NovelToon NovelToon
Salah Kirim Pesan Ke CEO: Magang Jadi Cinta

Salah Kirim Pesan Ke CEO: Magang Jadi Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Identitas Tersembunyi / Beda Usia
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: sphinxeditz77

Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.

Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.

Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.

Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.

Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.

Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.

Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seseorang di Balik Rak Arsip

Gelap.

Benar-benar gelap.

Andrian berdiri diam di tengah lorong Basement 2, sementara suara dengungan mesin pendingin tua yang sejak tadi terdengar samar kini ikut menghilang.

Hanya ada suara napasnya sendiri.

Lalu—

Brak!

Sebuah benda kembali jatuh dari arah rak arsip di ujung ruangan.

Andrian menoleh.

Matanya perlahan menyesuaikan diri dengan kegelapan.

Tangannya meraba saku celana dan menemukan ponsel. Layar dinyalakan. Cahaya kecil dari layarnya hanya mampu menerangi beberapa meter di depannya.

"Siapa?" tanyanya.

Tidak ada jawaban.

Andrian tidak langsung bergerak. Ia teringat pesan anonim yang baru saja masuk.

Sekarang kamu mengerti kenapa aku menyuruhmu jangan membukanya sendirian.

Kalimat itu terasa berbeda sekarang. Seseorang memang ada di sini. Dan kemungkinan besar orang itu bukan petugas keamanan.

Andrian mematikan suara ponselnya, lalu perlahan bergerak ke samping. Bukan menuju sumber suara. Ia justru mengambil posisi di balik rak besi.

Langkahnya sengaja dibuat pelan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Kemudian terdengar suara gesekan. Seperti seseorang sedang memindahkan sesuatu.

Andrian mengangkat ponselnya sedikit. Cahaya layar diarahkan ke celah antara dua rak.

Kosong.

"Jangan-jangan..."

Ia berhenti. Ada sesuatu yang terasa aneh. Rak di depannya memiliki lapisan debu yang tidak merata. Seseorang baru saja menyentuhnya.

Andrian mendekat. Lalu tiba-tiba—

Krek.

Suara papan kayu diinjak dari belakang.

Andrian berbalik cepat. Cahaya ponselnya menyapu lorong.

Kosong.

Namun beberapa meter di belakangnya, sebuah bayangan bergerak cepat melewati ujung rak.

Andrian langsung mengejar.

"Hei!"

Langkahnya menggema di seluruh Basement 2. Sosok itu berlari. Andrian melihat sekilas pakaian gelap dan topi yang menutupi sebagian wajah.

Ia tidak bisa melihat wajahnya.

Sosok itu membelok ke lorong sebelah kiri. Andrian menyusul. Namun begitu sampai di tikungan—

Tidak ada siapa-siapa.

Andrian berhenti. Dadanya naik turun.

"Mustahil..."

Ia menyorotkan cahaya ke seluruh sudut. Tidak ada pintu keluar. Tidak ada tangga lain. Hanya rak-rak tua yang dipenuhi dokumen.

Kemudian matanya tertuju pada satu rak.

Rak yang berbeda. Ada celah sempit di belakangnya.

Andrian mendekat dan menyentuh sisi rak. Benda itu bergerak sedikit.

"Bisa digeser?"

Ia menekan lebih kuat. Rak bergeser beberapa sentimeter. Di belakangnya terdapat pintu kecil berwarna abu-abu yang hampir menyatu dengan dinding.

Andrian terdiam.

Selama beberapa hari bekerja di Basement 2, ia tidak pernah melihat pintu itu. Tangannya hampir menyentuh gagang pintu. Namun ia berhenti.

Pesan anonim tadi kembali terlintas di kepalanya.

Jangan buka kotak itu sendirian.

Kalau orang misterius itu memang masuk melalui pintu tersebut, mungkin ada alasan kenapa pintu itu disembunyikan.

Andrian mengeluarkan ponsel. Ia memotret pintu tersebut.

Sekali.

Dua kali.

Kemudian terdengar suara langkah bergegas dari arah tangga.

"Andrian!"

Suara itu membuatnya menoleh.

"Maya?"

Cahaya senter yang terang menyorot dari kejauhan. Maya turun bersama seorang petugas keamanan.

"Kamu tidak apa-apa?" Maya berhenti beberapa langkah di depannya.

Andrian menghela napas lega, namun matanya tetap waspada. "Belum tahu."

"Belum tahu?"

Andrian menunjuk ke arah lorong. "Ada seseorang di sini."

Petugas keamanan langsung mengangkat senter lebih tinggi. "Apa?"

"Tadi listrik mati. Setelah itu saya dengar suara benda jatuh. Kemudian saya melihat seseorang berlari."

