NovelToon NovelToon
DETEKTIF INDRA KE 6

DETEKTIF INDRA KE 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Misteri / TKP
Popularitas:877
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.

Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.

Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: JEJAK TERAKHIR DI RUMAH KACA

BAB 25: JEJAK TERAKHIR DI RUMAH KACA

Matahari pagi di Jakarta memantulkan pendar menyilaukan dari gedung-gedung tinggi pencakar langit, namun atmosfer di dalam ruang operasional markas Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) terasa sangat dingin dan penuh perhitungan.

Di atas layar monitor utama, Dion 'Zero' Prasetya menampilkan profil digital lengkap dari tersangka utama kasus pembunuhan Hartanto Kusuma.

Wajah seorang pria paruh baya dengan garis rahang tegas dan mata dingin menatap tajam dari balik layar Rian Prasetya, mantan mitra bisnis korban sekaligus pemilik perusahaan properti Citra Cipta Mandiri.

"Data pencocokan sidik jari dari saklar lampu di Vila Puncak dan sampel DNA darah dari lantai yang kita temukan menggunakan Luminol kemarin sudah diverifikasi penuh oleh sistem Interpol," lapor Dion dengan nada tegas. Jemarinya masih menari cepat di atas papan ketik, melacak koordinat GPS terakhir ponsel tersangka.

"Rian Prasetya baru saja memesan tiket penerbangan privat malam ini ke Singapura. Dan saat ini, posisi kendaraannya sedang melaju kencang menuju rumah kaca pribadinya di kawasan Menteng."

Reno Devano berdiri di depan meja kendali, mengenakan mantel hitam panjang yang membungkus rapi tubuh atletisnya. Di sampingnya, dr. Sara Maheswari merapikan tas medis taktisnya, memastikan seluruh instrumen dan tabung sampel steril siap dibawa.

"Dia tahu kalau tim forensik kita berhasil mengangkat bukti sidik jari dan DNA-nya dari Vila Puncak," analisis dr. Sara tenang, menatap layar monitor profil Rian.

"Panik adalah senjata paling berbahaya bagi seorang pembunuh berdarah dingin. Dia pasti bergegas ke rumah kaca itu untuk melarikan diri atau memusnahkan sisa barang bukti terakhir."

Reno mengepalkan tangan kanannya perlahan. Berdasarkan penglihatan psychometry yang ia dapatkan di Vila Puncak sebelumnya, Rian tidak hanya mencekik Hartanto Kusuma sendirian ada dokumen transaksi suap senilai puluhan miliar rupiah yang dicuri Rian dari brankas korban dokumen yang menjadi motif utama pembunuhan tersebut.

"Kita tidak punya waktu untuk menunggu surat penangkapan resmi dari kepolisian kota yang birokratis," kata Reno dingin.

"Bara, siapkan tim taktis. Kita bergerak sekarang."

"Siap, Bos!" sahut Bara Aksara mantap, langsung menyambar senapan serbu taktisnya dan memberi komando kepada tiga personel lapangan.

Tiga puluh menit kemudian.

Dua unit SUV hitam VPCI berhenti di ujung jalan buntu kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat, tepat di balik rimbunnya pohon-pohon angsana tua. Di hadapan mereka berdiri sebuah bangunan rumah kaca modern (greenhouse) berukuran besar yang dikelilingi pagar tinggi berarus listrik.

Lampu-lampu sorot otomatis di halaman rumah kaca itu menyala remang-remang di bawah terpaan angin siang yang mendung.

"Sistem keamanan perimeter menggunakan sensor gerak dan kamera inframerah," bisik Dion melalui earpiece dari markas pusat.

"Gue sudah melumpuhkan sinyal kamera itu selama dua menit ke depan. Masuk sekarang sebelum alarm utama berbunyi!"

Bara menggunakan alat pemotong laser senyap untuk membuka kawat duri di bagian samping pagar. Satu per satu, tim taktis VPCI menyelinap masuk ke dalam area halaman rumah kaca yang dipenuhi tanaman eksotis berdaun lebar.

Reno dan dr. Sara melangkah di barisan tengah, bergerak tanpa suara di atas jalan setapak berbatu kerikil. Bau tanah basah dan pupuk organik bercampur dengan aroma parfum mahal yang khas.

Begitu mereka tiba di pintu geser kaca utama bangunan greenhouse, Reno mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar tim berhenti.

Melalui dinding kaca transparan yang dipenuhi tanaman merambat, tampak sosok Rian Prasetya sedang mondar-mandir panik di dalam ruangan kerja pribadi di tengah rumah kaca.

Di atas meja kerja Rian, sebuah koper kulit terbuka lebar, dipenuhi tumpukan lembaran uang tunai dan dokumen penting berlogo stempel perusahaan mendiang Hartanto Kusuma. Di samping koper itu, tergeletak sebuah pistol semi-otomatis berkaliber besar.

"Dia bersiap untuk kabur malam ini juga," bisik dr. Sara pelan, matanya menatap tajam ke arah Rian melalui celah kaca.

"Barang bukti transaksi itu ada di dalam koper."

Reno mengangguk.

"Bara, amankan pintu belakang. Jangan biarkan dia melarikan diri lewat jalur evakuasi."

"Siap, Bos," balas Bara bersama dua personel taktis yang langsung berputar arah menuju sisi belakang bangunan.

KLEK!

Reno mendobrak pintu geser kaca utama dengan satu tendangan keras!

"VPCI! Jangan bergerak, Rian Prasetya!" seru Reno lantang, mencabut besi pertahanan dirinya dan mengarahkan pandangan tajam ke arah sang pengusaha.

