Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19
****
Atmosfer di dalam kamar utama terasa memadat bagaikan es yang siap retak. Manik mata Clara menatap lurus ke arah Lyn dengan kepanikan dan keraguan yang menuntut kejelasan, sementara jepitan dasi emas putih berinisial W.A. bertengger dingin di genggaman tangannya.
Lyn menelan ludah kasar, memaksakan otaknya bekerja secepat kilat di bawah himpitan rasa takut yang membakar dada. Dengan tarikan napas halus, ia memasang raut wajah heran yang dibuat-buat, lalu terkekeh pelan demi mencairkan ketegangan.
"Ya ampun, Clara... jadi benda itu terselip di sana?" ujar Lyn dengan suara serak yang diusahakan setenang mungkin. Ia melangkah mendekati ranjang dan mengambil jepitan dasi itu dari tangan Clara. "Aku sampai lupa mencarinya tadi!"
Clara mengernyit bingung, alisnya bertaut tajam. "Maksudmu bagaimana, Ev? Kenapa jepitan dasi Papa bisa ada di kamar tidurmu?"
"Benda ini jatuh dari jas Papamu sewaktu seminar di aula kampus kemarin pagi," sahut Lyn tanpa mengedipkan mata, melancarkan kebohongannya dengan sangat halus. "Waktu beliau berdiri di podium, jepitan ini terlepas dan jatuh ke lantai dekat barisan depan tempatku duduk. Aku yang mengambilnya dan berniat mengembalikannya lewat kamu. Tapi karena kemarin kamu menghilang ke kantin dan tidak ikut seminar, aku menyimpannya di saku tas. Tadi malam saat aku membereskan tas dan terpeleset di dekat kasur, sepertinya benda ini terlempar keluar dari tas dan terselip di antara bantal."
Clara memandangi jepitan dasi itu, lalu beralih menatap wajah Lyn yang tampak sangat meyakinkan. Kebetulan bahwa Lyn memang duduk di barisan paling depan saat seminar Wiliam membuat alibi tersebut masuk akal secara sempurna di pikiran Clara.
"Astaga... begitu ceritanya?" desah Clara, kepanikan di wajahnya perlahan meluruh berganti hembusan napas lega. "Aku sempat berpikir yang aneh-aneh... Maaf ya, Ev. Kepalaku benar-benar pusing sampai berpikiran kacau."
"Tidak apa-apa, Clara," potong Lyn cepat, langsung menggenggam kedua tangan sahabatnya demi membelokkan fokus percakapan seraya menyimpan jepitan dasi itu ke dalam laci nakas. "Yang penting sekarang adalah masalahmu. Bagaimana bisa Mamimu mendadak menelepon dan bilang mau pulang ke Jakarta untuk rujuk?"
Taktik pengalihan isu itu berhasil total. Raut wajah Clara seketika runtuh kembali; mata sembabnya meredup dipenuhi duka dan amarah yang menghantam jiwanya.
"Aku bingung banget, Ev..." tangis Clara kembali pecah seraya menyandarkan dahinya di bahu Lyn. "Mami bilang dia sudah bercerai dari pria itu dan sadar kalau tempatnya cuma di sisi Papa dan aku. Dia mau kita kumpul lagi seperti dulu... Tapi aku takut, Ev! Aku takut Papa terluka lagi, dan aku juga takut kalau Mami cuma mau memanfaatkan Papa setelah kehidupannya di Eropa hancur!"
Lyn memeluk sahabatnya erat-erat, mengelus punggung Clara yang gemetaran seraya memberikan kata-kata penenang yang hangat. Namun di balik pelukan itu, mata Lyn melirik lirih ke arah pintu kamar mandi utama yang tertutup rapat dari dalam.
Di balik pintu kayu tebal berlantai marmer itu, Wiliam berdiri tenang dalam kegelapan remang. Pria paruh baya itu menyimak setiap detail percakapan yang berlangsung di luar. Wajah tampannya yang terukir garis kematangan tampak dingin tanpa ekspresi, namun jemari tangannya yang besar dan kuat terkepal sangat erat di samping tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih.
Suatu kemurkaan yang pekat dan berkelas membakar dada sang tuan. Bukan hanya karena privasi dan ketenangannya bersama Lyn diusik oleh kedatangan Clara yang mendadak, melainkan juga oleh keberanian mantan istrinya yang berani memicu benih-benih kekacauan di dalam sangkar emas yang telah ia bangun dengan rapi. Bagi Wiliam, wanita dari masa lalunya itu hanyalah serangga pengganggu yang tidak berhak menginjakkan kaki di kehidupannya lagi—apalagi merusak ketenangan milik pribadinya, Evelyn.
