Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.
Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.
Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.
Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.
Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.
Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.
Mereka belum tahu…
perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Ancaman Dibalik Ketenangan Tantya
Acara lamaran Selina dan Ryan berlangsung lancar. Kedua keluarga tampak bahagia. Setelah seluruh rangkaian acara selesai dan para tamu mulai meninggalkan rumah, kedua belah pihak keluarga berkumpul kembali di ruang keluarga. Kali ini, pembicaraan mereka beralih pada hal yang tidak kalah penting, yaitu menentukan tanggal pernikahan kedua calon mempelai.
Awalnya, keluarga Ryan berencana melaksanakan pernikahan pada tahun berikutnya. Mereka merasa masih ada banyak waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Namun, keluarga Selina berharap agar pernikahan tersebut bisa segera dilaksanakan. Mereka tidak ingin terlalu lama menunggu, mengingat hubungan kedua anak muda itu sudah cukup serius dan telah mendapatkan restu keluarga.
Bahkan, sempat muncul usulan agar pernikahan dilaksanakan dua minggu setelah acara lamaran.
"Ya, kira-kira saja kalau acara pernikahannya dua minggu lagi? Belum ini, belum itu. Persiapannya banyak, lho," ujar kakak Ryan. Nada bicaranya terdengar sedikit keberatan. Menurutnya, waktu dua minggu terlalu singkat untuk mempersiapkan sebuah acara pernikahan.
Bu Martha yang duduk di samping Selina segera menanggapi. "Anak-anak sudah merencanakan semuanya, kok. Jadi, sebagian besar persiapan sudah siap. Betul, kan, Ryan?" tanyanya sambil menoleh kepada calon menantunya.
"Iya," jawab Ryan pendek.
Laki-laki itu tampak tidak banyak berkomentar. Dia hanya mengikuti pembicaraan kedua keluarga, sesekali mengangguk ketika namanya disebut.
Kakak Ryan kembali angkat bicara. "Sudahlah, bagaimana kalau sebulan lagi saja? Biar lebih leluasa. Kita juga punya cukup waktu untuk mempersiapkan segala keperluan. Jangan sampai semuanya dikerjakan terburu-buru."
Usulan tersebut akhirnya disetujui oleh kedua belah pihak keluarga. Mereka sepakat bahwa pernikahan Selina dan Ryan akan dilaksanakan satu bulan lagi.
Selina tersenyum bahagia mendengar keputusan itu. Sebentar lagi, statusnya akan berubah. Sementara Ryan hanya tersenyum tipis. Tidak banyak yang bisa dibaca dari ekspresi wajahnya.
Pembicaraan pun berlanjut pada beberapa hal teknis terkait persiapan pernikahan. Kedua keluarga mulai membicarakan konsep acara, tempat pelaksanaan, serta berbagai kebutuhan lainnya.
Hari bahagia itu ternyata sudah semakin dekat. Hanya tinggal satu bulan lagi sebelum Selina dan Ryan resmi menjadi sepasang suami istri. Setelah keluarga Ryan berpamitan dan meninggalkan rumah, suasana yang semula ramai perlahan berubah. Bu Martha mengajak anak-anaknya berkumpul di ruang keluarga. Ada sesuatu yang ingin dibicarakannya terkait persiapan pernikahan Selina yang tinggal satu bulan lagi.
Begitu semua berkumpul, Bu Martha langsung menyampaikan keinginannya. "Karena pernikahan Selina tinggal sebulan lagi, Ibu mau kita semua ikut berkontribusi. Jangan sampai hanya satu atau dua orang yang menanggung biayanya. Setiap keluarga harus menyumbang. Jumlahnya juga harus cukup besar, karena acara pernikahan ini pasti membutuhkan dana yang tidak sedikit."
Farah dan Niken saling pandang. Mereka belum sempat memberikan tanggapan ketika salah satu dari mereka nyeletuk.
"Kalau begitu, yang harus menyumbang paling banyak itu yang hari ini dandanannya paling heboh, dong."
Seketika, semua mata tertuju kepada Tantya.
Perempuan itu hanya tersenyum tipis. Dia sama sekali tidak terlihat panik atau merasa tersindir. Dengan tenang, dia membenarkan posisi duduknya, seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Farah yang sejak tadi memperhatikan penampilan Tantya kembali menimpali. "Oh iya, bajunya juga mahal banget, kan? Berarti punya uang dong."
Beberapa orang tersenyum kecil mendengar ucapan tersebut. Sepertinya mereka sudah memiliki sasaran yang tepat untuk dimintai sumbangan lebih besar.
Tantya menghela napas pelan sebelum akhirnya bersuara. "Kok aku lagi? Apa kalian nggak tahu kalau acara hari ini sudah didanai olehku sebanyak lima puluh juta?"
Bu Martha langsung menoleh. Wajahnya berubah.
"Apa maksudmu, Tya?"
