NovelToon NovelToon
Lima Kakak Valerius

Lima Kakak Valerius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: mona28

Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SERANGAN DI MANSION VALERIUS

Suara ledakan mengguncang seluruh mansion Valerius.

Kaca-kaca jendela bergetar keras. Lampu kristal besar yang menggantung di langit-langit ruang utama bergoyang, sementara debu berjatuhan dari sudut dinding. Dalam hitungan detik, seluruh mansion yang sebelumnya terang benderang berubah menjadi gelap gulita.

Teriakan para pelayan terdengar dari kejauhan.

Aren berdiri kaku di dekat sofa, menggenggam surat peninggalan ibunya erat-erat. Jantungnya berdebar begitu cepat hingga dadanya terasa sesak. Ia belum pernah mengalami sesuatu seperti ini. Memang, ia tahu keluarga yang mengadopsinya bukan keluarga biasa. Namun, selama ini, kelima kakaknya selalu berusaha membuatnya merasa bahwa mansion itu adalah tempat paling aman di dunia.

Sekarang, seseorang baru saja meledakkan sesuatu di halaman rumah mereka dan berteriak meminta dirinya diserahkan.

Pewaris Ravencroft.

Dua kata itu terus bergema di kepalanya.

“Aren, kemari!”

Suara Raka terdengar tegas dari tengah kegelapan.

Belum sempat Aren bergerak, Riven sudah meraih pergelangan tangannya dan menariknya ke belakang tubuhnya.

“Jangan bergerak sendirian, Dek.” Nada suara Riven yang biasanya santai kini berubah serius. “Tetap di belakangku. Apa pun yang terjadi, jangan menjauh.”

“Apa mereka datang untuk membunuhku?” tanya Aren lirih.

Riven menoleh. Dalam cahaya merah darurat yang mulai menyala di sepanjang dinding, Aren bisa melihat rahang kakaknya mengeras.

“Selama aku masih bernapas, tidak akan ada seorang pun yang menyentuhmu.”

“Riven,” tegur Raka.

Sang kakak tertua muncul dari sisi ruangan sambil memegang senjata yang diarahkan ke lantai. Tatapannya menyapu setiap sudut, menghitung posisi pintu, jendela, dan kemungkinan jalur masuk penyerang.

“Darren, hubungi tim keamanan. Minta mereka menutup seluruh akses keluar dan masuk. Jangan biarkan siapa pun mendekati sayap timur.”

“Sudah kulakukan.” Darren berdiri dengan ponsel di telinga. Meski wajahnya tegang, suaranya tetap tenang saat memberikan instruksi kepada kepala keamanan. “Aku juga sedang menghubungi pihak berwenang untuk menangani ancaman terhadap keluarga kita.”

“Kian, hidupkan sistem cadangan.”

“Sedang kuusahakan.” Kian sudah duduk di depan panel keamanan yang terpasang di dinding. Jari-jarinya bergerak cepat pada layar kecil perangkatnya. “Ledakan itu bukan sekadar untuk memadamkan listrik. Mereka memutus beberapa jalur utama dan mengacaukan jaringan internal. Seseorang tahu persis bagaimana sistem mansion ini bekerja.”

Kalimat terakhir membuat Raka terdiam sesaat.

Seseorang tahu sistem keamanan mereka.

Itu berarti para penyerang mungkin telah mempelajari mansion dari dekat. Mereka tahu letak ruang kendali, jalur listrik, bahkan waktu yang tepat untuk menyerang.

Atau, kemungkinan yang lebih buruk, ada orang yang memberikan informasi dari dalam.

“Leon, periksa Aren,” perintah Raka.

Leon segera mendekat. Ia memeriksa wajah, lengan, dan bahu adik bungsunya untuk memastikan tidak ada luka akibat ledakan.

“Kamu terkena sesuatu?”

Aren menggeleng.

“Pusing? Sulit bernapas?”

“Tidak, Kak.”

“Bagus. Tetap dekat denganku atau Riven. Jangan mencoba menjadi pahlawan malam ini.”

Aren menunduk menatap surat yang masih berada dalam genggamannya.

“Surat ini…”

“Apa?” Leon mengikuti arah pandangannya.

“Mereka datang tepat setelah Ibu mengirimkan surat ini melalui Pak Viktor.” Suara Aren bergetar. “Bagaimana kalau mereka tahu isi suratnya? Bagaimana kalau mereka ingin mengambilnya?”

Leon memandang kertas itu, lalu menatap adiknya dengan lembut.

“Kalau surat itu penting, kita akan menjaganya. Tapi keselamatanmu lebih penting daripada selembar kertas, mengerti?”

