NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Gendut, Dipilih Menjadi Ibu

Dibuang Karena Gendut, Dipilih Menjadi Ibu

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Romansa pedesaan / Cewek Gendut / Cerai / Tamat
Popularitas:165.6k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.

Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.

Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.

Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.

Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.

Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.

"Kita menikah!"

Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.

Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Selagi Masih Ada Waktu

'Selagi masih punya kesempatan, aku harus terus menabung.'

Mireya membuka mata. Tatapannya jatuh kepada Elden yang masih tidur nyenyak di tengah mereka.

Anak kecil itu menggenggam ujung selimut dengan wajah tenang.

Mireya tersenyum tipis. “Untuk sementara…”

Tangannya mengusap rambut Elden dengan lembut. “Aku akan tetap menjadi Ibu yang baik untukmu.”

Ia kemudian memejamkan mata kembali. Tidak lama kemudian, ia akhirnya benar-benar tertidur.

Namun di sisi lain, Arven ternyata belum tidur. Ia mendengar bisikan Mireya barusan untuk Elden.

Pria itu miring ke arah Mireya. Tak hanya itu, obrolan mereka tadi terus terngiang di kepalanya.

'Takut? Apa yang kau takutkan padaku?'

'Apa dia takut dengan pernikahan atau bagaimana?'

Arven terus menatap Mireya. Ia benar-benar telah lelap. Suara napasnya teratur dan telah masuk ke dunia mimpinya.

Arven menghela napas pelan. “Apa kau tak bisa memberikan satu saja petunjuk atau rahasia yang begitu besar untuk kau simpan itu?"

Namun, tak ada jawaban.

Hanya terdengar suara napas yang teratur dan pelan.

Tangan panjang Arven bergerak menarik rambut yang sedikit menutupi wajah Mireya.

"Aku hanya berharap, kamu tak memilih berakhir denganku karena sesuatu itu." Akhirnya ia memejamkan mata.

.

.

Keesokan paginya, mereka sedang duduk di meja makan. Hanya Elden yanh semangat menikmati sarapannya.

Mireya yang menyuapi, tampak lemas dengan kantung mata yang sedikit menggelap.

"Ayo, Bu. Aku mau makan yang banyak. Aku mau berkebun," bocah itu dengan penuh semangat.

“Apa?” Mireya yang tampak cukup lesu menatap Elden dengan kening mengerut.

"Ayo lah, Bu. Aya juga sudah siap."

Satu alis Arven terangkat. "Ayah? Kenapa dengan Ayah?"

Elden menautkan kedua alisnya. “Apa Ayah lupa? Kita kan mau lanjut berkebun. Tanaman kita harus rajin disiram biar tumbuh dengan baik," terang Elden was-was jika saja Arven membatalkan kembali rencana mereka.

Arven menatap putranya. Kemudian menatap Mireya.

Mireya hanya tersenyum kikuk. “Sepertinya Mas lupa lagi kalau kemarin sudah berjanji sama Elden.”

Arven mencoba mengingat kembali. Ia meminum kopi tersisa dan bangkit dari posisinya. “Baik.”

Elden bersorak. “Yeay!”

Mireya tersenyum. Ia tidak menyadari bahwa Arven terus memperhatikannya. Senyum kecil itu. Senyum yang muncul ketika bersama Elden.

Entah mengapa, Arven mulai menyukai rumah yang seperti ini. Tidak lagi sunyi seperti dulu.

Tidak lagi hanya berisi dirinya dan seorang anak yang sulit berbicara dengan orang lain dan hanya bersembunyi di belakangnya.

Sekarang ada suara langkah Mireya. Ada ciloteh dan tawa Elden.

Ada seseorang yang akan menegurnya ketika ia salah menanam.

Dan seseorang yang akan mengingatkannya untuk pulang sebelum makan siang.

.

.

Di kebun, Mireya sibuk memeriksa bibit yang sudah bertambah tingginya beberapa senti.

Elden membantu di sampingnya. "Bu ... Udah tambah besar," ucapnya takjub.

"Iya, sayuran kita udah mulai tumbuh dengab baik. Setelah ini, harus rajin kita rawat biar nanti semakin bagus dan tentu menghasilkan sayuran yang banyak."

Elden mengangguk cepat.

"Nanti kamu harus memakannya juga ya? Kan ini hasil jerih payah kita."

Elden menutup mulut dan kali ini menggeleng cepat.

"Jangan begitu, nanti sayurannya sedih dan ngga mau besar bagaimana?" bujuk Mireya dengan sedikit bumbu kebohongan ala ibu-ibu di negara ini.

Elden tampak sedikit kaget karena mata dan bibirnya membulat secara bersamaan. "Benarkah?"

Arven yang memperhatikan diam-diam hanya bisa menahan geli. Bahkan, pemandangan yang sesederhana itu begitu dinikmatinya

Arven yang sedari tadi memegang alat penyiram tanaman akhirnya menyela. “Yang ini harus kita siram?”

