NovelToon NovelToon
Hari Terakhir Bersama Keluarga

Hari Terakhir Bersama Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Anak Genius
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

"Maksud Kakak ... barang-barang Kakak yang itu?" tanya Olivia sembari menunjuk ke arah sudut ruangan.

Aku mengikuti arah telunjuknya. Di dekat lemari pakaian yang megah, ternyata sudah ada dua kardus besar yang diletakkan rapi di sana.

"Iya," jawabku pelan.

"Kak Ethan kemarin sebelum pergi dinas sudah menyuruh Bibi Marni untuk menurunkan sebagian barang-barang Kak Bella dari lantai tiga," jelas Olivia, raut wajah cerianya kembali berbinar. "Tapi di atas pasti masih ada barang-barang yang lain tertinggal di sana. Apa mau Olivia bantu untuk menurunkan sisa barang-barang Kakak yang lain?"

Aku menggeleng pelan, memberikan segaris senyuman tipis yang sarat akan kepasrahan. "Tidak usah, Olivia. Barang yang lain tidak terlalu penting. Biarkan saja di sana."

"Ya sudah, kalau begitu baiklah, Kak. Kakak istirahat saja sekarang. Pasti Kakak masih capek, kan? Kakak butuh istirahat yang banyak karena baru saja pulang dari rumah sakit," ucap Olivia penuh perhatian.

Aku tidak menjawab dengan banyak kata, hanya menganggukkan kepalaku pelan sebagai tanda setuju. Rasa lelah setelah menempuh perjalanan dan menghadapi amukan Kak Charles tadi memang mulai perlahan-lahan menguras sisa tenagaku.

"Kalau begitu Olivia keluar dulu, ya. Oh iya, Kak ... kalau Kak Bella butuh sesuatu, panggil Olivia saja. Olivia ada di kamar sebelah," ucap Olivia sembari menyandang kembali tas ranselnya sebelum beranjak menuju pintu.

"Baik, kamu juga istirahatlah," ucapku tulus.

"Dada, Kakak!" seru Olivia riang sembari melambaikan tangannya, lalu melangkah lebar keluar dari kamarku dan menutup pintu kayu putih itu dengan teramat pelan.

Begitu engsel pintu terkunci rapat dan siluet tubuh adik kecilku menghilang, keheningan yang menenangkan perlahan-lahan kembali merayap, menguasai setiap sudut kamar baruku yang luas ini. Aku merebahkan tubuhku perlahan di atas kasur yang empuk, menatap langit-langit langit ruangan dengan hati yang terasa begitu penuh.

Di balik dinding kamar ini, aku bisa mendengar samar-samar suara kesibukan di lantai bawah. Kata-kata Kak Aaron tentang kedatangan tamu penting mendadak kembali terngiang di kepalaku, memicu debaran cemas yang samar di dalam dada. Aku memejamkan mata erat-erat, mencoba mengistirahatkan tubuh ringkihku sembari menerka-nerka takdir baru apa lagi yang akan mengetuk pintu rumah keluarga Adipta setelah ini.

Setelah Olivia melangkah keluar dan menutup pintu dengan teramat pelan, aku perlahan merebahkan diriku di atas kasur baru yang luas ini. Aku menarik selimut tebal bermotif bunga matahari itu hingga sebatas dada, merasakan kelembutan kainnya yang langsung membalut tubuh ringkihku.

Kasur ini begitu empuk ..., batinku dengan mata yang berkaca-kaca menatap langit-langit kamar.

       Baru kali ini aku tidur di kamar yang kasurnya seempuk ini. Selama dua puluh tahun hidup di rumah ini, aku sudah terbiasa tidur di atas lantai semen yang dingin, hanya beralaskan selembar tikar usang yang tipis serta selimut kain tipis yang tak mampu menahan dinginnya angin malam di gudang lantai tiga.

Rasa nyaman yang merayap di seluruh tubuhku mendadak terasa begitu semu. Kemewahan di hadapanku saat ini terasa laksana sebuah keajaiban rapuh yang bisa direnggut kembali kapan saja jika jajaran kakak laki-lakiku kembali berubah pikiran.