Aren mengangguk, meskipun ia belum sanggup menghilangkan rasa takut yang merayapi dadanya.

Di seberang ruangan, Viktor Soren berdiri di dekat jendela yang tirainya tertiup angin. Wajah lelaki itu berubah pucat ketika mendengar langkah-langkah berat di luar mansion.

“Mereka tidak seharusnya menemukan Aren secepat ini,” gumamnya.

Raka langsung menoleh tajam.

“Jelaskan.”

Viktor tidak segera menjawab. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku jasnya, sebuah lencana logam berbentuk kepala serigala dengan garis hitam melintang di bagian tengahnya.

Ketika melihat lencana itu, wajah Adrian Valerius berubah.

“Dari mana kau mendapatkannya?” tanya Adrian.

Viktor menggenggam lencana itu erat-erat.

“Dari salah satu orang yang dulu bekerja untuk Armand.”

Nama ayah kandung Aren membuat suasana semakin tegang.

“Apakah mereka anak buah Ravencroft?” tanya Darren.

“Bukan.” Viktor menggeleng pelan. “Setidaknya, bukan Ravencroft yang kukenal. Lambang itu milik kelompok yang seharusnya sudah dibubarkan tujuh belas tahun lalu.”

Kian akhirnya mengangkat wajah dari panel keamanan.

“Proyek Serigala Hitam?”

Viktor menatapnya tajam.

“Kau tahu nama itu?”

“Aku menemukan arsipnya di jaringan lama.” Kian menyipitkan mata. “Sebagian besar berkas sudah dihapus, tetapi aku menemukan catatan tentang sebuah operasi yang melibatkan keluarga Ravencroft dan Valerius. Aku belum sempat membaca semuanya.”

Adrian mengepalkan tangan.

“Jadi, mereka masih hidup.”

Belum sempat siapa pun bertanya lebih jauh, suara tembakan terdengar dari arah pintu depan.

DOR!

Seorang penjaga berteriak melalui alat komunikasi.

“Penyusup di gerbang utama! Mereka bersenjata!”

Raka langsung bergerak.

“Semua orang ke posisi masing-masing!”

Ia menatap kelima adiknya satu per satu. Bahkan dalam situasi genting seperti ini, tatapan Raka masih sempat berhenti pada Aren.

“Riven, bawa Aren ke ruang perlindungan bawah tanah. Leon ikut bersama mereka. Darren, tetap di ruang kendali sampai sistem komunikasi pulih. Kian, cari tahu siapa yang mematikan jaringan. Ayah, kita amankan ruang utama.”

“Aku tidak mau pergi,” kata Aren tiba-tiba.

Semua mata tertuju kepadanya.

Riven mengerutkan kening. “Ini bukan waktunya membantah, Dek.”

“Aku tidak ingin kalian menghadapi semuanya karena aku sementara aku hanya bersembunyi.”

“Aren,” ujar Leon lembut, “ini bukan soal kamu berani atau tidak.”

“Tapi mereka datang untukku!”

“Justru karena itu,” potong Riven. “Kami tidak akan membiarkanmu berada di tengah baku tembak.”

Aren menggigit bibir. Matanya mulai memerah, tetapi ia berusaha keras menahan air mata.

“Aku bahkan tidak tahu siapa diriku sebenarnya,” bisiknya. “Aku tidak tahu kenapa ibuku harus pergi, kenapa ayah kandungku menjadi musuh keluarga ini, atau kenapa orang-orang itu memburuku. Sekarang kalian semua harus mempertaruhkan nyawa karena rahasia yang bahkan tidak kupahami.”

Riven terdiam.

Kemudian, ia berjongkok agar sejajar dengan wajah adiknya.

“Dengarkan aku baik-baik, Aren. Kamu bukan beban. Kamu bukan kesalahan. Dan kamu tidak perlu meminta maaf karena dilahirkan.”

Aren menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu adik kami,” lanjut Riven. “Itu saja sudah cukup. Kami melindungimu bukan karena surat, bukan karena gelang serigala, dan bukan karena nama Ravencroft. Kami melindungimu karena kami menyayangimu.”

Untuk sesaat, suara tembakan dan langkah para penjaga seolah menjauh dari pendengaran Aren.

Ia hanya mendengar suara kakaknya.

Riven mengusap rambutnya sekilas, lalu berdiri kembali.

“Sekarang, ayo. Kita pergi bersama.”

Aren akhirnya mengangguk.

Namun, sebelum mereka sempat mencapai lorong, sebuah suara asing terdengar dari pengeras suara mansion yang mendadak menyala.

