NovelToon NovelToon
Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 10: TOPENG YANG KEEMPAT

"Siapa dia?"

Suara Kenzo keluar seperti dari orang lain. Jarinya sudah menyentuh pinggir foto itu tanpa ia sadari, dan di bawah ujung kukunya wajah lelaki berjas itu tersenyum pada kamera dua puluh tahun lalu, seolah tidak tahu apa-apa tentang malam yang akan datang.

"Aku tidak tahu namanya." Raden duduk lagi pelan-pelan, dan untuk pertama kalinya lelaki itu kelihatan benar-benar lelah. "Itu yang paling menjengkelkan, Nak. Uangnya datang lewat seorang notaris tua di Sarvenna yang bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Aku cuma tahu pesannya, selalu sama: *jaga anak itu kalau dia datang*. Fotonya baru dikirim sebulan lalu, bersama kabar bahwa kamu mungkin akan muncul."

"Dia kenal Ayahku. Dia... dia rangkul Ayahku di foto itu, kayak..." Kenzo berhenti, rahangnya bergerak tanpa suara, dan rambut belakang lelaki di foto itu, satu helai yang tegak melawan, terasa seperti ditusukkan tepat ke ulu hatinya. "Kalau dia teman Ayah, kenapa waktu itu..."

"Aku tidak punya jawabannya. Kamu juga belum." Raden menutup map itu pelan. "Tapi kalau kamu mau jawabannya, kamu perlu berhenti jadi anak yang berlari ke arah semua pintu sekaligus. Tanda tangan di sini, atau pulang, dan aku akan menyuruh orangku mengantarmu ke Sarvenna tanpa bertanya apa-apa."

Kenzo menatap pena di atas kertas itu. Ia memikirkan lutut Victor yang menekuk di sebelah kiri, dan kapal kayu yang disimpan di dasar lemari, lalu memikirkan senyum yang rapi sekali di foto itu.

Ia menandatangani dengan tangan kiri, tangan yang tidak biasa menulis, supaya tidak ada yang mengenali goresannya.

---

Bulan-bulan pertama tidak punya wajah. Mereka tinggal di bawah tanah, di bekas gudang pewarna yang lantainya masih bernoda biru dan merah tua seperti luka lama, dan Kenzo dibangunkan pukul empat pagi oleh perempuan yang tadi mengemudi mobil, namanya Laksmi, dengan kalimat yang sama setiap hari: "Kamu masih terlalu ribut."

Ia diajari berjalan. Berjalan saja, selama berminggu-minggu, dengan buku di kepala dan gelas penuh air di kedua telapak tangan, sampai ia bisa melewati ruangan tanpa satu pun mata menoleh. Ia diajari duduk di meja makan orang kaya, memegang pisau perak dengan jari yang tidak kelihatan pernah memegang pisau lain, tertawa di tempat yang tepat, diam di tempat yang tepat. Laksmi mengajarinya membaca orang dari cara mereka menaruh gelas, dari ujung sepatu yang menunjuk ke pintu keluar, dari jeda sebelum kata "tentu". "Orang berbohong hampir selalu ketahuan dari jeda," katanya suatu sore, dan Kenzo yang sedang mengunyah roti mendadak tidak bisa menelannya.

"Siapa yang bilang begitu?"

"Semua orang yang pernah hidup lama di dunia ini." Laksmi mengangkat alis. "Kenapa wajahmu begitu?"

"Nggak... nggak apa-apa. Cuma pernah dengar."

Tubuhnya dilatih sampai berhenti terasa seperti miliknya. Ada ruang tanpa lampu tempat ia harus bertarung melawan tiga orang yang bahkan tidak ia lihat, ada tangga yang harus ia naiki sambil ditimpuk benda-benda tumpul, ada malam-malam ketika ia terbangun dengan tangan yang sudah mencengkeram sesuatu yang tidak ada. Di sela itu semua, Raden duduk di pojok dengan papan caturnya dan hanya sesekali bicara. Pernah sekali, setelah Kenzo jatuh terlalu keras dan darahnya menetes ke matras, lelaki itu mengatakan sesuatu tanpa mengangkat mata dari bidaknya.

"Kemarahanmu bagus, Nak. Tapi kemarahan itu seperti api. Bisa menghangatkan, bisa membakar rumah. Belajarlah kapan menyimpannya."