"Apakah aku akan selamanya tinggal di kamar ini, ya...?" bisikku teramat lirih pada keheningan ruangan, menyuarakan keraguan yang kian berkecamuk di dalam dada.

Aku menurunkan pandangan dan menatap telapak tangan kiriku yang kini telah bersih dari guratan ghaib angka tanggal kematian. Meskipun Kak Ethan dan Kak Aaron mulai menghancurkan dinding isolasiku, aku tahu trauma kelam masa lalu yang membakar nurani keluarga Adipta tidak akan bisa dihapus begitu saja. Di tengah rasa lelah yang mulai menuntutku untuk memejamkan mata, aku hanya bisa berharap agar lembaran hidup baru di lantai dua ini tidak perlu dibayar mahal dengan takdir mengerikan lainnya di masa depan.

Keesokan harinya, seberkas sinar matahari pagi perlahan menerobos masuk melalui celah gorden jendela kamar baru-ku di lantai dua. Tepat saat aku sedang mengumpulkan kesadaran, pintu kamar terdorong terbuka pelan. Sosok ceria Olivia langsung muncul dari balik pintu.

"Pagi, Kak! Ayo turun, kita sarapan bareng Olivia," ajak Olivia sembari melangkah riang masuk ke dalam kamarku.

Aku mengembuskan napas pendek, merasa agak ragu untuk turun ke lantai bawah. "Kamu sarapan duluan saja, Olivia," ucapku lirih, mencoba menghindar karena bayangan tatapan ketus Kak Charles kemarin masih terekang jelas di kepalaku.

"Tidak mau! Olivia maunya sarapan bareng Kak Bella saja," rengek Olivia sembari mengerucutkan bibirnya kencang.

Tingkah ajaib dan keras kepala adik bungsuku itu seketika membuatku pasrah. Aku mengulas senyuman tipis dan akhirnya mengangguk setuju. Kami berdua melangkah keluar kamar dan berjalan turun menuruni anak tangga marmer menuju ruang makan utama.

Begitu kaki kami menginjak lantai bawah, atmosfer hangat mendadak berubah menjadi kaku dan mencekam. Di sana, Kak Aaron dan Kak Charles ternyata sudah duduk di hadapan barisan piring makanan.

"Kak! Kami datang," seru Olivia dengan nada suaranya yang riang, mencoba memecah keheningan di sekitar meja makan.

Sapaan Olivia hanya dibalas dengan anggukan kepala samar yang kaku oleh Kak Aaron. Sementara di sudut meja lain, Kak Charles sama sekali tidak bersuara. Pria itu justru melayangkan tatapan mata elangnya yang teramat sinis, tajam, dan penuh ketidaksukaan langsung ke arah keberadaanku. Darahku serasa membeku seketika menatap kebekuan wajahnya.

"Kak Bella, ayo duduk di sini," ajak Olivia lembut, menarik kursi kosong di sebelahnya agar aku menjauh dari jangkauan pandangan Kak Charles.

"Iya, Olivia," jawabku pelan sembari mendudukkan diri dengan dada yang berdebu oleh rasa cemas tidak keruan.

Kami melewati momen sarapan pagi itu dalam keheningan total yang teramat panjang dan menyiksa. Satu-satunya bunyi yang memecah kesunyian hanyalah dentingan sendok yang beradu dengan piring porselen. Setelah selesai sarapan, Olivia segera berpamitan untuk berangkat ke kampus dengan diantar oleh Pak Sopir menggunakan mobil sedan hitam.

Begitu siluet tubuh adik kecilku menghilang di balik pintu depan, aku tidak ingin berlama-lama berada di lantai bawah. Dengan langkah kaki yang dipercepat demi menghindari konfrontasi baru dengan Kak Charles, aku segera melangkah lebar kembali naik ke lantai dua, lalu masuk ke dalam kamar baru-ku dan mengunci pintu rapat-rapat untuk beristirahat dalam kesunyian.

Beberapa jam berlalu. Siang hari kini telah matang, memancarkan terik matahari yang hangat melalui celah gorden jendela kamar baruku. Aku sedang berbaring tenang di atas ranjang yang empuk saat keheningan ruangan mendadak dipecah oleh getaran hebat dari ponselku yang tergeletak di atas bantal.

