Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 — Tiga Hari yang Hilang
Suara pertama yang Ervan dengar adalah bunyi berulang dengan jarak yang teratur.
Tit.
Tit.
Tit.
Kelopak matanya terasa berat. Ketika akhirnya berhasil dibuka, cahaya putih dari langit-langit langsung memaksanya memicingkan mata.
Bau antiseptik memenuhi hidungnya.
Ervan mencoba menggerakkan tangan.
Nyeri tumpul segera menjalar dari bahu kiri hingga punggung.
"𝘒𝘩…" desis 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
Suara kecil itu cukup membuat seseorang di samping tempat tidurnya tersentak.
"𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯? 𝘒𝘢𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬?" panggil sebuah suara serak.
Ervan menggeser pandangan.
Wajah Nenek Rosaline perlahan terlihat jelas.
Perempuan tua itu duduk di kursi dengan kedua tangan bertumpu pada tongkatnya. Di sebelahnya, Ammy yang tadi tertidur dengan kepala bersandar pada dinding langsung bangkit.
"𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯! 𝘠𝘢 𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯, 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢…" seru 𝗔𝗺𝗺𝘆, suaranya masih parau.
Ammy berdiri terlalu cepat hingga hampir menjatuhkan gelas di meja.
"𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬, 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯! 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵, 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢!" kata 𝗔𝗺𝗺𝘆.
"𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢, 𝘈𝘮𝘮𝘺. 𝘔𝘢𝘵𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘶𝘭𝘶," jawab 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.
Nada suaranya tenang seperti biasa, tetapi Ervan bisa melihat bahunya yang mengendur seolah baru saja melepaskan sesuatu yang ditahan terlalu lama.
Ervan mencoba bangun.
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘉𝘢𝘩𝘶𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘮𝘱𝘶," cegah 𝗔𝗺𝗺𝘆.
Ammy segera mendekat dan menekan tombol untuk menaikkan sandaran tempat tidur.
"𝘗𝘦𝘭𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘭𝘢𝘯. 𝘉𝘪𝘢𝘳 𝘴𝘢𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘪𝘬, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘫𝘢," ujar 𝗔𝗺𝗺𝘆 sambil menahan bantalnya.
Ervan menurut.
Tubuhnya terasa berat. Bukan seperti kelelahan setelah jogging, melainkan seolah seluruh otot pernah dihantam lalu dipasang kembali dengan terburu-buru.
Potongan ingatan muncul.
Gedung kosong.
BETA.
Bau darah.
Rahang yang menggigit bahunya.
Batang besi di tangannya.
Lalu suara seseorang memanggil sebelum semuanya gelap.
Ervan menoleh ke sekeliling.
"𝘙𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪… 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢?" tanya 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 serak.
"𝘙𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘚𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘒𝘩𝘶𝘴𝘶𝘴 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳," jawab 𝗔𝗺𝗺𝘆 sambil merapikan selimutnya. "𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘸𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘥𝘶𝘴𝘵𝘳𝘪."
Ervan menatap infus yang terpasang di tangannya.
"𝘐𝘯𝘧𝘶𝘴 𝘪𝘯𝘪… 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪?" tanya 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
Ammy dan Rosaline saling pandang.
Rosaline yang menjawab.
"𝘛𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪. 𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢," kata 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.
Ervan mengira pendengarannya belum pulih sempurna.
"𝘛𝘪𝘨𝘢… 𝘩𝘢𝘳𝘪? 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘨𝘢?" ulang 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘠𝘢, 𝘵𝘪𝘨𝘢. 𝘈𝘮𝘮𝘺 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘩𝘢𝘧𝘢𝘭 𝘫𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘸𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘧𝘶𝘴𝘮𝘶," sahut 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.
Ervan terdiam.
Baginya, pertarungan itu terasa seperti terjadi beberapa jam lalu.
Tiga hari.
Ia mengangkat tangan dan menyentuh bahu kirinya. Luka gigitan sudah dibalut, tetapi rasa sakitnya jauh lebih ringan daripada yang ia ingat.
Ammy segera menepis tangannya perlahan.
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩, 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘪𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪," tegur 𝗔𝗺𝗺𝘆.
"𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢. 𝘛𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩, 𝘬𝘰𝘬," bela 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳. 𝘛𝘶𝘨𝘢𝘴𝘮𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶, 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩," balas 𝗔𝗺𝗺𝘆.
Ervan hendak menjawab, tetapi tenggorokannya kering.
Ammy mengambil gelas dan membantu memberinya air.
Setelah beberapa teguk, Ervan menyandarkan kepala.
"𝘈𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢? 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘯?" tanya 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘢𝘪𝘬, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘳𝘪𝘣𝘶𝘵," jawab 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲. "𝘋𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪𝘮𝘶."
"𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶," gumam 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
Rosaline memicingkan mata.
"𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴? 𝘉𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴?" ulang 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.
Ervan tahu nada itu.
Nada yang sama ketika dirinya pulang terlambat saat kecil dan mencoba masuk panti lewat jendela dapur.
"𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘥𝘶𝘭𝘶, 𝘢𝘬𝘶—" 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mencoba menyela.
"𝘒𝘢𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘚𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳? 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘭," potong 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.
Ervan tidak menjawab.
Tentu ia ingat.
Jangan berlatih secara bodoh.
Jangan menyembunyikan kondisi serius.
Jangan menghilang tanpa kabar.
Dan dalam satu hari, Ervan berhasil melanggar hampir semuanya.
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘉𝘌𝘛𝘈. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘸𝘢𝘳𝘢𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢," jawab 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.
"𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘫𝘰𝘨𝘨𝘪𝘯𝘨. 𝘎𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘳𝘶𝘵𝘦 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵," lanjut 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘐𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶. 𝘛𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢," sahut 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶, 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘥𝘪𝘭𝘪?" keluh 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
Rosaline menatapnya lama.
"𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘢𝘯𝘥𝘢, 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘑𝘢𝘵𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪," jawab 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.
Ammy menahan senyum.
Ervan menyerah dan bersandar kembali.
Beberapa detik berlalu.
"𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵… 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳?" tanya 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.
Pertanyaan itu membuat Ervan menoleh.
Tidak ada kemarahan di wajah perempuan tua itu.
Hanya keseriusan.
Ervan bahkan tidak membutuhkan waktu untuk berpikir.
"𝘐𝘺𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘢𝘶," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tanpa mengalihkan pandangan.
Ammy menatapnya.
Rosaline mengangguk kecil.
"𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘶𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢," kata 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.
Ervan sedikit terkejut.
"𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘯𝘥𝘢𝘢𝘯," lanjut 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.
Rosaline mencondongkan tubuh.
"𝘉𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘬𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳. 𝘉𝘦𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯," ucap 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 pelan.
Ervan tidak menyela.
"𝘒𝘢𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯. 𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪𝘢𝘯," kata 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.
Rosaline mengetukkan ujung tongkatnya satu kali ke lantai.
"𝘐𝘵𝘶 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘶𝘳𝘮𝘶. 𝘋𝘢𝘯 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘪𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶," tegas 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.
Ruangan menjadi sunyi.
Ervan menurunkan pandangan.
Pertarungan itu kembali terlintas.
Pukulan yang terlalu lebar.
Kakinya yang salah berpijak.
Guard yang bahkan tidak ada.
Serangan yang dilakukan tanpa tahu apa yang akan dilakukan setelahnya.
Ia tidak pernah menganggap dirinya hebat.
Namun tanpa sadar, peningkatan fisiknya membuatnya merasa sedikit terlalu percaya diri.
Sampai seekor BETA menghancurkan perasaan itu dalam beberapa menit.
"𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪, 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 lirih.
Rosaline menatapnya beberapa saat.
"𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪. 𝘉𝘶𝘬𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘶𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯," balas 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.
---
Hampir satu jam kemudian, pintu kamar kembali terbuka.
Seorang pemuda masuk dengan tas selempang di bahunya.
Sebastian Greyad berhenti tepat setelah melihat Ervan sudah duduk.
Keduanya saling menatap.
Sebastian menghela napas panjang.
