NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Bu Aida Pergi

Mobil Kamil keluar dari gedung kantornya. Tangannya menggenggam setir lebih erat dari biasanya, seolah ada sesuatu yang ingin ia rem, tapi tak tahu bagaimana caranya. Bukannya langsung pulang, ia justru melajukan mobilnya tanpa arah yang jelas.

Jalanan siang itu cukup ramai, tapi pikirannya jauh lebih riuh. Bayangan kejadian di kantor terus berputar di kepalanya—tatapan orang-orang, bisik-bisik yang seolah menusuk, dan perasaan kehilangan yang tak mau ia akui.

Kamil terus mengemudi, berputar dari satu jalan ke jalan lain. Entah sudah berapa lama, hingga akhirnya rasa lelah memaksanya berhenti.

Mobilnya masuk ke sebuah coffee shop di pinggir jalan.

Ia duduk di sudut, memesan kopi dan beberapa snack. Tangannya sibuk, tapi pikirannya kosong. Sesekali ia menatap layar ponselnya, berharap ada sesuatu yang bisa mengalihkan isi kepalanya. Tapi tak ada yang benar-benar menarik perhatiannya.

Waktu berjalan tanpa terasa.

Setelah perutnya terisi dan rasa lelahnya sedikit mereda, Kamil memutuskan untuk pulang. Matahari sudah mulai condong, tanda waktu Dzuhur hampir tiba.

Mobilnya melaju masuk ke halaman rumah. Namun, begitu berhenti, keningnya langsung berkerut.

Sepi.

Tak ada satu pun mobil di garasi. Padahal tadi pagi, saat ia berangkat, masih ada tiga mobil terparkir—mobil papanya, mobil Iqbal, dan mobil Hakim.

"Aneh...” gumamnya pelan.

Apa kedua abangnya sudah pulang? Atau justru pergi bersama?

Baru saja dia turun dari mobil, seorang pembantu rumah tangga bergegas menghampiri dengan wajah cemas.

"Mas... ibu kena serangan jantung barusan, sekarang lagi dibawa ke rumah sakit pusat.”

Langkah Kamil terhenti sejenak.

"Kena serangan jantung lagi? Perasaan tadi sudah baikan?” tanyanya datar, tanpa ekspresi yang jelas.

"Kurang tahu, Mas... tapi tadi Mas Hakim dan Mas Iqbal marah-marah.”

Kamil terdiam sebentar. Namun bukan karena panik. Lebih seperti... tidak peduli.

"Ya sudah. Kalau Bang Iqbal dan Bang Hakim sudah di rumah sakit, nanti aku nyusul aja,” jawabnya ringan. “Sekarang mau istirahat dulu.”

Tanpa menunggu respon, dia langsung melangkah masuk ke dalam rumah.

Rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Tak ada suara. Tak ada kehangatan. Kamil berjalan menuju kamarnya dengan langkah malas. Pintu dibuka, lalu ditutup kembali tanpa suara.

Dia bahkan tak mengganti pakaiannya. Langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Matanya terpejam. Dan dalam hitungan detik, dia sudah tertidur.

Seolah tak ada yang terjadi. Seolah tak ada yang perlu dipedulikan. Di luar sana, seseorang sedang berjuang antara hidup dan mati.

Tapi di dalam kamar itu, Kamil memilih tenggelam dalam lelahnya sendiri… atau mungkin, lari dari kenyataan yang tak ingin dia hadapi.

Kamil tak tahu sudah berapa lama dia terlelap.

Tubuhnya masih terasa berat, pikirannya masih setengah kosong, saat tiba-tiba—

BUGH!

Sebuah pukulan keras mendarat di wajahnya.

"Ahh—!”

Kamil terbangun dengan kaget. Rasa perih langsung menjalar dari pipinya. Refleks, tangannya mengusap wajah yang terasa panas.

Matanya yang masih buram perlahan fokus.

Dan dia tertegun. Di hadapannya berdiri Iqbal dan Hakim.

Keduanya menatapnya dengan sorot mata yang tak pernah ia lihat sebelumnya—merah, penuh amarah… dan luka.

"Brengsek!” suara Iqbal bergetar, lalu pecah menjadi tangisan. “Anak durhaka… malah enak-enak tidur di sini! Tahu nggak… mama… mama masuk rumah sakit gara-gara kamu!”

Kamil terdiam. Dadanya terasa sesak, tapi bukan karena panik—lebih karena bingung dengan situasi yang mendadak berubah.

"Apa? Mama?” ucapnya pelan, seolah baru mencerna.

"Semua ini salah kamu, tolol!”

Belum sempat Kamil bereaksi, pukulan kedua mendarat. Kali ini dari Hakim.

BUGH!

Kepalanya terhuyung ke samping.

