NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9: Menyempurnakan separuh agama

Suara derak pendingin udara dan denting jam dinding yang berdetik pelan menjadi satu-satunya irama yang mengisi keheningan malam.

Di dalam kamar tidur bernuansa merah muda, uap hangat dari napas Moana berhembus teratur. Gadis kecil itu sudah kembali terlelap dalam tidur nyenyaknya, sambil memeluk boneka beruang cokelatnya dengan satu tangan mungil yang masih menyangkut di pinggang Ayu.

Ayu yang masih mengenakan jilbab bergo simpelnya berbaring miring di sisi Moana. Niat awalnya hanya ingin menenangkan dan mengeloni sang putri hingga terlelap kembali, namun rasa lelah yang mengumpul sepanjang hari, ditambah usahanya menahan perih pada lengan yang tersiram sup panas, membuat matanya yang berat perlahan-lahan terpejam tanpa ia sadari.

Sementara itu, di kamar utama, Yoga masih bersandar di kepala ranjang. Pria itu menatap jarum jam dinding yang terus bergeser. Sepuluh menit berlalu, lalu dua puluh menit, hingga hampir satu jam lamanya, namun Ayu tak kunjung kembali ke kamar mereka.

Rasa penasaran dan sedikit rasa khawatir mulai menyelimuti benak Yoga. Dengan gerakan perlahan agar tidak menimbulkan suara bising, Yoga menyibak selimut, menurunkan kakinya ke lantai, lalu berjalan keluar dari kamar utama.

Suasana koridor lantai dua begitu sunyi dan remang-remang. Hanya ada pendar cahaya lampu dinding yang temaram menyinari lorong kayu. Langkah kaki Yoga yang dilapisi kaus kaki tebal bergerak tanpa suara menuju kamar Moana yang pintunya sedikit renggang.

Klek.

Yoga mendorong pintu kayu itu perlahan-lahan. Pemandangan di hadapannya seketika mengunci pandangannya dan membuat hatinya berdesir hangat.

Di atas tempat tidur, Ayu tampak terlelap tenang di samping Moana. Wajah polos wanita muda itu terlihat begitu damai tanpa beban saat tidur.

Jilbabnya sedikit bergeser hingga memperlihatkan beberapa helai anak rambut di keningnya, sementara satu tangannya melingkar di atas tubuh kecil Moana.

Yoga tersenyum tipis. Rasa kagum dan haru membuncah hebat di dalam dadanya. Dengan langkah yang sangat pelan, Yoga mendekati tepi ranjang, lalu membungkukkan badannya sedikit.

"Ayu... Ayu..." panggil Yoga berbisik lembut, karena tak ingin mengejutkan putri kecilnya.

Sentuhan lembut di bahunya serta bisikan hangat di telinganya membuat Ayu tersentak pelan. Matanya terkedip-kedip, dan berusaha mengumpulkan kesadaran yang sempat terbang melayang ke alam mimpi.

"Mas..." bisik Ayu dengan suara khas bangun tidur yang agak serak, matanya yang jernih menatap sosok Yoga yang berdiri di sampingnya.

Yoga mengulas senyum hangat yang menenangkan. "Pindah yuk... Moana sudah tidur."

Ayu mengerdipkan matanya sejenak, lalu menoleh ke arah Moana yang napasnya sudah sangat teratur dan lelap. Rasa canggung pun menyergap hatinya saat menyadari ia sempat tertidur di sana.

"Ah... iya, Mas," jawab Ayu pelan seraya perlahan-lahan melepaskan pelukan tangannya dari tubuh Moana.

Ia merapikan letak selimut Moana hingga menutupi dada gadis kecil itu, dan mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang, lalu menggeser tubuhnya turun dari ranjang.

Yoga mengulurkan tangannya, dan menyambut jemari Ayu untuk membantunya berdiri. Kehangatan telapak tangan Yoga menyengat halus hingga ke hati Ayu.

Mereka berdua melangkah keluar dari kamar Moana dengan sangat pelan, dan menutup pintunya rapat-rapat dari luar agar tidak mengganggu tidur sang putri.

