NovelToon NovelToon
Jatuh Ke Pelukan Ayah Sahabatku

Jatuh Ke Pelukan Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.

Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 19

****

Atmosfer di dalam kamar utama terasa memadat bagaikan es yang siap retak. Manik mata Clara menatap lurus ke arah Lyn dengan kepanikan dan keraguan yang menuntut kejelasan, sementara jepitan dasi emas putih berinisial W.A. bertengger dingin di genggaman tangannya.

Lyn menelan ludah kasar, memaksakan otaknya bekerja secepat kilat di bawah himpitan rasa takut yang membakar dada. Dengan tarikan napas halus, ia memasang raut wajah heran yang dibuat-buat, lalu terkekeh pelan demi mencairkan ketegangan.

"Ya ampun, Clara... jadi benda itu terselip di sana?" ujar Lyn dengan suara serak yang diusahakan setenang mungkin. Ia melangkah mendekati ranjang dan mengambil jepitan dasi itu dari tangan Clara. "Aku sampai lupa mencarinya tadi!"

Clara mengernyit bingung, alisnya bertaut tajam. "Maksudmu bagaimana, Ev? Kenapa jepitan dasi Papa bisa ada di kamar tidurmu?"

"Benda ini jatuh dari jas Papamu sewaktu seminar di aula kampus kemarin pagi," sahut Lyn tanpa mengedipkan mata, melancarkan kebohongannya dengan sangat halus. "Waktu beliau berdiri di podium, jepitan ini terlepas dan jatuh ke lantai dekat barisan depan tempatku duduk. Aku yang mengambilnya dan berniat mengembalikannya lewat kamu. Tapi karena kemarin kamu menghilang ke kantin dan tidak ikut seminar, aku menyimpannya di saku tas. Tadi malam saat aku membereskan tas dan terpeleset di dekat kasur, sepertinya benda ini terlempar keluar dari tas dan terselip di antara bantal."

Clara memandangi jepitan dasi itu, lalu beralih menatap wajah Lyn yang tampak sangat meyakinkan. Kebetulan bahwa Lyn memang duduk di barisan paling depan saat seminar Wiliam membuat alibi tersebut masuk akal secara sempurna di pikiran Clara.

"Astaga... begitu ceritanya?" desah Clara, kepanikan di wajahnya perlahan meluruh berganti hembusan napas lega. "Aku sempat berpikir yang aneh-aneh... Maaf ya, Ev. Kepalaku benar-benar pusing sampai berpikiran kacau."

"Tidak apa-apa, Clara," potong Lyn cepat, langsung menggenggam kedua tangan sahabatnya demi membelokkan fokus percakapan seraya menyimpan jepitan dasi itu ke dalam laci nakas. "Yang penting sekarang adalah masalahmu. Bagaimana bisa Mamimu mendadak menelepon dan bilang mau pulang ke Jakarta untuk rujuk?"

Taktik pengalihan isu itu berhasil total. Raut wajah Clara seketika runtuh kembali; mata sembabnya meredup dipenuhi duka dan amarah yang menghantam jiwanya.

"Aku bingung banget, Ev..." tangis Clara kembali pecah seraya menyandarkan dahinya di bahu Lyn. "Mami bilang dia sudah bercerai dari pria itu dan sadar kalau tempatnya cuma di sisi Papa dan aku. Dia mau kita kumpul lagi seperti dulu... Tapi aku takut, Ev! Aku takut Papa terluka lagi, dan aku juga takut kalau Mami cuma mau memanfaatkan Papa setelah kehidupannya di Eropa hancur!"

Lyn memeluk sahabatnya erat-erat, mengelus punggung Clara yang gemetaran seraya memberikan kata-kata penenang yang hangat. Namun di balik pelukan itu, mata Lyn melirik lirih ke arah pintu kamar mandi utama yang tertutup rapat dari dalam.

