NovelToon NovelToon
Broken Home

Broken Home

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: kiara lily

Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sosok yang Hilang Selama Ini

Satu bulan telah berlalu sejak pertemuan pertama di warung soto. Hubungan antara Ratna dan Budi berkembang dengan lambat namun pasti, seperti akar pohon yang menjalar kuat ke dalam tanah sebelum batangnya tumbuh tinggi. Bagi Lily, bulan-bulan ini adalah periode observasi yang intens. Ia tidak serta merta menerima kehadiran Budi, namun ia juga tidak lagi menolaknya dengan dingin. Ia membiarkan diri untuk melihat, mendengar, dan merasakan.

Hari itu adalah hari Sabtu. Hujan deras mengguyur kota kecil mereka, membuat jalanan licin dan udara terasa dingin menusuk tulang. Nenek Surti sedang flu berat, sehingga Ratna harus menjaga ibunya di kamar. Sementara itu, Lily memiliki tugas sekolah yang mendesak: membuat maket rumah adat untuk pelajaran Seni Budaya. Masalahnya, bahan-bahan yang dibutuhkan—kayu balsa, lem khusus, dan cat akrilik—harus dibeli di toko seni di pusat kota, jaraknya cukup jauh dan hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda.

Lily duduk di meja belajarnya, menatap daftar bahan dengan frustrasi. Ia tidak bisa meminta bantuan Ratna karena ibunya sedang sibuk mengurus Nenek. Ia juga tidak punya uang tunai yang cukup untuk naik ojek online di tengah badai seperti ini.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama "Pak Budi" muncul di layar.

"Halo, Pak?" sapa Lily, suaranya terdengar lelah.

"Lily, selamat siang. Mama bilang kamu butuh bantuan untuk beli bahan tugas sekolah? Kebetulan saya sedang lewat dekat rumah kamu. Mau saya antar saja? Saya bawa payung besar dan jas hujan," suara Budi terdengar hangat dan tenang di ujung telepon.

Lily ragu sejenak. Meminta bantuan pria yang belum resmi menjadi bagian dari keluarganya terasa aneh. Namun, desakan tugas dan cuaca yang buruk memaksanya mengambil keputusan. "Iya, Pak. Kalau Bapak nggak keberatan... Tapi nanti saya bayar ongkosnya ya."

Budi tertawa ringan. "Nggak usah bayar, Lil. Anggap saja ini investasi untuk masa depan arsitek hebat. Saya tunggu di gerbang depan lima menit lagi."

Lima menit kemudian, sebuah motor berhenti di depan pagar. Budi turun, mengenakan jas hujan kuning cerah yang membuatnya terlihat mencolok di tengah abu-abunya hari hujan. Di tangannya, ia memegang payung lipat besar. Saat Lily keluar, Budi segera membentangkan payung itu, melindungi Lily dari cipratan air hujan meskipun dirinya sendiri sebagian bahunya basah kuyup.

"Ayo, cepat naik. Jangan sampai kehujanan," kata Budi sambil membantu Lily memakai helm cadangan yang sudah dibersihkan dengan tisu basah sebelumnya. Perhatian kecil itu tidak luput dari mata Lily.

Perjalanan ke pusat kota cukup melelahkan karena macet akibat hujan. Di atas motor, Lily memegangi pinggang Budi dengan erat, merasakan ketenangan dari punggung pria itu yang tegap dan stabil. Tidak ada gebrakan gas ugal-ugalan, tidak ada ngebut demi pamer. Budi mengemudi dengan hati-hati, seolah membawa barang berharga yang mudah pecah.

Sesampainya di toko seni, mereka berbelanja dengan cepat. Budi bahkan membantu Lily memilih jenis lem yang paling kuat namun tidak merusak kayu, pengetahuan yang ternyata ia miliki karena sering membantu anak-anak tetangga membuat kerajinan tangan.

"Pak Budi tahu banyak soal kerajinan ya?" tanya Lily saat mereka duduk di bangku taman tertutup di depan toko, menunggu hujan agak reda sebelum pulang.

Budi tersenyum, membuka bungkus roti isi yang ia beli untuk camilan mereka. "Dulu waktu kecil, saya sering bantu Ibu saya memperbaiki atap rumah yang bocor. Jadi terbiasa sama kayu dan lem. Selain itu, saya percaya bahwa mengerjakan sesuatu dengan tangan itu melatih kesabaran. Sama seperti membangun hubungan, Lil. Butuh ketelitian dan waktu."

Lily mengunyah rotinya, menatap Budi lekat-lekat. Pria ini tidak pernah berusaha terkesan dengan cerita-cerita besar atau harta benda. Ia sederhana, praktis, dan selalu hadir dengan solusi, bukan sekadar janji.

"Pak," panggil Lily tiba-tiba, suaranya pelan. "Kenapa Bapak baik banget sama aku? Aku kan cuma anak orang lain. Anak mantan istri orang lain."

