Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!
****
Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Kabut Palsu di Danau Cheon Gi dan Jerat Opini Publik
“Apakah giok ini bereaksi? Apakah Seol Ah... Seol Ah masih hidup dan sedang memanggilku?” pikirnya dengan napas memburu.
Tanpa memedulikan apa pun lagi, Han Seol langsung melesat secepat kilat, berlari kencang mengikuti arah ke mana energi giok merah itu membimbing jalannya. Langkah kakinya membawa dirinya masuk jauh ke dalam hutan tumpukan batu.
Namun, sayang seribu sayang, seluruh harapan indah yang baru saja mekar di dalam hati Han Seol seketika runtuh dan hancur berkeping-keping.
Begitu ia menembus semak-semak, pandangannya justru menangkap sosok Jin So Hwa yang sedang berdiri tegak sembari mengalirkan energi ke giok biru tersebut.
Raut wajah Han Seol seketika berubah menjadi teramat kecewa dan dingin. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Han Seol dengan suara yang bergetar menahan dongkol.
Jin So Hwa yang melihat raut kekecewaan yang teramat mendalam pada wajah pria itu segera merasa bersalah. Ia melangkah maju, mencoba menghibur Han Seol dengan mengungkapkan apa yang ia rasakan.
"Han Seol, dengarkan aku," ucap Jin So Hwa dengan tatapan mata yang tulus. "Saat aku mengalirkan energi ke giok ini, aku kembali melihat masa laluku dengan sangat jelas! Aku melihat bahwa kau dan aku... kita memanglah sepasang kekasih yang saling mencintai sedari dulu."
Bahkan, demi meyakinkan pria itu, Jin So Hwa meniru ucapan Han Seol di masa lalu dengan sangat tepat, kata demi kata, saat mereka berdua pertama kali berbagi giok Yin dan Yang tersebut.
Namun, mendengar hal itu, Han Seol justru mendengus getir. Kata-kata itu tidak lantas membuat dirinya percaya bahwa Jin So Hwa adalah Seol Ah alias Nara, kekasihnya.
"Kau salah," ucap Han Seol dingin, menatap So Hwa dengan pandangan menusuk. "Seluruh ingatan, perasaan, dan emosi terdalam milik kekasihku telah melekat dan tersimpan abadi di dalam batu giok peninggalannya itu. Oleh karena itu, saat kau yang memiliki kemampuan melihat energi menyentuh giok tersebut, kau bisa membaca dan melihat ingatan orang lain yang terekam di dalamnya. Kau bukan dia."
Mendengar penuturan tegas dari Han Seol, Jin So Hwa terpaku. Sudut hatinya mendadak terasa nyeri. Ia akhirnya terpaksa menyimpulkan bahwa apa yang ia lihat tadi hanyalah ilusi dari ingatan milik wanita lain, bukan memori dari dirinya sendiri.
Merasa bersalah karena telah memberikan harapan palsu dan mengecewakan hati Han Seol dengan kejadian barusan, So Hwa menunduk lesu. Ia berniat untuk mengembalikan batu giok biru itu ke tempat asalnya di atas tumpukan batu. Namun, tepat sebelum jemarinya sempat menyentuh susunan bebatuan tersebut...
Pranggg! Brukk!
Tumpukan batu sakral di hadapan mereka mendadak runtuh dengan sendirinya, berserakan di atas tanah tanpa sebab yang jelas.
Han Seol yang sedang dirundung emosi kecewa hanya melihat bahwa Jin So Hwa-lah yang telah melakukan kecerobohan dan meruntuhkan monumen peringatan tersebut. Tanpa berkata-kata lagi, dengan tatapan dingin yang sarat akan kekecewaan, Han Seol berbalik dan melangkah pergi meninggalkan So Hwa sendirian di tengah hutan yang mulai menggelap.
Jin So Hwa terduduk di atas tanah dengan perasaan bersalah yang teramat sangat. Dengan sisa tenaganya, ia mulai memunguti batu-batu itu satu demi satu, berusaha menyusunnya kembali seperti semula. Namun, waktu terus berjalan hingga larut malam, dan susunan batu itu tetap tidak bisa berdiri kokoh, selalu runtuh kembali.
