NovelToon NovelToon
TIRAKAT 7

TIRAKAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / TKP
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.

(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Sepuluh tahun berlalu.

Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.

​Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".

​Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.

Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 (KASUS 1) TEWAS SEKETIKA

Jarum panjang jam dinding berbingkai perak di lorong utama lantai dua gedung Satreskrim berdetik konstan, tepat menunjuk ke angka dua belas, sementara jarum pendeknya tegak lurus mengunci angka enam.

Pukul 18.00 WIB.

Lembayung senja di luar jendela markas Polres telah berganti sepenuhnya oleh pekatnya malam.

Lampu-lampu neon di lorong ruang interogasi memancarkan pendaran putih yang agak temaram. Udara berpendingin ruangan berhembus dingin, membawa sisa-sisa ketegangan usai operasi penggerebekan besar-besaran di Perkebunan Teh Sirah Lazuardi beberapa jam sebelumnya.

Ipda Harumi berdiri melipat kedua tangannya di depan dada di balik kaca satu arah Ruang Interogasi 1.

Di dalam ruangan berlantai semen polos itu, dua orang pengawal padepokan Ki Suroto duduk di kursi besi dengan kedua tangan terborgol ke meja. Wajah mereka pucat pasi, tatapan matanya kosong menatap ubin, dan bibir mereka terkatup rapat tanpa menyuarakan sepatah kata pun.

Klek...

Aipda Rudi keluar dari ruang interogasi dengan helatan napas panjang. Penyidik senior itu membawa stopmap cokelat berisi draf Lembar Pemeriksaan Saksi yang masih bersih tanpa coretan.

"Gimana, Rudi?" tanya Harumi langsung, memutar tubuhnya menatap sang anak buah dengan intonasi profesional. "Ada respon dari dua pengawal itu?"

Rudi menggelengkan kepalanya pelan, raut wajahnya tampak agak jengkel. "Bungkam total, Bu Kanit. Sudah 30 menit saya dan tim siber mencoba mencecar mereka pakai bukti foto senjata api rakitan dan dokumen padepokan, tapi mereka berdua cuma diam seperti patung."

"Mereka nggak bersuara sama sekali?" reka Harumi.

"Sama sekali tidak, Bu," jawab Rudi gusar. "Setiap kali nama Ki Suroto atau kata 'konsortium' disebut, tubuh mereka berdua langsung gemetar ketakutan. Seolah-olah ada ancaman yang jauh lebih mengerikan dari hukuman penjara yang sedang menanti mereka kalau sampai berani buka suara."

dr. Haruma yang baru saja melangkah mendekat dari arah lorong laboratorium forensik menyimak laporan tersebut seraya menyandarkan tubuh anggunnya di samping adiknya. Ia mengenakan blouse formal bernuansa krem dengan jas dokter yang terbuka rapi.

"Ketakutan mereka itu bukan tanpa alasan, Rudi," potong Haruma dengan suara lembutnya yang jernih. "Pola tembak psikologis orang-orang yang sudah terikat doktrin atau sumpah sihir memang seperti itu. Rasa takut akan pembalasan gaib jauh lebih mendominasi ketimbang ancaman hukuman pidana."

Harumi menoleh menatap kakaknya, menyunggingkan senyuman tipis seraya mengubah nada bicaranya menjadi lebih renyah dan santai khas obrolan berdua.

"Bener banget kata Kak Haruma," ujar Harumi seraya menyenggol pelan lengan kakaknya. "Anak buahnya aja ketakutan setengah mati begini. Tapi kita nggak bisa buang-buang waktu lagi di sini, Kak. Jam 6 sore gini mending kita langsung hajar pusatnya aja."

Haruma tersenyum renyah, merapikan jilbab adiknya yang agak berantakan usai penggerebekan. "Kamu mau langsung interogasi Ki Suroto sekarang, Dek?"

"Iya dong, Kakakku sayang," sahut Harumi renyah dengan mata berkilat tegas. "Ngapain kita peras air dari batu kering kalau sumber airnya sudah ada di ruang sebelah? Kunci utamanya kan ada di Ki Suroto. Dia yang pegang semua lalu lintas sihir sama transaksi dana 50 miliar itu."

Haruma mengangguk setuju, matanya memancarkan keteguhan. "Ya sudah, Kakak dampingi kamu di dalam ya. Sebagai saksi ahli forensik sekaligus penjamin kalau-kalau ada manipulasi zat racun alami yang dia pakai."

"Sip! Lengkap sudah duet kita!" balasan Harumi riang.

Harumi berbalik menghadap Aipda Rudi kembali, intonasi suaranya seketika berubah menjadi komando perwira yang disiplin dan tegas.

