Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Benih Yang Mulai Tumbuh
Tahun 1595, Mimasaka.
Lima tahun telah berlalu sejak kepulan asap Pengepungan Odawara membubung ke langit Kanto. Di bawah naungan kekuasaan mutlak Toyotomi Hideyoshi, tanah Jepang tampak tenang di permukaan. Namun di sudut terpencil Provinsi Mimasaka, kedamaian adalah barang langka yang hancur berkeping-keping setiap kali seorang anak laki-laki berumur sebelas tahun melangkah keluar dari rumahnya.
Bennosuke telah tumbuh menjadi seorang pria pra-remaja dengan perawakan yang amat tidak wajar untuk usianya. Tubuhnya tinggi bongsor, berotot keras akibat saban hari memanjat tebing dan bertarung melawan arus sungai, dengan rambut hitam mencuat liar tanpa diikat rapi layaknya anak-anak samurai pada umumnya.
Hari itu, suasana di dojo Perguruan Yoshioka cabang Mimasaka yang mengagungkan tradisi Bushido formal tampak seperti tempat pembantaian yang kacau-balau.
BOK! BOK! KRAK!
"Auw! Hidungku! Hidungku patah!"
"Gigi seriku hilang! Mana gigiku?!"
"Tolong! Anak iblis ini tidak memakai teknik aliran apa pun!"
Lolongan kesakitan para murid senior bergema memenuhi lantai kayu dojo. Belasan pria dewasa bertubuh tegap tergeletak tumpang-tindih di atas tatami. Ada yang memegangi perutnya yang mual, ada yang pingsan dengan mata mendelik, dan ada pula yang merangkak ketakutan menuju pintu keluar.
Di tengah-tengah kekacauan itu, Bennosuke berdiri santai. Pakaian kimononya yang sudah terlalu kusam—dan kekecilan hingga memperlihatkan betisnya yang penuh bekas luka gatal—ternoda oleh bercak tanah dan minyak dango. Di kedua tangannya, ia memegang dua bilah bokken tebal buatan sendiri yang diukir kasar dari dahan pohon kayu besi.
"Hanya begini saja kehebatan Bushido formal yang kalian banggakan setiap hari di pasar?" tanya Bennosuke, mengorek kuping kirinya dengan kelingking seraya memamerkan cengiran liar yang memperlihatkan deretan giginya yang putih kuat.
"Tuan Muda Bennosuke!" jerit Kepala Dojo Yoshioka cabang Mimasaka, seorang samurai paruh baya berwajah pucat yang merayap mundur ke sudut ruangan sambil memegang gagang katananya yang belum sempat dicabut. "Kau... kau melanggar seluruh aturan kehormatan samurai! Kau menyerang murid-muridku sebelum aba-aba dimulai, kau meludahi lantai tatami suci ini, dan kau... kau menggigit telinga instruktur senior kami!"
"Hah? Menggigit?" Bennosuke meludah kasar ke samping. "Pria tua itu mencoba memiting leherku dari belakang! Di medan perang sungguhan, kalau lehermu dikunci musuh, kau gigit saja apa yang ada di depan mukamu! Babi hutan saja tahu cara bertarung seperti itu! Apakah tradisi Bushido mengajarimu untuk mati berdiri demi kesopanan?"
"Ini pertandingan dojo yang terhormat, bukan pertarungan babi hutan, Bocah Tengil!" teriak Kepala Dojo frustrasi.
"Aturan formalitas kalian itu sudah kuno dan membosankan!" bidas Bennosuke seraya mengayunkan salah satu pedang kayunya ke udara hingga berbunyi WUSS. "Berdiri tegap, membungkuk tiga kali, membaca silsilah keluarga selama setengah jam... musuh keburu memenggal kepalamu sebelum kau selesai menyebut nama kakekmu!"
Bennosuke melangkah maju dua tapak. Babi hutan kecil Mimasaka itu menunjuk papan nama perguruan yang tergantung megah di panggung utama dojo.