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳, 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘪? 𝘔𝘪𝘯𝘪𝘮𝘢𝘭 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘶𝘭𝘶, 𝘣𝘪𝘢𝘳 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘵𝘢𝘸𝘢𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶," kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
Ervan mengangkat satu alis.
"𝘛𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘗𝘦𝘳𝘤𝘰𝘣𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭," balas 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
Ammy menutup mulut menahan tawa.
Sebastian menunjuknya.
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢. 𝘐𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘦𝘴𝘵𝘢𝘴𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘧𝘰𝘳𝘮𝘶𝘭𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪," tukas 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢. 𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭," sahut 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘞𝘢𝘫𝘢𝘩𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢. 𝘔𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪," kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
"𝘐𝘯𝘪 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘯𝘰𝘳𝘮𝘢𝘭𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘶𝘭𝘶," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩," simpul 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
Ervan mendengus kecil.
Namun ekspresi Sebastian segera berubah ketika melihat balutan di bahu dan lengan sahabatnya.
Ia menarik kursi.
"𝘊𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢? 𝘊𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘸𝘢𝘭," pinta 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻, suaranya merendah.
Ervan menceritakan semuanya.
Rute jogging baru.
Kawasan industri.
Kerusakan pada bangunan.
Kemudian BETA yang muncul tanpa peringatan.
Ia menceritakan bagaimana dirinya mencoba melawan, kehilangan keseimbangan berkali-kali, terluka, kemudian menggunakan potongan besi untuk bertahan hidup.
Ia tidak menceritakan keanehan recovery tubuhnya secara mendalam.
Bukan karena sengaja ingin berbohong.
Ervan sendiri belum punya jawaban.
Sebastian tidak menyela sampai cerita selesai.
"𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘪 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯? 𝘛𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘙𝘦𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢, 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯?" tanya 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
"𝘚𝘪𝘵𝘶𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯. 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘒𝘢𝘣𝘶𝘳? 𝘐𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶," desak 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
"𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
Sebastian terdiam.
Ia seorang siswa SGA. Ia tahu bahwa manusia yang tidak memiliki pengalaman tempur nyata bisa membeku hanya karena melihat BETA dari jarak dekat.
"𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘵𝘪," kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 akhirnya. "𝘏𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘵𝘪, 𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘢𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢?"
Ervan menoleh.
"𝘛𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶. 𝘏𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳? 𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘢𝘵𝘪?" tanya 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘧𝘪𝘯𝘪𝘴𝘩𝘪𝘯𝘨," jawab 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
Ervan terdiam.
Berarti ia bahkan gagal memastikan target benar-benar mati.
Kesalahan lain.
Sebastian seperti mengetahui apa yang sedang dipikirkan Ervan.
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶," kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. "𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱. 𝘐𝘵𝘶 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘋𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘰𝘯𝘨𝘬𝘢𝘳 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪, 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪."
Belum sempat Ervan menjawab, pintu kembali terbuka.
Seorang dokter masuk membawa tablet digital.
"𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘪𝘦𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯," kata sang 𝗗𝗼𝗸𝘁𝗲𝗿 sambil melirik monitor. "𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢? 𝘈𝘥𝘢 𝘱𝘶𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘳𝘢𝘴𝘢?"
"𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘣𝘳𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘭𝘪𝘯𝘥𝘢𝘴 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘒𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘪𝘴𝘪 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬𝘮𝘶," sahut 𝗗𝗼𝗸𝘁𝗲𝗿.
Dokter memeriksa pupil, tekanan darah, respons saraf, lalu membuka balutan pada bahu.
Ervan ikut melihat.
Bekas gigitan masih ada.
Namun jauh lebih kecil dibanding yang ia ingat.
Dokter menatap hasil pemindaian.
"𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯 𝘷𝘪𝘵𝘢𝘭 𝘴𝘵𝘢𝘣𝘪𝘭. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘪𝘯𝘧𝘦𝘬𝘴𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘢𝘯𝘦𝘯," kata 𝗗𝗼𝗸𝘁𝗲𝗿.
"𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘯? 𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬," jawab 𝗗𝗼𝗸𝘁𝗲𝗿.
Jawabannya terlalu cepat.
Ervan menutup mulut.
