Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tumpukan Berkas, Kopi Dingin Kedua, dan Realita yang Mengikis Waktu
Bulan November di Beijing datang membawa angin yang tidak lagi sekadar dingin, melainkan menggigit kulit dan membekukan tulang. Musim gugur telah sepenuhnya mati, meninggalkan pohon-pohon ginkgo yang kini hanya berupa ranting-ranting kering di sepanjang trotoar Universitas Beijing.
Namun, dinginnya cuaca sama sekali tidak memperlambat ritme hidup di kampus ini. Sebaliknya, menjelang akhir semester pertama, semua orang bergerak seperti mesin yang kehilangan rem.
Di lantai empat perpustakaan Fakultas Hukum, Lin Xiao duduk tenggelam di balik tumpukan buku referensi tebal, jurnal internasional, dan tumpukan kertas kasus. Rambut lurusnya yang biasanya selalu rapi kini dicepol asal-asalan dengan sebuah pensil. Di bawah matanya, lingkaran hitam mulai terlihat jelas, mengalahkan lapisan tipis *concealer* yang ia aplikasikan pagi tadi.
Ini adalah minggu ketiga Lin Xiao tidur kurang dari empat jam sehari.
Sebagai mahasiswa baru, terpilih masuk ke dalam tim *Moot Court* (Peradilan Semu) tingkat nasional adalah sebuah keajaiban sekaligus kutukan. Senior-seniornya sangat perfeksionis, dan Lin Xiao, dengan sifat keras kepalanya yang tidak mau terlihat lemah, mengambil porsi riset paling banyak.
Ia memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Matanya menatap deretan teks putusan Mahkamah Agung yang mulai terlihat kabur. Tangan kirinya meraba meja, mencari gelas kopi karton yang ia beli tiga jam lalu. Saat ia meminumnya, cairan itu sudah sedingin es.
Lin Xiao meraih ponselnya. Pukul 20:15.
Ia membuka aplikasi WeChat. Di daftar obrolan teratas yang di-pin, kontak bernama 'Tukang Bolos Kesayangan' hanya menampilkan riwayat obrolan yang sangat singkat sejak tiga hari terakhir.
**[Ketua Kelas Lin]:** *Aku hari ini pulang telat lagi. Ada bedah kasus sampai jam 10 malam. Jangan lupa makan.* (Terkirim 08:00 AM)
**[Tukang Bolos Kesayangan]:** *Siap, Ibu Pengacara. Semangat. Gue lagi *pitching* ke investor lokal buat ekspansi gudang. Nanti malem gue jemput.* (Dibalas 11:30 AM)
**[Ketua Kelas Lin]:** *Oke.* (Terkirim 12:00 PM)
Setelah itu, tidak ada balasan lagi.
Lin Xiao menghela napas panjang, menelungkupkan ponselnya kembali. Dulu, saat masih di SMA Mingde, Lu Feng selalu menjadi orang pertama yang membalas pesannya dalam hitungan detik. Bahkan saat cowok itu sedang dihukum Pak Zhang sekalipun.
Namun sekarang, segalanya berbeda. Bisnis rintisan Lu Feng, *Micro-Logistics Campus Relay*, meledak luar biasa. Apa yang awalnya hanya bermula dari lima orang mahasiswa ber-sepeda, kini telah berkembang menjadi jaringan kurir yang melayani tiga universitas besar di sekitar distrik Haidian. Lu Feng tidak lagi sekadar mahasiswa Manajemen yang duduk di kelas mendengarkan teori; ia adalah seorang eksekutif muda yang harus mengelola puluhan karyawan, berurusan dengan izin regulasi kampus, dan mencari pendanaan dari para pemodal ventura.
Kesuksesan itu datang dengan harga yang sangat mahal: waktu mereka berdua.
Mereka sudah tidak pernah makan *hotpot* bersama selama satu bulan terakhir. Janji untuk menonton film di akhir pekan selalu batal karena masalah operasional dadakan di lapangan, atau karena Lin Xiao harus merevisi naskah pembelaan hukumnya.
Ada perasaan aneh yang mulai menggerogoti dada Lin Xiao. Bukan sekadar rindu, melainkan sebuah kekosongan. Sebuah ketakutan bahwa ambisi yang dulu mengikat mereka, kini justru menciptakan jarak yang perlahan menjauhkan dunia mereka.
Pukul 22:30.
Rapat tim peradilan semu akhirnya selesai dengan evaluasi tajam dari senior. Lin Xiao membereskan tasnya dengan sisa-sisa tenaga. Perutnya berbunyi, mengingatkannya bahwa ia hanya makan sepotong roti sejak siang tadi. Ia berjalan keluar gedung Fakultas Hukum, merapatkan syal abu-abu pemberian Lu Feng di lehernya. Angin malam Beijing langsung menampar wajahnya.