Bzzz... Bzzz...

Aku meraba kain kasur, mengambil benda pipih itu, dan seketika tertegun saat melihat nama "Kak Ethan" menyala terang di layar digital. Jantungku seketika berdegup dua kali lebih cepat. Dengan gerakan tergesa-gesa, aku menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut dan menempelkannya ke telinga.

"Halo, Kak Ethan ...," ucapku lirih, mencoba menyembunyikan debaran cemas yang samar di dadaku.

"Halo, Bella," suara bariton Kak Ethan yang berat dan berwibawa menyahut dari seberang sambungan telepon. Suasananya terdengar agak bising di latar belakang, menandakan ia sedang berada di sela-sela jam istirahat dinasnya. "Bagaimana keadaanmu siang ini? Apa ada terjadi sesuatu pada lambungmu?"

"Aku baik-baik saja, Kak. Lambungku sudah tidak sakit lagi," jawabku tulus, mengulas senyuman tipis meski ia tidak bisa melihatnya.

Kak Ethan terdiam sejenak sebelum kembali mengajukan pertanyaan dengan nada suara yang mendadak melunak, sarat akan perhatian yang terselubung. "Apakah kamu sudah benar-benar pindah ke lantai dua?"

"Sudah, Kak. Kemarin setelah pulang dari rumah sakit, aku langsung dibantu Olivia untuk memindahkan beberapa keperluan ke kamar baru ini," jelasku pelan.

"Lalu ... bagaimana dengan kamarnya?" tanya Kak Ethan lagi. Dari jeda suaranya, aku bisa menangkap secercah rasa khawatir yang teramat besar, seolah ia sangat cemas jika keputusannya tidak membuatku bahagia. "Apakah kamu merasa nyaman di sana, Bella?"

Mendengar rentetan kalimat panjang yang sarat akan kepedulian dari kakak sulungku, dadaku mendadak terasa begitu sesak dihantam oleh rasa haru yang luar biasa besar. Setitik air mata hangat perlahan merebak di sudut mataku, luruh melewati pipiku yang kini mulai kembali merona kemerahan. Pria yang selama dua puluh tahun mengurungku di gudang lantai tiga, siang ini rela meluangkan waktu dinasnya hanya untuk memastikan kenyamanan tempat tidurku.

"Kamarnya sangat luas dan bagus, Kak. Ranjangnya juga sangat empuk. Aku ... aku merasa sangat nyaman di sini. Terima kasih banyak, ya, Kak," ucapku tulus dengan suara yang bergetar menahan luapan emosi yang membumbung di dada.

"Syukurlah kalau kamu merasa nyaman," sahut Kak Ethan dari seberang telepon. Helaan napas leganya terdengar samar di sela-sela riuh suara latar belakang di sana.

Namun, jeda diam Kak Ethan berikutnya mendadak terasa begitu lama dan menegangkan. Ketika ia kembali membuka suara, nada baritonnya yang semula melunak kini berubah menjadi sangat ketat, dingin, dan dipenuhi kewaspadaan yang tinggi [INDEX].

"Bella," panggil Kak Ethan penuh penekanan. "Jawab Kakak dengan jujur. Apakah kemarin... Charles atau Aaron membuat ulah? Apa ada di antara mereka yang membentakmu?"

Pertanyaan yang teramat tidak terduga itu seketika membuat lidahku kelu. Gerakan jemariku yang sedang memilin ujung selimut putih ini mendadak terhenti kaku. Ingatanku langsung terlempar pada amukan temperamental Kak Charles di ruang tamu kemarin siang, serta tatapan mata elangnya yang teramat sinis saat sarapan pagi tadi.

Debaran cemas kembali bergejolak hebat di dalam dadaku. Aku tahu, jika seandainya aku mengadu dan menceritakan bagaimana Kak Charles memakiku sebagai anak pembawa sial yang licik, Kak Ethan pasti akan sangat marah. Hal itu hanya akan memicu ledakan konflik baru yang jauh lebih besar di antara kakak laki-lakiku saat Kak Ethan pulang dinas nanti. Sementara itu, aku hanya ingin kedamaian yang rapuh di lantai dua ini bisa bertahan sedikit lebih lama.