Mireya menoleh. “Iya, dikit-dikit aja ya. Kalau terlalu banyak, nanti benihnya malah langsung terbongkar terbawa air.”

Arven mengangguk paham. “Baik lah ...”

.

.

Siang harinya, setelah makan, Mireya kembali ke kebun seorang diri. Ia membawa buku kecil.

Di dalamnya terdapat catatan mengenai perkembangan tanaman yang ada di kebun, kebutuhan pupuk, dan hasil yang mungkin diperoleh.

Ia juga menuliskan sesuatu di halaman paling belakang. Catatan jumlah tabungan yang sudah disimpannya.

Kemudian menambahkan sedikit dari uang yang ia dapatkan bulan itu.

Cukup banyak, karena uang belanja yang diberikan Arven tiap bulannya sebanyak dua digit.

Arven mengatakan uang yang diterimanya sebagai istri. Namun dalam pikiran Mireya, itu sebagai upahnya dalam mengasuh Elden.

Mireya menutup buku. “Aku harus terus menabung.” Ia memasukkan buku tersebut ke dalam saku.

.

.

Menjelang sore, Mireya dan Elden kembali menyiram tanaman. Saat itu Arven baru kembali dari pekerjaannya.

“Kau belum selesai?”

Mireya menoleh. “Sebentar lagi.”

Arven melihat sekeliling. “Besok pekerja akan membantu membersihkan bagian belakang.”

Mireya mengangguk. “Baik.”

“Kau tidak perlu mengerjakan semuanya berdua saja meski sebenarnya kamu melakukannya sendirian.”

Mireya menatap Arven. “Sebenarnya aku bisa sendiri.”

Arven menahan napas. "Kamu tak boleh menolak keinginanku. Aku tak mau kamu terlalu lelah."

Mireya tersenyum. “Baik lah. Apa pun yang suami bilang harus aku turuti.”

Arven menatapnya lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. "Berbalik lah!" perintahnya.

"Kenapa?"

"Putarkan saja badanmu!"

*bersambung*

1
Erna Masliana
ganggu bae s Mireya
Erna Masliana
heh..jauh y
Erna Masliana
Pak Can bijak 👍
Erna Masliana
salahkan dirimu sendiri tidak mau jujur
Erna Masliana
tinggal bilang apa susahnya.. palingan jadi majikan lagi.. jangan buat orang yang menampung dan membela mu kelihatan bego di mata mantan keluarga bejatmu
Erna Masliana
jujur aku gak ngerti..masa Iddah itu di hitung setelah ketok palu atau kata talak?? terus yang namanya sidang perceraian setauku tidak ada yang sehari beres..sepupuku aja perlu 6bulan 3 kali sidang sampe ketok palu..kalo dalam Islam ya dihitung dari kata talaknya suami bukan dari ketok palu deh kayaknya
SoVay: boleh dbaca sampai selesai y kak, ceritanya udah tamat 🙏🍅
total 1 replies
Erna Masliana
ih hayang nga geplak s Mireya.. bertele tele..aku orangnya gak sabaran 😛
Erna Masliana
ya banyak.. karena kamu gak cari tau..gak nanya dg benar..kamu juga punya rahasia... jangan marah
Erna Masliana
greget ih...Mireya terlalu lemah.. sampe harus di bela anak kecil
Erna Masliana
rumah s Arven tipe terbuka y .. tapi waktu masuk ada penjaga kok enteng banget masukin orang
Erna Masliana
ya gak bisa udah ketok palu meski ada masa Iddah kalo ceweknya gak mau rujuk ya gak bisa maksa kembali.. apalagi untuk hidup menderita.. lagian itu pas ketok palu bukannya harusnya prosesnya lama..s syahzan sekaya apa sih atau seberpengaruh apa sampe dapat surat cerai tanpa mediasi langsung sidang putusan.. terus alasan cerai yang diajukan apa?
Erna Masliana
karena butuh itu fakta kenapa takut.. memang saat itu kamu benar benar lagi terpuruk kan.. makanya lihat peluang langsung ambil itu realistis untuk bertahan hidup bukan matre
Erna Masliana
ini tidak di apa apain s Syahzannya?? minimal bikin drama di begal gitu??
Erna Masliana
kalo dg trik licik syahzan aja kalah maka Zareti memang tidak sekuat itu
Erna Masliana
🤣🤣🤣🤣ngeles biar gak kena amuk
Erna Masliana
kenapa berharap dicari gitu 😛
Erna Masliana
gantung kamu di pohon itu merepotkan karena kamu berat😁✌️.. lebih praktis di dor atau racun ✌️✌️
Aji Priatun
suka karyanya Author
Yulvita Darnel
waw... masa dari 50% turun bebas menjadi 35% ada-ada saja mireya.
Dewi Habibah
bagus ceritanya
SoVay: terima kasih kk 🍅🍅🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!