NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:966
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.

Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.

Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.

Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?

"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat yang Mengubah Segala Hal

Keesokan paginya, aku terbangun bukan karena cahaya matahari yang masuk lewat jendela, melainkan karena perasaan berat yang menindih dadaku sepanjang malam. Mataku terasa panas dan bengkak. Aku tidak ingat kapan tepatnya aku tertidur, hanya ingat duduk di tepi tempat tidur sampai larut malam, menatap dinding kamar yang sudah kugenal seumur hidupku, bertanya-tanya apakah aku benar-benar harus meninggalkannya.

Rumah masih sepi. Aku bangun lebih awal dari biasanya, berjalan pelan ke dapur seolah berjalan di atas lantai yang rapuh. Setiap sudut rumah ini menyimpan kenangan — ayunan kecil yang Ayah pasang di dinding saat aku masih balita, meja makan tempat kami makan bersama setiap hari, jendela tempat Ibu selalu berdiri menungguku pulang. Semua ini terasa begitu akrab, begitu milikku, namun sekarang seakan ada jarak yang mulai tercipta antara aku dan tempat ini.

Aku menyalakan kompor, merebus air, tapi tanganku gemetar sehingga aku hampir menjatuhkan teko. Aku duduk di kursi kayu yang sudah bergelombang karena usia, menangkup wajah dengan kedua tangan. Apakah ini benar-benar terjadi? Apakah aku tidak sedang bermimpi buruk yang akan hilang begitu aku membuka mata?

“Lia?”

Suara Ibu terdengar pelan dari balik pintu. Aku mengangkat wajah, melihatnya berdiri di sana, mengenakan pakaian sederhana, rambutnya berantakan, matanya sama bengkaknya dengan mataku. Ia melangkah masuk, duduk di hadapanku tanpa menanyakan apa-apa, lalu meraih tanganku di atas meja.

“Kamu belum tidur?” tanyanya lembut.

Aku menggeleng, menelan ludah agar suaraku tidak pecah. “Sulit memejamkan mata, Bu. Rasanya… seperti mimpi.”

Ibu mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya, gerakannya penuh kelembutan sekaligus kesedihan yang mendalam. “Aku juga. Sejak kemarin, rasanya dunia berputar terlalu cepat. Aku tidak menyangka akan datang hari seperti ini.”

“Tapi… kenapa Ayah?” tanyaku, pertanyaan yang sudah berkecamuk di kepalaku semalaman. “Kenapa dia membuat perjanjian seperti itu? Apakah dia tidak tahu ini akan mengubah seluruh hidupku?”

Air mata kembali menetes di pipi Ibu. Ia menarik napas panjang, seakan mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan sesuatu yang selama ini ia simpan sendirian. “Ayahmu… dia bukan orang yang memaksakan kehendak, Lia. Dia hanya sangat mencintai sahabatnya. Tuan Arganata — panggilannya Mas Galih — adalah sahabat terbaiknya. Mereka tumbuh bersama, berbagi segalanya. Lalu terjadi sesuatu yang memisahkan mereka. Sesuatu yang membuat Ayahmu pergi dari kota besar itu dan datang ke sini.”

“Apa yang terjadi?”

Ibu terdiam sejenak, menatap ke luar jendela seakan melihat masa lalu terulang kembali. “Ada kesalahpahaman besar. Keduanya sama-sama terluka. Tapi sebelum berpisah, mereka membuat perjanjian itu — sebagai jembatan, sebagai harapan bahwa suatu hari persahabatan mereka akan pulih kembali. Mereka berjanji: jika salah satu memiliki anak laki-laki dan yang lain anak perempuan, keduanya akan menikah. Bukan untuk harta, tapi untuk menyatukan kembali apa yang telah terpisah.”

Aku tertegun. “Jadi… ini bukan soal kekayaan?”

“Awalnya tidak,” jawab Ibu pelan. “Tapi kemudian Tuan Arganata menjadi orang yang sangat berpengaruh. Hartanya berkembang pesat. Dan Ayahmu… dia tetap sederhana. Dia tidak pernah menginginkan apa-apa dari mereka. Hanya saja, janji tetaplah janji. Dan sekarang, Tuan Arganata sudah tiada. Keinginan terakhirnya adalah menepati perjanjian itu.”

