NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:464
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 - BAKU HANTAM DI RUANG VIP

Pintu ruang VIP nomor tiga tertutup rapat dengan bunyi *KLIK* yang menggema tajam. Di dalam ruangan kedap suara yang remang-remang itu, Kael membanting tubuh si pelayan palsu ke dinding berlapis *wallpaper* beludru dengan kekuatan monster.

Tubuh pria berseragam pelayan itu menghantam dinding dengan suara debuman keras. Nampan perak dan gelas-gelas sampanye yang dia bawa jatuh berantakan ke atas karpet tebal, membuat suara pecahannya teredam sempurna.

Penyusup dari Klan Viper itu mengerang tertahan, tapi refleksnya sebagai pembunuh bayaran terlatih masih jalan. Tangan kanannya yang menggenggam pistol berperedam suara langsung terangkat, mencoba menodongkan moncong senjata itu ke perut Kael.

Kael sama sekali nggak panik. Wajahnya sedingin es.

Dengan gerakan yang sangat minimalis namun luar biasa presisi, tangan kiri Kael menangkis pergelangan tangan penyusup itu ke arah luar, sementara tangan kanannya menghantam ulu hati lawannya dengan pukulan pendek yang mematikan.

"Ughh!" erang si penyusup, matanya melotot saat udara di paru-parunya terkuras habis dalam sekejap. Pistol berperedam itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai karpet.

Di sudut ruangan, Valeria bersandar santai di tepi meja biliar. Wanita itu menyilangkan kaki jenjangnya yang terekspos dari belahan gaun merahnya, melipat tangan di dada, dan menonton pertunjukan di depannya dengan senyum tipis.

"Wow, *service* VIP di sini agak kasar, ya," goda Valeria dengan nada riang, sama sekali nggak kelihatan terancam.

Si penyusup yang mendengar suara Valeria langsung mengalihkan pandangannya. Matanya berkilat penuh amarah dan keputusasaan. Karena pistolnya udah jatuh, pria itu secepat kilat merogoh ke balik rompi hitamnya dan menarik sebilah pisau *karambit* melengkung yang sangat tajam.

Pria itu meraung tertahan, mencoba menerjang melewati Kael untuk menebas leher Valeria.

Tapi tentu saja, melewati Kael sama mustahilnya dengan mencoba menembus tembok baja pakai tangan kosong.

Kael melangkah menyamping, dengan sengaja memposisikan tubuh besarnya tepat di antara si penyusup dan Valeria. Mata elang Kael melirik sekilas ke arah jendela kaca satu arah yang lebar di sisi kanan ruangan. Jendela itu langsung menghadap ke *ballroom* di bawah sana. Kalau pertarungan ini sampai menghancurkan kaca itu, seluruh tamu undangan dan penjaga bersenjata Tuan Anton bakal langsung menyerbu ke sini. Rencana mereka buat pamer kekuatan secara elegan bakal hancur berantakan.

Kael harus mengakhiri ini secepat mungkin, setenang mungkin, dan tanpa terlihat mencolok.

Saat pisau *karambit* itu menyambar ke arah lehernya, Kael cuma memiringkan kepalanya beberapa sentimeter. Pisau itu meleset, hanya memotong udara kosong. Di detik yang sama, tangan Kael melesat mencengkeram pergelangan tangan si penyusup yang memegang pisau.

Kael memutar pergelangan tangan pria itu ke arah yang berlawanan dengan sendi.

*KRAK!*

"AAARGH!" jerit si penyusup tertahan, suaranya teredam oleh kedapnya ruangan. Tulang pergelangannya patah seketika, membuat pisau *karambit* itu jatuh berdenting ke lantai.

Kael nggak berhenti di situ. Mengingat bahu kanannya masih terluka parah dan baru dijahit tadi pagi, Kael benar-benar mengandalkan efisiensi gerak. Dia nggak pakai tendangan melayang atau bantingan judo yang berisik. Dia cuma menendang pelan namun sangat telak ke arah lipatan lutut si penyusup, membuat pria itu jatuh berlutut di depannya.

Dalam gerakan lanjutan yang mulus bak air mengalir, Kael melingkarkan lengan kirinya ke leher penyusup itu dari belakang, melakukan teknik cekikan *sleeper hold* yang sempurna.

Penyusup itu meronta-ronta gila-gilaan. Tangannya yang masih berfungsi mencoba mencakar lengan Kael, kakinya menendang-nendang karpet. Tapi Kael berdiri tegap layaknya patung kematian, wajahnya datar tanpa ekspresi, hanya otot-otot lengannya saja yang terlihat menegang di balik jas hitamnya.