Sementara itu, di ruangan lain yang lebih dingin dan lebih sunyi, Axel dikurung bersama seorang tua yang tidak pernah menyebutkan namanya dan berbicara hanya lewat layar. Kenzo kadang melihatnya di ujung lorong saat makan malam, lebih kurus, mata makin cekung, dan tangannya yang bergerak cepat sekali menyampaikan satu kalimat yang sama setiap kali: *aku baik-baik saja. Jangan lihat aku begitu.* Mereka hanya diizinkan bertemu sepuluh menit sehari. Sepuluh menit yang selalu terasa seperti sepuluh detik.

---

Telepon itu diizinkan sebulan sekali, hanya lima menit, dari pesawat telepon tua di ruang jaga yang direkam orang di balik dinding. Kenzo sudah menyusun kebohongannya sejak seminggu sebelumnya: bedeng, semen, mandor yang pelit. Tapi ketika nada sambung kedua terputus dan suara serak itu menjawab, semuanya hilang dari kepalanya.

"...Halo?"

"Pa."

Hening. Lalu terdengar bunyi sesuatu jatuh, mungkin sendok, mungkin cangkir. "Kenzo?" Suara Victor naik, pecah, buru-buru direndahkan lagi. "Kenzo. Iya. Iya, Om... Papa di sini. Kamu... kamu sehat, Nak? Suaramu... suaramu kok serak?"

"Debu, Pa. Namanya juga proyek..." Ia menelan ludah. "Kerjaan lancar. Mandornya galak. Kapalan tanganku sekarang sudah tebal."

"Oh ya?" Ada tawa kecil di seberang, tawa yang terlalu cerah. "Bagus. Bagus kalau begitu. Papa dulu juga... Papa dulu bangun rumah sendiri, kamu tahu? Pondasinya miring tiga senti, istri Papa ngomel sebulan."

Kenzo menggigit bibir bawahnya sampai terasa asin. "Axel juga baik. Dia... dia nitip salam. Katanya kamu jangan lupa makan sayur."

"Dia bilang begitu?" Suara itu bergetar. "Anak itu. Bilang ke dia Papa makan sayur. Tiap hari. Papa masak sendiri, kamu tahu? Tadi pagi Papa bikin nasi bakar, nggak gosong. Sedikit gosong."

Padahal Kenzo bisa mendengar sesuatu di latar suara itu. Bukan masakan, bukan televisi. Sunyi yang sangat luas, jenis sunyi yang hanya bergema di rumah yang terlalu besar untuk satu orang. Ia mendengar napas yang terlalu pendek, batuk yang ditahan, dan di sela itu semua, sangat samar, bunyi jam dinding yang berdetak.

"Pa... kamu batuk."

"Cuaca. Cuma cuaca, nggak apa-apa."

"Lututmu gimana?"

"Baik." Jeda. Satu detik, dua detik, tiga detik. "Kenzo."

"Iya, Pa?"

"Papa nggak akan tanya kamu di mana. Papa nggak akan tanya proyek apa, mandor siapa, bedeng yang mana." Suaranya merendah, rapi, dan Kenzo menggenggam gagang telepon dengan dua tangan seperti takut benda itu jatuh. "Papa cuma mau tanya satu hal, dan kamu jawab jujur, ya? Satu saja."

"...Iya."

"Kamu makan teratur?"

Kenzo menutup mulutnya dengan telapak tangan. Bahunya naik, napasnya putus-putus, dan ia tidak sanggup bicara selama sepuluh detik penuh, sementara di seberang sana Victor menunggu dengan sabar, seperti seorang lelaki yang tahu persis apa arti diam itu.

"...Makan, Pa," bisiknya akhirnya, tersedak. "Makan teratur. Beneran."

"Bagus." Suara Victor pecah di ujung, lalu pulih, lalu pecah lagi, dan Kenzo mendengar sesuatu yang membuat hatinya diremas: lelaki itu tertawa kecil di sela tangisnya. "Itu... itu cukup buat Papa. Udah, Nak. Waktumu pasti habis. Jaga dirimu. Jaga Axel. Dan Kenzo..."

"Iya?"

"Rumah ini sepi sekali tanpa kalian. Tapi Papa tunggu. Papa nggak ke mana-mana."