Rian terperanjat hebat. Wajahnya yang pucat pasi langsung menampakkan kepanikan luar biasa. Alih-alih mengangkat tangan, tangan kanannya dengan gerakan kilat menyambar pistol yang tergeletak di atas meja!

"Jangan mendekat!" jerit Rian histeris, mengarahkan moncong pistol lurus ke arah dada Reno!

Sebelum Rian sempat menarik pelatuknya, Reno melompat menerjang ke depan dengan kecepatan luar biasa, menepis laras pistol tersebut ke arah atas hingga letusan peluru meledak memecah kaca atap greenhouse.

DOR!

Pecahan kaca berhamburan jatuh ke lantai. Dalam sepersekian detik, Rian mengayunkan sikunya menghantam rahang Reno, namun sang detektif menepisnya dan melayangkan pukulan telak yang membuat Rian tersungkur menimpa meja kerja hingga koper dokumen dan uang tunai berserakan di lantai.

Rian, yang dikuasai rasa putus asa dan amarah, merangkak cepat meraih pecahan vas bunga kaca yang tajam di dekat kakinya, lalu menerjang ke arah dr. Sara yang berdiri di dekat pintu masuk!

"Sara, awas!" teriak Reno.

Dengan refleks seorang dokter bedah yang terbiasa bergerak cepat di ruang otopsi, dr. Sara tidak menghindar. Ia menyambut terjangan Rian dengan menyemprotkan cairan disinfektan medis bertekanan tinggi dari tas taktisnya langsung ke mata Rian!

"Argh! Mataku!" jerit Rian kesakitan, memegangi wajahnya sambil meronta-ronta di lantai saat penglihatannya membakar perih.

Reno langsung melangkah maju, memelintir tangan kanan Rian ke belakang punggung, dan memborgol pergelangan tangan pengusaha korup itu dengan kuat ke lantai porselen.

"Rian Prasetya, kamu resmi ditahan atas tindak pembunuhan berencana terhadap Hartanto Kusuma dan pencurian dokumen rahasia perusahaan," ucap Reno dingin, suaranya bergema tegas di dalam rumah kaca yang sunyi.

Bara dan personel taktis yang baru saja kembali dari pintu belakang segera mengamankan area, memungut seluruh tumpukan dokumen transaksi suap dan pistol bukti ke dalam kantong evakuasi steril.

dr. Sara mendekat, merapikan kembali jas laboratoriumnya, lalu menatap Rian yang diseret berdiri oleh Bara dengan pandangan penuh ketegasan moral.

"Sains forensik tidak pernah berbohong, Rian," ujar dr. Sara tenang.

"Darah yang kamu tumpahkan di Vila Puncak dan sidik jari yang kamu tinggalkan di saklar lampu telah berbicara jauh lebih lantang daripada kebohongan yang kamu sembunyikan selama delapan bulan."

Rian menatap tajam ke arah Reno dan dr. Sara dengan napas memburu dan wajah penuh kebencian, namun ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bukti fisik di tangannya telah menutup seluruh celah pelarian.

Dua jam kemudian.

Kembali di markas VPCI Jakarta, suasana malam menyambut kepulangan mereka dengan ketenangan yang menyejukkan.

Laporan lengkap hasil penangkapan dan barang bukti telah diserahkan secara resmi ke tangan penyidik kepolisian dan kejaksaan.

Kasus dingin pembunuhan Hartanto Kusuma di Vila Puncak resmi ditutup dengan kemenangan mutlak bagi keadilan.

Di ruang kerja utamanya, Reno Devano duduk bersandar di kursi mahogany. Pusing bekas benturan fisik di rumah kaca tadi telah mereda.

Pintu kaca terbuka pelan. dr. Sara melangkah masuk membawa dua cangkir teh chamomile hangat, mengenakan kemeja kasual malam yang anggun dengan rambut tergerai bebas.

Ia meletakkan cangkir di meja Reno, lalu duduk di kursi seberang.

"Luka di rahangmu sudah diobati?" tanya dr. Sara lembut, menatap lekat sudut bibir Reno yang sedikit membiru akibat hantaman sikut Rian.

Reno tersenyum tipis, meraih cangkir tehnya dan meresapi kehangatan yang mengalir.

"Hanya goresan kecil, Sara. Tidak ada apa-apanya dibandingkan kerja kerasmu di ruang otopsi kemarin."

dr. Sara tersenyum manis, memandangi manik mata Reno dengan pendar kehangatan yang mendalam.

"Kita kembali berhasil membuktikan, Reno... bahwa seberapa rapi pun seorang pembunuh menghapus jejaknya, perpaduan antara indra ketajamanmu dan kepresisian sains forensik akan selalu menemukan jalan menuju kebenaran."

Reno meletakkan cangkirnya, lalu mengulurkan tangan kanannya melintasi meja. dr. Sara menyambut uluran tangan itu dengan senyuman tulus, membiarkan jemari mereka saling bertaut erat dalam keheningan malam yang damai.

Di bawah naungan lampu markas VPCI yang berpendar tenang, babak baru dalam menegakkan keadilan hukum dunia modern kembali terukir indah sebuah bukti abadi bahwa di tangan Reno Devano dan dr. Sara Maheswari, tidak ada kejahatan yang bisa selamanya bersembunyi dalam kegelapan.

1
Windi Triana
Ceritanya bagus, aku pikir karena judulnya ada tulisan 'indera keenam' pasti ada makhluk astral nya, tapi ternyata tidak ada. Gak tahu nanti bab selanjutnya, apakah ada atau tidak, belum sampai kesana bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!