"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."
"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.
"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."
Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.
Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?
Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersembunyi
Sore harinya, setelah badai pertempuran bursa saham mereda dan kepanikan para investor berubah menjadi gelombang apresiasi, atmosfer di kediaman Velmore terasa jauh lebih hangat. Pendar keemasan dari matahari terbenam membiaskan cahaya jingga yang lembut di sepanjang halaman belakang rumah yang luas dan asri.
Dante mengendalikan kursi rodanya perlahan menyusuri jalan setapak berkerikil putih menuju sebuah gazebo kayu di tepi kolam teratai. Di sana, Levara telah menunggu dengan mengenakan gaun santai berwarna krem. Di atas meja kayu, tersaji dua cangkir teh chamomile hangat dan satu piring kecil kue kering buatan rumah.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Levara lembut seraya menyambut Dante dan membantunya mengarahkan kursi roda ke samping bangku kayu.
"Jauh lebih rileks," balas Dante seraya menghirup aroma teh yang menguar di udara. Matanya tak lepas menatap wajah cantik Levara yang diterpa cahaya keemasan sore. "Terutama saat aku akhirnya bisa duduk tenang di dekatmu seperti ini, tanpa ada gangguan telepon bursa atau laporan investigasi."
Levara tersenyum manis, duduk rapat di samping kursi roda Dante. Ia meraih cangkir tehnya, menyesapnya perlahan sebelum menatap lurus ke dalam iris mata tegap suaminya. "Aku masih merasa seperti bermimpi, Dante. Tadi pagi kita hampir saja kehilangan segalanya jika kamu panik sedikit saja saat saham Velmore merosot."
"Dalam pertempuran apa pun, sayang," tutur Dante pelan namun sarat makna, "siapa pun yang membiarkan emosinya memegang kendali akan menjadi pihak pertama yang mengambil keputusan bodoh dan akhirnya tumbang. David Veyron bertindak atas dasar emosi dan rasa takut, sementara aku bertindak atas dasar perhitungan dingin."
"Tapi kamu tidak sepenuhnya dingin, kan?" goda Levara dengan senyuman tipis, miringkan kepalanya menatap Dante. "Aku tahu ada saat-saat di mana kamu merasa cemas."
Dante diam sejenak. Pria itu mengulurkan tangan kirinya, menggenggam jemari Levara dengan erat dan hangat. Jemarinya yang kokoh mengusap punggung tangan istrinya penuh kelembutan.
"Kamu benar," aku Dante dengan nada suara yang bergetar jujur. "Jujur saja, ada satu hal yang membuat dadaku terasa sangat sesak dan takut sepanjang hari ini."
Levara menaikkan alisnya bingung, menatap Dante penuh perhatian. "Takut karena apa, Dante? Apakah ada strategi David yang belum kita ketahui?"
Dante menggelengkan kepalanya perlahan. "Bukan soal David atau bisnis Velmore Group. Aku tidak pernah takut kehilangan harta atau jabatan, Levara. Tapi aku sangat takut jika serangan bertubi-tubi dari David hari ini mengalihkan perhatianku ... hingga aku lalai dan membuatmu berada dalam bahaya lagi."
Jantung Levara berdesir hangat mendengar pengakuan tulus itu. Rasa haru mendalam menyeruak memenuhi dadanya. Ia memajukan tubuhnya, meraih kedua belah tangan Dante, lalu mengecup punggung tangan suaminya dengan penuh rasa sayang.
"Dante, dengarkan aku," ucap Levara lirih namun penuh penekanan, menatap dalam-dalam ke mata Dante. "Sejak hari pertama aku menandatangani perjanjian pernikahan kita, aku tahu risiko apa yang akan kuhadapi. Tapi berdiri di sisimu, menjadi istrimu, adalah keputusan terbaik dalam hidupku. Selama aku berada di dekatmu, aku tidak pernah merasa takut."
"Levara ...," bisik Dante pelan.
"Kita sudah melangkah sejauh ini bersama-sama," lanjut Levara dengan mata berbinar-binar basah oleh keharuan. "Saling menopang, saling melengkapi. Jadi jangan pernah merasa kamu menanggung semua beban ini sendirian, paham?"
Dante menatap istrinya dengan rasa cinta yang teramat dalam. Perlahan, pria itu menarik jemari Levara mendekat, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dan lama di dahi Levara. Levara memejamkan matanya, menikmati kehangatan sentuhan Dante yang menyalurkan rasa aman luar biasa di tengah kepungan teror yang belum sepenuhnya usai.
"Terima kasih, sayang," bisik Dante di dekat telinga istrinya tatkala ia menyandarkan kepala Levara di atas dadanya yang bidang. "Terima kasih karena sudah memilih untuk bertahan di sisiku."
"Selamanya, Dante," sahut Levara pelan, melingkarkan tangannya di bahu tegap Dante. "Aku akan selalu ada di sisimu selamanya."
Di bawah naungan pendar matahari terbenam yang perlahan berganti menjadi senja keunguan, kedua insan itu saling memeluk erat, menikmati momen romantis dan damai yang teramat langka di tengah badai besar yang sedang mereka hadapi bersama.
.
.
.
.
