Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.
Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.
Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Aisha merapikan bajunya sejenak di depan cermin kecil ruangannya. Setelah meletakkan tas ranselnya dan mengambil berkas cetak laporan, ia melangkah keluar menuju ruangan bosnya.
Ia memutar knop pintu dan mengetuk dua kali.
"Please, come in," suara Anton terdengar dari dalam.
Aisha melangkah masuk. Ruangan kerja Anton terasa jauh lebih hangat dibandingkan dengan koridor luar, beraroma samar kopi hitam dan kayu cedar. Anton sedang duduk di balik mejanya yang besar, berpura-pura sangat sibuk menatap layar monitor, padahal matanya sama sekali tidak fokus membaca deretan angka di sana.
"The work you gave me before is all done, Sir!," ujar Aisha seraya menyerahkan folder ke meja Anton.
Anton berdehem pelan, menarik berkas itu lalu membukanya. Tangannya mengambil sebuah pulpen hitam, dan matanya mulai menelusuri tiap lembar kertas dengan cermat. Selama beberapa menit, hanya suara ketukan pendingin ruangan dan gesekan kertas yang terdengar di antara mereka.
"Hasil analisis kamu bagus sekali, Aisha," puji Anton jujur tanpa mengalihkan tatapannya dari berkas. "Detail, rapi, dan semua grafik perbandingannya akurat. This is really good, Aisha. Well done"
"Thank you, Sir!" sahut Aisha dengan senyum bangga.
Anton mengangguk-angguk puas. Ia menandatangani lembar pengesahan di bagian paling belakang, menutup folder tersebut, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Ia memutar pulpennya di jemari, menatap Aisha yang berdiri tegak di depan mejanya.
Suasana kembali hening sejenak. Anton tampak ragu, seperti sedang menimbang kata-kata yang ingin diucapkannya.
"Ehem... Aisha," panggil Anton pelan.
"Yes, Sir?"
Anton memajukan tubuhnya sedikit, menautkan kedua tangannya di atas meja. Tatapannya berubah menjadi agak intens, rasa ingin tahu yang dipendamnya sejak kemarin sore akhirnya tidak bisa ditahan lagi.
"By the way, Aisha....kemarin setelah makan siang, kamu pergi ke mana?" tanya Anton penasaran. "Saya sempat cari kamu ke ruanganmu, tapi kamu sudah tidak ada."
"Apakah rekan saya tidak memberi tahu Bapak kemaren?" tanya Aisha dengan dahi sedikit berkerut.
Anton menggeleng pelan. "No."
Aisha menghela napas pendek. "Saya kemarin ke rumah sakit, Sir!."
Deg.
Mata Anton seketika membelalak lebar. . Ia refleks memajukan tubuhnya ke arah meja, menatap Aisha dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan penuh cemas.
"To the hospital?!"potong Anton dengan suara meninggi, raut wajahnya seketika panik luar biasa. " Apakah... apakah makanan kemarin tidak cocok dengan kamu? Kamu keracunan makanan? Kenapa tidak hubungi saya?!"
Aisha tertegun melihat reaksi berlebihan atasan kerjanya itu. "Eh, Pak Anton—"
"Apakah sekarang kamu sudah baik-baik saja?!" ujar Anton tanpa memberi jeda. "Kenapa kalau masih sakit kamu nekat masuk kerja hari ini, Aisha? Kamu bisa izin kalau memang belum pulih betul!"
Melihat respon Anton yang semakin liar dan ke mana-mana, Aisha langsung melambaikan kedua tangannya di udara dengan panik.
"No, Sir! It wasn't me!" sergah Aisha cepat-cepat, berusaha memotong kepanikan bosnya. "Bukan saya yang sakit, Pak!"
Anton membeku di tempatnya. Napasnya masih agak memburu, matanya berkedip beberapa kali seraya mencerna ucapan gadis di hadapannya. "B-bukan kamu yang sakit?"
"Bukan, Pak! Aduh, Bapak jangan panik dulu," ujar Aisha seraya meringis canggung. "Saya sehat walafiat, tidak kurang satu apa pun."
"Lalu... kenapa kamu ke rumah sakit kalau bukan kamu yang sakit?"
Aisha mendesah pelan. "Jadi begini...sewaktu saya baru melangkah keluar dari restoran," tutur Aisha dengan gestur tangan memperagakan kejadian, "tepat di jalanan depan restoran itu, ada kecelakaan lalu lintas."
