"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"
Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.
Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.
Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.
PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 HARI PERTAMA HUKUMAN SELESAI
Suara air kotor berwarna kecokelatan beriak di dalam ember plastik merah yang ditenteng Wira dengan susah payah.
Cairan berbau karbol pinus itu sesekali tumpah membasahi lantai ubin di lorong setiap kali Wira mengambil langkah yang terlalu lebar. Otot-otot lengannya yang masih kaku akibat baku hantam siang tadi kini harus dipaksa memikul beban ember yang diisinya terlalu penuh.
Wira mendorong pintu Ruang Budaya menggunakan bahunya. Ia melangkah masuk dengan napas memburu, meletakkan ember itu di atas lantai kayu jati dengan bantingan pelan yang tetap saja menimbulkan suara berdebum.
Di seberang ruangan, Asmara sama sekali tidak menoleh. Gadis itu sudah beranjak dari meja administrasi dan kini berdiri di depan deretan rak buku bagian A.
Dengan sebuah kemoceng bulu ayam di tangan kanannya dan lap microfiber di tangan kirinya, Asmara bekerja membersihkan debu-debu yang menempel di punggung buku-buku tebal bersampul kulit tua.
Gerakannya teratur, telaten, dan sepenuhnya hening.
Wira mengusap peluh di dahinya menggunakan punggung tangan. Ia menatap kain pel kusam di dalam ember.
Seumur hidupnya, boro-boro mengepel lantai seluas lapangan basket, memegang gagang pel saja Wira nyaris tidak pernah.
Di warung sate ayahnya di Bogor, selalu ada pegawai yang mengurus urusan bersih-bersih. Ia adalah tuan muda yang hanya tahu cara membuat masalah, bukan membersihkannya.
Dengan malas, Wira menarik gagang pel itu keluar dari ember. Tanpa memerasnya dengan benar, ia langsung melemparkan ujung kain pel yang basah kuyup itu ke atas lantai kayu jati.
Slaaaassh.
Air sabun langsung menggenang, menyebar ke segala arah menciptakan kubangan kecil yang licin. Wira mengernyitkan dahi. Ia mencoba menggosokkan alat pel itu maju mundur, namun alih-alih membersihkan, kain pel yang terlalu basah itu justru membuat kotoran dan sisa debu menyatu menjadi noda lumpur tipis yang menjijikkan di atas urat kayu jati yang mengilap.
Bunyi gesekan air yang berisik itu akhirnya membuat Asmara menghentikan pekerjaannya. Gadis itu menoleh perlahan.
Matanya yang bulat dan tenang menatap genangan air sabun di lantai, lalu beralih menatap wajah Wira yang sedang menahan kesal.
Keheningan menggantung di udara selama beberapa detik.
Wira sudah bersiap menguatkan mental jika Asmara kembali menceramahinya tentang prosedur atau mendeplomasinya dengan kalimat-kalimat filosofis yang menyayat hati.
Ia sudah menyiapkan kuda-kuda pertahanan egonya.
Namun, Asmara hanya menghela napas yang sangat pelan, nyaris tak terdengar.
"Kain pelnya diperas dulu di bibir ember sampai airnya tidak menetes, Mas Wira," ucap Asmara mendatar, nadanya tidak tinggi, namun kaku dan berjarak. "Lantai kayu jati tidak boleh terlalu basah. Nanti kayunya bisa melengkung, lapuk, dan berjamur. Cukup dibuat lembap saja untuk mengangkat sisa debu."
Setelah memberikan instruksi singkat itu, Asmara kembali memutar tubuhnya menghadap rak buku. Ia tidak menawarkan bantuan. Ia tidak menunjukkan ekspresi mengejek. Ia hanya menyampaikan apa yang harus disampaikan, lalu kembali memutus interaksi.
Wira mendengus kasar. Rasa canggung yang luar biasa pekat mulai merayap naik, menyelimuti sekujur tubuhnya.
Ia menarik kembali kain pel itu ke dalam ember, lalu dengan kedua tangannya yang masih perih dan gemetar, ia memeras kain kusam itu sekuat tenaga.
Air kotor mengalir deras melewati sela-sela jarinya. Rasa perih di buku-buku jarinya yang terluka kembali menyengat, namun Wira menahan ringisannya. Ia menolak terlihat lemah di depan gadis ini.
Wira mulai mengepel kembali. Kali ini dengan gerakan yang lebih berhati-hati, meski posturnya tetap terlihat kaku dan malas-malasan.
