NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Bad Boy

Cinta Rahasia Bad Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
​Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
​Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tersebarnya foto devan dan aura

Kegelapan melingkupi kamar VIP rumah sakit dalam sekejap. Hanya pendar redup dari lampu darurat koridor yang menerobos masuk lewat celah bawah pintu.

​Devan refleks melepaskan pelukannya, menarik Aura ke belakang tubuhnya. Suara langkah kaki bergerak cepat di lorong luar, makin dekat.

Devan mencengkeram engsel jendela kaca yang tadi dibukanya, bersiap mengambil risiko untuk membawa Aura kabur lewat balkon luar.

​Namun, pintu kamar mendadak terdorong pelan. sosok Bimo dan Rian masuk setengah berlari dengan napas terengah-engah, memegang genset portabel kecil dan senter ponsel.

​"Dev! kamu nggak apa-apa kan?!" bisik Bimo panik, mengarahkan senter ke arah Devan dan Aura.

"Genset utama rumah sakit jebol gara-gara petir di luar! kalian berdua aman kan?!"

​Devan menghembuskan napas panjang, meredakan ketegangan gila di dadanya. "aku aman. Tapi kalian ngapain berisik banget di luar?"

​"Kita tadi lari-lari ngejar teknisi rumah sakit!" jawab Rian sambil menyalakan sakelar darurat hingga lampu kamar kembali menyala.

​Aura mendesah lega, meski tubuhnya masih terasa lemas. Kehadiran Bimo dan Rian setidaknya memecahkan suasana mencekam malam itu.

Setelah memastikan Devan dan Aura selamat, Bimo dan Rian membantu menjaga area luar kamar agar Devan bisa diobati lukanya oleh dokter jaga.

​Keesokan harinya.

​Kondisi Aura membaik dan ia sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Berkat ancaman mematikan dari Devan semalam, Sonia dan pasukan pengawalnya benar-benar angkat kaki dari kota itu, tak berani lagi muncul atau menyentuh Aura. Kehidupan kampus yang tadinya diliputi teror mencekam perlahan kembali tenang dan normal.

​Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Sebuah kecerobohan kecil yang tak disangka-sangka justru memicu gelombang baru yang tak kalah hebohnya.

​Siang itu, matahari bersinar terik di halaman kampus. Aura sedang duduk di selasar taman bersama Nisa, merapikan beberapa dokumen laporan kegiatan festival yang sempat tertunda.

Di meja lain yang tak jauh dari mereka, Bimo sedang mengedit video dokumentasi acara festival kampus menggunakan ponselnya untuk diunggah ke akun resmi Media Kampus (story resmi kampus yang diikutsertakan ribuan mahasiswa dan alumni).

​"Duh, memori HPku penuh banget nih," gerutu Bimo sambil mengusap-usap layarnya. "Banyak banget foto sama video sisa semalam yang belum aku pindahin."

​Rian yang duduk di sebelah Bimo menyenggol lengan sahabatnya itu. "Ya kamu hapus-hapusin dulu lah yang gak penting, Bim! Keburu draf story festivalnya expired itu!"

​"Iya, iya, ini gue lagi pilih cepat!" sahut Bimo terburu-buru.

​Tanpa Bimo sadari, saat ia sedang memilih secara masal puluhan file foto dan video dari folder penyimpanan bersama yang sempat dikirim oleh Devan lewat flashdisk kemarin, jemarinya yang asal tekan secara tidak sengaja mengklik satu file foto mentah yang terselip di folder rahasia.

​Foto itu tidak sengaja terikut dalam antrean unggahan story akun resmi Media Kampus!

​Ting!

​[Story Media Kampus - Uploaded 1 minute ago]

​Hanya dalam hitungan menit, unggahan story tersebut langsung meledak gila-gilaan. Jumlah penonton menembus angka ribuan, disertai ratusan pesan masuk yang membludak hebat di akun kampus!