“Adrian Valerius!”

Semua orang berhenti.

Suara itu berat, tenang, dan terdengar seperti seseorang yang sama sekali tidak takut berada di wilayah musuh.

“Kami tidak datang untuk membunuh seluruh keluargamu. Kami hanya menginginkan anak yang kalian sembunyikan selama tujuh belas tahun.”

Aren merasakan darahnya seakan membeku.

“Serahkan Aren Ravencroft,” lanjut suara itu. “Serahkan gelang serigalanya, dan kami akan meninggalkan mansion ini.”

Riven langsung berdiri di depan Aren, sementara Raka mengangkat tangan, memberi isyarat kepada semua orang agar tetap diam.

Adrian melangkah ke tengah ruangan.

“Kalau kalian menginginkan anak itu,” jawabnya keras, “kalian harus melewati mayatku terlebih dahulu.”

Terdengar tawa pendek dari pengeras suara.

“Masih sama seperti dulu, Adrian. Selalu merasa bisa menyelamatkan semua orang.”

Kemudian suara itu berubah dingin.

“Tapi kali ini, kau tidak akan bisa menyelamatkan mereka semua.”

Lampu merah darurat berkedip tiga kali.

Kian mendadak menoleh ke panel.

“Raka! Ada pergerakan di lorong belakang!”

Suara benturan keras menyusul dari arah sayap timur.

Para penjaga berteriak memberi peringatan. Pintu samping yang terbuat dari kayu tebal bergetar ketika sesuatu menghantamnya dari luar.

Raka segera mengarahkan senjatanya ke lorong.

“Riven, sekarang!”

Riven menggenggam tangan Aren dan berlari bersama Leon menuju koridor bawah tanah. Namun, ketika mereka melewati tangga menuju ruang perlindungan, seorang pria berpakaian hitam muncul dari balik pilar.

Pria itu mengangkat senjata.

“Ketemu juga.”

Semuanya terjadi begitu cepat.

Riven mendorong Aren ke belakang tubuhnya. Leon menarik adiknya menjauh, sementara Riven menerjang penyerang sebelum pria itu sempat mengarahkan senjatanya dengan benar.

Mereka jatuh menghantam lantai. Senjata penyerang terlepas dan meluncur ke bawah meja. Riven memukul lengan pria itu hingga ia kehilangan pegangan, lalu menahannya sampai salah satu penjaga tiba.

“Leon, bawa Aren pergi!” teriak Riven.

Namun, Aren tidak langsung bergerak.

Ia melihat sesuatu yang terjatuh dari saku penyerang: sebuah foto kecil yang tepinya sudah menguning.

Foto itu memperlihatkan seorang bayi yang dibungkus selimut putih.

Di pergelangan tangan bayi tersebut terdapat gelang dengan lambang serigala.

Gelang yang sama seperti miliknya.

“Kak…” Aren menunjuk foto itu dengan tangan gemetar.

Leon segera menariknya menjauh.

“Jangan sentuh apa pun!”

Tetapi penyerang yang tergeletak di lantai mendadak tertawa kecil. Meski tangannya ditahan, ia masih sempat menatap Aren dengan senyum aneh.

“Akhirnya,” katanya terengah-engah. “Pewaris itu benar-benar masih hidup.”

Riven menekan bahunya ke lantai.

“Siapa yang mengirimmu?”

Pria itu hanya tertawa.

“Kalian semua sudah terlambat.”

“Jawab!”

“Dia sudah tahu semuanya.”

Riven hendak mendesaknya lagi, tetapi pria itu mendadak kehilangan kesadaran. Para penjaga segera menahannya dan memanggil bantuan medis, sementara Leon memeriksa kondisinya.

“Jangan bergerak sembarangan!” seru Leon kepada para penjaga. “Jangan beri dia apa pun sebelum aku memeriksanya.”

Aren memandang foto yang kini diamankan salah satu penjaga. Jari-jarinya mencengkeram surat ibunya sampai kertas itu sedikit terlipat.

Mereka bukan sekadar mengincar dirinya.

Mereka memiliki foto masa kecilnya. Mereka mengetahui gelangnya. Mereka tahu bahwa ia tinggal bersama keluarga Valerius.

Dan seseorang di luar sana telah menunggunya selama tujuh belas tahun.

Di ruang utama, keadaan semakin kacau.

Darren berhasil menghubungkan kembali sebagian komunikasi internal, sementara Kian menemukan sesuatu yang membuat wajahnya berubah serius.

“Raka, aku berhasil mengakses kamera luar.”

“Berapa banyak penyusup?”