Sambungan terputus. Kenzo masih memegang gagang telepon sampai penjaga ruangan itu berdehem dengan sopan, lalu ia meletakkannya dengan sangat hati-hati dan berjalan keluar, lurus, tegak, seperti yang diajarkan Laksmi, sampai pintu lorong menutup di belakangnya dan tidak ada siapa pun yang melihat ia merosot ke lantai dengan wajah terbenam di lutut.

---

Topeng itu datang di bulan keempat belas.

Raden menyerahkannya sendiri dalam kotak kayu polos, dan ketika Kenzo membukanya, ia mengira isinya batu. Putih pucat, dingin, tanpa mulut, hanya dua lubang mata yang dipotong sempit dan satu garis retak halus yang membelah pelipis kiri sampai pipi, bukan cacat tapi sengaja, dipoles dengan tinta emas tipis.

"Dibuat dari porselen, jadi ringan dan tidak memantulkan cahaya," kata Raden. "Garis itu bukan hiasan. Aku sendiri yang minta."

"Kenapa retak?"

"Karena kata koran, ada tiga jasad di rumahmu." Raden menatapnya lurus. "Dan dunia yang menghapusmu itu harus belajar menghitung ulang. Mulai malam ini, di jalanan, kamu bukan Kenzo Adriel. Kamu *Si Keempat*."

Kenzo menyentuh garis retak itu dengan ujung jari. Dari belakangnya, di ambang pintu, ia mendengar langkah yang ia kenal, dan Axel muncul dengan tablet di tangan dan hoodie yang bahunya sudah terlalu longgar. Ia menatap topeng itu, lalu Kenzo, dan matanya tidak mengatakan apa-apa, tapi kedua tangannya bergerak pelan dan sangat hati-hati.

*Kalau kamu pakai itu, kamu bukan lagi orang yang sama.*

"Aku tahu."

*Aku tetap akan kenal kamu dari cara jalanmu.*

"Aku juga," bisik Kenzo, dan hanya itu yang sempat ia katakan.

---

Hartono Salim bukan nama yang dikenal anak sekolah di Sarvenna, tapi semua orang di pelabuhan tahu siapa yang memegang kunci Gudang Tujuh. Menurut berkas yang ditumpuk Axel di meja selama tiga minggu, orang ini bukan sekadar penjaga barang. Dialah yang memberi stempel pada peti-peti bertuliskan beras yang isinya bukan beras, dan di salah satu lembar manifest paling tua, tanda tangannya ada di bawah tanda tangan lain. Ia bukan dalang. Hanya satu mata rantai. Tapi sering kali, kata Raden, rantai putus justru di mata yang paling kecil.

Malam itu hujan tidak turun. Langit pelabuhan bersih dan berbintang, yang justru membuat Kenzo gelisah, karena ia lebih suka malam yang bisa menelan suara. Ia menyusup dari sisi laut, lewat dermaga cadangan yang sudah diperiksa Axel dari kamera ke kamera, dengan topeng di wajah, jaket gelap, sarung tangan tipis. Di telinganya suara mesin yang datar itu berbisik dari kejauhan, sambil mengetik.

"Kamera sisi barat mati sembilan puluh detik. Penjaga kedua di tangga, merokok, tidak lihat ke atas. Kenzo."

"Hm."

"Napasmu terlalu cepat."

"Aku tahu."

"Tarik. Hitung sampai empat."

Ia menghitung. Di dalam topeng itu udara terasa lembap dan sesak, dan dua lubang mata sempit membuat dunia seperti terlihat dari balik celah pintu. Ia naik, melewati lorong besi, menuruni tangga, dan penjaga di bawah tidak sempat menoleh sebelum Kenzo mengunci lehernya dari belakang, hati-hati, hanya cukup membuatnya terkulai pingsan. Ia menurunkannya ke lantai dengan pelan, tanpa membiarkan kepalanya terbentur, kebiasaan yang diajarkan Victor bertahun-tahun lalu: *kalau harus menjatuhkan orang, jatuhkan dengan benar.*

Ruang kantor di lantai dua gudang itu terang. Di balik meja besar duduk lelaki gemuk berkeringat dengan kemeja yang kancing atasnya terbuka, sedang menghitung tumpukan uang di bawah lampu meja sambil bersiul pelan. Ia tidak mendengar pintu terbuka. Ia baru mengangkat kepala ketika bayangan jatuh di atas kertas-kertasnya, dan ketika ia melihat wajah putih tanpa mulut dengan retakan emas di pelipis itu, bersiulnya putus di tengah nada.