"Papan nama ini kusewa untuk seminggu," ujar Bennosuke enak jidat. "Atau kalau kalian tidak terima, panggil semua guru pedang terhebat di Mimasaka untuk mengeroyokku besok pagi di tepi Sungai Yoshino. Kalau aku kalah, aku akan membungkuk meminta maaf seribu kali. Tapi kalau aku menang... seluruh stok beras dan paha ayam asap di dapur dojo ini jadi milikku!"
Sebelum Kepala Dojo sempat membalas, suara langkah kaki tergesa-gesa bergaung dari arah pintu depan.
"BENNOSUKE!"
Sebuah teriakan menggelegar membelah udara dojo, membawa wibawa tebal yang sanggup menggetarkan tiang-tiang kayu bangunan tersebut.
Shinmen Munisai melangkah masuk. Ayah Bennosuke itu mengenakan hakama resminya, namun wajahnya sudah berwarna merah keunguan bagai buah plum matang akibat menahan malu dan amarah yang telah mencapai puncaknya. Di tangannya, Munisai menggenggam jitte besi kesayangannya.
Para murid dojo yang tergeletak pingsan mendadak seperti mendapat sedikit harapan hidup melihat kedatangan sang jenderal ahli pedang Mimasaka.
"Tuan Munisai! Selamatkan kami! Anakmu mengamuk lagi!" jerit salah satu murid yang hidungnya disumbat kain perca.
Munisai menatap pemandangan kacau di sekelilingnya, lalu menatap putranya yang berdiri tanpa rasa dosa sedikit pun.
"Bocah Kurang Ajar!" amuk Munisai, matanya hampir melompat keluar. "Ini dojo kelima yang kau obrak-abrik bulan ini! Kau menantang para samurai secara ilegal, merusak papan nama perguruan orang, dan sekarang kau menjarah dapur mereka?!"
"Aku tidak menjarah, Ayah!" sanggah Bennosuke cepat, menepuk perutnya yang berbunyi nyaring. "Bertarung melawan belasan orang dewasa itu menguras banyak tenaga! Aku hanya meminta imbalan atas pelajaran berharga yang kuberikan pada mereka hari ini!"
"Pelajaran?!" jerit Munisai, batas kesabarannya benar-benar runtuh. "Aku akan memberimu pelajaran sejati hari ini!"
Munisai menerjang maju seraya mengayunkan jitte besinya. Kecepatan dan kekuatan sang Jitte Toshi sangat luar biasa, membawa tekanan angin yang sanggup merobek kain.
Namun Bennosuke yang berusia sebelas tahun bukanlah Bennosuke balita lima tahun lalu.
Dengan insting liarnya yang makin terasah, Bennosuke menyilangkan kedua pedang kayunya—menggunakan teknik dua pedang tak beraturan yang mulai disempurnakannya secara mandiri. KLANG! Benturan keras kayu tebal dan besi menggelegar di dalam dojo.
Bennosuke tidak menahan adu kekuatan dengan ayahnya. Ia memiringkan kedua bilah kayunya, membiarkan serangan Munisai meluncur licin ke samping, lalu dengan kelincahan monyet gunung, ia menyusup ke balik kaki Munisai dan... membanting pintu belakang dojo hingga terbuka!
"Hahaha! Sampai jumpa di rumah, Ayah! Babi asap mereka kubawa pulang!" jerit Bennosuke seraya melompat keluar jendela dapur sambil memeluk sekeranjang daging dan kue beras.
"Jangan lari kau, Bocah Iblis!" teriak Munisai seraya meloncat mengejar putranya melewati pagar kayu.
Penduduk desa di sepanjang jalan Mimasaka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan pemandangan yang sudah menjadi rutinitas mingguan tersebut: Shinmen Munisai, pahlawan perang dan ahli pedang terhormat klan Shinmen, mengejar anak laki-lakinya yang berlari kencang sambil tertawa terbahak-bahak membawa keranjang curian di atas atap-atap rumah warga.