Ia menggosok lantai itu setengah hati, sesekali berhenti untuk bersandar pada gagang pel seperti seorang kakek tua yang kehabisan napas.
Wira berharap Asmara akan menoleh lagi, mungkin menegurnya karena ia bekerja terlalu lambat, atau setidaknya memarahinya agar keheningan yang menyiksa ini bisa pecah.
Tapi Asmara seolah berubah menjadi patung yang bernapas.
Selesai dengan rak buku bagian A, gadis itu berpindah ke tengah ruangan, menuju area di mana seperangkat instrumen gamelan tergelar. Asmara melipat lengan seragam putihnya hingga sebatas siku. Dengan sangat hati-hati, ia membuka kain penutup berwarna putih yang melindungi gamelan tersebut.
Wira, yang sedang berpura-pura sibuk mengepel di sudut ruangan, mencuri pandang ke arah gadis itu.
Ia melihat bagaimana Asmara memperlakukan instrumen kuno itu dengan rasa hormat yang luar biasa. Gadis itu tidak membersihkan gamelan dengan kemoceng secara sembarangan.
Asmara menggunakan kain lembut kering, mengelap setiap bilah perunggu saron dan slenthem dengan kelembutan yang nyaris terlihat seperti sebuah belaian.
Sesekali, jari-jari lentik Asmara tanpa sengaja menyentuh bilah perunggu tersebut, menghasilkan bunyi dengungan nada slendro yang sangat pelan, mengalun magis memecah kesunyian paviliun.
Wira terpaku.
Gerakan Asmara tidak terlihat seperti seseorang yang sedang menjalani hukuman seperti Wira atau mengerjakan tugas yang membosankan.
Gerakan gadis itu layaknya sebuah tarian bisu—anggun, tertata, dan penuh dengan kedamaian.
Tidak ada keluhan.
Tidak ada helaan napas letih.
Asmara bekerja dengan ritme yang seirama dengan detak jantung kota Jogja itu sendiri; lambat namun pasti, tenang namun bertenaga.
Kontras antara mereka berdua tak pernah terlihat sejelas ini.
Wira dengan seragamnya yang kotor, kemejanya yang robek, wajahnya yang babak belur, dan hatinya yang penuh dengan gejolak pemberontakan.
Sementara Asmara, berbalut celemek cokelat sederhana, rambut dicepol rapi, berdiri di sana layaknya penjaga gawang kebudayaan yang suci, tak tersentuh oleh kekacauan dunia luar.
Wira menelan ludah. Rasa canggung di dadanya kini bermutasi menjadi sebuah intimidasi tak kasat mata.
Ia terbiasa dengan lingkungan yang bising.
Di Bogor, jika ada dua orang yang bermusuhan berada di dalam satu ruangan, maka ruangan itu akan penuh dengan adu mulut, sindiran kasar, atau bantingan barang.
Tapi permusuhan dalam diam seperti ini benar-benar menyiksa psikologis Wira.
Keheningan Asmara berteriak lebih keras daripada makian Bima siang tadi.
Wira menggertakkan giginya. Ia memutar otak mencari cara untuk memecah kebisuan ini. Ia ingin membersihkan udara yang terasa mencekik ini.
"Nggak capek lo ngelap besi karatan itu satu-satu?" Wira akhirnya bersuara. Suaranya bergema memantul di dinding ruangan.
Asmara tidak menghentikan gerakannya yang sedang mengelap bongkahan bonang. Gadis itu merespons tanpa menoleh, suaranya tetap sedingin es. "Ini perunggu, Mas Wira. Bukan besi karatan. Dan tidak, saya tidak capek."
Jawaban singkat yang menutup pintu percakapan.
Wira meremas gagang pelnya. "Biar gue aja yang ngelap itu. Lo ngepel aja di sebelah sini. Gantian."
"Tidak perlu," tolak Asmara mutlak. "Tugas Mas Wira sesuai instruksi Pak Anton adalah lantai dan rak buku. Instrumen gamelan ini sangat sensitif terhadap benturan dan goresan. Saya tidak berani mengambil risiko jika instrumen ini dibersihkan oleh orang yang tenaga dan emosinya tidak bisa dikontrol."
Sindiran itu kembali meluncur mulus, menembus pertahanan ego Wira.
Gadis ini terus-menerus mengingatkannya pada insiden perkelahian siang tadi tanpa perlu menggunakan kata-kata kasar.