"Si... siapa kamu?"

Kenzo tidak menjawab. Ia berdiri dua meter dari meja dengan tangan terkulai, dan di dalam topeng itu jantungnya berdentum begitu keras sampai ia khawatir bunyi itu menembus porselen.

"Aku... aku punya uang. Ambil. Ambil semuanya, di laci, di brankas, tiga puluh, empat puluh juta, aku..." Hartono merosot dari kursinya, jatuh berlutut di antara lembaran uang yang beterbangan, kedua tangannya terangkat gemetar. "Aku punya anak, Pak. Dua. Yang bungsu baru masuk SD. Tolong... tolong jangan..."

"Anak," kata Kenzo.

Suaranya keluar rendah dan teredam topeng, dan ia hampir tidak mengenalinya sendiri. Hartono mengangguk cepat-cepat, air mata dan keringat bercampur di dagunya.

"Iya, iya, anak, mereka nggak tahu apa-apa, mereka..."

"Peti nomor dua puluh tiga," kata Kenzo pelan. "Kapal Sri Wijaya, empat belas tahun lalu. Isinya apa?"

Wajah lelaki itu berubah. Bukan jadi lebih takut, tapi jadi kosong, seperti orang yang dipaksa melihat sesuatu yang sudah lama ia kubur di belakang rumah. Mulutnya terbuka, tertutup, terbuka lagi.

"Aku cuma... cuma disuruh stempel. Aku nggak pernah buka petinya. Aku nggak tahu isinya apa..."

"Tapi kamu dengar suaranya."

Hartono tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai.

"Kamu dengar suara anak-anak dari dalam peti itu," kata Kenzo. Suaranya tidak naik, justru makin pelan, dan ia sendiri bingung dari mana datangnya ketenangan itu. "Dan kamu tetap stempel."

Tangan kanan Kenzo naik. Pistol itu terasa sangat ringan, dan lengannya bergetar halus, nyaris tak kelihatan, tetapi pasti ada. Ia melihat bayangan sepatu bot hitam melangkah di atas rumput tanpa menunduk. Ia melihat boneka dengan satu telinga terlipat. Ia melihat tong sampah plastik.

"Maaf," bisiknya, entah pada siapa.

Satu tembakan, pendek, kering, terlalu biasa untuk sesuatu yang menghancurkan seseorang. Hartono jatuh tanpa suara.

Kenzo berdiri lama di sana. Lalu ia melepas satu sarung tangan dan menyentuh leher lelaki itu dengan dua jari, memastikan, dan tangannya baru berhenti gemetar setelah ia menarik diri. Di telinganya Axel diam terlalu lama.

"...Kenzo. Selesai. Keluar. Sekarang."

"Iya."

Tapi ia tidak langsung bergerak. Sesuatu di atas meja menarik matanya: di antara kertas-kertas dan tumpukan uang yang berhamburan, ada sebuah radio genggam hitam, kecil, usang, antenanya pendek. Lampu merahnya berkedip pelan. Ia mengenal benda itu. Bukan modelnya, bukan warnanya. Tapi bentuknya, bobotnya yang pasti, dan cara lampunya berkedip dengan sabar seperti binatang kecil yang menunggu.

Radio itu berderak.

"Hartono." Suara itu keluar dari speaker kecil itu dengan jernih, tenang, hangat, dan Kenzo yang berdiri membeku di tengah ruang sempit yang berbau mesiu merasakan seluruh darah di tubuhnya berhenti mengalir. Suara yang sama. Suara dari malam itu, dari balik semak, di antara jangkrik dan bunyi bot yang menjauh. "Hartono, jawab aku. Kamu sudah beres dengan tamumu?"

Kenzo tidak bergerak. Di telinganya, suara Axel berteriak dengan bunyi-bunyi patah yang bukan kata, tapi ia tidak mendengarnya sama sekali.

Hening beberapa detik. Radio itu hanya mendesis. Lalu suara itu terdengar lagi, lebih pelan, dengan nada yang sama sekali berbeda. Bukan lagi pertanyaan, melainkan senyum yang bisa ia bayangkan terbentuk di bibir seseorang yang duduk jauh di balik jendela setinggi langit-langit.