Malam semakin larut di kediaman Velmore. Keheningan malam dipatahkan oleh jarum jam yang menunjukkan pukul sebelas malam. Di dalam ruang arsip pribadi yang terletak di lantai bawah tanah, Dante dan Levara masih terduduk di depan sebuah meja kayu besar. Di atas meja tersebut, terhampar berbagai kotak tua dan barang-barang peninggalan masa kecil Levara yang baru saja dipindahkan dari brankas penyimpanan aman.
Levara memilah-milah tumpukan buku gambar usang dan foto-foto masa kecilnya dengan jemari gemetar. "Aku mengingat momen-momen saat papa melukis gambar-gambar ini, Dante. Dulu aku berpikir hidup kami sangat sederhana dan bahagia, tanpa pernah tahu beban raksasa yang dipikul papa untuk melindungiku dari kejahatan David Veyron."
Dante mengusap punggung Levara lembut, memberikan dukungan emosional. "Paman Edlan adalah pria yang sangat luar biasa dan jenius, Levara. Dia tahu bahwa suatu hari nanti, kebenaran harus diungkapkan oleh orang yang tepat."
Levara mengangguk pelan. Tangannya kemudian menjangkau sebuah kotak kayu kecil berukiran bunga mawar yang terletak di dasar tumpukan. Saat ia membuka tutupnya, matanya tertuju pada sebuah mainan ukiran kayu berbentuk mobil-mobilan kecil yang sudah agak kusam dimakan usia.
"Mainan ini ...," gumam Levara seraya mengangkat mobil-mobilan kayu itu dengan kedua tangannya. Matanya mendadak berbinar penuh kenangan. "Ini adalah mainan mobil-mobilan buatan tangan papa sendiri untuk ulang tahunku yang kelima. Papa mengukirnya sendiri dari kayu jati padat."
Dante mendekatkan kursi rodanya, mengamati mainan kayu yang dipegang Levara dengan cermat di bawah pendar lampu meja yang terang. "Bolehkah aku melihatnya sebentar, sayang?"
"Tentu," sahut Levara seraya menyerahkan mainan kayu tersebut ke tangan Dante.
Dante memutar-mutar mobil-mobilan kayu itu di telapak tangannya. Ibu jarinya meraba setiap lekukan kayu dengan ketelitian tinggi. Pria itu menyandarkan siku di meja, menimbang-nimbang bobot mainan tersebut.
"Ada yang aneh dengan mobil-mobilan ini," ujar Dante dengan kening berkerut dalam.
"Aneh bagaimana, Dante?" tanya Levara heran.
"Bobotnya tidak seimbang," jelas Dante tegas. "Bagian depan mobil-mobilan ini terasa jauh lebih berat daripada bagian belakangnya. Padahal jika ini diukir dari kayu jati padat murni, distribusi bobotnya harusnya merata di seluruh bagian."
Levara mendekat, matanya membelalak penasaran. "Maksudmu ... ada sesuatu yang disembunyikan di dalam mainan ini?"
"Mari kita periksa," jawab Dante. Ia mengambil sebuah alat pemotong kecil dan pisau presisi dari kotak perkakas Riko yang ada di sudut meja.
Dengan penuh kehati-hatian agar tidak merusak ukiran kayu peninggalan Edlan, Dante meraba bagian bawah selongsong roda mobil-mobilan tersebut. Di dekat poros roda bagian depan, ibu jari Dante merasakan adanya tepi garis yang sangat halus, sebuah celah tersembunyi yang ditutup rapat dengan pasak kayu berukuran sangat kecil.
"Lihat ini, Levara," bisik Dante seraya menunjuk garis halus tersebut dengan ujung pisau presisi. "Papa Edlan sengaja menutupi celah ini dengan pasak kayu yang dipoles sangat rapi hingga menyatu sempurna dengan warna kayu aslinya."
"Astaga ...," desis Levara dengan napas tertahan di tenggorokan. "Papa benar-benar menyembunyikannya di tempat yang paling tidak terduga!"
Dante menggunakan ujung pisau lipatnya untuk menekan pasak kayu kecil itu secara perlahan dan hati-hati.
KLIK!
Sebuah bunyi mekanisme kecil terdengar. Pasak kayu terlepas, dan rongga rahasia berbentuk persegi panjang di dalam selongsong mainan kayu itu terbuka lebar. Dari dalam rongga tersebut, meluncur jatuh sebuah benda logam berukuran kecil ke atas permukaan meja.
Sebuah flashdisk tua bertutup logam perak yang masih sangat terawat, dengan ukiran inisial "EL." di permukaannya.
"Ini ...," Levara menutupi mulutnya, air mata keharuan langsung menetes membahasi pipinya. "Ini flashdisk asli milik Papa! Inisial itu ... Edlan!"
Dante mengambil flashdisk tersebut dengan tatapan penuh penghargaan mendalam. "Dokumen yang kita dapat dari Helena kemarin hanyalah salinan kasar. Tapi benda ini ... ini adalah penyimpanan pribadi murni yang disembunyikan langsung oleh Papa Edlan sebelum dia diculik dua puluh tahun lalu."
"Dante, kita harus melihat isinya sekarang!" seru Levara dengan suara bergetar dipenuhi desakan emosi dan harapan tinggi.
"Riko!" panggil Dante dengan nada membahana ke arah pintu ruang arsip. "Bawa komputer ke sini detik ini juga!"
________
Persiapkan diri kaliaaaaaaaan🤣🤣
malemgara2 mikirin leva😭😭