​Nisa yang sedang mengutak-atik ponselnya mendadak menjerit kaget sampai melompat dari kursinya. "YA AMPUN! AURA! BUKA HP KAMU SEKARANG!"

​Aura terperanjat, mengerutkan dahi bingung. "Ada apa sih, Nis? Kok kamu heboh banget?"

​"Lihat story Media Kampus sekarang, Ra! Cepat!" seru Nisa dengan muka merah padam bercampur takjub.

​Aura merogoh ponselnya dari dalam tas, lalu membuka aplikasi Instagram dan mengklik akun resmi Media Kampus.

Begitu gambar di story itu terbuka, darah Aura serasa berhenti mengalir. Wajahnya seketika memerah panas sampai ke ujung telinga!

​Di layar ponselnya, terpampang sebuah foto yang sangat indah, estetik, dan penuh kehangatan.

​Itu adalah foto hasil bidikan kamera Devan tempo hari di panggung festival—foto saat Devan menyelamatkan Aura dari papan dekorasi yang jatuh, di mana posisi Devan sedang menindih lembut tubuh Aura di atas rumput, dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat dan tatapan mata yang dipenuhi perasaan mendalam!

​Caption di story tersebut bertuliskan polos buatan Bimo: 'Momen-momen tak terduga di balik layar Festival Seni Kampus!'

​"BIMO!" jerit Aura histeris, berdiri dari kursinya dengan muka merah padam karena malu setengah mati.

​Bimo yang sedang minum es teh di mejanya seketika tersedak hebat. "Uhuk! Uhuk! Kenapa, Ra?! Kok kamu teriak-teriak?!"

​Aura berlari menghampiri meja Bimo dan Rian, lalu menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah Bimo. "Lihat apa yang kamu unggah di story kampus, Bim!"

​Bimo dan Rian sama-sama melotot menatap layar ponsel Aura. Detik berikutnya, Bimo membelalak kaget sampai matanya hampir keluar dari kelopaknya.

​"ANJIR! KOK FOTO INI BISA IKUT KE-UPLOAD?!" jerit Bimo panik gila-gilaan, tangannya gemetar mencoba menghapus story tersebut dari akun kampus.

"Duh, aduh! Maaf, Ra! Sumpah aku gak sengaja! Tadi aku asal select all foto dokumentasi di folder Devan!"

​"Bimo, kamu parah banget!" seru Rian menepuk jidatnya sendiri. "Foto mesra si bos kamu sebar di story kampus!"

​"Udah aku hapus! Udah aku hapus!" kata Bimo panik dengan keringat dingin mengucur di dahinya. "Tapi... aduh..."

​"Tapi kenapa, Bim?!" tanya Aura cemas setengah mati.

​"Tapi yang nonton udah dua ribu orang, Ra... dan udah banyak yang me-screenshot..." jawab Bimo dengan suara mencicit ketakutan.

​Aura menepuk jidatnya sendiri, rasanya mau pingsan di tempat karena malu. Satu kampus kini melihat foto super mesra dan pribadi antara dirinya dan Devan!

​Sementara itu, di lorong lantai satu gedung rektorat.

​Devan baru saja selesai mengurus berkas administrasi pemulihan status kemahasiswaannya bersama Pak Surya. Ia berjalan santai sambil menyisir rambut hitamnya yang agak basah.

Beberapa mahasiswa yang melintas di lorong mendadak berbisik-bisik sambil menatap Devan dengan senyuman godaan yang sangat aneh.

​Devan mengerutkan dahi, merasa risih. Kenapa orang-orang pada ngeliatin gue kayak gitu? batin Devan bingung.

​Tiba-tiba, ponsel di saku Devan bergetar hebat tanpa henti. Puluhan notifikasi pesan masuk dari anak-anak geng motornya membanjiri layar.

