Amira Anastasya, yang setia menunggu janji dari Glen Anggara yang akan segera pulang dalam dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya di Eropa dan menikahi nya. Namun tidak sesuai dengan ala yang Amira harapkan.
Bertahun-tahun Amira menunggu akan tetapi Glen tidak kunjung datang, bahkan tidak pernah menghubungi Amira setelah satu bulan di Eropa tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar, dan Amira pun tidak dapat menghubunginya.
Hingga lima tahun kemudian, ketika Amira dibandara dan hendak pergi keluar negeri tanpa sengaja mereka bertemu. Saat itu juga Glen pulang dari luar negeri.
Melihat kepergian Amira, Glen merasa sedih ketika dia hendak menemui Amira tetapi kenapa malah amira pergi keluar negeri dan tidak mau mendengarkan Glen saat itu.
Selama di Indonesia Glen berusaha mencari tahu kehidupan Amira selama ini, apakah dia baik-baik saja selama dia tidak ada atau malah sebaliknya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penpena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Kesempatan
"Aku selalu percaya padanya." Ucapnya tersenyum melihat Amira dalam dan membuat pupil mata Amira melebar.
"Benarkan?." Tanya Glen lagi
"E-em, aku masih ada urusan yang harus dikerjakan. Kalian bisa melihat-lihat tempat lainnya ya. Aku akan segera kembali setelah semuanya selesai." Ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Aku ikut." Ucap Glen.
Amira melihatnya bingung begitu juga Alvero.
"Aku harus ikut memastikakan semuanya berjalan lancar, benarkan bos?." Tanya Glen menatap Alvero berharap dia paham maksudnya.
"A, iya. kamu benar. Amira, biarkan Glen ikut membantu mu." Ujarnya.
Amira menghela napasnya dengan berat hati dia mengijinkannya.
"Baik lah."
Glen kesenangan dan mengedipkan matanya memberi isyarat terimakasih kepada Alvero.
Amira berjalan mengelilingi ruangan itu untuk melihat apakah dekorasinya sudah sesuai yang diharapkan atau tidak, sementara Glen hanya mengikut saja dari belakang sambil melihat Amira penuh perhatian. Pandangannya tidak pernah lepas dari Amira.
Hingga tanpa sengaja Amira tersandung dengan pembatas diruangan itu hingga membuat keseimbangan tubuhnya lemah dan hampir terjatuh, dengan cepat Glen menopangnya didalam pelukannya.
Hampir saja jantung Amira copot kalau Glen tidak segera menolongnya, dan bisa jadi dia akan merasa malu kalau sampai terjatuh.
"Hati-hati." Ucap Glen lirih menatap mata Amira. Amira tertekun dengan tatapan Glen yang membuatnya lebih lama berada didalam pelukan Glen.
"Sepertinya kamu nyaman dalam pelukan ku." Ucap Glen menggoda.
Seketika Amira beranjak dan bersikap biasa saja, dia tidak ingin terpengaruh oleh Glen.
"Kalau mau lebih lama, aku siap kok." Tambah Glen.
Amira menatapnya sinis dan langsung berjalan, Glen dari belakang mengikutinya.
"Sebaiknya kamu tidak perlu mengikuti ku." Ucap Amira karena merasa tidak ada juga gunanya Glen mengikutinya, karena dia percaya apa yang dia kerjakan akan terlihat sempurna jadi tidak perlu di periksa oleh Glen apalagi yang dia tahu Glen tidak terlalu paham dengan dekorasi.
"Kenapa?, aku harus memastikan semuanya berjalan dengan baik."
"Percuma, kamu tidak akan paham."
"Kamu sepele padaku?."
"Bukan sepele, tapi aku tahu kamu tidak pernah tertarik dengan hal seperti ini. Katakan kenapa kamu tiba-tiba bekerja dibidang ini."
"Oh, jadi kamu sudah mulai penasaran dengan ku?." Ucap Glen tersenyum menggoda Amira.
Amira memutar bola matanya kesal. "Gak sama sekali."
"Ya sudah, biarkan aku mengikutimu. Siapa tahu nanti kamu kesandung lagi dan aku bisa menjadi penyelamat mu."
"Terserah." Ucap Amira datar.
"Amira." Panggil Glen.
"Hem," Jawab Amira datar dan terus fokus pada kerjaannya.
"Aku akan setia menunggu mu." Ucapnya
Amira terdiam sejenak, Lalu menatap Glen. "Fokus pada pekerjaan mu, ini jam bekerja tidak untuk membahas diluar pekerjaan."
"Baik lah, aku hanya mengingatkan saja." Jawabnya.
"Sepertinya semuanya sudah beres, kamu bisa kembali sekarang. terimakasih sudah membantu ku. Aku masih ada urusan lain yang harus ku selesaikan."
"Benarkah sudah beres?."
"Hem."
"Kok cepat sekali?."
"Itu karena kamu tidak melakukan apa-apa Glen Anggara." Tuturnya tegas mengingatkan Glen hanya jadi ekor saja dari tadi.