"𝘋𝘶𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘰𝘣𝘴𝘦𝘳𝘷𝘢𝘴𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘰𝘮𝘱𝘭𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪, 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨. 𝘗𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶," lanjut 𝗗𝗼𝗸𝘁𝗲𝗿.
Dokter lalu memeriksa luka pada lengannya.
Kerutan di dahinya semakin jelas.
"𝘋𝘰𝘬? 𝘈𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩?" tanya 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
Dokter tidak langsung menjawab.
"𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘪 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪," kata 𝗗𝗼𝗸𝘁𝗲𝗿 perlahan.
Ia melihat data pada tablet sekali lagi.
"𝘚𝘦𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘪𝘯𝘪," lanjut 𝗗𝗼𝗸𝘁𝗲𝗿.
Ervan menunggu.
"𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘨𝘪𝘨𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘪𝘵𝘶…" gumam 𝗗𝗼𝗸𝘁𝗲𝗿.
Dokter menatapnya.
"…𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢," ucap 𝗗𝗼𝗸𝘁𝗲𝗿.
Sebastian berhenti bersandar.
Ammy ikut menatap Ervan.
Rosaline yang sejak tadi diam tidak mengatakan apa-apa.
Ervan tersenyum kaku.
"𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘳𝘦𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳𝘺 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘊𝘖𝘙𝘌 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘥𝘢, 𝘋𝘰𝘬? 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘵𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘉𝘦𝘳𝘣𝘦𝘥𝘢, 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳," jawab 𝗗𝗼𝗸𝘁𝗲𝗿.
Dokter mengangguk.
"𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘰𝘭𝘢 𝘧𝘪𝘴𝘪𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪𝘴𝘯𝘺𝘢. 𝘑𝘢𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘳𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘪𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯," jelas 𝗗𝗼𝗸𝘁𝗲𝗿.
Ia menutup tablet.
"𝘛𝘶𝘣𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘱𝘰𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯," kata 𝗗𝗼𝗸𝘁𝗲𝗿.
Tidak ada penjelasan lebih jauh.
Karena memang tidak ada yang memilikinya.
Termasuk Ervan.
---
Malam datang.
Lampu kamar diredupkan.
Ervan sendirian menatap langit-langit.
Ia mengangkat tangan kanan.
Tidak ada kekuatan luar biasa.
Tidak ada jawaban.
Hanya telapak tangan yang tiga hari lalu menggenggam batang besi karena itu satu-satunya benda yang membuatnya tetap hidup.
Ervan mengingat seluruh kesalahannya.
Awareness buruk.
Tidak punya stance.
Tidak punya guard.
Footwork kacau.
Menyerang sembarangan.
Tidak tahu menjaga jarak.
Tidak mampu membaca gerakan.
Tidak menyiapkan jalan mundur.
Dan yang terburuk—
ia terlalu percaya bahwa tubuh yang lebih kuat berarti dirinya sudah lebih siap.
Ervan memejamkan mata.
Dalam pikirannya muncul halaman jurnal latihan yang ia tinggalkan di kamar.
COMBAT — PRIORITAS BARU.
Dulu itu hanya daftar keterampilan yang harus dipelajari.
Sekarang setiap kata di dalamnya memiliki harga.
Bahu yang digigit.
Lutut yang hampir tidak bisa menopang tubuh.
Darah yang memenuhi mulutnya.
Dan tiga hari hidupnya yang hilang begitu saja.
Ervan membuka mata kembali.
Seleksi Hunter semakin dekat.
Ia tidak punya sepuluh tahun seperti calon lain.
Tidak punya pengalaman.
Tidak punya Regalia.
Dan sekarang ia akhirnya cukup sadar untuk mengakui sesuatu.
Ia belum siap.
Tangan Ervan perlahan mengepal di atas selimut.
"𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴…" bisik 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 pada langit-langit.
Tatapannya berubah.
"…𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳," lanjut 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 pelan.
Untuk pertama kalinya sejak memutuskan mengejar mimpinya lagi, Ervan tidak memikirkan bagaimana menjadi lebih kuat.
Ia memikirkan bagaimana caranya tidak mati ketika menggunakan kekuatan itu.
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