Ia mengambil ponsel, berniat menelepon Lu Feng untuk menanyakan apakah cowok itu jadi menjemputnya. Namun, layarnya hanya menampilkan notifikasi baterai yang tersisa 2%. Belum sempat ia menekan tombol panggil, ponselnya bergetar pelan, lalu layarnya mati total. Kehabisan daya.
Lin Xiao mendesah frustrasi. "Sempurna. Hari ini benar-benar sempurna."
Karena tidak ada pilihan lain, Lin Xiao memutuskan untuk berjalan kaki kembali ke asrama putri. Rutenya mengharuskan ia melewati area Gedung Inkubator Bisnis Mahasiswa, tempat markas operasional rintisan Lu Feng berada.
Langkah Lin Xiao terasa sangat berat. Suasana kampus sudah sangat sepi. Namun, saat ia mendekati pelataran Gedung Inkubator yang masih terang benderang, langkah kakinya perlahan terhenti.
Di depan pintu kaca gedung, berdiri dua orang yang sangat ia kenal.
Kang Lu Feng berdiri di sana, mengenakan kemeja gelap dan jaket kulit yang membuatnya terlihat sangat gagah. Dia memegang segelas kopi di satu tangan, sementara tangan lainnya sibuk menjelaskan sesuatu dengan antusias. Di hadapannya, berdiri seorang wanita cantik yang terlihat beberapa tahun lebih tua, mengenakan setelan *blazer* kantoran yang sangat elegan, sepatu hak tinggi, dan lipstik merah yang memancarkan aura seorang profesional sukses.
Wanita itu tertawa mendengar ucapan Lu Feng. Tawanya renyah dan penuh keakraban. Ia bahkan mengangkat tangannya, menepuk bahu Lu Feng dengan santai, sebuah gestur yang menunjukkan betapa nyamannya mereka satu sama lain. Lu Feng membalasnya dengan senyum lebar, senyum lepas yang akhir-akhir ini jarang sekali Lin Xiao lihat.
Lin Xiao berdiri mematung di balik bayangan pohon besar. Kakinya seolah dipaku ke aspal yang dingin.
Logikanya sebagai mahasiswi hukum berteriak bahwa itu hanyalah urusan bisnis. Wanita itu mungkin investor, atau mentor bisnis dari alumni yang sedang membantu perusahaan Lu Feng. Itu normal. Itu profesional.
Namun, hati kecilnya, hati seorang gadis berusia sembilan belas tahun yang kelelahan, kurang tidur, kelaparan, dan merindukan pacarnya, hancur berkeping-keping.
Lin Xiao menatap penampilannya sendiri. *Coat* kremnya sedikit kusut. Rambutnya berantakan. Sepatu ketsnya kotor. Wajahnya pucat tanpa riasan, tertutup oleh tumpukan beban akademis. Ia merasa seperti anak kecil yang sedang menonton dunia orang dewasa, dunia di mana Lu Feng kini telah melangkah masuk, sementara ia masih terjebak di dunia buku teks dan ujian.
*Apakah aku masih relevan di dunianya?* pikiran beracun itu tiba-tiba muncul. *Di saat ia berdiskusi tentang ratusan ribu yuan dengan wanita-wanita cerdas dan elegan, apakah ia masih membutuhkan ketua kelas yang hanya bisa mengingatkannya untuk mengerjakan PR?*
Dada Lin Xiao terasa sesak. Air mata tiba-tiba mendesak di pelupuk matanya. Ia tidak ingin menghampiri mereka. Ia tidak ingin merusak momen cowok itu, dan yang paling penting, ia tidak ingin Lu Feng melihatnya dalam keadaan selemah ini.
Dengan langkah gontai, Lin Xiao berbalik arah. Ia memilih mengambil rute memutar yang lebih jauh menuju asramanya, berjalan menembus angin malam yang dingin dengan air mata yang menetes pelan membasahi pipinya.
***
Pukul 23:45.
Lu Feng setengah berlari menyusuri lorong asrama putri. Napasnya terengah-engah, wajahnya dipenuhi kepanikan. Ia baru saja menyelesaikan perdebatan sengit dengan investor perihal valuasi perusahaannya, dan saat ia melihat jam tangannya, jantungnya nyaris copot. Ia terlambat nyaris dua jam dari janji menjemput Lin Xiao.
Ia sudah menelepon cewek itu puluhan kali sejak setengah jam yang lalu, namun nomornya tidak aktif. Pikirannya sudah melayang ke hal-hal terburuk.
Lu Feng tiba di depan gedung asrama putri. Ia tidak diizinkan masuk oleh penjaga asrama yang galak. Dengan frustrasi, Lu Feng berdiri di taman depan, menatap jendela kamar Lin Xiao di lantai tiga. Lampunya masih menyala.