"Rudi! Instruksikan petugas jaga untuk membawa Ki Suroto keluar dari sel isolasi khusus menuju Ruang Interogasi Utama sekarang juga!" perintah Harumi. "Pastikan dia dalam pengawalan 2 personel bersenjata dan kedua tangannya terkunci rapat."

"Siap, Bu Kanit! Segera saya siapkan!" jawab Rudi mantap, langsung melangkah cepat menuju lorong sel tahanan bawah.

5 menit kemudian, pintu besi Ruang Interogasi Utama terdorong terbuka.

Ki Suroto digiring masuk oleh dua anggota Jatanras. Pria bertubuh tinggi besar itu mengenakan pakaian tahanan berwarna oranye mencolok dengan nomor dada 042. Pergelangan tangannya diborgol rantai besi tebal. Bekas perban putih membeber lengan kirinya yang sempat tertembak presisi oleh Harumi saat pertempuran di pendopo.

Langkah kaki Ki Suroto tampak sedikit terseret, namun raut wajahnya yang kasar masih menyisakan sisa-sisa keangkuhan. Sepasang matanya yang agak kemerahan menatap sekeliling ruangan berlantai semen yang dingin.

"Duduk di sini!" tegur Aipda Rudi tegas seraya mendudukkan Ki Suroto di kursi kayu tanpa sandaran di tengah ruangan.

Petugas mengaitkan rantai borgol tangan Ki Suroto ke pengait besi yang tertanam di bawah meja kayu interogasi.

Ipda Harumi melangkah masuk, menarik kursi di seberang meja lalu duduk dengan posisi tegap sempurna. Di sebelah kirinya, dr. Haruma duduk dengan ketenangan anggun, membukakan draf berkas pemeriksaan medis sementara dan menyiapkan pena di tangannya.

Aipda Rudi berdiri siaga di sudut ruangan dekat pintu kayu bersama seorang penyidik muda.

Harumi merapikan posisi stopmap merah berlabel BERKAS PEMERIKSAAN di atas meja. Pandangan mata tajam sang polwan Jatanras terkunci lurus pada paras Ki Suroto yang duduk dua meter di hadapannya.

"Ki Suroto..." panggil Harumi dengan intonasi suara dingin, berbobot, dan penuh wibawa hukum.

Ki Suroto mendongakkan kepalanya perlahan, menatap Harumi dengan senyuman tipis bernada meremehkan. "Inilah polwan muda yang merasa paling gagah di Tanah Jawa..." bisik Ki Suroto parau.

"Simpan sindiran Anda untuk persidangan nanti, Ki Suroto," pangkas Harumi tanpa terpengaruh sedikit pun. "Saat ini jam menunjukkan pukul 6 sore lewat 15 menit. Ini adalah kesempatan pertama sekaligus terakhir bagi Anda untuk kooperatif memberikan kesaksian resmi di hadapan penyidik kepolisian."

Harumi membukakan lembar pertama berkas pemeriksaan di tangannya.

"Saya akan langsung pada pokok persoalan," lanjut Harumi, matanya menatap tajam ke iris mata Ki Suroto. "Siapa nama anggota Keluarga Taipan yang memerintahkan Anda untuk menanamkan sihir pencuri usia pada Jonathan Nasution dan membunuh Frida Valery?"

Mulut Harumi baru saja usai melontarkan pertanyaan kunci tersebut...

Namun, tepat di detik ketika bibir Harumi terkatup rapat usai bertanya...

Wussshhh!

Secara yang teramat sangat mendadak, tidak masuk akal, dan mengerikan...

Suhu udara di dalam Ruang Interogasi Utama anjlok drastis membekukan tulang!

Buih uap dingin keluar membumbung dari embusan napas Haruma dan Harumi.

Lampu neon tunggal di atas meja interogasi mendadak berkedip-kedip liar dengan suara 'bzzzzt... bzzzzt...' yang menusuk telinga!

"Hk...! Hggghhh...!"

Suara erangan tercekat meledak liar dari dalam tenggorokan Ki Suroto!

Tubuh pria bertubuh tinggi besar berumur 52 tahun itu mendadak menegang hebat secara luar biasa!

Seluruh otot punggung dan lehernya menegang kaku bagaikan baja, membuat dadanya menonjol ke depan hingga kancing kemeja oranye tahanannya terlepas!

"Ki Suroto?!" seru Aipda Rudi terperanjat, reflex meletakkan tangannya di sarung senjata.

"Jangan mendekat, Rudi!" seru Harumi melarang dengan ketegasan tinggi.

Mata Ki Suroto terbelalak lebar hingga seluruh bagian hitam iris matanya menghilang, menyisakan bagian putih mata yang memancar kaku ke atas!