"Kenapa nggak belajar dari kemarin, hah?” suara Hakim tajam, penuh emosi yang meluap. “Kamu sudah viral karena menceraikan Raya setelah akad. Kurang apa itu? Kurang hancur nama keluarga kita?”

Napas Hakim memburu.

"Tapi kamu malah tambah parah! Bukannya minta maaf… kamu malah ngomong yang bukan-bukan! Sekarang viral lagi! Dan akibatnya—” suaranya bergetar, “mama kena serangan jantung kedua!”

Kamil menelan ludah. Wajahnya masih terasa nyeri, tapi kata-kata itu jauh lebih menghantam.

"Emang aku ngomong apa? Aku nggak ngomong apa-apa…”

"Masih ngelak juga kamu?”

Iqbal langsung menyodorkan ponselnya dengan tangan gemetar.

"Lihat ini!”

Kamil menatap layar itu.

Video.

Dirinya sendiri.

Di kantor.

Suara dan wajahnya jelas—tak terbantahkan.

"dari awal aku udah niat bakal ceraiin dia setelah akad."

"…Aku sadar sesadar-sadarnya menceraikan dia…”

"…dia itu cuma mau menikah sama aku karena aku kaya…”

"…Aku nggak perlu minta maaf…”

Setiap kata terdengar seperti palu yang menghantam kepalanya sendiri.

Wajah Kamil menegang.

"Brengsek…” gumamnya pelan. “Ternyata ada yang merekam… dan mempostingnya di media sosial…”

"Mau mengelak lagi, hah?!” bentak Hakim.

Kali ini bukan hanya marah. Tapi kecewa. Sangat kecewa.

Iqbal menunduk, bahunya naik turun menahan tangis.

"Kamu tahu nggak…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar, “mama nonton itu…”

Kamil membeku.

"Beliau lihat sendiri… anaknya… ngomong kayak gitu tentang istrinya…” lanjut Iqbal, air matanya jatuh lagi. “Mama langsung sesak… dan…”

Kalimat itu tak sanggup dia selesaikan. Ruangan itu mendadak terasa sempit. Sunyi… tapi penuh tekanan.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi—

Kamil kehabisan kata. Dan mungkin…untuk pertama kalinya juga—dia mulai sadar…

bahwa apa yang dia anggap sepele…telah menghancurkan begitu banyak hal.

"Ayo cepat ganti baju, kita ke rumah sakit!” Iqbal memaksanya, suaranya masih berat oleh emosi.

"Iya…” jawab Kamil singkat.

Tanpa banyak bicara, dia bangkit. Langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Dia masuk ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba menghapus sisa kantuk… dan mungkin juga kekacauan di kepalanya.

Namun bayangan video itu terus terngiang. Tatapan kakak-kakaknya. Dan satu hal yang mulai membuat dadanya tak nyaman—mama nonton itu…

Kamil cepat-cepat mengganti baju, lalu keluar tanpa berkata apa-apa. Mereka bertiga langsung berangkat.

Sepanjang perjalanan, tak ada satu pun yang bicara. Hanya suara mesin mobil… dan napas yang terasa sesak.

Begitu sampai di rumah sakit, Hakim dan Iqbal hampir berlari menuju ruang ICU. Kamil mengikuti di belakang, langkahnya tertinggal sedikit, seolah ada rasa enggan yang tak ia pahami.

Namun langkah mereka mendadak terhenti. Di depan lorong ICU—Fathya menjerit histeris.

"Tidak… tidak… Mamaa…!” suaranya pecah, tubuhnya hampir roboh jika tidak ditahan oleh Sarah.

Sarah memeluknya erat, berusaha menenangkan, meski air matanya sendiri tak berhenti mengalir.

"Ada apa, Sar?” Hakim mendekat cepat, napasnya memburu.

Sarah menoleh, wajahnya basah oleh air mata.

"Mama, Bang… mama…”

"Mama kenapa?” Hakim dan Iqbal bertanya hampir bersamaan, suara mereka penuh desakan… dan ketakutan yang mulai merayap.

Sarah menggeleng pelan. Bibirnya bergetar.

Dan dengan suara yang nyaris tak terdengar, dia berkata—

"Mama telah pergi…”

Hening. Seolah waktu berhenti.

"Apa…?” suara Iqbal lirih, hampir seperti bisikan yang hilang ditelan udara.

Tubuhnya langsung lemas. Dia mundur selangkah, lalu dua langkah. Tangannya gemetar, wajahnya pucat.

Hakim membeku di tempat. Matanya menatap kosong ke arah Sarah, seolah otaknya menolak memproses kalimat itu.

"Pergi…?” ulangnya pelan.

Tak ada jawaban. Hanya tangis.

Hanya suara Fathya yang semakin histeris.