Aku menelan ludah dengan susah payah, mencoba menetralkan getaran di pita suaraku agar tidak memancing kecurigaannya.

"Tidak ada, Kak," kebohonganku akhirnya meluncur pelan dari ujung lidah. Aku memaksakan nada suaraku seringan mungkin. "Kak Aaron dan Kak Charles tidak membuat ulah apa pun. Mereka... mereka memperlakukanku dengan baik, Kak."

Di seberang sambungan telepon, Kak Ethan sempat terdiam cukup lama—seolah insting tajamnya sedang menguji apakah kalimatku barusan adalah kebenaran atau hanya sebuah kebohongan demi melindung saudaranya yang lain. Kebisuannya yang mencekam di seberang sana membuatku meremas ponsel di genggamanku hingga buku-buku jariku memutih.

"Baguslah kalau mereka tidak macam-macam," sahut Kak Ethan dari seberang telepon. Nada suaranya terdengar datar, mencoba menetralkan ketegangan yang sempat menggantung. "Ingat pesan Kakak, Bella. Istirahat yang cukup. Kalau terjadi sesuatu, langsung telepon Kakak. Kakak tutup dulu teleponnya."

"Baik, Kak. Terima kasih banyak," jawabku sebelum sambungan itu akhirnya terputus.

Aku menurunkan ponselku dengan helaan napas lega yang teramat panjang, bersyukur karena kebohonganku berhasil meredakan kecurigaannya.

Namun, di seberang pulau sana, di dalam kamar hotel tempatnya menginap selama dinas, Ethan tidak sebodoh itu. Pria itu menurunkan ponsel dari telinganya dengan rahang yang mengatup rapat. Mata elangnya menatap tajam ke arah dinding kamar dengan sorot penuh kecurigaan.

Ethan tahu betul bagaimana watak Charles yang temperamental dan keras kepala. Mustahil adik ketiganya itu akan diam saja melihat Bella menempati lantai dua. Nada suara Bella yang sedikit tertahan dan bergetar tadi sudah cukup menjadi bukti bagi insting tajam Ethan bahwa adiknya sedang menyembunyikan sesuatu demi menjaga kedamaian rumah.

Bella pasti sedang berbohong, batin Ethan ketat.

Tanpa membuang waktu lagi, jemari kekar Ethan bergerak cepat di atas layar digital ponselnya. Ia keluar dari menu panggilan, lalu membuka ruang obrolan dengan kontak nama "Olivia". Dengan guratan emosi yang tertahan di dahinya, ia mengetikkan sebuah pesan singkat penuh penekanan:

      Olivia, jawab Kakak dengan jujur. Kemarin saat Bella pulang ke rumah, apa Charles atau Aaron membuat ulah? Apa Charles membentak Kak Bella lagi? Jawab yang jujur, jangan ada yang disembunyikan dari Kakak.

Setelah menekan tombol kirim, Ethan melemparkan ponselnya ke atas kasur hotel yang empuk. Ia berjalan menuju jendela besar, menatap lanskap kota asing di hadapannya dengan kepalan tangan yang mengeras di dalam saku celana. Rasa bersalah yang menumpuk selama dua bulan ini membuatnya berjanji pada diri sendiri; jika sampai Charles atau Aaron berani menyentuh atau menyakiti batin Bella lagi selama ia tidak ada di rumah, ia tidak akan segan-sepan untuk menjatuhkan hukuman paling berat pada kedua adik laki-lakinya itu.

Bzzz... Bzzz...

Di salah satu koridor gedung fakultas yang ramai, Olivia tersentak saat merasakan ponsel di dalam saku almamaternya bergetar kuat. Ia baru saja menyelesaikan kelas paginya dan sedang berjalan menuju perpustakaan. Dengan kening berkerut, ia merogoh benda pipih itu dan langsung tertegun membaca pesan penuh penekanan dari Kak Ethan.

Sepasang mata bulat Olivia melebar. Kilat amarah seketika menyala di matanya yang jernih saat membaca baris demi baris pertanyaan kakak sulungnya.