Mulutnya menganga lebar secara abnormal, sementara kepalanya mendongak patah ke arah plafon dengan sudut yang sangat ekstrem!

Srrttt... Srrttt!

Pemandangan berikutnya di dalam ruangan itu sungguh membuat bulu kuduk siapa pun bergidik ngeri!

Dari balik kulit leher, pipi, dan pelipis Ki Suroto...

Merayap keluar ratusan urat-urat hitam tebal yang membengkak mengerikan!

Urat-urat hitam berduri itu menjalar cepat bagaikan akar pohon beracun di bawah permukaan kulitnya, merayap dari dada naik membelit leher, rahang, hingga memusar pekat di sekeliling kedua matanya!

"Akskkhhh...! T-THE... O-NE...!" jerit Ki Suroto melengking parau, suara yang keluar dari mulutnya tidak lagi menyerupai suara manusia, melainkan perpaduan tawa iblis dan jeritan kesakitan yang memecah gendang telinga!

Deg!

dr. Haruma yang berdiri di samping meja seketika membeku. Saraf batin sang dokter forensik berdesir hebat menyaksikan fenomena pembusukan biologis di depan mata kepalanya sendiri.

"Pendaran racun seluler dan nekrosis jaringan masif!" seru Haruma dengan analisis medis dan gaibnya yang sangat presisi. "Sihir pembungkam di dalam darahnya meledak dan menghancurkan seluruh organ dalam Ki Suroto secara serentak!"

Mata Batin Murni milik Ipda Harumi seketika menyala tajam menembus dimensi kasat mata.

Di dalam penglihatan batin Harumi, udara di sekeliling Ki Suroto dipenuhi oleh gulungan benang-benang hitam pekat yang berputar liar bagaikan badai ghaib!

Benang-benang sihir pembungkam mulut tersebut meremas jantung, merobek pembuluh darah otak, dan mencerna jaringan daging Ki Suroto dari dalam hingga membusuk dalam hitungan detik!

"Sihir Pembungkam Mulut tingkat tertinggi!" seru Harumi dengan suara murka yang bergetar. "Begitu dia duduk di kursi interogasi dan mendengar pertanyaan soal sang Mastermind, sumpah sihir di darahnya langsung mencabut nyawanya!"

Plaak! Krrak!

Kulit wajah Ki Suroto yang semula sawo matang seketika berubah warna menjadi hitam legam bercak-bercak kebiruan!

Bau busuk belerang yang bercampur dengan uap bangkai dan aroma darah kental menyembur dahsyat memenuhi seluruh sudut ruang interogasi!

"Aaaaghhh...!"

Ki Suroto tersentak hebat untuk terakhir kalinya di atas kursi kayu. Dari rongga mulutnya yang menganga lebar dan kedua lubang hidungnya, menyembur keluar uap hitam pekat berbau amis yang membakar udara.

Plek.

Kepala Ki Suroto terkulai lemas patah ke samping. Seluruh gerak kejang dan raungan di tubuhnya terhenti total secara mendadak.

Tubuh pria berumur 52 tahun itu terbaring kaku berantai di kursi interogasi. Kulit wajahnya telah menghitam sepenuhnya dan tampak mengkerut membusuk bagaikan mayat yang telah terkubur bertahun-tahun di tanah lembap!

Lampu neon di atas meja berhenti berkedip, kembali menyala terang benderang. Suhu udara dingin yang membekukan perlahan-lahan merambat naik kembali, menyisakan keheningan yang amat mencekam di dalam ruangan.

Aipda Rudi dan penyidik muda di belakangnya berdiri terpaku dengan mata membelalak kaget, napas mereka memburu oleh kebingungan dan rasa ngeri yang teramat sangat.

"B-Bu Kanit... Dok... Dia... dia kenapa?!" tanya Rudi dengan suara bergetar parau.

dr. Haruma melangkah cepat mendekati jasad Ki Suroto. Tanpa sedikit pun rasa takut, Haruma mengenakan sarung tangan karet sterilnya, lalu dengan ketelitian profesional dokter forensik, ia memeriksa denyut nadi di leher dan meraba jaringan kulit wajah korban yang telah mengkerut hitam.

Haruma menarik jemarinya kembali, menoleh menatap adiknya dengan raut wajah yang teramat prihatin dan duka.

"Nadi karotis berhenti total... rigor mortis dan pembusukan jaringan tingkat lanjut terjadi seketika (instantaneous decomposition)," papar Haruma dengan suara lembutnya yang jernih. "Ki Suroto meninggal dunia di tempat, Rumi. Sistem saraf dan jaringan otaknya hancur total dari dalam."

Harumi berdiri perlahan dari kursinya, menatap jasad sang perantara sihir yang kini tinggal raga membusuk tak bernyawa di hadapan mereka.