Aku berdiri, berjalan mendekati jendela, memandang halaman depan yang disinari matahari pagi. “Tapi aku tidak mencintainya, Bu. Aku bahkan tidak mengenalnya. Bagaimana bisa aku menikah dengan seseorang yang tidak tahu siapa aku?”

Ibu berdiri di belakangku, meletakkan kedua tangannya di bahuku. “Aku tahu, Nak. Aku tahu ini berat sekali. Tidak ada yang berhak memaksakan hal seperti ini kepadamu. Tapi ada satu hal yang perlu kamu ketahui — sebelum Ayahmu meninggal, dia pernah berbicara denganku. Dia berkata: jika hari ini datang, biarkan Lia yang memilih. Dia tidak ingin kamu terjebak dalam sesuatu yang tidak kamu inginkan.”

Aku berbalik menatapnya, berharap mendengar kata-kata yang menenangkan. “Jadi aku bisa menolak?”

Ibu mengangguk, meski raut wajahnya tampak sedih. “Bisa. Tapi ada konsekuensinya. Jika kamu menolak, persahabatan itu akan berakhir selamanya. Dan mungkin ada hal lain — hal yang belum kita ketahui — yang akan hancur bersama perjanjian itu.”

Pikiranku berputar kacau. Di satu sisi, kebebasanku, hidupku yang tenang, pilihanku sendiri. Di sisi lain, janji yang diucapkan Ayahku, keinginan terakhir seseorang yang pernah berarti bagi Ayah, dan kemungkinan menyatukan kembali apa yang telah terpisah puluhan tahun. Bagaimana aku bisa memilih? Bagaimana seorang gadis biasa sepertiku harus memikul beban sebesar ini?

Tepat saat itu, terdengar ketukan di pintu.

Kami saling berpandangan. Ibu menghela napas, lalu berjalan membukakan pintu. Di sana berdiri wanita yang kemarin datang bersama Dirgantara. Ia tersenyum sopan, meski tatapannya tetap kaku.

“Selamat pagi, Bu. Selamat pagi, Lia,” sapanya pelan. “Maaf mengganggu pagi kalian. Tuan Dirgantara mengirim saya untuk mengantarkan sesuatu.”

Ia menyerahkan sebuah amplop tebal berwarna krem, tersegel dengan lilin bermotif huruf A yang indah. “Ini surat khusus untukmu, Lia. Dari Tuan Arganata — yang ditujukan jika hari ini tiba.”

Tanganku gemetar saat menerima amplop itu. Permukaannya halus, berbau wangi yang samar, sesuatu yang asing bagiku. “Terima kasih,” jawabku lirih.

Wanita itu mengangguk. “Saya akan menunggu di luar. Tuan Dirgantara berpesan: baca dengan tenang. Kami akan kembali sore ini untuk mendengarkan jawabanmu.”

Ia pergi, meninggalkan kami berdua dalam keheningan yang berat. Aku duduk kembali di meja, menatap segel di amplop itu. Di bawah cahaya pagi, huruf A itu tampak berkilau lembut, seakan menantiku untuk membukanya.

“Bacalah,” kata Ibu lembut, duduk di sampingku. “Mungkin ada penjelasan yang tidak sempat kami dengar kemarin.”

Dengan tangan yang masih gemetar, aku merobek segelnya. Di dalamnya terdapat selembar kertas tebal, ditulis dengan tinta hitam, tulisan tangan yang rapi dan tegas, namun mulai melengkung di bagian akhir — tanda tangan seseorang yang mungkin sudah lemah saat menulisnya. Aku menarik napas panjang, lalu mulai membaca:

 

Untuk Lia,

Jika engkau membaca surat ini, berarti aku sudah tiada. Dan perjanjian yang kubuat bersama ayahmu telah tiba waktunya.

