NovelToon NovelToon
KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.

Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.

Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HURUF MIRING

"Operasinya berjalan lancar," kata dokter itu sambil menurunkan masker ke leher. Wajahnya letih, tapi suaranya mantap. "Pelurunya menembus otot pinggang dan tidak mengenai organ vital. Pak Dimas kehilangan cukup banyak darah, tapi sudah kami transfusi. Beliau akan dirawat di ICU setidaknya dua puluh empat jam untuk observasi."

Laras merasakan lututnya melemas. Mira cepat menangkap lengannya. "Dia selamat?"

"Kondisinya stabil. Kalau tidak ada komplikasi, ya, beliau akan pulih." Dokter itu menatapnya dengan lembut. "Ibu boleh melihatnya sebentar lewat kaca. Belum boleh masuk."

Mereka berjalan melewati lorong panjang menuju unit perawatan intensif. Dari balik kaca tebal, Laras melihat tubuh Dimas terbaring di ranjang putih, dikelilingi mesin yang berkedip dan berbunyi pelan. Selang infus di lengan, selang oksigen di hidung, perban tebal melilit pinggangnya. Wajahnya masih bengkak dan lebam, tapi dadanya naik turun teratur.

Laras menempelkan telapak tangan ke kaca dingin itu.

Pria yang ia benci sejak malam pertama ia membaca pesan dari V. Pria yang menggadaikan rumahnya dan memalsukan tanda tangannya. Pria yang menerjang di depan pistol demi dirinya.

Dua-duanya adalah Dimas. Dan Laras tak tahu bagaimana menyimpan keduanya di dada yang sama.

"Kamu harus istirahat, Ras," bisik Mira. "Sudah dua puluh jam kamu nggak tidur."

"Aku mau lihat Kenzo."

"Pergilah. Aku dan Pak Hendarto yang jaga di sini. Kalau ada perubahan, kami langsung telepon."

Reza berdiri di belakang mereka, masih menggenggam wasiat dalam map plastik bening yang dipinjamkan petugas. "Saya antar, Mbak."

---

Rumah ibu Laras berada di pinggiran kota, rumah kayu sederhana dengan halaman penuh pohon jambu dan bunga kertas. Ketika mobil Reza berhenti di depan pagar, matahari pagi baru menyentuh atap seng, memantulkan cahaya keemasan yang lembut.

Pintu depan terbuka sebelum Laras sempat mengetuk. Seorang perempuan tua bertubuh kecil, berkerudung putih, berdiri di ambang pintu dengan mata merah.

"Ibu."

Hanya satu kata, dan seluruh pertahanan yang Laras bangun sepanjang malam runtuh seketika. Ia memeluk ibunya erat-erat, membenamkan wajah di bahu yang berbau minyak kayu putih dan sabun lama, dan menangis seperti anak kecil yang baru pulang dari tempat yang terlalu jauh.

"Sudah, Nak. Sudah." Tangan keriput itu mengusap punggungnya perlahan. "Ibu di sini. Semua sudah lewat."

"Belum, Bu. Belum lewat."

"Ibu tahu." Perempuan tua itu menariknya mundur sedikit, menatap wajahnya dengan mata yang melihat lebih banyak daripada yang Laras kira. "Ibu tahu dari suaramu waktu telepon semalam. Tapi apa pun yang terjadi, kamu tetap anak Ibu."

Dari dalam rumah terdengar derap kaki kecil.

"Mama!"

Kenzo berlari keluar dengan piyama dinosaurusnya yang kebesaran, rambut kusut, pipi masih merah bekas tidur. Ia menubruk kaki Laras dan memeluknya sekencang yang bisa dilakukan tubuh mungil itu.

Laras berlutut dan mendekapnya, mencium rambutnya berkali-kali, menghirup aroma sampo bayi yang selalu sama. Tubuh anak itu hangat dan utuh dan nyata. Hanya itu yang ia butuhkan saat itu, kenyataan bahwa setidaknya ada satu hal yang tidak dirampas darinya.