Mata Anton menyempit, mendengarkan dengan penuh perhatian. "Kecelakaan?"
"Iya, Pak! Kejadiannya begitu cepat ," lanjut Aisha. "Orang-orang di sekitar sana sebenarnya ramai, tapi tidak ada yang berani langsung menolong atau membawa mereka ke rumah sakit. Mungkin karena panik atau bingung."
Anton menaikkan sebelah alisnya. "Jadi... kamu yang menolong?"
Aisha mengangguk mantap. "Iya, Pak."
"Jadi... kamu menghabiskan waktu sepanjang sore kemarin di rumah sakit untuk menemani korban?" tanya Anton memastikan.
"Iya, Pak ," sahut Aisha seraya menyengir polos. "Di rumah sakit urusannya agak panjang. Mulai dari administrasi, menemani di ruang IGD, sampai memastikan kondisi korban itu benar-benar aman. Sekali lagi saya mohon maaf ya, Pak..."
Anton menghela napas panjang. Ia menyandarkan kembali punggungnya ke kursi kerja, mengusap wajahnya pelan.
"Haaaah... Saya kira kamu yang sakit," gumam Anton pelan.
Aisha tertawa kecil melihat ekspresi bosnya yang mendadak lemas. "Ya tidak mungkinlah, Pak. Saya kan kuat! Makanan di restoran kemarin juga enak-enak kok."
"Untunglah... Kemarin saya sudah berpikir yang tidak-tidak," celetuk Anton tanpa sadar, menyuarakan isi hatinya yang sempat kalut semalaman gara-gara memikirkan keberadaan gadis itu.
Aisha menghentikan tawa kecilnya. Ia mengedipkan mata beberapa kali, menatap Anton dengan raut wajah polos dan penasaran.
"Pikiran apa, Pak?" tanya Aisha polos. "Pikiran yang tidak-tidak maksudnya gimana?"
Deg!
Anton seketika tersentak. Kesadarannya langsung kembali seratus persen. Ia membelalak, menyadari bahwa ucapan spontannya baru saja membocorkan betapa dalamnya ia memikirkan Aisha semalaman.
'Aduh! Mulutku ini kenapa sih?!' batin Anton panik setengah mati.
Rona merah dengan cepat menjalar dari leher hingga ke ujung telinga Anton. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke samping, berpura-pura batuk kecil untuk menutupi rasa malu dan salah tingkah yang luar biasa.
"Ehem! Ehem... M-maksud saya..." Anton memutar otak mencari alasan paling masuk akal demi menyelamatkan harga diri dan wibawanya.
"Maksudnya?" ulang Aisha, masih menanti jawaban.
"Maksud saya... saya pikir kamu ada alergi makanan!" sergah Anton cepat. "Iya! Alergi! Siapa tahu kamu alergi ikan salmon atau bahan makanan apa gitu di restoran kemarin, terus tiba-tiba pingsan di jalan! Kan bahaya kalau staf saya pingsan gara-gara makan siang sama saya!"
Aisha tertegun sejenak, lalu terkekeh geli mendengar penjelasan bosnya yang terkesan sangat dramatis.
"Ya ampun, Pak... Saya ini tidak punya alergi makanan apa pun," sahut Aisha melambaikan tangannya santai.
"Saya makan apa saja masuk kok, Pak. Dari salmon, udang, sampai makanan pedas juga aman-aman saja."
Anton mengusap tengkuknya yang terasa panas, memaksakan sebuah senyum kaku di bibirnya. "Y-ya baguslah kalau begitu. Kan saya cuma berjaga-jaga. Sebagai atasan, sudah kewajiban saya memastikan kesejahteraan dan kesehatan staf saya."
"Iya, Pak. Terima kasih banyak ya, Pak Anton sudah perhatian banget sama saya," balas Aisha tulus, mengulas senyum manis yang seketika membuat jantung Anton berdesir hebat.
"S-sama-sama..." sahut Anton gugup, buru-buru menarik tumpukan berkas lain di meja kerjanya untuk mengalihkan pandangan. "Ya sudah, kalau begitu kamu kembali ke ruanganmu sekarang."
"Okey, Sir! Saya permisi dulu ya, Pak," pamit Aisha sopan.
Aisha melangkah keluar dan menutup pintu ruangan dengan rapat. Begitu pintu terkunci, Anton menyandarkan seluruh tubuhnya ke sandaran kursi, menghela napas panjang seraya menatap langit-langit ruangannya. Ia memegang dadanya sendiri yang masih berdebar kencang.