Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!
Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!
Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?
Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OGMTM-23
..."Siapa pun yang menyentuh atau menyebarkan sampah ini..." suara Mahrup mengalun rendah namun menggelegar dingin di sepanjang lorong, "...saya pastikan tidak akan pernah bekerja di Sini lagi mulai detik ini."
Ancaman mutlak dari sang CEO itu membekukan udara di lantai Atas.Namun, fitnah yang disebar Luna terlanjur meluas. Rumor tersebut bahkan sudah menjadi bahan pembicaraan di lobi utama Mahardika Group.
Siang hari itu, lobi utama tampak jauh lebih riuh dari biasanya. Ketika Hazel yang terpaksa turun untuk mengambil berkas fisik dari kurir eksternal melangkah keluar dari lift lantai dasar, puluhan pasang mata langsung menoleh tajam ke arahnya. Bisik-bisik menusuk dan tatapan sinis berhembus nyaring dari balik pilar-pilar marmer.
"Ih, itu kan cewek yang viral di forum internal Perusahaan?" cibir seorang karyawan wanita berjas rapi, sengaja mengeraskan suaranya tepat saat Hazel berjalan melewatinya.
"Muka aja polos, ternyata nggak tahu malu. Berani-beraninya masih melenggang masuk kantor setelah video dan fotonya jadi tontonan satu perusahaan."
"Maklum, mbak, modal tampang sama air mata palsu," sahut rekan prianya menimpali dengan tawa meremehkan.
"Paling juga habis ini di-blacklist dari semua perusahaan elit. Mana sudi bos besar nikahin mantan OG murahan Atau..
cuma Jadi Simpanan."
Langkah Hazel terhenti seketika. Tenggorokannya terasa tercekat, dadanya sesak luar biasa. Lembaran map berkas di tangannya bergetar hebat.
Ia ingin mendongak, ingin meneriakkan kebenaran bahwa semua itu adalah fitnah keji, namun beban mental yang menghimpitnya membuat pertahanannya runtuh seketika. Air mata panas mendesak lolos, menggenang di pelupuk matanya yang memerah.
"Wah, hebat ya kalian. Kerjaan utama di kantor ini sekarang jadi pengamat gosip dan tukang fitnah?"
Sebuah suara tegas mendadak memecah kerumunan. Dari arah pintu masuk lobi, Akbar melangkah cepat dengan seragam petugas kebersihan yang masih melekat di tubuhnya. Pria itu langsung berdiri tepat di hadapan Hazel, merentangkan sebelah tangannya sebagai perisai pelindung untuk gadis tersebut.
Karyawan senior yang tadi mencibir mendengus sinis. "Eh, ada pahlawan kesiangan! Kenapa, Mas Akbar?"Kamu nggak terima Liat Cewe modal Ngangkang Kita bilang Murahan,kan FAKTA,Oh atau Dia Juga pernah Jadi pemuas kamu"
Wajah Akbar mengeras menahan amarah yang membakar ubun-ubunnya. Urat-urat di lehernya menonjol. Selama ini ia memilih diam, namun melihat Hazel diinjak-injak tanpa ampun di hadapan banyak orang membuatnya tak bisa lagi tinggal diam.
"Jaga mulut kalian!" bentak Akbar tajam, membuat beberapa karyawan terkesiap mundur.
"Kalian cuma tahu menghakimi dari foto sampah di internet tanpa tahu kebenarannya sedikit pun! Hazel bukan perempuan seperti yang kalian fitnah! Dia bekerja siang malam pakai keringatnya sendiri, jauh lebih mulia daripada kalian yang cuma bisa duduk manis sambil menyebar racun fitnah!"
"Alasan! Pembelaan basi!" teriak salah satu staf dari kerumunan. "Kalau nggak salah, buktikan dong! Kenapa harus baper?"
Hazel menarik pelan ujung lengan baju Akbar, suaranya bergetar parah. "Udah, Mas Akbar... jangan diperpanjang... biarin mereka ngomong apa..."
"Nggak, Zel! Kamu nggak boleh terus-terusan diinjak sama orang-orang pengecut ini!" ucap Akbar penuh emosi, menatap tajam ke sekeliling lobi.
Namun, di saat keributan di lobi utama semakin memanas dan menjadi tontonan ratusan pasang mata, suasana mendadak mati total. Suara derap langkah sepatu tegas bergemukan mendekat dari arah lift eksekutif khusus yang terbuka.
Mahrup Mahardika melangkah keluar bersama Sekretaris barunya. Wajah sang CEO begitu kelam, dingin, dan mematikan,bagaikan badai es yang siap melumat apa saja yang menghalangi jalannya.
Seluruh karyawan di lobi langsung terdiam seribu bahasa, menunduk ketakutan tanpa berani mengangkat wajah.
Mahrup berjalan lurus menembus kerumunan, matanya tajam menatap lurus ke arah Akbar yang berdiri melindungi Hazel. Namun sebelum Akbar sempat menjelaskan apa pun, langkah Mahrup terhenti tepat di hadapan mereka.
Tanpa sepatah kata pun pada kerumunan staf yang gemetar ketakutan, Mahrup melepas jas hitam miliknya, lalu menyampirkannya lembut menutupi bahu Hazel yang masih bergetar hebat.
Mahrup kemudian mendongakkan kepalanya, menyapu seluruh penjuru lobi dengan pandangan mata yang menghujam tajam, sebelum akhirnya berbisik dingin pada asistennya untuk mengunci seluruh akses sistem perusahaan detik itu juga.