"Oh. Bukan Hartono, ya."

Kenzo mengangkat pistolnya ke arah radio itu, jarinya gemetar di pelatuk, dan ia tidak menarik pelatuk itu.

"Halo, Kenzo," kata suara itu, ramah sekali, seperti orang yang menyapa anaknya di meja makan. "Selamat atas yang pertama. Kamu menghitung dengan benar. Hanya ada satu hal yang kamu salah sebut tadi, dan aku rasa kamu belum menyadarinya."

Radio itu berdesis. Lalu suara itu mengucapkan sebuah kalimat, pelan, hampir lembut, dan dari balik topeng porselen yang retak itu terdengar bunyi napas Kenzo yang tersendat, putus, jatuh.

"Mereka tidak menghitung tiga karena lupa padamu, Nak. Mereka menghitung tiga karena aku yang menyuruh."

---

*Bersambung ke Bab 11*

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
iih jadi inget.. 🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: yang baca ini.. 🤭🤭
total 4 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu harunya ingat saat pas kalian masih bersama, melewatkan segala susah senang bersama, bahkan saat tersulit pun kalian bisa menghadapinya.. jangan hanya kesalahan yang bahkan membuat Kenzo menyesal seumur hidupnya pun kamu meninggalkan dia, dan juga karena seorang cewek yang sudah memberikan hati ya padanya.. padahal Kenzo sendiri cuek sama dia kan.. dia tidak membalas perasaan Silva...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaahh cinta segitiga gak tuh nantinya... terus Silva gimana dong Ken... kamu jangan memberi harapan palsu ke Silva.. kasihan kan dia.. mana si Axel juga jadi ninggalin kamu kan karena Silva suka sama kamu.. eh kamunya malah suka sama anak musuh mu sendiri.. emang enak ditinggalin sama orang yang pernah kita sayangi dan kita percayai dalam hidup kita....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah Kenzo dong... super hero datang juga akhirnya... kak authornya pinter banget sih, lagi tegangan tinggi langsung datengin hero nya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahh siapa tuh yang pakee motor🤔🤔🤔
tania Weh
kalau kekasih lama. suka gak😍?
tania Weh
dangdut ya 🤭🤭, yang dak dik duk gitu deh, kayak hatiku padamu loh 🤣
tania Weh
mungkin author nya pernah deh
tania Weh
iiiiihhhn jadi flashback deh saat aku di suapin seseorang 😍😍😍😍
tania Weh
peran jahat lagi ini
tania Weh
romantis bangeeeeett 😍😍, jadi pengen deh di peluk kak author nya 🤭
tania Weh
diskusi apa sih, 😍😍😍😍😍 , apaa jangan jangan aku ya 😄😄
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waah kak authornya mau berdiskusi dulu ternyata.. silahkan kak.. nyantai aja...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaaahh Axel kenapa kamu begitu... ahh tidaaakk.. 😥😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah apa maksudnya si lord ini.. dia mau memecah Axel sama Kenzo... dan siapa 2 orang yang bertopeng dengan tongkat itu.. apakah dia yang tadinya duduk di kursi roda itu kah? 😱😱😱
EVandri Beloved❤❤: yang jelas bukan penjahat waspadalah... waspadalah.. waspadalah
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaahh Axel hubungan kamu sama kenzo jangan jadi rusak gara² hal ini dong... hati tidak bisa berpindah begitu saja kan.. hati yang memilih.. kamu juga pasti tahu hati tidak bisa ditebak kita akan menyukai siapa didunia ini.. karena kalau jati sudah memilih maka kita tidak bisa menolak... pliisssss jangan jadi renggang sama Kenzo...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa lagi mereka???
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah kamu Kenzo... kenapa kamu tembak mati dulu... harusnya walaupun kamu tembak, tapi jangan di tempat yang fatal duku biar kamu bisa ngorek. informasi yang kamu cari dari dia...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apakah itu adalah ayahnya si Kenzo itu? 🤔🤔🤔
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah cinta segitiga nih.. Axel kamu jangan jadi begitu dong sama Kenzo.. hati tidak bisa dipaksakan untuk mencintai... kita tidak bisa memilih atau menolak haal itu... semoga kamu bisa legowo Axel... ingat kalian sudah tumbuh bersama selama ini, jangan hanya karena hal itu hubungan kalian jadi retak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!