Ternyata Kak Bella menyembunyikan hal ini dari Kak Ethan, batin Olivia kesal, langsung menebak bahwa Bella pasti telah berbohong demi melindungi ketenangan rumah.

Olivia menghentikan langkah kakinya tepat di bawah pilar koridor yang teduh. Rasa kecewa dan amarahnya yang mendalam akibat amukan Kak Charles kemarin siang kembali membuncah di dalam dadanya. Ia tidak akan membiarkan kekejaman kakak ketiganya itu ditutupi begitu saja. Kak Bella terlalu lemah dan terlalu baik untuk terus-menerus menelan makian itu sendirian.

Dengan jemari yang bergerak cepat dan berapi-api di atas layar digital, Olivia langsung membalas pesan Kak Ethan tanpa ada satu pun fakta yang disembunyikan:

Kak Ethan, Kak Bella pasti berbohong pada Kakak, kan?! Jangan percaya ucapan Kak Bella, Kak! Kemarin begitu Kak Bella membuka pintu depan rumah, Kak Charles langsung menghadangnya di ruang tamu dan membentak-bentak Kak Bella dengan sangat kejam!

     Kak Charles menuduh Kak Bella licik dan menganggap sakitnya kemarin hanya sandiwara untuk mencari perhatian Kak Ethan! Dia bahkan melarangku dekat-dekat dengan Kak Bella karena takut tertimpa kesialan! Untung kemarin ada Kak Aaron yang ikut memarahi Kak Charles, tapi tetap saja Kak Charles keterlaluan! Hari ini saat sarapan pagi pun, Kak Charles terus menatap Kak Bella dengan sorot mata yang teramat sinis sampai Kak Bella ketakutan dan langsung mengunci diri di kamar. Kak Ethan harus cepat pulang dan memberi pelajaran pada Kak Charles!

Setelah menekan tombol kirim, Olivia mengembuskan napas panjang yang terasa begitu bergemuruh di dadanya. Ia memasukkan kembali ponselnya dengan hentakan kasar.

Ia tahu, dengan mengirimkan balasan jujur ini, ia baru saja memicu badai amarah yang luar biasa besar dari Kak Ethan yang sedang berada di luar kota. Namun, Olivia tidak peduli. Jika itu adalah satu-satunya cara untuk meruntuhkan keangkuhan Kak Charles dan melindungi kedamaian Kak Bella di lantai dua, maka ia akan melakukannya tanpa ragu sedikit pun.

Siang harinya, ketukan di pintu utama rumah besar keluarga Adipta menandakan bahwa para tamu penting yang sejak kemarin ditunggu akhirnya telah tiba. Aaron dan Charles segera berdiri tegak di ruang tamu, memasang ekspresi profesional terbaik mereka untuk menyambut tiga pria paruh baya ber-setelan jas formal yang melangkah masuk ke dalam rumah.

"Pak Hendra, Pak Hadi, Pak Surya, selamat datang di kediaman kami," ucap Kak Aaron dengan nada suara yang teramat ramah dan penuh penghormatan sembari menjabat tangan mereka satu per satu.

Setelah berbasa-basi sejenak di ruang depan, Aaron membimbing ketiga rekan bisnis tersebut menuju meja makan utama yang telah dipenuhi oleh barisan piring jamuan mewah buatan koki rumah.

"Maaf jika jamuan kami hanya sekadarnya seperti ini, mohon dimaklumi," lanjut Kak Aaron penuh kesopanan sebelum mereka mendudukkan diri. "Dan mohon maaf juga, Kak Ethan tidak bisa menyambut kedatangan kalian saat ini karena beliau mendadak harus pergi dinas penting ke luar kota beberapa hari ini. Mari, silakan duduk, Bapak-Bapak."

Setelah para tamu duduk dengan nyaman, Aaron kembali melemparkan senyuman profesionalnya. "Maaf sebelumnya kalau ada kekurangan yang kurang berkenan, mohon dimaafkan, ya. Semoga ke depannya kerja sama dan proyek baru di antara perusahaan kita bisa berjalan dengan lancar dan sukses. Mari, silakan dinikmati hidangannya."