Dua jam berlalu dalam ketegangan yang melelahkan. Setelah Lyn telaten membujuk dan mendengarkan seluruh luapan emosi sahabatnya, Clara yang kelelahan secara fisik dan mental akhirnya tertidur lelap di atas tempat tidur kamar tamu yang nyaman.
Lyn memastikan pintu kamar tamu tertutup rapat sebelum melangkah kembali ke koridor dalam keadaan hening. Begitu ia sampai di depan pintu kamar utamanya, kenop pintu terdorong dari dalam.
Wiliam melangkah keluar dengan anggun dan tenang. Jas mewahnya sudah kembali terpasang rapi, memperlihatkan kematangan dan aura old money yang dominan tanpa cela.
"Wiliam..." bisik Lyn lirih, napasnya memburu pelan saat pria paruh baya itu mendekat. Rasa bersalah pada Clara dan rasa takut akan ketahuan masih tersisa di matanya. "Maafkan aku... aku terpaksa berbohong soal jepitan dasi itu..."
Wiliam tidak menjawab dengan kata-kata kasar. Pria itu justru meraih pinggang ramping Lyn, menarik tubuh lembut gadis itu mendekat hingga tak berjarak. Tangannya yang hangat menangkup rahang Lyn, memiringkan wajah cantiknya ke atas.
Tanpa peringatan, Wiliam menundukkan kepala dan membungkam bibir manis Lyn dalam ciuman yang teramat manis, hangat, namun dipenuhi dominasi yang mengikat. Ciuman itu mengisap seluruh kecemasan Lyn, memberikan rasa aman yang memabukkan dan melumpuhkan seluruh logika berpikirnya.
"Kamu melakukannya dengan sangat baik, Little Lady," bisik Wiliam serak tepat di depan bibir Lyn setelah melepaskan tautannya. Tangannya mengusap pipi mulus Lyn yang memerah. "Tidak perlu khawatir tentang apa pun. Cukup temani dan tenangkan Clara malam ini di sini."
"Tapi... soal ibu Clara yang mau kembali..." cicit Lyn ragu dengan mata berbinar sayu.
Wiliam menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin—sebuah senyuman penuh kuasa yang mengisyaratkan kehancuran bagi siapa pun yang berani mengganggunya.
"Masa lalu tidak memiliki hak untuk merusak masa kini," ujar Wiliam dengan nada suara yang teramat berat dan mutlak. "Biarkan aku yang membereskan serangga dari masa lalu itu."
Pria tua itu mendaratkan ciuman lembut sekali lagi di dahi Lyn, lalu melangkah keluar dari unit apartemen dengan senyap tanpa meninggalkan jejak.
Saat melangkah menyusuri lorong eksklusif menuju lift privat gedung, Wiliam merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya. Ia menekan tombol panggilan cepat ke asisten pribadinya.
"Tuan Wiliam," suara Marco terdengar seketika dari seberang saluran, siap menerima perintah.
"Marco," panggil Wiliam dingin, suaranya menggelegar tenang di tengah keheningan lorong apartemen. "Mantan istriku mencoba membuat kekacauan dengan menghubungi Clara dan berniat kembali ke Jakarta."
"Apa instruksi Anda, Tuan?"
Mata sehitam jelaga milik Wiliam berkilat pekat oleh kejamnya kekuasaan old money yang ia miliki. Pria paruh baya itu menyandarkan sebelah tangannya di dalam saku celana seraya melangkah masuk ke dalam lift privat.
"Blokir seluruh akses penerbangannya ke Indonesia mulai detik ini. Bekukan seluruh rekening, aset, dan visa atas namanya yang masih terhubung dengan korporasiku," perintah Wiliam tanpa memberi ruang ampun atau penyesalan sedikit pun. "Pastikan wanita itu tidak akan pernah bisa melangkahkan kakinya menembus imigrasi kota ini, apalagi mendekati kehidupanku dan Evelyn."
"Baik, Tuan Wiliam. Segera dilaksanakan malam ini juga," sahut Marco patuh sebelum sambungan terputus.
Wiliam menatap pantulan dirinya di dinding kaca lift. Senyum tipis nan penuh kepuasan terukir di bibirnya. Tidak ada seorang pun—baik itu mantan kekasih, kerabat, maupun mantan istri dari masa lalunya—yang akan dibiarkan merusak sangkar emas dan ketenangan gadis muda yang kini telah menjadi milik mutlaknya.
Bersambung....
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