Hanya butuh waktu enam detik. Mata si penyusup mulai berputar ke atas, rontaannya melemah, dan akhirnya tubuhnya lemas tak berdaya. Kael mencekiknya sampai pingsan kehabisan oksigen, tanpa setetes darah pun yang tumpah, dan tanpa merusak satu perabot pun di ruangan itu.

Kael melepaskan cekikannya, membiarkan tubuh penyusup itu merosot jatuh ke karpet. Pria jangkung itu membetulkan letak dasinya dan merapikan lengan jasnya yang sedikit berkerut, seolah baru saja selesai menyapu debu kotor, bukan melumpuhkan pembunuh elit Klan Viper.

*Prok... prok... prok.*

Suara tepuk tangan pelan bergema di ruangan. Valeria berjalan mendekat dengan langkah anggun, *heels*-nya berbunyi pelan.

"Kerja bagus, anjing penjagaku. Rapi, bersih, dan nggak berisik. Aku kasih nilai sembilan dari sepuluh," puji Valeria sambil tersenyum puas.

"Terima kasih, Val. Tapi kenapa tidak sepuluh?" tanya Kael pelan, menundukkan kepalanya sedikit saat Valeria berdiri tepat di depannya.

"Karena satu poinnya hilang gara-gara kamu biarin dia hidup. Orang ini udah lihat terlalu banyak," desis Valeria dingin, melirik tajam ke arah tubuh yang pingsan di lantai.

"Ruang ganti pelayan ada di lorong belakang. Saya berencana mematahkan lehernya dan menyembunyikan mayatnya di kereta dorong *laundry* setelah acara ini selesai. Jika dia mati di sini sekarang, bau mayatnya bisa tercium oleh anjing pelacak Tuan Anton sebelum kita pulang," jelas Kael rasional dan penuh perhitungan.

Valeria manggut-manggut setuju. Otak Kael emang nggak pernah mengecewakan.

Wanita itu lalu menunduk, menatap lekat-lekat tubuh penyusup itu, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya kembali ke wajah Kael. Mata cantik Valeria menyipit curiga. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya sejak melihat pertarungan singkat barusan.

"Kamu tahu, Kael..." gantung Valeria pelan. Wanita itu melangkah mengitari Kael dengan lambat, menatap pria itu dari berbagai sudut layaknya detektif yang lagi menginspeksi barang bukti.

Kael diam mematung, tapi ekor matanya terus mengikuti pergerakan Valeria. "Ada yang salah, Val?"

"Sangat salah," gumam Valeria berhenti tepat di depan Kael lagi. "Orang Viper ini bukan kroco biasa. Dia bawa *karambit* dan tahu cara menggunakannya. Itu senjata untuk petarung jarak dekat profesional. Tapi kamu..."

Valeria mengangkat tangannya, menunjuk tepat ke dada Kael.

"...kamu lumpuhin dia cuma dalam waktu sepuluh detik. Tanpa buang-buang tenaga. Tanpa gerakan berlebih. Padahal bahu kananmu lagi bolong habis kena peluru *sniper*."

Kael menelan ludah pelan. Wajahnya tetap kaku, tapi detak jantungnya mulai berakselerasi. "Saya hanya beruntung dia lengah, Val."

"Bohong," potong Valeria cepat. "Gerakanmu tadi... efisiensi waktu, cara kamu motong titik buta dia, dan cekikan enam detik itu. Itu bukan gaya bertarung preman jalanan atau *bodyguard* mafia biasa. Itu gaya bertarung militer tingkat tinggi. Spesukan, atau mungkin lebih dari itu."

Valeria menatap lurus ke mata Kael, mencoba mencari celah dari topeng pria itu. "Kamu nyembunyiin seberapa kuat dirimu yang sebenarnya, kan? Selama ini kamu sengaja cuma pakai setengah tenagamu kalau lagi ngawal aku di depan orang-orang."

Kael terdiam. Mulutnya terkunci rapat. Dia tahu Valeria itu luar biasa cerdas, insting wanitanya terlalu tajam untuk dikelabui berlama-lama. Kael memang sengaja menahan diri selama ini. Kalau dia menunjukkan seluruh kemampuannya, para tetua klan dan musuh-musuh Valeria bakal menganggap Kael sebagai ancaman utama dan mencoba membunuhnya lebih dulu. Selama orang-orang menganggap Kael cuma sekadar *bodyguard* setia yang modal otot, Kael bisa terus bersembunyi di dalam bayangan untuk melindungi Valeria secara diam-diam.