"Mama pulang."

"Papa mana?"

Laras terdiam. Ia menatap wajah polos itu, mata bulat yang masih mempercayai bahwa dunia bisa dijelaskan dengan kalimat sederhana.

"Papa lagi di rumah sakit, Sayang. Papa sakit sedikit. Tapi dokter lagi merawat Papa, jadi nggak lama lagi Papa sembuh."

"Papa sakit karena orang jahat semalam?"

Laras menahan napas. Dari balik bahu anaknya, ia melihat Vania berdiri di dalam ruang tamu, tangan menutup mulut, bahunya bergetar. Perempuan itu menggeleng pelan, meminta maaf tanpa suara.

"Papa sakit karena Papa berani melindungi Mama," jawab Laras akhirnya, jujur dengan caranya sendiri. "Papa sayang sekali sama Kenzo dan Mama."

Kenzo mengangguk serius, seperti seseorang yang baru saja menerima misi penting. "Aku mau jenguk Papa."

"Nanti, kalau Papa sudah boleh dijenguk. Sekarang kamu sarapan dulu sama Nenek, ya."

Ia mengantar Kenzo ke dapur, tempat ibunya sudah menyiapkan nasi hangat, telur dadar, dan tempe goreng. Anak itu langsung duduk di kursi kecil, melahap makanan seolah semalam tak pernah ada. Laras memandangnya lama, memejamkan mata sekejap, lalu bersyukur pada siapa pun yang mendengar.

---

Di teras belakang, Vania duduk sendirian memeluk lutut, menatap kebun jambu yang basah oleh embun.

Laras duduk di sebelahnya tanpa bicara. Mereka diam cukup lama, dua perempuan yang pernah saling membenci dan kini tak punya cukup tenaga untuk melakukannya.

"Reza bicara padamu?" tanya Laras akhirnya.

"Sedikit." Vania tersenyum pahit. "Dia bilang dia butuh waktu. Dia nggak mau pulang ke rumah kami. Dia tidur di ruang tamu rumah ibu Mbak semalam, di kursi."

"Dia lelah."

"Dia terluka." Vania memandangi tangannya sendiri. "Dan aku orang yang melukainya. Itu hal yang paling nggak bisa kuhapus."

Laras tidak langsung menjawab. Matahari naik perlahan, menyorot daun-daun jambu yang bergoyang pelan.

"Aku nggak akan bilang aku memaafkanmu," katanya. "Karena itu bohong. Mungkin aku butuh bertahun-tahun, mungkin nggak akan pernah."

"Aku tahu."

"Tapi aku juga nggak akan bilang kamu satu-satunya yang salah." Laras menarik napas. "Semalam aku sadar sesuatu. Dimas memanfaatkan kesepianmu, ya. Tapi dia juga memanfaatkan kebaikanku. Dia tahu aku nggak akan curiga, nggak akan bertanya. Dia menjadikan aku istri yang terlalu polos, dan aku membiarkannya."

Vania menoleh. Matanya basah. "Mbak..."

"Kita berdua korban dan kita berdua punya andil. Dua hal itu bisa benar sekaligus." Laras menatap lurus ke depan. "Yang penting sekarang, kamu sedang mengandung. Dan anak itu nggak bersalah atas apa pun."

Vania mengusap perutnya perlahan. Air matanya jatuh. "Aku takut, Mbak. Takut Mas Reza nggak akan pernah bisa menerimanya. Takut dia selamanya bertanya-tanya anak siapa."

"Itu bisa dibuktikan."

"Aku tahu. Tapi bukan itu yang kutakutkan." Vania tersenyum miris. "Aku takut dia akan menerimanya karena kasihan, bukan karena cinta."