Aku tidak mengenalmu secara langsung, tapi aku sudah mendengar namanya berkali-kali dari sahabatku. Dia bercerita tentang anak perempuannya — yang baik hati, rajin, tumbuh menjadi gadis yang jujur dan kuat. Aku selalu berharap bisa bertemu denganmu, namun takdir tidak mengizinkan.

Perjanjian ini bukanlah untuk mengikatmu, melainkan untuk menyambung sesuatu yang putus puluhan tahun lalu. Antara ayahmu dan aku pernah ada kesalahpahaman yang tak sempat kami perbaiki. Pernikahanmu dengan Arga adalah jembatan yang aku harapkan bisa menyatukan kembali dua keluarga yang terpisah. Bukan karena harta, bukan karena nama — tapi karena persahabatan yang terlalu berharga untuk dibiarkan hilang begitu saja.

Arga adalah anak yang baik, meski ia tumbuh dalam lingkungan yang membuatnya tertutup dan dingin. Ia kehilangan ibunya sejak kecil, dan aku tidak pandai mendekatinya. Aku berharap kehadiranmu bisa memberinya kehangatan yang selama ini hilang dari hidupnya. Aku berharap engkau bisa menjadi pelengkapnya, sebagaimana sahabatku melengkapi hidupku dulu.

Namun ketahuilah, Lia: keputusan ada di tanganmu sepenuhnya. Jika engkau menolak, aku tidak akan menyalahkanmu. Tidak ada siapa-siapa yang berhak memaksakan hidupmu. Jika engkau memilih untuk tetap di tempatmu, biarkan surat ini menjadi bukti bahwa aku tidak pernah menganggap janji ini sebagai paksaan. Engkau bebas memilih jalanmu sendiri.

Tetapi jika engkau setuju, ketahuilah bahwa engkau bukan sekadar istri yang dijanjikan. Engkau adalah harapan terakhirku. Perlakukan Arga dengan kasih, dan biarkan kebaikan hatimu menyinari tempat yang sudah terlalu lama terasa dingin.

Maafkan aku yang membebani kepadamu. Dan terima kasih, karena telah membaca kata-kata terakhirku.

Dengan hormat dan harapan,

Arganata

 

Air mata menetes di atas kertas itu, membasahi sedikit ujung huruf. Aku menyeka wajah dengan punggung tangan, tidak sanggup menahan perasaan yang meluap — campuran sedih, terharu, dan bingung. Kata-kata itu begitu tulus, begitu penuh kerindahan. Lelaki yang tidak pernah kutemui ini menitipkan harapan kepadaku, gadis sederhana yang bahkan tidak tahu wajahnya.

Ibu meletakkan kepalanya di bahuku, menangis pelan. “Ayahmu selalu berkata, Mas Galih adalah orang yang paling tulus yang pernah ia kenal,” ucapnya lirih. “Surat ini membuktikannya.”

Aku melipat kertas itu kembali, memasukkannya ke dalam amplop dengan hati-hati, seakan itu adalah benda paling berharga di dunia. “Bu… apa yang harus kulakukan?” tanyaku, suaraku bergetar. “Aku takut. Aku tidak tahu apakah aku cukup kuat untuk ini.”

Ibu memelukku erat, mencium keningku berulang kali. “Aku tidak bisa memutuskan untukmu, Lia. Ini hidupmu. Tapi ingatlah satu hal: engkau bukan sendirian. Apapun pilihanmu, aku di sini. Dan jika engkau pergi, hatiku akan ikut bersamamu setiap hari.”

Aku berdiri, berjalan keluar ke halaman, menghirup udara pagi yang segar. Pilihan itu ada di tanganku — tetap di sini, di tempat yang kucintai, atau melangkah ke dunia yang asing, penuh ketidakpastian, demi menepati janji orang-orang yang kucintai.

Aku memikirkan Arga — pria yang tumbuh tanpa kasih sayang yang cukup, yang hidup di tempat megah namun dingin, yang mungkin kesepian meski dikelilingi kemewahan. Apakah kehadiranku benar-benar bisa membantunya? Atau aku hanya akan menjadi orang asing yang tersesat di istananya?