Langkah kaki mereka membawa mereka kembali memasuki kamar utama. Begitu pintu kamar utama tertutup dan terdengar bunyi klik saat kunci berputar, suasana di dalam ruangan besar itu langsung berubah menjadi sangat intim dan pekat.

Pendar lampu tidur di samping ranjang membiaskan cahaya keemasan yang hangat, menciptakan bayang-bayang romantis di dinding kamar.

Di dalam ruangan ini, tidak ada lagi bayang-bayang sindiran tetangga, tidak ada penolakan dingin dari Kenzo, maupun histeria cemburu dari Lea. Hanya ada mereka berdua, dua insan yang telah diikat oleh janji suci di hadapan Sang Pencipta.

Ayu berdiri agak canggung di dekat meja rias, dengan jemarinya yang meremas kain jilbabnya sendiri. Jantungnya berdegup sangat kencang, bak drum yang ditabuh tanpa henti.

Sebagai seorang wanita muda yang belum pernah mengikat hubungan asmara dengan pria mana pun sebelumnya, momen malam pengantin ini terasa begitu sakral sekaligus mendebarkan.

Yoga berjalan mendekati Ayu dari belakang. Pria empat puluh tahun itu menatap refleksi wajah istrinya di cermin meja rias. Dengan jemarinya yang kekar namun lembut, Yoga menggapai ujung jilbab bergo yang dikenakan Ayu, lalu perlahan-lahan melepaskannya.

Rambut hitam Ayu yang halus, tebal, dan harum aroma sampo bunga melati terurai indah membingkai bahunya. Yoga menahan napas sejenak, karena terpesona oleh kecantikan alami istrinya yang kini sepenuhnya menjadi miliknya.

"Ayu..." panggil Yoga dengan suara yang sangat dalam dan hangat, sambil meletakkan kedua tangannya di bahu Ayu.

Ayu membalikkan badannya perlahan, dan menundukkan pandangannya karena rasa malu yang merona di kedua pipinya. "I-iya, Mas?"

Yoga mengangkat dagu Ayu dengan lembut menggunakan telunjuknya, hingga memaksa mata jernih itu untuk menatap lurus ke dalam matanya yang teduh dan sarat akan ketulusan.

"Terima kasih untuk hari ini," tutur Yoga. "Terima kasih sudah sangat sabar menghadapi anak-anak, menghadapi rumah ini, dan menghadapi aku."

Ayu menggeleng pelan, sembari mengulas senyum tulus yang memikat. "Ini sudah menjadi kewajiban dan takdir saya, Mas. Saya yang harus berterima kasih karena Mas Yoga sudah menerima saya dengan begitu terhormat."

Yoga menatap bibir merah muda Ayu, lalu beralih kembali ke matanya. Kehangatan cinta dan gairah dewasa yang murni membumbung tinggi di dalam dada pria itu.

Malam ini, setelah melewati berbagai kekacauan dan luka yang tak terduga, Yoga ingin memberikan hak dan kehormatan tertinggi bagi wanita yang telah sudi menjadi pelengkap hidupnya.

Perlahan, Yoga meraih kedua tangan Ayu, menggenggamnya erat, lalu menuntun langkah istrinya mendekati ranjang.

Ayu tidak menolak. Ia pasrah dan membiarkan dirinya dibimbing oleh pria yang kini menjadi suaminya. Di atas peraduan yang hangat itu, di bawah pendar lampu tidur yang temaram, Yoga menyampaikan kehangatan cinta dan puji-pujian yang tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Malam itu, di antara helaan napas yang bersatu dan bisikan doa yang dipanjatkan penuh rasa syukur, Ayu menyerahkan seluruh jiwa dan raganya.

Ia menyempurnakan setengah agamanya dalam dekap kehangatan cinta Yoga yang tulus, sebuah awal ikatan suci yang akan menjadi pondasi terkuatnya dalam mengarungi biduk rumah tangga di masa depan.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!