Laras tidak punya jawaban untuk itu. Ia hanya meraih tangan perempuan itu, dingin dan kurus, dan menggenggamnya pelan. Hanya itu yang ia bisa berikan pagi itu.

---

Pukul dua siang, ponsel Laras berdering. Mira.

"Ras, kamu harus ke sini. Dimas sudah sadar."

Perjalanan kembali ke rumah sakit terasa singkat dan panjang sekaligus. Reza menyetir, Laras duduk diam di sampingnya dengan tangan saling meremas. Kali ini tak ada yang bicara.

Ketika mereka tiba di depan ruang ICU, Mira dan Hendarto sudah menunggu. Seorang perawat membuka pintu dan mengizinkan Laras masuk sendirian, "hanya sepuluh menit, Bu."

Ruangan itu dingin dan sunyi, hanya diisi bunyi bip mesin. Dimas terbaring dengan mata terbuka setengah, wajahnya pucat dan lebam, tapi sorotnya jernih.

"Ras."

Suaranya hampir tak terdengar. Laras duduk di kursi di sisi ranjang dan menggenggam tangannya yang tak terpasang infus.

"Aku di sini."

"Kenzo?"

"Aman. Dia makan telur dadar sampai habis tiga potong."

Sudut bibir Dimas bergerak, mencoba tersenyum. "Anak pintar."

Mereka diam sebentar. Banyak yang ingin Laras katakan, kemarahan, pertanyaan, tuntutan. Tapi semuanya terasa terlalu berat untuk tubuh yang sedang berjuang bernapas.

"Mas, ada yang mau kutunjukkan."

Ia mengeluarkan secarik kertas kecil dari saku, pesan dari amplop misterius itu, yang sudah difotokopi oleh Hendarto. Ia memegangnya di depan mata suaminya.

*"Wasiat ini untuk Reza. Dia berhak menerimanya. Sisanya kusimpan sebagai jaminan... — T."*

Dimas menatap tulisan itu. Awalnya biasa saja. Lalu matanya melebar sedikit. Napasnya tersendat. Monitor di sampingnya berbunyi lebih cepat.

"Mas?"

"Huruf itu..." bisiknya. Jemarinya gemetar di genggaman Laras. "Miring ke kanan... tarikan ekor huruf T-nya panjang... Aku kenal tulisan itu."

"Siapa?"

"Bu Tuti."

Nama itu jatuh seperti batu.

"Siapa Bu Tuti?"

"Sekretaris Pak Hendra," gumam Dimas, matanya menerawang. "Perempuan tua di rumah sakit itu... yang menitipkan salinan wasiat padaku delapan tahun lalu. Tulisannya sama persis. Dia selalu bikin T seperti itu... aku masih simpan suratnya di..."

Ia terbatuk. Monitor melengking. Seorang perawat langsung masuk. "Bu, waktunya sudah cukup."

Laras bangkit dengan kepala berputar. Di luar ruangan, ia menceritakan semuanya pada Hendarto dalam satu tarikan napas. Jaksa itu mendengarkan dengan wajah mengeras, lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang dengan nada rendah.

Percakapan itu singkat. Ketika selesai, ia menatap Laras dengan sorot yang tak bisa dibaca.

"Bu Laras," katanya pelan. "Bu Tuti meninggal dua minggu lalu. Saya sendiri hadir di pemakamannya."

Hening panjang jatuh di lorong itu.

"Kalau begitu," bisik Mira, wajahnya memucat, "siapa yang menulis surat itu?"

Laras menatap kertas di tangannya. Tinta hitam, tarikan miring ke kanan, ekor huruf T yang panjang dan anggun, ditulis oleh seseorang yang seharusnya sudah terkubur.

Atau oleh seseorang yang belajar menulis persis seperti dia.

1
Shankara Senja
hurufnya emang dibuat miring ya...dan tebal
Nuna_Pena: hehe.. iy
total 1 replies
Shankara Senja
bagus....lo jual,gw beli..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!