Di balik pintu kayu tebal berlantai marmer itu, Wiliam berdiri tenang dalam kegelapan remang. Pria paruh baya itu menyimak setiap detail percakapan yang berlangsung di luar. Wajah tampannya yang terukir garis kematangan tampak dingin tanpa ekspresi, namun jemari tangannya yang besar dan kuat terkepal sangat erat di samping tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih.

Suatu kemurkaan yang pekat dan berkelas membakar dada sang tuan. Bukan hanya karena privasi dan ketenangannya bersama Lyn diusik oleh kedatangan Clara yang mendadak, melainkan juga oleh keberanian mantan istrinya yang berani memicu benih-benih kekacauan di dalam sangkar emas yang telah ia bangun dengan rapi. Bagi Wiliam, wanita dari masa lalunya itu hanyalah serangga pengganggu yang tidak berhak menginjakkan kaki di kehidupannya lagi—apalagi merusak ketenangan milik pribadinya, Evelyn.

Dua jam berlalu dalam ketegangan yang melelahkan. Setelah Lyn telaten membujuk dan mendengarkan seluruh luapan emosi sahabatnya, Clara yang kelelahan secara fisik dan mental akhirnya tertidur lelap di atas tempat tidur kamar tamu yang nyaman.

Lyn memastikan pintu kamar tamu tertutup rapat sebelum melangkah kembali ke koridor dalam keadaan hening. Begitu ia sampai di depan pintu kamar utamanya, kenop pintu terdorong dari dalam.

Wiliam melangkah keluar dengan anggun dan tenang. Jas mewahnya sudah kembali terpasang rapi, memperlihatkan kematangan dan aura old money yang dominan tanpa cela.

"Wiliam..." bisik Lyn lirih, napasnya memburu pelan saat pria paruh baya itu mendekat. Rasa bersalah pada Clara dan rasa takut akan ketahuan masih tersisa di matanya. "Maafkan aku... aku terpaksa berbohong soal jepitan dasi itu..."

Wiliam tidak menjawab dengan kata-kata kasar. Pria itu justru meraih pinggang ramping Lyn, menarik tubuh lembut gadis itu mendekat hingga tak berjarak. Tangannya yang hangat menangkup rahang Lyn, memiringkan wajah cantiknya ke atas.

Tanpa peringatan, Wiliam menundukkan kepala dan membungkam bibir manis Lyn dalam ciuman yang teramat manis, hangat, namun dipenuhi dominasi yang mengikat. Ciuman itu mengisap seluruh kecemasan Lyn, memberikan rasa aman yang memabukkan dan melumpuhkan seluruh logika berpikirnya.

"Kamu melakukannya dengan sangat baik, Little Lady," bisik Wiliam serak tepat di depan bibir Lyn setelah melepaskan tautannya. Tangannya mengusap pipi mulus Lyn yang memerah. "Tidak perlu khawatir tentang apa pun. Cukup temani dan tenangkan Clara malam ini di sini."

"Tapi... soal ibu Clara yang mau kembali..." cicit Lyn ragu dengan mata berbinar sayu.

Wiliam menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin—sebuah senyuman penuh kuasa yang mengisyaratkan kehancuran bagi siapa pun yang berani mengganggunya.

"Masa lalu tidak memiliki hak untuk merusak masa kini," ujar Wiliam dengan nada suara yang teramat berat dan mutlak. "Biarkan aku yang membereskan serangga dari masa lalu itu."

Pria tua itu mendaratkan ciuman lembut sekali lagi di dahi Lyn, lalu melangkah keluar dari unit apartemen dengan senyap tanpa meninggalkan jejak.

Saat melangkah menyusuri lorong eksklusif menuju lift privat gedung, Wiliam merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya. Ia menekan tombol panggilan cepat ke asisten pribadinya.

"Tuan Wiliam," suara Marco terdengar seketika dari seberang saluran, siap menerima perintah.

"Marco," panggil Wiliam dingin, suaranya menggelegar tenang di tengah keheningan lorong apartemen. "Mantan istriku mencoba membuat kekacauan dengan menghubungi Clara dan berniat kembali ke Jakarta."

"Apa instruksi Anda, Tuan?"