“Setidaknya dua belas orang yang terlihat. Tapi ada masalah.” Kian memperbesar gambar pada layar tabletnya. “Mereka tidak bergerak seperti kelompok bayaran biasa. Mereka tahu titik buta kamera, jalur patroli penjaga, bahkan posisi sensor gerak.”

Darren mengakhiri panggilannya dan mendekat.

“Berarti ada yang memberi mereka denah mansion.”

“Benar.” Kian menggeser layar. “Dan seseorang baru saja mengakses sistem keamanan kita menggunakan kode administrator.”

Adrian menatapnya tajam.

“Siapa yang memiliki kode itu?”

“Selain aku, Raka, dan Ayah, hanya ada satu akun lama yang masih tercatat.” Kian berhenti sejenak. “Akun itu milik kepala keamanan kita yang meninggal lima tahun lalu.”

Hening.

Raka menurunkan senjatanya sedikit, tetapi ekspresinya justru semakin dingin.

“Periksa seluruh akses. Jangan hapus apa pun. Aku ingin tahu dari mana kode itu digunakan.”

“Sedang kulakukan.”

Sementara itu, di lorong bawah tanah, Aren duduk di bangku dekat pintu ruang perlindungan. Leon telah memeriksanya sekali lagi dan memastikan bahwa ia tidak terluka. Riven juga sudah kembali setelah menyerahkan penyerang kepada penjaga.

Namun, tidak satu pun dari mereka berhasil membuat Aren merasa tenang.

Ia membuka surat ibunya, membaca kembali kalimat yang sejak tadi paling melekat di pikirannya.

Temukan kebenaran tentang malam ketika keluarga Ravencroft runtuh.

Apa sebenarnya yang terjadi malam itu?

Mengapa ibunya harus menyembunyikannya?

Dan siapa orang yang menginginkan gelang serigala miliknya?

Aren mengusap gelang hitam di pergelangan tangannya. Untuk pertama kalinya, benda yang selama ini ia anggap sebagai satu-satunya peninggalan masa kecil terasa seperti sebuah kunci menuju pintu yang tidak pernah ingin ia buka.

Riven duduk di sebelahnya.

“Masih memikirkan surat itu?”

Aren mengangguk.

“Kak Riven, kalau ternyata keluargaku dulu melakukan sesuatu yang jahat, apa Kakak akan membenciku?”

Riven langsung menoleh.

“Kenapa kamu menanyakan hal seperti itu?”

“Karena aku anak Armand Ravencroft.”

“Dan aku Riven Valerius.” Ia menyandarkan punggung ke dinding. “Ayah kita berbeda, masa lalu kita berbeda, tetapi itu tidak membuatmu menjadi musuhku.”

“Tapi bagaimana kalau suatu hari aku harus memilih antara kalian dan keluarga kandungku?”

“Kalau suatu hari kamu benar-benar menghadapi pilihan itu, kita akan membicarakannya bersama.” Riven menepuk kepala Aren pelan. “Tapi jangan membuat keputusan untuk sesuatu yang belum kamu ketahui. Kamu berhak mengetahui kebenaran sebelum siapa pun memintamu memilih.”

Aren terdiam cukup lama.

Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia menyandarkan kepala ke bahu kakaknya.

Riven tidak menggodanya seperti biasanya. Ia hanya membiarkan Aren bersandar, satu tangannya melingkari bahu adiknya untuk menenangkan.

Beberapa menit kemudian, pintu ruang perlindungan terbuka.

Raka masuk bersama Darren dan Kian. Wajah mereka masih serius, tetapi suara tembakan sudah berhenti. Leon segera berdiri untuk menanyakan keadaan di atas.

“Situasi terkendali?” tanyanya.

“Untuk sementara,” jawab Raka. “Sebagian besar penyerang mundur setelah tim keamanan mengepung halaman belakang. Dua orang berhasil ditangkap, sementara sisanya melarikan diri melalui hutan di sisi utara.”

“Dan Ayah?” tanya Aren cepat.

“Bersama tim keamanan di ruang utama. Ayah baik-baik saja.” Darren mendekati Aren. “Kamu sendiri bagaimana?”

“Aku baik, Kak.”

Darren mengamati wajahnya beberapa saat, seolah memastikan bahwa Aren tidak sekadar mengatakan hal itu demi menenangkan mereka.

“Kalau takut, kamu boleh mengatakannya. Tidak perlu berpura-pura kuat di depan kami.”

Aren menelan ludah.

“Aku takut.”

Pengakuan sederhana itu membuat ekspresi kelima kakaknya melunak.

Raka berjongkok di hadapan Aren.