"Xiao... angkat teleponnya," gumam Lu Feng parau, terus menekan tombol panggilan, namun hanya suara operator yang membalas.
Tanpa mempedulikan cuaca beku, Lu Feng berjalan mendekati area jendela. Ia membungkuk, mengambil segenggam kerikil kecil dari taman, lalu melemparkannya ke arah jendela kaca kamar Lin Xiao.
*Tuk. Tuk. Tuk.*
Tidak ada respons.
Lu Feng melemparnya lagi, kali ini sedikit lebih keras.
*Tuk! Tuk!*
Lima menit berlalu. Akhirnya, tirai jendela di lantai tiga itu tersingkap sedikit. Sosok Lin Xiao muncul dari balik kaca. Cewek itu menatap ke bawah, dan Lu Feng bisa melihatnya meski samar.
Lu Feng langsung melambaikan tangannya dengan panik, memberi isyarat agar cewek itu turun. Lin Xiao terlihat ragu sejenak, namun akhirnya ia menutup tirai.
Sepuluh menit kemudian, pintu kaca asrama terbuka. Lin Xiao berjalan keluar. Ia sudah mengganti bajunya dengan piyama panjang yang dibalut *sweater* tebal berukuran kebesaran. Wajahnya terlihat sangat lelah, matanya sedikit bengkak, dan ekspresinya sedingin bongkahan es.
Melihat pacarnya aman, Lu Feng menghela napas lega yang luar biasa. Ia langsung melangkah maju, merentangkan tangannya berniat memeluk Lin Xiao.
Namun, Lin Xiao mundur selangkah, menghindari pelukan itu.
Tangan Lu Feng menggantung kaku di udara. Senyum kelegaannya memudar seketika, digantikan oleh kerutan kebingungan dan rasa bersalah. "Xiao? Lo kenapa? Maaf, maafin gue. Tadi rapatnya alot banget, investornya minta revisi klausul bagi hasil di detik-detik terakhir. Pas gue mau ngabarin, *handphone* lo udah nggak aktif. Lo nunggu lama ya di kampus? Lo balik naik apa tadi?"
Lin Xiao menatap cowok di depannya. Aroma parfum mahal wanita tadi seolah masih bisa tercium oleh hidungnya, meski mungkin itu hanya halusinasinya saja.
"Aku pulang jalan kaki," jawab Lin Xiao datar. Suaranya serak. "Tidak apa-apa. Lagipula rapat dengan investor wanita yang elegan itu pasti jauh lebih penting daripada menjemput pacarmu yang kelelahan, kan?"
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Lin Xiao, dipenuhi sarkasme dan kepahitan yang tidak bisa ia saring lagi.
Lu Feng tertegun. Matanya membelalak. "Tunggu... lo... lo ngelihat gue sama Direktur Wang tadi di depan inkubator?"
"Menurutmu?" Lin Xiao membuang muka, menatap jalanan aspal yang kosong.
Lu Feng mengusap wajahnya dengan kasar. "Ya Tuhan, Xiao. Itu Direktur Wang dari Alpha Ventures. Dia yang megang pendanaan putaran awal perusahaan gue. Dia udah punya suami dan anak dua! Gue ngobrol sama dia cuma bahas masalah *cash flow* operasional bulan ini. Jangan bilang lo mikir yang aneh-aneh?"
"Aku tidak mikir yang aneh-aneh!" suara Lin Xiao sedikit meninggi, matanya kembali berkaca-kaca menatap Lu Feng. "Aku tahu itu urusan bisnis. Aku tahu dia investor! Aku tidak cemburu pada wanitanya, Lu Feng! Aku..."
Lin Xiao menggigit bibir bawahnya, suaranya pecah, tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dinding pertahanannya runtuh.
Melihat Lin Xiao menangis, hati Lu Feng rasanya seperti ditusuk belati. Semua rasa capek, frustrasi, dan tekanan bisnisnya menguap. Ia melangkah maju, dan kali ini ia tidak membiarkan Lin Xiao menghindar. Ia menarik bahu cewek itu, memaksa Lin Xiao menatapnya.
"Lo kenapa, Yang? Ngomong sama gue. Apa yang bikin lo nangis kayak gini?" suara Lu Feng berubah sangat lembut, penuh keputusasaan melihat wanitanya terluka.
"Aku merasa tertinggal," bisik Lin Xiao akhirnya, air mata jatuh membasahi pipinya. "Aku merasa duniaku sekarang cuma sebatas buku tebal, simulasi sidang yang bodoh, dan ruangan perpus yang pengap. Sementara kamu... kamu terbang terlalu tinggi, Lu Feng. Kamu berurusan dengan ratusan ribu yuan, kamu punya perusahaan, kamu ngobrol dengan orang-orang penting sambil tertawa lepas. Kamu terlihat sangat... sempurna. Dan aku..."