"Yah, kenapa waktu berjalan begitu cepat? padahal aku masih ingin mendampingi mu, lebih lama."
Amira menatap Glen, sebenarnya jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya sekarang ini, tapi dia tidak ingin menunjukkanya kepada Glen. Dia berusaha biasa saja, karena masih trauma dari masa lalunya yang sangat bucin kepada Glen. Sekarang dia sudah lebih dewasa menyikapi perasaanya.
"Aku pergi." Ucapnya
"Tunggu Amira." Glen menarik lengan Amira sampai Amira terhenti.
"Boleh aku minta nomor Hp mu?." Pinta Glen berharap Amira memberikannya.
Amira diam sejenak, "Tidak!." Jawabnya.
"tapi kenapa?." Tanya Glen tidak berpikir kalau Amira akan mengatakan tidak.
"Aku hanya memberikan nomor ku kepada orang yang penting." Jawabnya
"Aku juga akan menjadi orang penting dihidup mu, Amira."
"Benarkah?."
"Iya, jadi kamu harus memberikan nomormu padaku, kumohon!." Ucapnya memohon.
"Maka, berusaha lah." Ucap Amira dan segera pergi meninggalkan Amira.
Glen terdiam dan sontak kesenangan. "Artinya kamu memberi aku kesempatan?." Teriaknya "Yes." Ucapnya dengan bangga. "Akhirnya Amira menerima aku kembali."
"Glen, kamu kenapa?" Tanya Alvero bingung melihat tingkahnya.
"Akhirnya bro!."
"Apa?."
"Amira memberi ku kesempatan lagi, Yess, huhh." Ucapnya kegirangan.
Alvero yang mendengarnya pun ikut senang.
"Dikamu ada nomor Hp Amira gak?."
"Ada, kenapa?."
"Aku minta, hehe."
"Minta sama dia lah. Kenapa minta sama ku?" Ucap Alvero bingung.
"Dia gak mau ngasih, bro."
"Loh, katanya Amira memberimu kesempatan," Ucapnya bingung. "Kenapa dia gak mau kasih nomer nya?."
"Itu dia, dia kasih aku kesempatan tapi aku harus berusaha."
"Hahaha, aku pikir dia sudah menerima mu."
"Gak lah bro, sepertinya dia masih belum bisa menerima semuanya dengan tiba-tiba. Dia ingin memulai dari awal lagi. Aku memahaminya, karna aku yang sudah sempat menghilangkan kepercayaan nya pada ku." Ujarnya
"Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, Al. Aku akan memperbaiki semuanya dan memulai dari awal yang baru dan tentu saja akan membuat dia bahagia bersama ku." Ucap Glen berjanji pada dirinya sendiri.
"Wahh, pilihan yang tepat. Aku bangga pada mu bro. Kamu setia sama satu wanita yang kamu cintai, jarang-jarang ada cowo seperti mu." Puji Alvero merasa bangga kepada sahabatnya itu.
"Jangan terlalu memujiku, aku juga masih belajar." Jawab Glen tidak mau menganggap dirinya keren, karena biar bagaimana pun dia sudah banyak melakukan kesalahan sebelumnya.
"Yaudah ayok kita pulang sekarang biar siap-siap untuk acara nanti malam." Ajak Alvero.
"Tunggu dulu."
"Apa lagi?." Tanya Alvero berhenti dari langkahnya.
"Mana nomor nya Amira?."
"Usaha dong!." Celetuk Alvero tidak mau memberikan dan langsung pergi.
"Sial!." Dengus Glen kesal lalu mengejar Alvero. "Ini alu lagi berusaha memintanya pada mu, kenapa kamu malah ikut-ikutan bilang berusaha?."
"Haha,"
"Aku tidak mau ketawa mu. Berikan nomernya cepat. Aku mau menghubungi dia nanti."
"Yaelah." Alvero memutar bola matanya. "Sudah kukirim melalui whatshap." Ucap Alvero setelah mengirimnya.
"Oke, terimakasih sahabat terbaikku."
"Hem, semoga sukses hubungan kalian." Ucap Alvero.
"Terimakasih bro."
"Oh iya, aku pulang ya. Nanti kamu datang lah ke acaranya, karna Amira juga aku undang." Ucap Alvaro lalu masuk kemobilnya.
"Aman bro." Jawab Glen dan dia pun masuk kemobil nya. Dia dan Alvaro memang membawa mobil sendiri-sendiri karena kedatangan mereka kesini tidak janjian. Melainkan Glen datang sendiri bukan untuk urusan pekerjaan tetapi untuk menemui Amira.
Lagi-lagi ada nomor tidak dikenal menghubunginya. Glen berpikir kalau itu adalah Mamah nya. Dia tidak mau mengangkatnya karena dia sudah bisa tebak apa yang akan dikatakan oleh mamah nya.
Hp nya terus berdering. Dan dengan terlaksa dia harus mengangkatnya. Dia bertekat untuk membuat orang tuanya itu jangan ikut campur untuk urusan pribadinya lagi.