Tapi di ruangan ini, demi memastikan Valeria nggak terluka sedikit pun, Kael refleks menggunakan insting murninya.

"Saya tidak bermaksud menyembunyikan apa pun dari Anda, Val," jawab Kael akhirnya, suaranya rendah dan serak. "Kekuatan saya, hidup saya, semuanya milik Anda. Saya hanya tidak ingin orang lain melihat saya sebagai senjata yang bisa direbut atau dihancurkan. Biarkan mereka meremehkan saya, agar saya bisa membunuh mereka saat mereka lengah."

Penjelasan Kael terdengar logis, tapi Valeria masih bisa merasakan ada rahasia besar yang belum terungkap dari masa lalu pria ini. Pria seperti Kael—dengan kemampuan setara mesin pembunuh elit—nggak mungkin cuma kebetulan berakhir jadi pengawalnya sepuluh tahun yang lalu.

Namun, Valeria memutuskan untuk nggak menekan Kael lebih jauh malam ini. Ruang dan waktunya belum pas.

Valeria melangkah maju satu langkah, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung *heels*-nya nyaris bersentuhan dengan sepatu pantofel Kael. Wanita itu mendongak, menatap wajah tampan Kael yang tegang.

"Aku bakal tagih penjelasan lengkap soal ini nanti, Kael. Jangan harap kamu bisa terus sembunyi di balik topeng bawahan penurutmu itu selamanya," bisik Valeria penuh ancaman, tapi nadanya terdengar sangat menggoda.

Tangan kanan Valeria terulur ke atas, jari-jarinya yang lentik dengan kuku bercat merah gelap perlahan menyentuh kerah kemeja Kael, merapikan dasi pria itu yang sebenarnya sama sekali nggak berantakan.

Napas Kael kembali tertahan. Sentuhan Valeria di lehernya terasa seperti setruman listrik bertegangan tinggi. Mata Kael tertuju pada bibir merah gelap Valeria yang jaraknya cuma beberapa sentimeter dari wajahnya. Hasrat gila yang mati-matian dia pendam sejak di ruang kerja tadi siang kembali meronta minta dilepaskan.

"B-baik, Nyonya," balas Kael terbata, mati-matian menjaga tangannya agar tidak merengkuh pinggang ramping wanita di depannya.

Valeria tersenyum simpul melihat reaksi gugup pria bertubuh raksasa itu. Sisi kaku Kael entah kenapa selalu berhasil membuat perut Valeria dipenuhi kupu-kupu yang beterbangan.

Valeria menepuk pelan dada Kael dua kali, lalu berbalik membelakangi pria itu.

"Sembunyikan tikus ini ke dalam kabinet di bawah meja biliar untuk sementara. Setelah acara selesai, kamu urus sisanya seperti rencanamu tadi," perintah Valeria kembali ke mode bos. "Aku mau turun lagi ke *ballroom*. Kalau aku menghilang terlalu lama, Tuan Anton bisa curiga."

"Saya mengerti, Val. Saya akan menyusul dalam dua menit," jawab Kael sigap, merasa lega luar biasa karena ketegangan aneh barusan akhirnya berakhir, meski ada sudut kecil di hatinya yang merasa sangat kecewa karena sentuhan Valeria terlepas.

Valeria berjalan menuju pintu. Saat tangannya meraih kenop pintu, dia menoleh sedikit ke arah belakang melalui bahunya. Gaun *backless* merahnya terekspos sempurna di bawah cahaya lampu temaram, menampilkan lekuk punggung yang membuat Kael menahan napas untuk kesekian kalinya.

"Dan Kael," panggil Valeria lembut.

"Ya, Val?"

"Lain kali, kalau kamu mau membunuh orang demi aku... usahakan jangan sampai mengotori jasmu lagi. Aku suka melihatmu berpakaian rapi," kedip Valeria jahil.

Sebelum Kael sempat membalas, wanita itu sudah membuka pintu dan melangkah keluar, bergabung kembali dengan alunan musik klasik dan suara gemuruh lelang di luar sana.

Kael berdiri mematung sendirian di dalam ruang VIP. Pria itu menghembuskan napas panjang, mengusap wajahnya dengan satu tangan karena frustrasi. Melindungi Valeria dari peluru musuh ternyata jauh lebih mudah daripada melindungi kewarasannya sendiri dari pesona mematikan sang ratu mafia.

Dengan gerakan cepat, Kael berbalik dan mulai menyeret tubuh penyusup Viper itu menuju kabinet di bawah meja biliar. Tugasnya belum selesai malam ini.

1
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!