Malam harinya, di tepi Sungai Yoshino yang tenang, Bennosuke duduk di atas batu besar.
Ia baru saja selesai melahap sisa daging asapnya. Wajahnya yang kotor oleh jelaga memantulkan bayangan rembulan yang mengapung di atas permukaan air sungai. Di depannya, dua pedang kayunya tergeletak di atas rumput basah.
Meskipun sifat liarnya makin tak terkendali, mata bulat Bennosuke saat sendirian memancarkan kedalaman yang aneh. Ia menatap telapak tangannya yang penuh kapalan keras.
Bennosuke tidak membenci jalan Bushido, tetapi ia muak pada kemunafikan para samurai zaman ini. Setelah Perang Odawara usai dan kedamaian Toyotomi menguasai negeri, pedang bagi kebanyakan samurai telah berubah menjadi sekadar hiasan pinggang dan alat untuk pamer tata krama di dalam dojo yang hangat. Bagi Bennosuke, pedang adalah tentang hidup dan mati—sebuah pencarian atas kebenaran murni yang tak bisa dibatasi oleh buku-buku aturan atau gengsi klan.
"Tradisi kalian terlalu sempit..." gumam Bennosuke pelan pada angin malam, menyapu rambut hitam liarnya yang diterpa angin. "Suatu hari nanti... aku akan membuktikan pada seluruh dunia bahwa pedangku yang liar ini sanggup membelah seluruh aturan mereka."
***
Keesokan paginya, sebelum embun di atas dahan-dahan pohon persik Mimasaka sempat menguap disapu terik matahari, suasana di halaman rumah utama klan Shinmen berubah mendadak menjadi tegang dan mencekam.
Derap kaki tiga ekor kuda tegap yang dipacu kencang dari arah jalan utama desa berhenti tepat di depan gerbang kayu. Para penunggangnya bukan samurai lokal Mimasaka. Mereka mengenakan jubah perjalanan berwarna kelabu gelap dengan lambang ganda labu kuning Toyotomi di dada, memikul kotak kayu bersimpul kain merah yang tersegel rapat.
Utusan resmi dari ibu kota Kyoto telah tiba.
"Shinmen Munisai-dono! Terima Perintah Agung dari Tuan Kampaku Toyotomi Hideyoshi!" seru sang utusan terdepan, suaranya lantang dan dingin, bergema membelah keheningan pagi.
Munisai, yang baru saja selesai membalut dahi memar akibat kejar-kejaran dengan Bennosuke kemarin sore, tergesa-gesa melangkah keluar ke halaman. Dengan raut wajah serius, sang jenderal veteran berlutut di atas tanah berdebu, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan titah penguasa tertinggi negeri.
Di belakang semak-semak puring di sudut halaman, Bennosuke yang baru terbangun dengan rambut mencuat ke segala arah mengintip curiga. Di tangannya, ia masih menggenggam sepotong paha ayam sisa kemarin.
Utusan Kyoto itu membuka gulungan kertas washi tebal berstempel stempel merah Istana, lalu membacakannya dengan suara yang tak membiarkan sedikit pun celah penolakan:
"'Memperingati seluruh provinsi di bawah naungan Langit: Demi menjaga kedamaian abadi dan mencegah timbulnya kerusuhan sipil, Tuan Kampaku menetapkan Perintah Katanagari—Perburuan Pedang Agung. Seluruh rakyat, pemuda, dan murid perguruan yang tidak terdaftar secara resmi sebagai retainer berkuda klan utama dilarang keras menyimpan, membawa, atau melatih diri dengan senjata besi, katana, spear, maupun tombak.'"
Utusan itu berhenti sejenak, matanya yang tajam menyapu wajah Munisai yang mengeras.
"'Khusus bagi provinsi Mimasaka: Setiap pemuda dan murid dojo lokal yang belum mengikrarkan ikatan sumpah setia pada klan penguasa wilayah diwajibkan menyerahkan seluruh senjata besi mereka ke pos pemeriksaan terdekat dalam waktu tujuh hari. Siapa pun yang membangkang, menyembunyikan senjata, atau menantang hukum ini... akan dianggap sebagai pemberontak istana dan dihukum gantung bersama seluruh anggota keluarganya.'"
