Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 05
“Ya,” jawabnya singkat, lalu mulai menyibukkan diri dengan beberapa berkas penting.
Ayunda berjalan ke pantry, membuka laci lemari bagian tengah, mengambil satu kantong teh, lalu bubuk kayu manis dan cengkeh.
Tangannya bergerak lincah menyiapkan secangkir teh hangat, seakan-akan sudah sangat terbiasa dengan kegiatan yang memang dilakukannya sedari hari Senin sampai Sabtu.
Secangkir teh siap dinikmati sudah selesai di seduh, Ayunda bawa ke meja beralas kaca tebal hitam.
“Tehnya, Tuan,” katanya ramah diiringi senyum sopan.
Daksa mengangguk cepat, kali ini tidak disertai ucapan terima kasih. Fokusnya tertuju pada layar tablet yang disodorkan oleh sang sekertaris.
Kala kehadirannya sudah tidak lagi diinginkan, Ayunda pamit undur diri, lalu keluar dari ruang kerja elegan.
Wanita yang hari ini mengenakan setelan kerja warna pink, mulai duduk dan menyalakan layar komputernya.
Baru saja mau fokus, tapi terganggu oleh sebuah notifikasi ponselnya.
Serlina Guntara mengirim alamat hotel yang sudah dipesan atas nama salah satu orang kepercayaannya, berikut waktu telah ditentukan.
‘Sabar sedikit lagi, gak lama kok, tinggal tujuh bulan, maka aku terbebas dari mereka. Semoga semua berjalan lancar, dan kali ini semesta berpihak kepadaku,’ harap batinnya.
Ayunda teringat kesepakatan antara dirinya dengan keluarga Guntara. Tepat di umur 26 tahun, dia akan dibebaskan, usai sudah melunasi hutang penebusan dosa kedua orang tuanya.
Heyy!
“Mbak!” dikarenakan terkejut, Ayunda sampai terlonjak saat dikejutkan Yusniar.
“Padahal aku udah berdiri sedari dua menitan loh, malah asik bengong,” Yusniar terkikik, merasa lucu melihat ekspresi terkejut Ayunda.
Ayunda lantas memperbaiki mimik wajah, ikutan tertawa. “Aku tu lagi ngitung gaji bulan depan berikut bonusnya. Wangsa group kan memenangkan tender bernilai belasan miliar, sudah pasti kita bakalan kecipratan rezeki kan, ya walaupun cuma remahan, tapi cukuplah untuk penolong di tanggal tua.”
“Dasar perempuan. Pikirannya gak jauh-jauh dari lembaran uang,” ejek Yusniar bercanda.
“Seperti mbak Yusniar, nggak aja,” balasnya cepat.
“Kamu itu sekali-kali coba mikirin soal jodoh, Ayunda. Umur udah mau 26 tahun, betah banget ngejomblo. Setiap ada laki-laki yang coba mendekati langsung nunjukin cincin itu,” dengus Yusniar seraya duduk di bangku bersebelahan dengan Ayunda.
Senyum khas Ayunda terbit, sampai mata mirip kacang almond menyipit. “Perihal jodoh, nanti-nanti aja, Mbak. Takutnya buru-buru malah salah pilih pasangan. Mending sendiri dulu sambil menikmati masa single.”
“Itu terus alasanmu,” akhirnya dia mengalah. Ayunda tipe wanita cukup berpendirian teguh, tidak mudah terbawa arus kehidupan, ikut-ikutan trend kekinian. Itulah yang dia simpulkan selama berteman dengan wanita cantik ini.
Tiba-tiba telepon di atas meja mereka berdering, Yusniar yang mengangkat, sangat serius mendengarkan. “Baik Tuan.”
Alis kanan Ayunda naik, matanya memicing melihat lirikan aneh atasannya.
Kala gagang telepon sudah dikembalikan, Yusniar tersenyum jahil. “Kamu diminta menemani tuan Daksa bertemu klien dari negeri tirai bambu.”
“Hah, kok aku, Mbak? Bahasa inggris aja masih ngeja, malah harus duduk satu meja sama orang fasih bahasa Mandarin. Tolong lakukan negosiasi, Mbak.” Ayunda menggeleng cepat, rautnya ketakutan.
Suara tawa Yusniar terdengar renyah, dia mengerti kegundahan hati Ayunda. Wanita yang rambutnya diikat separuh ini paling takut bila dipinta menemani sang bos bertemu tamu asing.
Pintu kokoh tepat lima meter dari meja sekretaris, dibuka dari dalam. Keluarlah asisten Iyan yang menjinjing tas kerja sang bos, lalu diikuti pria berkemeja putih polos, jas abu-abu tersampir pada lengan.
“Mbak ….” Ayunda menarik tangan Yusniar, namun malah disodori sebuah berkas dan tablet.
“Cepet sana! Kamu paling paham kan kalau tuan Daksa anti orang lelet?” Ia tarik tangan berjari lentik.
Terpaksa Ayunda berdiri, mengambil dompet dan hanya membawa ponsel sebagai barang pribadi. Dia setengah berlari menyusul kedua pria berjalan dengan langkah lebar.
‘Semoga gak mirip orang idiot nanti aku,’ batinnya sungguh berharap.