Aku memikirkan Ayah — apakah dia akan bangga jika aku pergi? Atau dia justru ingin aku tetap bahagia di sini?

Jam di dinding berbunyi, mengingatkan bahwa waktu terus berjalan. Sore ini aku harus menjawab. Ya atau tidak. Pergi atau tetap tinggal. Tidak ada jawaban yang sepenuhnya benar, tidak ada pilihan yang sepenuhnya aman.

Aku kembali ke ruang tengah, duduk di meja makan yang sudah kugenal sejak kecil, lalu mengambil selembar kertas kosong dan pulpen. Tangan yang menulis tadi masih gemetar, namun perlahan-lahan menjadi lebih tenang. Aku tidak menulis jawaban itu langsung — aku menulis tentang perasaanku, tentang keraguanku, tentang ketakutanku. Aku menulis seolah berbicara pada Tuan Arganata, seolah ia masih ada di sini mendengarku.

Sore pun tiba. Langit berwarna jingga keunguan, indah dan tenang, seakan alam tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam hatiku. Terdengar ketukan di pintu. Dirgantara datang, berdiri tegak, menunggu dengan tenang namun penuh kesungguhan.

Aku berdiri di ambang pintu, memegang surat itu di tangan kiriku. Jantungku berdegup kencang sekali, seakan ingin melompat keluar. Aku menatap wajah Ibu sekali lagi, mencari kekuatan di matanya. Ia tersenyum tipis, mengangguk — apapun pilihannya, ia menerima.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Dirgantara lurus.

“Saya…” suaraku terhenti sejenak. Aku menelan ludah, mencoba lagi lebih tegas. “Saya butuh tahu satu hal. Apakah Arga… dia setuju dengan pernikahan ini? Atau dia juga dipaksa?”

Dirgantara terdiam sesaat, lalu menjawab perlahan. “Arga menyetujuinya, Lia. Tapi jujur saja… ia menerimanya sebagai kewajiban. Bukan karena keinginan hatinya.”

Jawaban itu membuat dadaku terasa sesak. Jadi kami berdua sama — sama-sama berada di posisi yang sama, sama-sama memikul beban yang bukan sepenuhnya pilihan kami.

Aku memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah Ayah, membayangkan surat Tuan Arganata, membayangkan pria bernama Arga yang kesepian di istananya. Lalu aku membuka mata.

“Baiklah,” kataku pelan namun tegas. “Saya akan pergi.”

Ibu menahan isak tangisnya di belakangku. Dirgantara mengangguk, ada rasa hormat yang tumbuh di tatapannya. “Terima kasih, Lia. Engkau tidak akan menyesalinya, saya janji.”

Aku tidak menjawab. Aku hanya berbalik, memeluk Ibu untuk terakhir kalinya sebelum bersiap berkemas. Semua yang kucintai di sini harus kutinggalkan — untuk sementara waktu, atau mungkin selamanya.

Sore itu, saat matahari terbenam sepenuhnya, aku menutup pintu rumah kecilku. Aku melangkah masuk ke dalam mobil yang menunggu, duduk di kursinya yang empuk namun terasa asing. Di kejauhan, bayangan kota besar mulai tampak — gedung-gedung tinggi, lampu-lampu yang menyala, dan di sana, di tengah semua kemegahan itu, ada seseorang yang belum pernah kulihat, yang kini ditakdirkan menjadi bagian dari hidupku.

Surat itu telah dibaca. Keputusan telah diambil. Dan tidak ada jalan kembali.

Aku menatap ke luar jendela, melihat jalan yang semakin jauh meninggalkan rumahku, lalu berbisik pelan, hanya untuk diriku sendiri: “Tolong jadilah aku yang kuat, Ayah. Tolong jangan biarkan aku mengecewakanmu.”

Mobil melaju semakin cepat, membawa aku menjauh dari segala yang kukenal, menuju kehidupan yang sama sekali baru — kehidupan yang dimulai dari sebuah surat yang mengubah segala hal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!