​Devan membuka salah satu pesan dari Bimo yang berisi gambar screenshot story kampus tersebut, lengkap dengan tulisan panik Bimo: 'DEV! MAAFIN AKU DEV! AKU GAK SENGAJA KE-UPLOAD FOTO KAMU SAMA AURA DI STORY KAMPUS! TOLONG JANGAN BUNUH AKU!'

​Devan membelalak menatap gambar screenshot tersebut. Matanya tertuju pada fotonya yang sedang memeluk Aura di rumput panggung festival.

Wajah Devan yang biasanya dingin dan angkuh seketika berubah merah padam sampai ke lehernya. Rasa malu dan salah tingkah yang luar biasa mendadak menyerang Devan!

​"Si Bimo... bener-bener mau mati di tanganku..." gumam Devan serak, menahan salah tingkahnya yang parah sambil berjalan cepat mencari keberadaan Bimo dan Aura.

​Saat Devan sampai di taman kampus, suasana di sana sudah sangat ramai oleh mahasiswa yang saling berbisik sambil melirik ke arah Aura.

​Aura yang sedang duduk menunduk malu di kursi taman mendongak saat mendengar langkah kaki mendekat. Matanya bertemu dengan mata Devan. Suasana di antara mereka mendadak berubah menjadi sangat canggung dan serba salah.

​Devan berjalan mendekat, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulitnya. Wajahnya agak memaling ke samping untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.

​"Kamu... kamu udah lihat story-nya?" tanya Aura pelan dengan suara cicit bermalu-malu, tidak berani menatap mata Devan langsung.

​Devan berdeham keras-keras, berusaha menguasai suaranya agar tetap terdengar tenang meski jantungnya berdegup gila-gilaan. "Udah. Si Bimo emang minta dipatahkan kakinya."

​"Jangan, Devan... dia kan nggak sengaja," kata Aura membela pelan. "Tapi... orang-orang kampus sekarang pada ngomongin kita..."

​Devan melirik Aura dari sudut matanya, melihat betapa menggemaskannya gadis itu saat sedang salah tingkah dan merona merah. Perlahan, senyuman tipis yang sangat hangat terukir di bibir Devan.

​Devan melangkah satu tindak lebih dekat, lalu duduk di sebelah Aura. "Ya udah, biarin aja mereka ngomongin kita."

​Aura menoleh kaget. "Eh? Biarin gimana?"

​"Biarin satu kampus tahu..." bisik Devan lembut tepat di samping telinga Aura, "...kalau kamu itu memang punya aku."

​Aura membeku total, mukanya makin membara panas mendengar jawaban manis dari Devan.

​Namun, di tengah momen manis dan salah tingkah yang baru saja terjalin di antara mereka, tiba-tiba sebuah mobil van hitam bertuliskan logo Stasiun Televisi Swasta Nasional berhenti mendadak di pinggir lapangan kampus.

​Beberapa wartawan membawa kamera besar dan mikrofon mendadak berlarian menerobos area taman, langsung mengerubungi meja tempat Devan dan Aura duduk!

​Seorang reporter wanita menyodorkan mikrofonnya tepat di depan wajah Devan dan Aura dengan raut wajah sangat serius.

​"Halo! Kami dari Berita Investigasi Nasional! Apakah benar Saudara Devan Alandra adalah anak kandung dari konglomerat kaya raya pimpinan Alandra Corporation di London yang saat ini sedang menjadi buronan kasus pencucian uang internasional?!"

​Aura dan Devan terperanjat kaget setengah mati saat puluhan kilatan lampu kilat (flash) kamera wartawan mendadak menyambar wajah mereka bertubi-tubi!

​Bersambung...

1
Naelong
mohon maaf yaa siang ini aku belum up, insyaallah malam nanti baru up. nanti aku up dabbel ya🙏. makasi yang sudah mempir. semoga kalian sehat selalu😍. ohh yaa jangan lupa tinggalin jejek ya, comment, likenya
Naelong
terimakasi yang udah mampir😍, semoga sehat sehat slalu🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!