Asmara sedang membangun tembok batas yang sangat tebal, menegaskan bahwa Wira tidak layak menyentuh benda berharga di ruangan ini karena Wira adalah simbol perusak.
Dada Wira terasa sesak.
Ia ingin marah, tapi ia tahu ia tidak punya hak untuk marah. Ia memang pantas mendapatkan perlakuan dingin ini.
Namun, direndahkan secara diam-diam oleh gadis yang diam-diam mulai menarik hatinya ini rasanya jauh lebih menyakitkan daripada menerima SP-3 dari kepala sekolah.
Wira menundukkan kepalanya, kembali mengayunkan kain pelnya di atas lantai kayu.
Kali ini, ia tidak lagi mengeluh. Ia menggosok lantai itu dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Ia membiarkan keringatnya menetes jatuh, bercampur dengan air pel.
Jika fisik yang lelah adalah harga yang harus ia bayar untuk membuktikan bahwa ia bukan sekadar preman perusak, maka untuk pertama kalinya, ia akan membayarnya lunas sore ini.
Sore di hari pertama hukumannya berjalan.
.....
.....
Jarum jam di dinding terus merayap lambat. Pukul empat tiga puluh. Pukul empat empat puluh lima.
Lantai kayu jati itu perlahan mulai bersih. Meski tidak sempurna dan masih ada beberapa jejak air yang mengering meninggalkan garis tipis, setidaknya tidak ada lagi tumpukan debu di sana.
Wira membersihkan rak buku bagian bawah dengan kain kering, berjongkok sambil menahan pegal di punggungnya.
Tepat pukul lima sore, bel sekolah berbunyi pendek sebanyak tiga kali, menandakan batas waktu kegiatan di luar jam pelajaran telah usai.
Wira menjatuhkan kain lapnya ke dalam ember. Ia berdiri perlahan, merenggangkan pinggangnya yang terasa mau patah. Napasnya tersengal pelan.
Ia menoleh ke arah Asmara.
Gadis itu sedang menutup kembali gamelan dengan kain putih secara hati-hati. Setelah memastikan semuanya rapi, Asmara berjalan kembali ke meja administrasi.
Ia melepaskan celemek cokelatnya, melipatnya dengan rapi, lalu membiarkan rambutnya yang sedari tadi dicepol kembali tergerai jatuh ke punggungnya. Aroma melati yang khas kembali menguar tipis di udara, entah bagaimana bisa bertahan setelah dua jam membersihkan debu.
Asmara mengambil papan absensi. Ia melirik sekilas ke arah lantai yang baru saja dipel Wira, lalu menatap rak buku bagian bawah.
Tidak ada senyum pujian.
Gadis itu hanya membubuhkan tanda centang di sebelah nama Wira Aji Pratama dengan pulpennya.
"Waktu hukuman hari ini sudah selesai," ucap Asmara, akhirnya menatap Wira kembali. Kedinginan di matanya belum mencair.
"Mas Wira boleh pulang. Besok, jadwal kita mulai lagi jam tiga sore tepat. Harap datang tidak terlambat."
Wira mengambil tas ranselnya dari kursi. Ia mencangklongkannya di satu bahu, menatap Asmara yang sedang merapikan tas sekolahnya sendiri.
Ia ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang bisa menjelaskan segalanya, atau setidaknya mengucapkan terima kasih karena gadis itu tidak melaporkan sifat malas-malasannya di awal tadi.
Namun, pita suaranya seolah terikat erat.
"Lo... pulang naik apa?" Hanya itu kalimat bodoh yang berhasil keluar dari mulut Wira.
Asmara menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia mengangkat wajahnya, menatap Wira dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Saya bawa sepeda, Mas Wira. Dan sepertinya itu bukan urusanmu, Mas."
Wira menelan ludah.
Tertolak telak.
Asmara melangkah melewati Wira tanpa sepatah kata lagi, meninggalkan aroma wangi yang mengusik hati pemuda itu.
Pintu paviliun tertutup dengan bunyi debum pelan, meninggalkan Wira sendirian di dalam Ruang Budaya yang kini bersih, namun terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.
Pemuda itu menatap ke arah pintu kayu yang tertutup rapat.
Hari pertama hukumannya telah berakhir, tapi Wira merasa hukumannya yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Ia harus bertahan di dalam neraka kebekuan ini selama sisa dua puluh sembilan hari ke depan...
Berhadapan dengan gadis yang tak bisa ia rayu...
Tak bisa ia marahi...
Dan celakanya...
Tak bisa ia keluarkan dari kepalanya.