“Bagus. Jangan pernah merasa harus menyembunyikan ketakutanmu dari keluarga sendiri.”

“Tapi aku tidak ingin menjadi alasan kalian terluka.”

“Kami akan berhati-hati,” jawab Raka. “Dan mulai malam ini, keamanan mansion akan diperiksa ulang. Tidak ada yang boleh masuk tanpa pemeriksaan langsung dariku.”

Kian mengangkat tabletnya.

“Ada satu hal lagi yang harus kalian lihat.”

Ia menampilkan gambar yang berhasil dipulihkan dari kamera koridor. Rekaman itu memperlihatkan penyerang yang tertangkap beberapa saat sebelum memasuki mansion. Wajahnya sebagian tertutup, tetapi ada sesuatu yang terlihat jelas di tangan kirinya.

Sebuah cincin perak dengan ukiran lambang serigala.

Viktor, yang baru saja memasuki ruangan bersama Adrian, langsung berhenti ketika melihat gambar tersebut.

“Itu tidak mungkin,” gumamnya.

Adrian menatapnya.

“Kau mengenali cincin itu?”

Viktor tampak ragu, seolah sedang mempertimbangkan apakah ia berani mengucapkan jawaban yang sudah lama ia sembunyikan.

“Aku pernah melihatnya pada seseorang yang sangat dekat dengan Armand Ravencroft,” katanya akhirnya. “Seseorang yang dipercaya oleh keluarga Ravencroft dan keluarga Valerius.”

Raka berdiri perlahan.

“Siapa namanya?”

Viktor memandang Adrian, lalu Aren.

“Kalau aku menyebut namanya sekarang, kalian mungkin tidak akan percaya.”

“Coba saja,” ujar Raka dingin.

Viktor menarik napas panjang.

“Orang itu bukan hanya mengetahui rahasia kedua keluarga. Dia juga memiliki akses ke informasi yang bisa menghancurkan kalian dari dalam.”

Aren merasakan tengkuknya meremang.

“Apakah orang itu masih hidup?” tanyanya.

Viktor menatap gelang hitam di pergelangan tangannya.

“Aku tidak tahu.”

Kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop kecil dari saku dalam jasnya. Amplop itu berbeda dari surat ibunya yang telah diterima Aren sebelumnya. Permukaannya memiliki bekas terbakar di salah satu sudut, sedangkan bagian depannya memuat lambang serigala yang sama.

“Namun, ada sesuatu yang ibumu tinggalkan untuk keadaan seperti ini.”

Aren menerima amplop tersebut dengan hati-hati.

Di bagian belakangnya terdapat tulisan tangan yang sudah pudar.

Untuk Aren, ketika mereka akhirnya menemukanmu.

Napas Aren tercekat.

“Ini tulisan Ibu.”

Adrian mendekat, tetapi tidak mengambil amplop itu.

“Bukalah jika kamu siap,” katanya. “Tidak seorang pun di sini akan memaksamu.”

Aren menatap kelima kakaknya bergantian.

Raka berdiri tegak di samping Adrian. Darren meletakkan tangannya di bahu Aren. Leon tetap berada di dekatnya, sementara Kian dan Riven menunggu tanpa mendesak.

Untuk pertama kalinya malam itu, Aren merasa ia tidak harus menghadapi rahasia tersebut sendirian.

Ia membuka amplop itu perlahan.

Di dalamnya hanya terdapat satu lembar kertas dan sebuah foto lama. Foto tersebut memperlihatkan dua pria berdiri berdampingan di depan sebuah bangunan besar. Salah satunya adalah Armand Ravencroft. Pria yang lain membuat Adrian kehilangan kata-kata.

Sebab pria itu adalah ayahnya sendiri.

Ayah Adrian Valerius, kakek dari kelima kakak Aren.

Di bawah foto tersebut, ibunya menuliskan satu kalimat:

Orang yang menghancurkan keluarga kita adalah orang yang kalian semua panggil keluarga.

Aren mengangkat wajahnya dengan tangan gemetar.

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Bahkan Raka, yang biasanya selalu memiliki jawaban untuk setiap keadaan, hanya menatap foto itu dalam diam.

Malam itu, mereka akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada serangan di mansion.

Musuh mereka mungkin tidak sedang berdiri di luar pagar.

Bisa jadi, selama ini, musuh itu telah duduk bersama mereka di meja makan, tersenyum kepada mereka, dan berpura-pura menjadi bagian dari keluarga.

Dan jika tulisan Elena Ravencroft benar, maka rahasia terbesar keluarga Valerius bukanlah siapa Aren sebenarnya.

Melainkan siapa yang selama ini mereka percayai.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!