"Maksudku, uang lima puluh juta yang seharusnya digunakan untuk renovasi rumah ibuku sudah dipakai untuk membiayai acara lamaran hari ini. Uang itu diambil secara sepihak oleh Ibu. Padahal, sejak awal uang tersebut memang aku siapkan untuk keperluan renovasi rumah ibuku. Jadi, maaf, aku nggak akan menyumbang lagi."
"Tya! Kamu ngomong apa? Kamu fitnah Ibu?" suara Bu Martha meninggi. Wajahnya tampak memerah menahan amarah.
Tantya tetap tenang. Dia menatap ibu mertuanya tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut.
"Bu, untuk apa aku memfitnah? Aku juga nggak mengada-ada. Tanya saja putra kesayangan Ibu ini. Aku bahkan baru tahu dari dia kemarin kalau uang untuk renovasi rumah ibuku ternyata dipakai untuk acara lamaran ini."
Tantya melirik Rendra yang sejak tadi memilih diam.
"Bayangkan, Bu. Aku mengumpulkan uang itu bukan tanpa tujuan. Aku ingin rumah ibuku segera diperbaiki. Kondisinya sudah membutuhkan renovasi. Tapi ternyata, tanpa sepengetahuanku, uang itu justru digunakan untuk keperluan lain."
Ruangan mendadak hening. Farah dan Niken yang tadinya begitu bersemangat menyindir Tantya kini saling berpandangan. Mereka tidak menyangka pembicaraan soal sumbangan pernikahan Selina justru membuka persoalan lain yang jauh lebih besar.
Bu Martha tampak semakin gelisah. Sementara Rendra masih membisu.
Tantya kembali bersandar. Baginya, persoalan ini bukan semata-mata tentang lima puluh juta rupiah. Dia hanya tidak ingin terus-menerus dianggap sebagai sumber dana keluarga, sementara pengorbanannya sendiri tidak pernah dihargai.
Kali ini, dia memilih untuk berbicara terus terang. Tidak ada lagi alasan untuk diam hanya demi menjaga perasaan orang lain.
Tantya menarik napas panjang, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja sebelum akhirnya bangkit dari tempat duduknya. Wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa kesabarannya sudah mencapai batas.
"Kalau sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas, aku mohon pamit. Kasihan ibuku harus menunggu terlalu lama."
Belum sempat Tantya melangkah, suara Rendra langsung menghentikannya. "Jangan kurang ajar kamu, Tya! Pembahasan ini masih berlangsung."
Tantya menoleh. Tatapannya lurus mengarah kepada mantan suaminya itu. Tidak ada sedikit pun raut gentar di wajahnya.
"Untukku sudah selesai, Mas. Karena sekalipun kalian memaksa, aku tetap tidak akan menyumbang. Kecuali kembalikan dulu uang lima puluh juta itu."
Ucapan Tantya sontak membuat suasana semakin panas. Beberapa orang saling berpandangan, sementara Rendra tampak tidak bisa menyembunyikan kemarahannya.
"Kamu berani sekali ngomong begitu?" bentaknya.
"Kenapa tidak? Untuk acara lamaran ini saja aku sudah ikut menyumbang. Apa itu masih belum cukup?"
"Iya, tapi soal uang itu nanti kita bicarakan baik-baik, Tya," sahut Rendra, berusaha meredakan keadaan sekaligus menghindari pembahasan yang semakin menyudutkannya.
Tantya tersenyum tipis. Bukan senyum ramah, melainkan senyum getir seseorang yang sudah terlalu sering dibuat kecewa.
"Bicarakan baik-baik?" ulangnya, seolah tidak percaya dengan kalimat yang baru saja didengarnya. "Setelah mengambil uang renovasi rumah, ternyata Mas juga mengambil hak Tara setiap bulan sebanyak empat juta rupiah. Haruskah aku masih bicara baik-baik?"
Tantya berhenti sejenak. Ia menatap Rendra lekat-lekat, memastikan laki-laki itu mendengar setiap kata yang diucapkannya.
"Kalau aku mau, persoalan ini bisa kubawa ke ranah hukum. Dan Mas tahu sendiri siapa yang akan kalah."
Kali ini suaranya terdengar semakin tegas. Tidak ada teriakan, tidak pula emosi yang meledak-ledak. Justru ketenangan Tantya membuat perkataannya terasa lebih tajam.
Ia sudah terlalu lama memilih diam, mengalah, dan menyelesaikan semuanya dengan cara baik-baik. Namun, bukan berarti orang lain boleh terus-menerus mengambil keuntungan dari kesabarannya.
Bagi Tantya, cukup sudah. Ia tidak datang ke sana untuk kembali menjadi tempat semua orang menggantungkan beban, apalagi membiarkan hak adiknya dirampas begitu saja.
Tanpa menunggu jawaban Rendra, Tantya meraih tasnya. Kali ini ia benar-benar pergi, tanpa ada yang melarangnya.