Tubuh So Hwa kelelahan dan matanya mulai berkaca-kaca. Akhirnya, dengan putus asa, ia menyerah dan bersiap untuk pulang menyusuri gelapnya hutan malam yang pekat sendirian.
Namun, di balik kegelapan semak-semak yang agak jauh, sosok berjubah hitam sebenarnya tidak benar-benar pergi. Dengan rasa simpati dan kepedulian yang masih tersisa jauh di dalam lubuk hatinya, Han Seol diam-diam mengamati So Hwa.
Ia mengangkat tangan kanannya, memutar energi gichul-nya secara halus ke udara.
Wussh.
Seketika itu juga, ratusan kunang-kunang di dalam hutan berkumpul, membentuk sebuah formasi cahaya terang yang melayang di depan langkah kaki Jin So Hwa. Sihir pengendali kunang-kunang milik Han Seol itu bertindak sebagai lentera penuntun jalan yang aman bagi So Hwa menembus kegelapan hutan.
Berkat bantuan rahasia itu, So Hwa berhasil keluar dari area hutan dengan selamat. Dan tepat di luar batas hutan, beberapa pelayan setia dari keluarga Han sudah berdiri menanti dengan obor, langsung menyambut dan membawanya pulang ke rumah dengan aman.
****
Keesokan harinya, sebuah badai rumor yang teramat dahsyat pecah dan menggegerkan seluruh penjuru Negeri Niskala.
Isu mengenai bangkitnya kembali sosok Nara—sang pembunuh bayangan yang kejam—menyebar cepat bagai api menyiram minyak, membuat seluruh lapisan masyarakat dicekam rasa cemas dan ketakutan yang luar biasa.
Isu horor itu bermula ketika salah seorang pedagang yang baru saja melewati kawasan Danau Cheon Gi berlari masuk ke pusat kota dengan pakaian robek dan wajah pucat pasi. Ia berteriak histeris, mengaku dengan sumpah bahwa seluruh teman-teman serombongannya baru saja dibantai habis secara keji oleh sosok wanita bertopeng yang tak lain adalah Nara sang pembunuh bayangan.
Lantas, dengan adanya isu menggemparkan yang meneror seisi negeri tersebut, para pedagang di pasar bawah langsung memanfaatkan situasi. Jimat-jimat penangkal roh Nara yang dijual di toko-toko mistis mendadak laku keras dan habis diburu oleh warga yang ketakutan.
Di samping itu, karena kepanikan massal tersebut mengakibatkan rute transportasi air di sungai dan danau menjadi lumpuh total karena para pengemudi perahu menolak menyeberang, roda ekonomi kota jadi tersendat.
Melihat kekacauan publik yang kian meluas, Raja Go Haneul langsung bergerak cepat. Beliau memanggil Han Seol ke dalam aula istana dan memberikan perintah tegas di hadapan singgasana.
"Han Seol, kau harus segera pergi ke Danau Cheon Gi dan membunuh Nara yang bangkit itu sebelum kota ini benar-benar lumpuh oleh ketakutan," titah Raja dengan raut serius.
Namun, Han Seol yang berdiri di hadapan Raja justru menggelengkan kepalanya dengan tenang.
"Yang Mulia, saya tidak bisa bergerak secara terang-terangan untuk misi ini," jawab Han Seol datar.
"Jika saya—sang Penyihir Agung yang memegang Batu Es—turun tangan secara langsung ke danau, maka hal itu justru akan menjadi bumerang. Warga di luar sana akan menganggap bahwa keberadaan Nara yang bangkit dari kematian adalah hal yang benar-benar nyata dan diakui oleh istana. Kepanikan mereka akan berlipat ganda."
Mendengar argumen taktis yang diucapkan oleh Han Seol, Raja Go Haneul terdiam sejenak. Beliau kemudian menghela napas panjang dan mengangguk setuju.
"Kau benar, Han Seol. Pemikiranmu sangat logis."
Terlebih lagi, jauh di dalam lubuk hatinya, sang Raja sendiri sebenarnya tidak terlalu mempercayai isu mistis mengenai kebangkitan mayat tersebut dan mencium adanya konspirasi politik lain di balik kabut palsu yang sengaja disebarkan di Danau Cheon Gi untuk memancing Han Seol keluar dari posisinya.
