NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:538k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Siang hari yang terik menyapu deretan pohon palem di sepanjang jalan utama Deira. Namun, di dalam area restoran bernuansa tropis modern yang sejuk di kawasan Downtown, aroma rempah dan kopi segar menyambut siapa saja yang melangkah masuk.

Naya baru saja merapikan map estudinya ketika ponsel di atas meja bergetar panjang. Nama Sarah tertera di layar.

"Assalamu’alaikum, Naya!" suara nyaring Sarah menyapa riang begitu panggilan tersambung.

"Wa’alaikumsalam, Mbak Sarah," balas Naya terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya di kursi kayu. "Ada apa? Tumben jam makan siang sudah telepon?"

"Gimana hari pertama orientasi magistermu?" tanya Sarah penuh semangat.

"Lancar alhamdulillah, Mbak. Profesornya sangat interaktif," jawab Naya.

"Nah, karena hari pertamamu sukses dan ini resmi jadi penanda kehidupan barumu di Dubai, nanti malam tidak ada alasan menolak!" tegas Sarah cepat sebelum Naya sempat menyela. "Aku dan Mas Danang mau makan malam di resto daerah Marina. Kita sekalian mau ngerayain hari pertamamu kuliah. Sekalian... aku mau kenalin kamu sama salah satu rekan kerja dan pemilik jaringan klinik medis di sini. Pokoknya kamu tinggal datang jam tujuh malam, oke?"

Naya sempat ragu sejenak. Namun membayangkan menghabiskan malam sendirian di apartemen hanya akan membiarkan pikiran lamanya sesekali menyusup, ia akhirnya mengangguk.

"Baiklah, jam tujuh malam ya. Kirim saja lokasinya lewat pesan."

"Asyik! Sampai ketemu nanti malam, calon psikiater!" seru Sarah gembira sebelum memutus sambungan.

Naya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Sarah, tersenyum kecil seraya memasukkan ponselnya ke dalam tas.

**

Naya berjalan santai menyusuri trotoar bersih usai menyelesaikan seluruh agenda orientasi pascasarjana di University of Dubai. Tas kuliahnya terpasang rapi di pundak, sementara langkah kakinya terasa begitu ringan. Ada kepuasan tersendiri yang mengalir di dadanya—rasa bebas yang telah lama hilang kini sepenuhnya kembali.

Di tengah jalannya menuju stasiun metro, sebuah papan nama toko berdesain elegan menghentikan langkah Naya. Sahabat Dubai Heritage & Delights. Bangunan dengan interior kaca transparan itu memadukan ornamen ukiran kayu Nusantara dengan sentuhan kemewahan khas Timur Tengah. Bunga-bunga kering dalam vas tinggi menghiasi sudut jendela, menciptakan suasana yang hangat dan mengundang.

Naya teringat pada Danang dan Sarah. Pasangan suami istri yang juga sahabat dekat kakaknya itu telah banyak membantu proses kepindahannya ke Dubai. Mengingat kebaikan mereka, Naya memutuskan untuk mampir sejenak mencari sedikit buah tangan sebagai ungkapan terima kasih.

Ketika mendorong pintu kaca, gemerincing bel kecil menyambut kedatangannya, disusul sejuknya pendingin udara yang beraroma vanila dan kayu manis. Naya melangkah menyusuri lorong-lorong rak yang tertata amat rapi. Matanya berbinar saat menemukan deretan produk lokal Dubai premium, mulai dari kurma ajwa berlapis cokelat berkualitas tinggi, kacang pistachio panggang, hingga deretan teh herbal aromatik.

Namun, saat berbelok ke area sisi kanan toko, alis Naya terangkat halus. Ia terpana menatap rak kayu di hadapannya. Di sana tersusun rapi berbagai kudapan khas Indonesia yang dikemas dalam wadah eksklusif: keripik tempe renyah, bakpia khas Jogja bersertifikasi organik, lapis legit, hingga varian kopi arabika Nusantara pilihan.

Naya meraih satu kemasan keripik tempe dengan senyum tipis yang mengembang alami di bibirnya. Diksi bahasa Indonesia yang tertera di label kemasan begitu autentik, bukan sekadar hasil terjemahan mesin.

Siapa pemilik tempat ini? batin Naya bertanya-tanya. Apakah seorang warga Indonesia yang sukses membangun bisnis di sini, atau justru pria asli Dubai yang beristrikan wanita Indonesia hingga begitu paham selera Nusantara?

Membayangkan imajinasinya sendiri yang sedikit melenceng, Naya menggelengkan kepala pelan. Tawa kecil yang sangat halus lolos dari bibirnya. Sungguh, rasanya sudah sangat lama ia tidak merasakan dorongan pikiran tanpa beban seperti ini.