Deg.
Jantung Munisai bagaikan dihantam palu besi yang dingin. Urat-urat di lehernya menegang seketika.
Katanagari.
Perintah Perburuan Pedang yang digagas oleh Kuroda Kanbei dan Hideyoshi kini telah merambah hingga ke sudut-sudut desa terpencil di Mimasaka. Ini bukan sekadar tentang mengumpulkan besi tua dari tangan petani; ini adalah cara paling dingin dari istana Kyoto untuk memotong taring dan mematahkan tulang punggung setiap pemuda yang memiliki potensi mengangkat senjata di masa depan.
"Apakah perintah ini sudah dipahami, Munisai-dono?" tanya sang utusan dengan nada menekan.
Munisai menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu, lalu menundukkan kepala lebih dalam. "Hamba... Shinmen Munisai... menjunjung tinggi dan mematuhi titah Tuan Kampaku."
Setelah para utusan Kyoto itu memacu kuda mereka kembali menuju ibu kota, Munisai tetap berlutut di atas tanah untuk waktu yang lama. Tubuh veterannya yang biasanya tegap kini tampak gemetar halus oleh gelombang kekhawatiran yang teramat besar.
Ia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri atau dojo-dojo formal di Mimasaka. Yang membuat darahnya membeku adalah satu nama, Bennosuke.
Putranya yang berusia sebelas tahun itu adalah definisi dari segala hal yang paling dibenci dan ditakuti oleh Perintah Katanagari. Bennosuke tidak terikat pada klan mana pun, benci pada aturan formalitas, suka menjelajah dan menantang dojo-dojo sekitar, serta membawa pedang dengan keliaran murni yang tak sanggup dibendung oleh siapa pun.
Jika Bennosuke sampai terdengar oleh mata-mata Kyoto menantang samurai resmi atau menolak menyerahkan pedangnya... anak itu tidak akan sekadar dihukum cambuk di desa. Istana Toyotomi akan mengirimkan pasukan pembersihan untuk membantainya beserta seluruh klan Shinmen tanpa belas kasihan.
"Ayah..."
Sebuah suara menyela dari balik punggungnya. Bennosuke melangkah keluar dari balik semak-semak, mengunyah daging ayamnya dengan wajah mengkerut jijik.
"Orang-orang dari Kyoto itu... mau merebut pedang semua orang?" tanya Bennosuke, matanya yang bulat menatap lurus pada ayahnya. "Kenapa orang tua pendek di Kyoto itu sangat takut pada sepotong besi di tangan orang lain?"
Munisai berdiri dengan mendadak. Ia membalikkan badan, menatap Bennosuke dengan raut wajah yang begitu kelam dan menakutkan—sebuah tatapan yang belum pernah dilihat Bennosuke sebelumnya. Tak ada lagi tawa atau keputusasaan jenaka seperti biasanya; yang tersisa hanyalah kecemasan searah mati dari seorang ayah.
"Dengar baik-baik, Bennosuke!" bentak Munisai, cengkeramannya yang kuat mencengkeram kedua bahu mungil Bennosuke hingga terasa menyakitkan. "Dunia di luar sana bukan lagi panggung bermainmu! Jika kau tetap bertindak liar, menantang dojo orang, dan membawa pedang tanpa aturan... mereka tidak akan menantangmu berduel! Mereka akan menggantungmu di tiang gerbang desa!"
Bennosuke terdiam sejenak. Ia merasakan getaran hebat pada tangan ayahnya yang mencengkeram bahunya—sebuah getaran ketakutan bukan pada musuh, melainkan pada takdir kejam yang sedang merayap mendekati anaknya.
Namun, alih-alih takut, mata bulat Bennosuke justru berkilat semakin liar dan tajam menembus bayang-bayang ancaman dari Kyoto tersebut.