Dalam lift khusus petinggi perusahaan, hanya ada mereka bertiga. Ayunda berdiri di pojok kiri berseberangan dengan tuan Daksa. Sementara Iyan bertugas menekan tombol dan menahan pintu.
Setiap langkah bersisian dengan karyawan Wangsa group, Ayunda mengangguk singkat kala disapa tanpa suara.
Banyak pasang mata menatap kagum, ada juga memandang iri.
Jenjang karir Ayunda termasuk cepat melesatnya, cuma butuh satu tahun menjadi staf administrasi, setelahnya diangkat menjadi asisten sekretaris direksi utama.
Setelah rombongan pemimpin perusahaan berlalu, bagian resepsionis terlihat tengah mengobrol dengan pandangan tertuju pada punggung wanita berbaju pink.
“Sepertinya bener selentingan gosip yang bilang kalau bu Ayunda ada main dengan pak Iyan. Kalau murni hasil kerja kerasnya, ya paling gak sebelum jadi asisten sekretaris, lebih dulu mendampingi jajaran manager, ini langsung tingkat paling tinggi,” kata wanita cantik dengan tinggi ideal.
“Kalau dilihat-lihat, gak mungkin deh … bu Ayunda itu orangnya baik, sopan, ramah, dan cekatan. Bisa jadi memang sudah rezekinya,” timpal sang rekan, mencoba berpikir positif.
Obrolan itu terjeda karena ada tamu yang wajib disapa diperlakukan ramah.
***
“Pak Iyan, kita ketemu klien nya di restoran? Bukankah tadi bilangnya di area lapangan golf, ya?” Ayunda berjalan bersisian dengan Iyan, berbisik pelan.
“Tuan Daksa yang minta, kebetulan sudah hampir masuk jam makan siang. Bersyukur lah kita, setelah panas-panasan di bawah terik matahari demi melihat proses penjemuran campuran bahan perawatan tubuh, sekarang ngadem di ruangan ber ac sambil menikmati hidangan lezat,” Iyan terlihat sangat antusias, sesekali mengipasi wajahnya yang memerah efek berkulit putih, sedikit lama kena sinar matahari langsung bersemu kemerahan.
Sebelum bertemu rekan bisnis penting dan membahas keberlangsungan kontrak kerja, mereka terlebih dahulu singgah di pabrik Wangsa group.
Ayunda berdiri berjarak dari sang bos, mereka menunggu Iyan yang menanyakan tentang ruang vip telah dipesan dalam perjalanan kesini.
Seorang pelayan membimbing para pelanggan kelas atas, mengantarkan sampai pada ruang tertutup rapat, sesudahnya pamit undur diri.
Tanpa dipinta, Ayunda langsung paham apa yang harus dilakukan. Dia menggulung lengan blazer hingga siku, lalu mulai membilas peralatan makan menggunakan air hangat dalam teko. Dimulai dari sumpit, sendok, garpu, sampai mangkok kecil dan piring.
Tubuh Ayunda terhenyak, matanya melirik pria yang duduk di sebelahnya. Terbata-bata dia berkata. “Terima kasih, Tuan.”
Daksa Wangsa menarik ujung lengan blazer Ayunda yang hampir menyentuh permukaan air bilasan dalam mangkuk kaca. Dia mengangguk sebagai respon.
Tidak seberapa lama, klien yang ditunggu kehadirannya sudah tiba.
Ternyata apa yang ditakutkan Ayunda tidak terjadi. Baik tuan Daksa dan rekan bisnisnya, terlibat obrolan ringan, saling tanya kabar, membahas perkembangan perusahaan mereka. Sangat jauh dari bayangan wanita tengah memanjakan lidah menikmati hidangan Tionghoa.
Kerja sama pun diperpanjang hingga dua tahun kedepan.
Ayunda sangat bersyukur, hari ini berjalan lancar. Dia tidak diminta menerangkan, cuma mengangguk sesekali tertawa pelan, walaupun kurang paham tentang obrolan tengah berlangsung.
.
.
Akhir pekan pun tiba, wanita yang masih bergelung dibawah selimut tebal itu terganggu oleh berisiknya suara panggilan ponsel. Tanpa melihat siapa gerangan, langsung menekan tombol hijau.
“Yunda! Kami menuju apartemenmu, sepuluh menit lagi sampai. Siap-siap buka pintu!” sambungan ponsel langsung dimatikan.
“Sama siapa Ira?!” Ayunda histeris, terlebih mendengar kata kita, berarti bukan cuma Dwira.
“Bagaimana ini?” tanyanya pada diri sendiri sambil melirik bagian dada atas terdapat banyak bekas bercak merah, ada juga memar di lengan kiri.
.
.
Bersambung.
Selia ini nanti kayaknya bakalan jadi pawangnya pak iyan🤭.
Bu Niar...,, mqkn sudah mengetahui sesuatu yang tersembunyi d antara padak dan Yunda...,, tapi qta belum tau apa yang d sembunyikan oleh Dwira🤔.
ini gmn ya
apa karna tau mantunya hamil jd mau menetap
wis mboh lah
tauuu aja🤭
Amran tabarik-Daksa wangsa
daksa ga doyan yang udah di laletin
doyannya yg tertutup kaya Yunda hanya daksa yg buka .
ga kaya kamu di obral di ewer2 ke semua orang,,