Dan detik itu—

sesuatu runtuh.

Iqbal menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah, keras, tanpa ditahan lagi.

Hakim menggeleng pelan, mundur beberapa langkah. Nafasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan.

"Enggak…” gumamnya. “Enggak… ini nggak mungkin…”

Namun kenyataan di depan mata terlalu nyata untuk disangkal.

Mama mereka—sudah tidak ada.

Di tengah kekacauan itu, Hakim tiba-tiba menoleh. Tatapannya langsung jatuh pada Kamil.

Yang berdiri diam. Kaku. Tak bergerak.

Tatapan Hakim berubah. Dari kosong…menjadi penuh amarah. Dalam beberapa langkah cepat, dia menghampiri Kamil—

BUGH!

Satu pukulan keras kembali mendarat di wajahnya.

Kamil terhuyung, hampir jatuh.

"Ini semua gara-gara kamu!” teriak Hakim, suaranya pecah oleh emosi yang tak lagi terbendung.

"Kalau bukan karena kamu—” napasnya terputus, "mama nggak akan kayak gini!”

Kamil tak melawan. Tak membalas. Ia hanya berdiri, menerima pukulan itu… seperti tubuhnya kehilangan reaksi.

Iqbal yang melihat itu tak menghentikan. Air matanya terus jatuh, tapi kali ini ia juga menatap Kamil dengan penuh luka.

"Kamu yang bunuh mama…” ucapnya lirih, tapi tajam seperti pisau.

Kalimat itu—lebih menyakitkan dari pukulan mana pun.

Kamil membeku.

Dunia seolah runtuh di sekelilingnya.

Suara tangis, teriakan, langkah kaki orang-orang di lorong rumah sakit—

semuanya terasa jauh.

Yang tersisa hanya satu hal di kepalanya—

mama… sudah pergi…

Dan untuk pertama kalinya—

hati yang selama ini terasa keras itu retak. Perlahan. Menyakitkan. Dan tak bisa diperbaiki.

1
aku
semoga makin sukses ray 🤗
Salsa Billa
thor mana bisa sekli ucap talk 3 thor?
Salsa Billa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 biar prosesnya gk ribet ya thor
total 2 replies
aku
ini kisahnya komil kah jadinya???? 🙄
Nana Geulise
buat kamil : iya jangan dilepas amanda biar tahu dulu topengnnya amanda.🫢🫢🫢
partini
pasti berjodoh dong kalian serasi 1000%,,Thor raya ngilang terus deh gantian dong Jagan begundal itu terus sinopsisnya kan kan raya kebanting cerita nya kamil
Anonim
nanti kan langsung headshot
Anonim: hah??? Ochinchin??
total 4 replies
lLy trililly
thour jngan terllu kbnyakan hidup enak s kamil ma Mandah Najiis bngett..mending balik ke Raya ja
sunaryati jarum
Malah kamu untung Mil,Manda sudah bunting.🤣🤣🤣 🤭 balasan kau terima lewat Amanda Kamil
sunaryati jarum
Semoga klarifikasi kamu bisa menjawab teka- teki / penasaran kenapa mau saja dijodohkan.
Nana Geulise
udah sikat aja mil jgn ragu bekas aldo beserta bonus anak...kalian tunggu aja tabur tuai...lebih sakit dari yang ditetima keluarga raya...🫢🫢🫢😁
partini
aduh mil mil ga usah banyak mikir gas lah nikahi cepet dapat bonus loh kecebong mantan pacar cakepppp👍
falea sezi
keluarga kamil aja. bego semua
falea sezi
woy tolol jelas2 nginep masak main gundu/Curse//Curse/ bloon g ketulungan. penampilan aja kayak. lacur
sunaryati jarum
Jika Kamil benar mencintaimu apapun keadaannya diterima
partini
semoga berjodoh dengan pak Akmal kalau dia masih single sih
partini
dihhh Amanda bego kamu harus nya bikin tidur bersama dulu baru jerat gitu loh cara Kunti bogel pada beraksi ga pro kamu
sunaryati jarum
Diberi barang ORI berkualitas malah milih barang bekas dan murahan .
Arieee
😡nikahin Sono amanda🤣biar cepet dapet anak🤣
partini
akhirnya kalian bersatu emang betul" pasangan yg cocok dunia akhirat
mantappp
sunaryati jarum
Kamu orang sok Kamil,di perusahaan keluarga saja tidak bisa beradaptasi.Untuk.Amanda ,benar kata ibu Aldo dan saudara Kamil,kau wanita yang tidak bisa menjaga martabat kamu sendiri.Keenakan Aldo hanya menanam benih.Minta Kamil menutup aibmu, untuk membuktikan cintanya mau tidak,tapi kamu harus terus terang jika hamil anak Aldo atau pria lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!