Naya membawa beberapa bungkusan oleh-oleh itu ke meja kasir. Pelayanan yang ramah dalam bahasa Arab dan Inggris yang sopan menyempurnakan pengalamannya di toko tersebut. Usai menyelesaikan pembayaran dan menerima kantong belanjaan berwarna krem elegan, Naya melangkah keluar.

Tepat saat ia berdiri di bawah kanopi toko untuk merapikan posisi tasnya, sebuah sedan hitam meluncur halus dan berhenti tepat di depan pelataran. Pintu penumpang belakang terbuka. Seorang pria melangkah keluar dengan gerakan yang sangat tenang namun mantap.

Naya secara refleks mengalihkan pandangannya. Di detik yang sama, pria itu mendongak.

Tatapan mata mereka bertemu di udara.

Pria itu mengenakan kemeja linen berwarna krem lembut dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, memperlihatkan jam tangan berdesain klasik yang melingkar di pergelangan tangannya.

Namun, ketika netra cokelat gelapnya mengenali sosok Naya, ketegasan di wajahnya lumer begitu saja, berganti dengan binar hangat yang sangat khas Indonesia.

Zeyad menghentikan langkahnya sejenak, sedikit terkejut namun senyum manis terpancar jelas dari bibirnya. Ia meletakkan telapak tangan kanannya di dada dengan gerakan sangat sopan.

"Masya Allah... Naya?" sapa Zeyad dengan suara beratnya yang ramah, menggunakan bahasa Indonesia yang begitu fasih dan berwibawa. "Selamat sore. Saya tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini."

Naya sempat terpaku sejenak sebelum menguasai diri dan membalas senyuman itu dengan keanggunan yang bersahaja. Ia mengangguk sopan, menjaga jarak interaksi yang cukup.

"Selamat sore, Mas Zey," balas Naya lembut.

“Selamat sore juga, Nay. Kamu sedang berbelanja?”

“Iya, Mas. Ternyata ada makanan khas Indonesia.”

Zeyad melirik kantong belanjaan berlogo Sahabat Dubai di tangan Naya, lalu kembali menatap mata jernih wanita di hadapannya. Ada binar ketertarikan yang sangat murni di matanya, namun dikemas dalam sikap penuh rasa hormat.

“Iya disini memang ada makanan khas Indonesia.”

“Mas Zey, juga mau belanja?”

“Sedang mau kunjungan.”

“Kunjungan?” Naya mengerutkan dahinya.

Zeyad mengangguk mengiyakan, “Ini toko saya.”

“Masya Allah!” seru Naya tersenyum kecil. “Luas biasa bagus, Mas. Tempatnya juga nyaman dan luas.”

"Terima kasih sudah berkenan mampir," ujar Zeyad renyah. "Bagaimana hari pertama di kampus? Semua berjalan lancar?" Zeyad mengalihkan topik pembicaraan.

"Alhamdulillah, lancar sekali, Mas," sahut Naya, senyumnya mengembang tulus. "Atmosfer studinya sangat mendukung."

"Baguslah kalau begitu," respon Zeyad seraya mengangguk-angguk kecil, menghargai ruang pribadi Naya tanpa berusaha menahannya terlalu lama. "Senang bisa menyapa kamu lagi, Naya."

"Saya juga, Mas Zey," tutur Naya halus. Ia melirik jam tangan tipis di pergelangan tangannya. "Kalau begitu, saya pamit dulu ya, Mas. Masih ada sedikit urusan yang harus diselesaikan."

"Oh, tentu, silakan," jawab Zeyad cepat, memberikan jalan dengan gestur tangan yang sangat santai dan ramah. "Hati-hati di jalan, Naya."

"Mari, Mas. Assalamu’alaikum."

"Wa’alaikumsalam warahmatullah."

Zeyad berdiri diam di depan pelataran toko, memandangi langkah anggun Naya yang pelan-pelan menjauh menuju arah stasiun. Tatapan mata pria itu tidak lepas hingga sosok Naya benar-benar tenggelam di antara kerumunan pejalan kaki. Ada sesuatu dari cara wanita itu membawa diri—ketenangan batin, ketegasan sikap, dan binar kecerdasan di matanya—yang mengetuk sudut hati Zeyad dengan cara yang tidak biasa.