Mata sehitam jelaga milik Wiliam berkilat pekat oleh kejamnya kekuasaan old money yang ia miliki. Pria paruh baya itu menyandarkan sebelah tangannya di dalam saku celana seraya melangkah masuk ke dalam lift privat.

"Blokir seluruh akses penerbangannya ke Indonesia mulai detik ini. Bekukan seluruh rekening, aset, dan visa atas namanya yang masih terhubung dengan korporasiku," perintah Wiliam tanpa memberi ruang ampun atau penyesalan sedikit pun. "Pastikan wanita itu tidak akan pernah bisa melangkahkan kakinya menembus imigrasi kota ini, apalagi mendekati kehidupanku dan Evelyn."

"Baik, Tuan Wiliam. Segera dilaksanakan malam ini juga," sahut Marco patuh sebelum sambungan terputus.

Wiliam menatap pantulan dirinya di dinding kaca lift. Senyum tipis nan penuh kepuasan terukir di bibirnya. Tidak ada seorang pun—baik itu mantan kekasih, kerabat, maupun mantan istri dari masa lalunya—yang akan dibiarkan merusak sangkar emas dan ketenangan gadis muda yang kini telah menjadi milik mutlaknya.

Bersambung....

1
merry
tapi tetap aj wil Clara kudu tau klo kmu bukn Bpk ya,, Clara jg hrs tau cerita mslh tentang mama ya,, biar Clara gk salahin eve kn Clara tau siska mntn mu dan ingin rujuk dan eve sbgai penghalang Clara tdk akn trma tuh,, yg eve dcap pelakor lbh bgs si Clara kudu tau dia ank siapa bgmn cerita mmy dulu biar bs nerima eve
merry
agak bingung knp mntn lin bisa tau klo lin ada di vila y clra🤔🤔🤔trss bukn y mntn berangkat lbh dulu ke itali tp mlhnn ktmu lin di dlmn ✈️✈️✈️✈️
ollyooliver
orang gila..anak sendiri kek orng lain, anak orang lain dijadiin pemuas..malah gk peduli lagi sama perasaan lyn...lebih baik orng tau lyn itu tempat pembuangan p*ju ..hadeuwww
ollyooliver
termasuk claraa..wkwkwk. anak sendiri digituiin. gmn dengan anaknya lyn. dapur doang pake aturan. gitu amat ya punya ayah yg gila kekuasaan.
ollyooliver
lah tuh dokter..gunanya ape? masak?🙃
ollyooliver
lah..makanya rawat sendiri. janga lewat orng lain. katanya bos, ya kali gk punya kuasa buat menentuin mana yg prioritas dan bukan. clara sakit masih menyangkut nyawa. bisnis ditinggal sebentar gk akan buat bangkrut. aneh aja..seoramg boss . otak kosong. pasti maminya clara ninggalin karna william gila kerja.
ollyooliver
kasihan banget ya clara..anak sendiri dijadiin saingan. bapaknya emng gak punya rasa cinta bahkan pada Lyn sekalipun. yg ada hanya obsesi. pantas ditinggalkan
guest1053527528
lanjut thor
aristi
memang tangan William sepanjang apa kok tangannya sampe ke area sensitif lyn apa mejanya yg kecil TPI g mungkin kan orang William orang kaya masa mejanya cuma selebar pergelangan tangan William, udh gtu William sambil ngopi emg bdannya g mbungkuk biar sampe ke paha Lyn yg duduk diseberang William 🤔
ollyooliver
kalau lagi berdua, pake mas aja thor. trus kalau ada clara pake om, bukan Tuan. biar enak dibaca.
ollyooliver
asikk
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
ikutan dag dig dug wey, takut bgt klo sampe ketahuan
ollyooliver
buanglah sampah pd tempatnya.



itu kata william🙂
ollyooliver
lanjut
sunshine wings
bagus storynya
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
guest1053527528
mantap thor
Siskasuryaningsih
wittt. wiittt, om tolelet hadir bos ku, 😄😄
Nindyaputri Pangestika
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!