Mendengar kerendahan hati sang tuan rumah, ketiga kolega bisnis tersebut seketika serentak melayangkan tawa hangat yang berwibawa.

"Hahaha! Pak Aaron ini bisa saja, terlalu merendah diri," sahut Paman Hendra sembari menggeleng-gelengkan kepalanya ramah. "Perusahaan Adipta Group kan milik kalian bertiga. Perusahaan ini bisa sesukses dan sebesar ini juga mutlak berkat kerja keras kalian bertiga. Kami yakin, kelak di masa depan, Adipta Group akan menjadi perusahaan raksasa yang berkembang jauh lebih pesat lagi!"

Mendengar pujian tinggi yang dialamatkan pada reputasi keluarga mereka, Kak Charles yang duduk di sebelah Aaron ikut mengulas senyuman tipis yang bangga. Beban frustrasinya akibat didepak Olivia beberapa jam lalu tampaknya sedikit tersamarkan oleh suasana formal ini.

"Terima kasih banyak atas pujiannya, Paman Hendra," ucap Kak Charles dengan sikap yang teramat takzim.

"Mari, Mari, silakan dinikmati makanannya," sambung Kak Aaron ramah, mempersilakan kembali para kolega senior mereka.

Akhirnya, kelima pria di dalam ruangan tersebut mulai menikmati jamuan makan siang bersama dengan obrolan bisnis yang mengalir hangat. Suara dentingan sendok porselen dan tawa formal dari lantai bawah menggema samar-samar, memecah kesunyian rumah besar Adipta yang biasanya sedingin es.

Di sisi lain, di dalam kamar baruku, rasa bosan yang teramat sangat kembali melanda. Setelah beberapa jam hanya berbaring menatap langit-langit, aku akhirnya memutuskan untuk beranjak turun. Dengan langkah kaki yang masih agak perlahan, aku melangkah menuruni anak tangga marmer dan berjalan menuju ke arah dapur rumah besar ini.

Begitu kakiku melewati ambang pintu dapur, Bibi Marni yang sedang sibuk menata peralatan memasak seketika terbelalak kaget. Ia buru-buru meletakkan kain lapnya dan menghampiriku dengan raut wajah penuh kecemasan.

"Nona Besar? Kenapa Nona turun ke dapur?" tanya Bibi Marni cemas, suaranya sarat akan rasa khawatir yang mendalam. "Di sini kotor dan berantakan, Non. Kenapa Nona tidak beristirahat di kamar saja? Atau ... apa Nona sedang membutuhkan sesuatu sekarang? Biar Bibi saja yang ambilkan dan antarkan ke atas."

Aku memaksakan segaris senyuman tipis yang tulus untuk menenangkannya. "Tidak apa-apa, Bi. Aku hanya merasa sangat bosan di dalam kamar."

Aku menjeda kalimatku sejenak saat telingaku samar-samar menangkap suara sayup-sayup obrolan formal dan tawa berwibawa dari arah ruangan lain. "Oh iya, Bi ... di rumah sedang ada tamu, ya?" tanyaku penasaran.

"Benar, Non. Mereka sekarang sedang menikmati jamuan makan siang bersama Tuan Muda Aaron dan Tuan Muda Charles," jawab Bibi Marni pelan. Ia mengembuskan napas pendek, lalu menatapku dengan tatapan lembut. "Apa Nona Besar sedang membutuhkan sesuatu sekarang?"

Aku melihat tumpukan bahan makanan dan sayuran segar yang masih berserakan di atas meja konter dapur. Jiwa memasakku yang selama belasan tahun menjadi satu-satunya pelipur lara di gudang lantai tiga mendadak terusik kembali.

"Bi ... apa ada yang bisa aku bantu di sini?" tanyaku tulus, menawarkan diri untuk ikut sibuk di dapur demi mengusir rasa jenuh yang menyiksa batin.

1
M. Al-Farezi
Lanjutkan👍

eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~
my queen 👸: siap kk
total 1 replies
Sayekti 0519
sangat mengenaskan.mili terus air mata Ama ingus ku thooor
my queen 👸: terima kasih sudah mampir kk
pantau cerita ku yang lain ya 🙏❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!