Maya menatap sekeliling. "Orangnya mana?"

"Hilang."

Petugas keamanan terlihat gugup. "Pak, Basement 2 cuma punya satu akses utama."

Andrian menunjuk ke belakang rak. "Sepertinya tidak."

Mereka bertiga mendekat. Begitu rak digeser sedikit, pintu abu-abu itu terlihat.

Petugas keamanan langsung mengernyit. "Pak... pintu ini?"

"Kamu tahu?"

Pria itu menggeleng cepat. "Setahu saya tidak ada pintu seperti ini."

Maya menatap Andrian. "Berarti bukan cuma kotak 17-B."

Andrian tidak menjawab. Ia justru memperhatikan gagang pintu. Ada bekas goresan baru di sana. Dan debu di lantai tepat di depannya tampak terganggu.

Seseorang memang baru saja melewatinya.

Maya menarik napas panjang. "Jangan dibuka."

Andrian menoleh. "Kamu juga mau bilang begitu?"

"Iya." Maya mengeluarkan ponselnya. "Aku akan laporkan ini ke Elena."

Andrian mengangguk. "Jangan sebut soal pesan anonim dulu."

Maya menatapnya. "Kenapa?"

"Karena kita belum tahu apakah orang yang mengirim pesan itu benar-benar ingin membantu kita."

Maya terdiam. Andrian melanjutkan.

"Dia tahu terlalu banyak."

"Dan itu yang membuatmu curiga?"

Andrian menunjukkan foto pria di luar ruangan Arman yang tadi dikirim si anonim.

"Dia tahu posisi orang-orang di gedung ini. Dia tahu tentang 17-B. Dia tahu kotak itu ada di sini. Sekarang kita menemukan pintu tersembunyi."

Maya melihat foto tersebut. Wajahnya berubah serius.

"Kalau begitu..."

"Ya." Andrian menatap pintu abu-abu itu. "Mungkin dia juga tahu isi ruangan di baliknya."

Sementara itu, beberapa lantai di atas mereka, Elena baru saja keluar dari ruang rapat.

Pertemuan dengan tim audit berlangsung hampir dua jam. Tidak ada satu pun anggota tim yang berani menganggap dokumen anonim itu sebagai bukti final. Namun semakin mereka mencocokkan angka, semakin sulit bagi mereka untuk menganggapnya sebagai kebetulan.

"Semua pembayaran cocok dengan laporan internal," kata salah satu auditor. "Tanggal transfer, nomor kontrak, bahkan nilai pembayaran."

Elena berdiri di dekat meja. "Dan dokumen pendukung?"

"Sebagian tidak tercatat dalam sistem arsip resmi."

Maya belum kembali.

Elena melirik jam tangannya. Biasanya asistennya itu akan mengirim pesan jika ada sesuatu yang penting.

Ponselnya bergetar. Satu pesan masuk. Dari Maya.

Len, ada sesuatu di Basement 2.

Elena langsung membuka pesan berikutnya.

Listrik sempat mati. Andrian menemukan pintu tersembunyi di belakang rak arsip.

Elena membeku. "Pintu?"

Ia langsung menelepon Maya.

Tidak tersambung.

Sekali lagi.

Tetap tidak tersambung.

Raut wajah Elena berubah. "Kenapa harus sekarang..."

Ia segera menyambar tasnya. Salah satu staf yang masih berada di ruangan menoleh.

"Bu Elena?"

"Saya ke Basement 2."

"Tapi rapat berikutnya—"

"Batalkan."

Nada suaranya membuat staf itu langsung diam. Elena berjalan cepat menuju lift. Namun sebelum pintu lift tertutup, ponselnya kembali bergetar.

Bukan dari Maya. Nomor tidak dikenal.

Hanya ada satu kalimat.

Jangan turun ke Basement 2.

Elena menatap layar. Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.

Kalau kamu turun sekarang, mereka akan tahu bahwa kamu sudah melihat terlalu banyak.

Pintu lift hampir tertutup. Elena menekan tombol agar pintu terbuka kembali. Wajahnya semakin tegang.

"Siapa kamu?" bisiknya.

Tidak ada jawaban.

Di Basement 2, Andrian masih berdiri di depan pintu abu-abu.

Maya terus mencoba menghubungi Elena. Tidak berhasil.

"Len belum jawab?" Andrian bertanya.

Maya menggeleng. "Belum."

Petugas keamanan mulai gelisah. "Pak, sebaiknya kita naik saja. Saya laporkan ke atasan."

Andrian menatap pintu itu sekali lagi. "Naik."

Maya langsung menoleh. "Kamu?"