Budi meletakkan rotinya, menatap Lily dengan mata yang sangat serius dan lembut. "Lily, kamu bukan 'anak orang lain'. Kamu adalah bagian dari Mama Ratna. Dan karena saya menghormati dan menyukai Mama Ratna, maka secara otomatis saya juga peduli pada apa yang dia cintai. Selain itu... saya melihat potensi besar dalam dirimu. Kamu cerdas, mandiri, dan punya hati yang baik. Itu hal-hal yang langka."

Lily merasa dadanya sesak, namun kali ini bukan karena sedih. Ada rasa hangat yang menyebar di seluruh tubuhnya, perasaan yang sudah lama ia cari-cari: validasi. Pengakuan bahwa ia berharga, bukan karena siapa ayahnya, tapi karena siapa dirinya.

"Saya nggak pernah punya ayah yang begini," bisik Lily, air matanya mulai menggenang. "Ayah kandungku... dia cuma kasih uang, tapi nggak pernah ngajarin aku apa-apa. Nggak pernah dengerin ceritaku. Nggak pernah perhatiin detail kecil kayak pilih lem yang bagus."

Budi tidak menjawab dengan kata-kata klise. Ia hanya merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah pensil mekanik baru. "Ini buat kamu. Buat gambar maketmu. Semoga hasilnya bagus."

Lily menerima pensil itu, tangannya gemetar. "Terima kasih, Pak."

Saat perjalanan pulang, hujan sudah reda menjadi gerimis halus. Lily memeluk pinggang Budi lebih erat dari sebelumnya. Di dalam hatinya, terjadi pergeseran besar. Ia menyadari bahwa sosok ayah bukanlah tentang darah atau nama di kartu keluarga. Sosok ayah adalah tentang kehadiran. Tentang seseorang yang rela basah kuyup demi mengantarmu belanja. Tentang seseorang yang mendengarkan keluh kesahmu tanpa menghakimi. Tentang seseorang yang memberikan perhatian pada hal-hal kecil yang berarti bagimu.

Sesampainya di rumah, Ratna sudah menunggu di teras dengan wajah cemas. Saat melihat Lily turun dari motor dengan selamat dan tersenyum, kecemasan itu berubah menjadi kelegaan.

"Makasih banyak, Pak Budi!" seru Lily lantang sebelum masuk ke dalam rumah. Ia berlari menuju kamarnya, namun sebelum menutup pintu, ia berbalik dan menatap Budi. "Pak Budi... besok boleh main ke sini lagi? Aku mau tunjukin progress maketku."

Wajah Budi bersinar cerah. "Tentu saja, Lil. Kapan pun kamu mau."

Malam harinya, setelah Nenek tertidur, Ratna duduk di ruang tengah bersama Lily. Lily tampak gelisah, mondar-mondir di depan televisi yang mati.

"Ada apa, Lil? Kamu kelihatan bingung," tanya Ratna.

Lily berhenti, menatap ibunya dengan mata yang berbinar-binair, penuh dengan emosi yang sulit dibendung. "Ma... aku suka Pak Budi."

Ratna tersenyum. "Mama tahu, Sayang. Dia memang orang baik."

"Bukan cuma baik, Ma," potong Lily, suaranya naik sedikit karena antusiasme. "Dia... dia seperti ayah yang selalu aku impikan. Bukan Ayah Bambang. Tapi ayah yang sebenarnya. Yang ada waktu buat aku. Yang ngajarin aku hal-hal berguna. Yang nggak marah-marah kalau aku salah pilih lem."

Ratna terdiam, terkejut dengan pengakuan putrinya yang begitu blak-blakan. "Kamu serius, Lil?"

"Serius banget, Ma," jawab Lily tegas, duduk di samping ibunya dan menggenggam tangannya erat. "Aku ingin Pak Budi jadi ayahku. Bukan secara hukum dulu, nggak papa. Tapi secara hati. Aku ingin memanggilnya Ayah. Aku ingin dia ada di setiap momen penting hidupku. Ma... tolong jangan lepaskan dia. Dia lengkapin lubang di hati kita yang selama ini kosong."

Air mata Ratna mengalir deras. Ia memeluk Lily erat-erat, menangis haru. Selama ini, ia takut memaksakan hubungan tersebut pada putrinya. Ia takut Lily merasa dikhianati. Namun ternyata, Lily justru yang memimpin jalan menuju penerimaan itu.

"Mama juga sayang sama dia, Lil," bisik Ratna di telinga putrinya. "Dan jika kamu setuju... Mama akan bicarakan hal ini dengan Pak Budi. Pelan-pelan. Dengan hormat."

Lily mengangguk, senyum lebar terkembang di wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa utuh. Keluarga kecil mereka mungkin tidak tradisional, namun ia merasa lengkap. Ia memiliki Nenek yang bijak, Ibu yang pejuang, dan kini, seorang figur ayah yang penuh kasih. Badai masa lalu telah berlalu, dan matahari kebahagiaan akhirnya benar-benar terbit, menyinari rumah mereka yang sederhana namun penuh cinta.

1
Unaa
maafkan yaa kalo banyak typo nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!