Lin Xiao menundukkan wajahnya, menyembunyikan wajahnya di telapak tangannya. "...aku cuma anak hukum yang bahkan tidak punya waktu untuk mengurus penampilanku sendiri. Kamu bahkan tidak sadar kita sudah tidak bicara lebih dari lima menit dalam sehari selama dua minggu ini."
Lu Feng membeku. Kata-kata Lin Xiao menghantamnya lebih keras dari pukulan preman mana pun yang pernah ia terima.
Ia memejamkan mata, merutuki kebodohannya sendiri. Ia terlalu sibuk membangun 'jaring pengaman' masa depan, hingga ia lupa merawat orang yang ingin ia lindungi di masa sekarang. Ia membangun istana, tapi membiarkan ratunya kedinginan di luar.
Dengan gerakan penuh kelembutan, Lu Feng menarik pergelangan tangan Lin Xiao, menyingkirkan tangan cewek itu dari wajahnya. Ia menangkup kedua pipi Lin Xiao yang basah oleh air mata, mengusapnya perlahan menggunakan ibu jarinya.
"Dengerin gue, Lin Xiao. Buka mata lo dan lihat gue," perintah Lu Feng pelan namun sangat absolut.
Lin Xiao membuka matanya yang sembab, menatap Lu Feng.
"Gue emang ngobrol sama investor pakai jas. Gue emang ngomongin duit ratusan ribu yuan," bisik Lu Feng, menatap langsung menembus jiwa cewek itu. "Tapi lo mau tahu realitanya? Perusahaan gue lagi krisis *driver*. Investor nekan gue setiap hari minta laporan *growth*. Tidur gue cuma dua jam sehari di sofa bekas di sudut kantor inkubator yang baunya kayak kaus kaki busuk. Kepala gue rasanya mau pecah mikirin gimana caranya bayar gaji lima puluh anak buah gue akhir bulan ini."
Lin Xiao terdiam, napasnya tertahan. Ia sama sekali tidak tahu hal itu. Lu Feng selalu membalas pesannya dengan nada optimis.
"Gue nggak sempurna, Xiao. Gue berantakan. Duniaku keras dan kotor," lanjut Lu Feng, matanya memancarkan kelelahan yang selama ini ia sembunyikan dengan sangat rapi. "Gue sengaja nggak ngasih tahu lo karena gue tau jadwal *moot court* lo gila-gilaan. Gue nggak mau nambah beban pikiran lo."
Lu Feng menarik Lin Xiao ke dalam pelukannya. Kali ini, sebuah pelukan yang sangat erat, posesif, dan penuh keputusasaan. Ia membenamkan wajahnya di perpotongan leher cewek itu, menghirup aroma *peach* yang selalu menjadi rumah baginya.
"Nggak peduli seberapa tinggi gue terbang, atau seberapa penting orang yang gue temui... semuanya nggak ada artinya kalau pas gue balik kanan, lo nggak ada di situ," bisik Lu Feng parau, suaranya bergetar. "Lo bukan beban, Xiao. Lo satu-satunya alasan gue waras. Tanpa lo, gue cuma cowok berandal dari Jiangcheng yang nyasar di Beijing. Tolong... jangan pernah ngerasa lo tertinggal. Karena sejak hari di mana lo ngajarin gue matematika di kedai teh itu... dunia gue cuma berputar di sekitar lo."
Di bawah lampu jalanan asrama yang temaram, di tengah udara malam Beijing yang membekukan, Lin Xiao membalas pelukan Lu Feng tak kalah erat. Ia meremas jaket kulit cowok itu, menumpahkan segala keraguan dan rasa lelahnya dalam tangisan tanpa suara di dada Lu Feng.
Semua rasa *insecure*-nya menguap. Ego dan gengsi tidak ada lagi harganya saat dihadapkan pada ketulusan yang setelanjang ini. Mereka menyadari satu kebenaran yang brutal: menjadi dewasa dan mengejar mimpi itu menyakitkan. Ambisi menuntut pengorbanan waktu dan tenaga yang gila-gilaan.
Tapi malam itu, mereka belajar bahwa cinta bukan hanya soal makan siang bersama atau berbagi kembang api. Cinta adalah tentang duduk berdua di tengah kekacauan, saling memperlihatkan luka, dan berjanji untuk tidak pernah melepaskan tangan satu sama lain, sekeras apa pun badai ibu kota berusaha memisahkan mereka.
Lu Feng mengecup puncak kepala Lin Xiao berulang kali, menyalurkan janji yang tak terucapkan, bahwa esok hari, meski dunia mereka dipenuhi oleh tumpukan berkas dan kopi yang dingin, mereka akan selalu menemukan jalan pulang ke pelukan masing-masing.