"Aku menyusul."

"Andrian!"

"Aku cuma mau memastikan satu hal." Andrian menunjuk lantai di depan pintu.

Ada jejak sepatu. Masih jelas. Satu jejak mengarah masuk. Tidak ada jejak yang keluar.

Andrian menatap jejak tersebut lama. "Orang tadi masuk ke sini."

Maya ikut melihat. "Dan belum keluar?"

Andrian menggeleng. "Itu berarti..."

Tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu.

Tok.

Mereka bertiga membeku.

Kemudian—

Tok. Tok.

Dua ketukan lambat.

Maya mundur selangkah. Petugas keamanan langsung menggenggam senter erat-erat dengan kedua tangan.

Andrian tetap berdiri di tempat.

"Siapa di dalam?"

Tidak ada jawaban. Andrian mendekat satu langkah.

Lalu terdengar suara pelan dari balik pintu. Sangat samar, namun cukup jelas untuk membuat bulu kuduk mereka meremang.

"Jangan..."

Andrian terdiam.

"Jangan buka."

Maya memucat, menatap Andrian. Andrian tidak bergerak.

Kemudian suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih pelan, seperti sebuah janji mematikan.

"Kalau kamu buka... Elena akan jadi orang berikutnya."

Mata Andrian langsung berubah. "Siapa kamu?!"

Hening.

"Jawab!"

Tidak ada suara.

Petugas keamanan di sebelah Maya tidak bisa menahan kepanikannya lagi. Instingnya bekerja. Ia buru-buru menarik Handy Talky (HT) dari pinggangnya.

"Pusat, ini unit Basement 2! Kami butuh bantuan keamanan segera, ada ancaman—"

Kssszzzt...

Hanya suara statis panjang yang memekakkan telinga.

Pria itu memukul pelan HT-nya dan menekan tombolnya berulang kali. "Halo? Pusat? Masuk!"

Kssszzzt...

Sinyalnya mati total. Atau lebih buruk lagi, sengaja diputus. Mereka benar-benar terisolasi di bawah tanah.

Andrian kehilangan kesabarannya dan meraih gagang pintu.

Maya langsung menahan lengannya keras-keras. "Jangan!"

Andrian menoleh tajam. "Kita tidak bisa terus membiarkan orang lain mengatur langkah kita."

"Ini bukan soal berani atau tidak, Ndri!" Maya menatapnya dengan raut ketakutan. "Ini jebakan!"

Andrian terdiam. Ia tahu Maya benar. Mereka terjebak tanpa bantuan.

Namun sebelum mereka sempat melakukan apa pun—

BRAK!

Suara keras terdengar dari sisi lain Basement 2. Bukan dari balik pintu rahasia.

Suara itu datang dari arah rak 17-B.

Mereka bertiga menoleh bersamaan, menyapu cahaya senter ke sumber suara.

Kotak arsip yang sebelumnya berada di rak paling bawah kini tergeletak di lantai.

Kotak 17-B.

Tutupnya terbuka.

Andrian membeku. "Tadi..."

Maya menatapnya ngeri. "Kamu bilang kamu tidak membukanya."

"Aku memang tidak membukanya!"

Petugas keamanan langsung mundur dua langkah.

Dari dalam kotak yang terbalik itu, sebuah map hitam terlihat setengah keluar.

Andrian perlahan mendekat, mengabaikan peringatan Maya. Di bagian depan map itu terdapat satu tulisan tebal berhuruf kapital.

RAHASIA — HANYA UNTUK KOMISARIS UTAMA

Andrian belum sempat menyentuhnya ketika ponselnya kembali bergetar di dalam saku.

Satu pesan masuk. Dari nomor anonim yang sama.

Sekarang kamu boleh membukanya.

Andrian menatap layar. Pesan kedua muncul.

Karena orang yang seharusnya takut bukan kamu.

Lalu pesan terakhir.

Tapi orang yang sedang menuju ke Basement 2 sekarang.

Andrian mengangkat kepalanya.

Dari arah tangga darurat utama, sayup-sayup terdengar suara langkah.

Satu.

Dua.

Tiga.

Semakin dekat. Menggema di dinding beton.

Maya menahan napas dan menatap Andrian. "Siapa yang datang?"

Andrian tidak menjawab. Ia hanya menatap tangga yang gelap itu.

Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke Basement 2, ia menyadari satu hal.

Mereka mungkin bukan sedang mencari rahasia.

Mungkin, rahasia itu yang sedang memburu mereka.

Bersambung...

1
sphinxeditz77
Terima kasih buat kalian yang sudah mampir dan baca novel ini! 🥹❤️

Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥

Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆

Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥

Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!