengabaikan keberadaan Draxler yang duduk rapat di sisinya.
Draxler yang tidak biasa diabaikan mulai merasa gemas. Ia memotong daging steak di piringnya, lalu tanpa bersuara, ia menggeser potongan daging terbaik itu ke atas piring Cinderella.
Cinderella menghentikan garpunya. Ia menatap potongan daging di piringnya, lalu menatap Draxler dengan dahi berkerut. "Apa yang kau lakukan?"
"Kau terlalu kurus," ucap Draxler santai seraya menyuap makanannya sendiri. "Dua bulan tinggal di asrama, badanmu terlihat lebih tipis. Makan yang banyak."
"Aku tidak minta dagingmu," balas Cinderella tegas, berniat memindahkan kembali potongan daging itu.
Namun dengan cepat, Draxler menahan jemari Cinderella yang memegang garpu. Sentuhan kulit mereka yang hangat seketika mengalirkan desiran aneh yang membuat Cinderella tertegun sejenak.
Draxler menatap matanya dalam-dalam, sorot matanya tidak lagi memancarkan keangkuhan, melainkan ketulusan yang pekat.
"Makan saja, Ember," bisik Draxler pelan, suaranya terdengar begitu lembut di antara riuh ruang makan. "Anggap saja ini permohonan maaf dariku karena baru menyadari betapa cantiknya dirimu malam ini."
Pernyataan jujur itu terlontar begitu saja dari bibir Draxler, membuat Prilly di seberang meja hampir menyemburkan tehnya lagi.
Cinderella menatap Draxler, mencoba mencari kepalsuan di dalam manik mata pemuda 19 tahun itu. Namun yang ia temukan hanyalah kepasrahan seorang pria muda yang benar-benar telah jatuh dalam permainannya sendiri.
Cinderella menarik tangannya pelan dari genggaman Draxler. Ia tidak mengembalikan daging itu, melainkan menyuapnya perlahan.
"Jangan berpikir daging ini bisa mengubah keputusanku, Draxler," kata Cinderella dingin setelah menelan makanannya.
Draxler menyunggingkan senyum tipis—senyum pertama yang tulus dan mempesona yang pernah ia tunjukkan pada raga Ember.
"Aku tahu," jawab Draxler penuh tekad.
"Satu potongan daging tentu tidak cukup. Itu sebabnya aku punya banyak waktu selama tinggal di asrama ini untuk menyajikan seluruh isi dunia untukmu, sampai kau mau menatapku lagi."
Cinderella menggelengkan kepalanya pelan, menyembunyikan getaran tipis di dadanya atas kegilaan pemuda Ashford yang kini resmi memulai perburuannya di bawah atap asrama yang sama.