***

1
Rahma Inaya
nyata nya rey yg blm bisa move on dr naya sedngkan naya sdh jauh lbh lenggowo menerima perpishan dgn rey tnp beban dan perlahan ada yg jauh lbh baik yg bisa menggntikan posisi reyhan di hati naya yaitu zeyad
Rahma Inaya
gmn sih reyham ki dl malu punya istri terlalu sempurna katanya mau pnya istri yg bergantung padanya sdh di lepas naya malh menyseal sdh menyianyiakan naya .malh mengeluh dgn istri yg bergantung pada nya . sekrg naya terlepas dr nya bisa sukses dan menggapai cita2 nya yg sempat tertunda demi pengabdian dr seorang istri tp di blas dgn penghiantan
Ma Em
Reyhan merasa minder mungkin setelah bertemu dgn Naya wanita yg dulu Reyhan sia siakan sekarang makin bersinar , apalagi setelah Reyhan tau bahwa MB Aya aka menikah dgn Zeyad atau Emir pasti Reyhan makin bertambah penyesalan nya karena Rayhan sdh membuang permata yg sangat berharga demi memilih batu kerikil .
Ita Putri
dulu pas Naya masih jadi istrinya GK di gubris ,di cuekin sekarang Naya sdh pergi kamar bekas Naya aja jadi tempat suci yg tak boleh di nodai Rani
hadeeehh
falea sezi
muter doank gk sat set🤣
sunaryati jarum
Kejujuran merupakan landasan kuat dari sebuah hubungan yang serius.Sengguh romantis Zeyad.Tapi siapa mantan suaminya belum diketahui Zehad.i
evana gusani
baru mampir
dewi rofiqoh
Naya udah cerita masa lalunya, bahkan pertemuan nya dengan sang mantan. Jadi penasaran dengan masa lalu zeyad 🤔🤔
dyah EkaPratiwi
mas zeyad😍😍😍 sisain 1 kayak mas zeyad buat calon mantu
Luna
kamu sendiri juga GK mau jujur tentang masa lalu mu yad,,,, bau baunya nanti ada drama mantan nya zeyad datang ,,,diuji lagi deh hatinya Naya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣,
Sani Srimulyani
kayanya bentar lagi kondangan nih kita.....🤭
Sri Murtini
kapan zeyad mau cerita masa lalumu ke Naya shg saat lamaran tidak ada rahasia berdua👍👍👍
bibuk Hannan & Afnan
nyesel gak Gus nyesel pasti lah,
Mundri Astuti
kamu sendiri belum jujur zeyad
Agnezz
Yup fondasi yg kuat dalam pernikahan adalah keterbukaan dan kejujuran. Setelah Naya terbuka ttg masa lalunya kini giliranmu Zeyad. Jangan ada yg disembunyikan. Paling tidak kalian berawal dari titik yg sama. Yakni sama2 berusaha menjadikan pernikahan ini berhasil. Jangan seperti pernikahan Naya dan Rayhan dimasa lalu. Mereka menikah karena perjodohan, belum kenal satu sama lain. Ternyata mereka tiidak memulai dari titik yg sama. Hanya Naya saja yg berusaha. Rayhan tidak sepenuhnya menerima pernikahan perjodohan ini. Cenderung mengabaikan bahkan diam2 telah menikah siri dengan wanita lain.
Agnezz: dikira Naya gak akan berani minta cerai, karena selama ini menjadi istri yg diam dan menurut. Dulu Rayhan merasa diatas angin sebagai anak kyai yg berilmu tinggi dan tampan, mana ada wanita yg menolaknya, yg ada malah memujanya. Ternyata Naya ambil sikap tegas, tidak bisa dibujuk rayu oleh tangisan buaya. Good job Naya, kamu ambil langkah yg berani.
total 4 replies
Herman Lim
ne sih blom seberapa blom lagi u lihat tmn u jadi calon suami mantan istri mu u lebih bakal lebih nyesal lagi klo kamu tidak seujung kuku dari zeyad
Rini Maryani
lanjut ka yg bnyk up nya ya semangat
Agnezz
gimana sih kamu Rayhan, dulu Naya disia-siakan, dianggurin jadi istri, dianggap pajangan. Sekarang menyesal telah melepaskan, wanita cerdas yg karirnya cwmerlang. Tapi kalo Naya denganmu Rayhan, potensinya gak akan muncul. Dia cuma istri yg mengabdi suami. Sekarang ada seseorang yg mensupport kariernya yaitu calon suami. Naya bersama Rayhan bakal.tenggelam tetapi bersama Zeyad bakal cemerlang. Kamu bukan levelnya Rayhan, levelmu ya si Rani itu.
Agnezz: iya, kita tunggu saatnya tiba, Rayhan pasti kaget banget
total 3 replies
sunaryati jarum
Reyhan akan lebih menyesal lagi ketika melihat dari Naya bersama Zeyad.
Agnezz
sebentar...aku agak bingung sama kalimat "di aula almamater tempat mereka berdua mengenang masa lalu"...berarti Naya dan Rayhan kuliah ditempat yg sama. Bukannya Rayhan kuliah di mesir ya?🤔 Naya dan Rayhan bukannya hanya bertemu dipeaantren itupun dari kejauhan tanpa saling mengenal dekat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!