Aroma dupa kemenyan di dalam aula istana terasa kian pekat seiring dengan berjalannya debat batin di hadapan singgasana. Raja Go Haneul semula sudah condong untuk menyetujui argumen Han Seol yang taktis.
Namun, ketenangan di ruangan itu terusik ketika Jin Wu melangkah maju dari bayang-bayang pilar kanan raja. Pemimpin Cheonbugwan itu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan racun intrik politik.
"Yang Mulia Raja, mohon izinkan hamba untuk menyampaikan satu sudut pandang yang tampaknya dilupakan oleh Penyihir Agung Han Seol," sela Jin Wu, suaranya terdengar begitu tenang namun penuh dengan penekanan yang manipulatif.
Raja Go Haneul menoleh. "Katakan, Jin Wu."
Jin Wu menatap Han Seol sekejap sebelum kembali menghadap singgasana. "Pendapat Han Seol mengenai retensi kepanikan warga memang tidak salah. Akan tetapi, jika Han Seol memilih untuk tetap diam dan membiarkan isu kemunculan Nara ini terus meluas di tengah masyarakat, dampaknya akan jauh lebih berbahaya bagi wibawa takhta. Seluruh penyihir tingkat tinggi dan tetua klan tahu persis bagaimana hubungan masa lalu antara Han Seol dan Nara sang pembunuh bayangan."
Jin Wu sengaja menjeda kalimatnya, membiarkan suasana aula mendadak hening mencekam. "Jika rakyat melihat Penyihir Agung yang memegang Batu Es mengabaikan teror ini, orang-orang yang sudah mengetahui rahasia masa lalu tersebut akan langsung berasumsi buruk. Mereka akan menganggap bahwa Han Seol sengaja membiarkan kekejaman Nara atas dasar perasaan pribadi yang belum selesai. Opini publik akan menuduh Han Seol melindungi seorang pembunuh massal demi cinta lamanya."
Mendengar penjelasan yang teramat licik namun logis dari Jin Wu terkait potensi rusaknya nama baik sang Penyihir Agung, pikiran Raja Go Haneul langsung berubah haluan dalam sekejap. Beliau menggebrak sandaran kursi singgasana dengan raut wajah yang kembali mengeras.
"Apa yang dikatakan Jin Wu sangat benar, Han Seol!" tegas Raja Go Haneul, memberikan perintah mutlak yang tidak bisa diganggu gugat lagi.
"Aku tidak bisa membiarkan ada spekulasi yang mencoreng nama baik pelindung utama Niskala. Oleh karena itu, pada akhirnya aku tetap memerintahkanmu untuk mengemban tugas atas penangkapan dan pemusnahan sosok Nara yang berada di Danau Cheon Gi tersebut. Pergilah malam ini juga!"
Han Seol hanya bisa mengepalkan tangannya di balik jubah hitamnya. Ia tahu, Jin Wu baru saja berhasil memasang jebakan opini untuk memaksanya keluar dari posisinya di kota.
****
Sementara itu, di sudut lain Kota Niskala, tepatnya di dalam ruang perpustakaan Cheon Gi Won, suasana dipenuhi oleh tumpukan gulungan kertas saksi mata. Baek Seo Jun dan Yoo Ha Jin sedang duduk berhadapan dengan dahi berkerut rapat.
Sejak pagi buta, keduanya diperintahkan oleh Do Hyun untuk menyelidiki secara mendalam mengenai kejanggalan di balik isu kemunculan Nara yang mendadak melumpuhkan transportasi air tersebut.
Setelah menyaring belasan kesaksian palsu dan memeriksa manifes perjalanan perahu, kerja keras mereka akhirnya membuahkan hasil yang teramat krusial.
"Seo Jun, lihat ini!" seru Yoo Ha Jin sembari menunjuk sebuah nama yang tertera di dalam catatan pelabuhan bawah.
"Aku berhasil melacak identitas orang pertama yang meneriakkan rumor pembantaian di Danau Cheon Gi kepada warga pasar. Orang itu bernama Byeong Gu."