Rasa amarah yang membara bercampur dengan keteguhan batin meledak di dalam dada sang polwan Jatanras.

"Luar biasa..." bisik Harumi dengan intonasi suara dingin yang menusuk. "Sekte THE ONE dan Keluarga Taipan itu benar-benar tidak meninggalkan satu pun celah atau saksi hidup."

Haruma melangkah mendekati adiknya, merangkul bahu Harumi dengan hangat dan penuh kasih sayang.

"Mereka sangat ketakutan, Rumi," tutur Haruma lembut namun sarat akan ketegasan. "Mereka tahu kita sudah makin dekat ke sarang utama mereka. Makanya semua eksekutor lapangan yang tertangkap langsung mereka musnahkan lewat sihir pembungkam jarak jauh ini."

Harumi menoleh menatap mata kakak sulungnya, menyunggingkan senyuman bahagianya yang paling tegas dan tak terintimidasi sedikit pun.

"Tapi mereka salah besar kalau mikir kematian Ki Suroto ini bakal menghentikan kita ya, Kak?" ujar Harumi dengan penuh keyakinan.

Haruma terkekeh pelan, mengusap bahu adiknya dengan penuh rasa bangga. "Jelas salah besar, Dek. Mereka cuma bisa bunuh raga saksi, tapi bukti-bukti fisik, dokumen manifes, dan catatan transaksi yang sudah kita sita di padepokan tadi nggak akan pernah bisa mereka hapus pakai sihir."

"Tepat sekali, Kakakku yang cantik!" balasan Harumi mantap.

Harumi berbalik menghadap Aipda Rudi yang masih mencoba menguasai rasa terkejutnya.

"Aipda Rudi!" komando Harumi tegas dan disiplin. "Segera sterilkan Ruang Interogasi Utama! Tutup akses ruangan ini dari siapa pun, dan bantu Dokter Haruma memindahkan jasad Ki Suroto ke lemari pendingin isolasi laboratorium forensik di bawah pengawalan rahasia!"

"Siap, Bu Kanit! Segera dilaksanakan!" sahut Rudi penuh kedisiplinan seraya memberi hormat tegap.

Sinar lampu neon menyirami jasad membusuk Ki Suroto di atas kursi interogasi. Eksekutor sihir itu telah tewas dibungkam oleh majikannya sendiri.

Namun, persekongkolan jahat sekte iblis dan Keluarga Taipan tidak akan pernah bisa bersembunyi selamanya.

Di tangan Haruma dan Harumi, berkas-berkas bukti fisik dari padepokan siap untuk dibongkar lebih dalam, memandu langkah mereka menembus kegelapan menuju sang pimpinan tertinggi yang bersembunyi di balik kemegahan takhta emas Tanah Jawa.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti apa coba keluarga Taipan itu?

intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyakah medium ship spiritual ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Jadi efek sihir nya nggak ada luka fisik dari luar seperti sihir pada umumnya tapi yg diserang organ dalam nya.

berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Penasaran seperti apa Sakte the one, sihir pengambil usia ini bwt apa? entintas apa yg akan di bangkit kan
Sri Jumiati
bagus ceritanya .👍👍
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seenggaknya klo terbuka, misal mereka ada apa-apa Nisa bisa membantu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
NiZa putri atw Putra sih ?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Knp kek yg Mama ku omongin sihh? bwt orang tua ya seperti itu sedewasa apapun, sesukses apapun, bwt mereka anaknya adalah tetep anak kecil mereka.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Definisi rezeki tak kemana
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nah iya bener itu ide atasan Rumi, pura-pura tutup kasus dulu, kematian Jonathan dgn tersangka suroto, tapi dibelakang msh diselidiki. masuk logika sih...
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
pastinya sakte the one ini di backup orang penting, klo nggak ada backingan yg kuat nggak mungkin trs bertahan bertahun-tahun
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
RIP KiSuroto sadis ya cara mati nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Hanya sampe disitu ki Suroto? kek nya msh ada yg lebih dari dia ya di sekte the one ini
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sehebat apakah KiSuroto?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
perantara sihir nya udah elit ya di T7 ini, bukan bangsa lelembut lgi tapi manusia setengah jin mungkin wkwkwk sihir nya udah di darah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga suroto kek nggak ada nama lain
penampilan nya udah elit kok nama nya itu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
seperti itu ya ruang outopsi baru tau aku, detail betul penggambarannya berasa ada di rumah sakit dokpol wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
waduhh serem, dibungkam dari jauh... penasaran the one ini sapa
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Karier udah oke tinggal jodoh ya ruma rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Mereka tidak perlu orang lain lgi bwt jadi partner diskusi Mereka, kna berdua pun Mereka udah saling melengkapi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!