NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 - Pengakuan di Perpustakaan

Perpustakaan putri jam empat sore itu biasanya sudah sepi.

Santri lain pada ngaji sore di masjid atau antre mandi. Muthi'ah paling suka jam segini, karena bisa membaca tanpa diganggu Dina yang berisik.

Hari itu dia sengaja datang lebih awal. Habis kejadian menguping di ndalem kemarin, dia tidak bisa tenang. Dua malam tidak bisa tidur nyenyak. Kalau merem, yang terbayang hanya kalimat, Muthi'ah sudah siap, Jay juga sudah matang.

Siap untuk apa? Dia masih belum tahu. Tapi firasatnya tidak enak.

Dia lagi mencoba menghafal nadzam Alfiyah sambil menulis di buku kecilnya, waktu tiba-tiba bayangan tinggi menutupi cahaya dari jendela.

Muthi'ah mengangkat kepala.

Jay.

Berdiri di depan rak, memegang satu kitab kuning yang sampulnya sudah agak lecek. Kitab Fathul Qarib. Punya Muthi'ah. Di sampulnya ada tulisan kecil pakai tip-ex: Muthi'ah Azzahra - 3B.

Jantung Muthi'ah langsung loncat ke tenggorokan.

Ini pertama kalinya mereka benar-benar berhadapan sedekat ini. Biasanya hanya papasan di halaman dengan jarak lima meter. Sekarang jaraknya hanya satu meja.

"Afwan," Jay bicara pelan, suaranya dijaga agar tidak terlalu keras. Khas putra Kiai kalau bicara dengan santri putri, hati-hati sekali. "Ini... kitab kamu ketinggalan kemarin di aula. Pas rapat haflah."

Muthi'ah buru-buru berdiri, menunduk. Tangannya gemetar saat mau mengambil kitab itu.

"Syukron, Gus," katanya lirih.

Harusnya sudah selesai sampai situ. Jay mengembalikan kitab, Muthi'ah bilang makasih, lalu selesai. Sesuai adab.

Tapi Jay tidak langsung pergi. Dia masih berdiri di situ. Kelihatan ragu. Tangannya yang biasanya tenang, sekarang meremas ujung sarungnya sendiri.

" Muthi'ah, bisa minta waktu sebentar? Nggak lama," katanya.

Muthi'ah bingung. Dia melirik ke kanan kiri. Alhamdulillah, di pojok ada Zahra lagi beresin rak. Jadi tidak berduaan beneran. Ada orang ketiga.

"Iya, Gus. Ada apa?" Muthi'ah menjawab, masih menunduk, tidak berani menatap mata.

Jay duduk di kursi seberang, jaraknya sengaja dijaga, hampir dua meter. Dia menatap meja, bukan menatap Muthi'ah.

"Maaf kalau langsung. Saya bingung mau mulai dari mana, jadi saya langsung saja," Jay berkata, suaranya pelan tapi jelas. "Abi sama ayah kamu... dulu pernah janji waktu kita masih bayi. Janji kalau kita jodoh, kita disatukan."

Dunia Muthi'ah berhenti.

Kitab yang baru saja dia pegang hampir jatuh lagi.

Apa?

Jodoh? Disatukan?

Otaknya nge-lag. Tadi dia pikir dipindah pesantren, ternyata...

"Kita... dijodohkan sejak kecil," Jay melanjutkan, kali ini menatap Muthi'ah sebentar, lalu menunduk lagi. "Saya baru tahu detailnya kemarin. Abi menyuruh saya untuk mengenal kamu. Katanya... sudah siap dan sudah matang."

Kalimat itu. Kalimat yang kemarin dia dengar di jendela ndalem. Ternyata itu maksudnya.

Bukan dipindah. Dijodohkan. Sama Jay. Putra pengasuh.

Muthi'ah merasa lemas. Kakinya seperti jelly. Dia pegangan meja biar tidak jatuh.

"Gus..." suaranya hampir tidak terdengar. "Saya... saya nggak tahu."

Jay langsung panik melihat Muthi'ah gemetar. "Maaf, saya tahu ini mengejutkan. Saya juga kaget. Saya tidak ada niat memaksa atau apa. Makanya saya ke sini, mau bicara jujur. Biar tidak lewat orang tua terus."

Muthi'ah masih menunduk. Tapi untuk pertama kalinya seumur hidup di pesantren, dia yang biasanya selalu "inggih, Ustazah", merasa ada sesuatu yang meledak di dadanya.

Bukan marah. Tapi... sesak. Karena tidak pernah ditanya.

Dia mengangkat kepala pelan. Matanya berkaca-kaca, tapi ditahan biar tidak jatuh.

"Gus, saya belum pernah ditanya apakah saya mau," katanya. Suaranya kecil, bergetar, tapi jelas sekali di perpustakaan yang sepi itu.

Kalimat itu meluncur begitu saja. Halus, tapi menusuk.

Jay terdiam.

Itu bukan penolakan kasar. Itu pertanyaan paling jujur dari seorang santriwati yang selama ini nurut terus.

"Saya menghormati Kiai, menghormati Abi saya. Tapi... ini kan hidup saya, Gus. Kenapa nggak ada yang nanya saya dulu?" Muthi'ah melanjutkan, suaranya makin pelan, tapi tangannya makin kencang memegang kitab. "Saya pengen kuliah. Saya pengen ngajar. Saya nggak mau nikah cuma karena janji yang dibuat waktu saya masih bayi."

Jay merasa tertampar. Selama ini dia pikir yang berat hanya dia, yang jadi putra Kiai yang harus menjaga nama baik. Ternyata yang di depannya ini lebih berat.

"Maaf," kata Jay akhirnya. Tulus. "Kamu benar. Seharusnya memang kamu ditanya dulu. Saya juga... merasakan hal yang sama. Makanya saya nggak mau ini jadi beban buat kamu."

Muthi'ah mengusap ujung matanya cepat-cepat.

"Terus... gimana?" tanya Muthi'ah.

Jay berpikir sebentar.

"Gini saja. Kita pura-pura di depan orang lain tidak ada apa-apa. Tidak ada yang tahu kita sudah bicara ini. Kita jalani seperti biasa saja, sesuai aturan pesantren. Tidak chat pribadi, tidak berduaan. Kalau mau bicara, lewat kegiatan resmi atau lewat Zahra atau Heeseung. Kamu butuh waktu, saya kasih waktu. Saya juga butuh mengenal kamu bukan sebagai 'calon yang dijodohkan', tapi sebagai Muthi'ah saja. Bagaimana?"

Muthi'ah diam, mencerna.

Ide itu... tidak seburuk yang dia bayangkan.

"Jadi... kita nggak langsung menolak orang tua?" tanya Muthi'ah hati-hati.

"Nggak. Kalau kita menolak sekarang, yang ada ramai. Mending kita kasih waktu untuk saling kenal dulu. Nanti kalau memang tidak cocok, kita bicara baik-baik ke Abi dan ayah kamu. Dengan adab," jawab Jay.

Untuk pertama kalinya, Muthi'ah merasa agak lega.

"Inggih, Gus. Saya setuju," katanya pelan.

Jay mengangguk. "Syukron."

Lalu dia berdiri. Mau pergi, tapi berhenti lagi.

"Oh ya, kitabnya... jangan ketinggalan lagi. Kalau hilang, nyarinya susah," kata Jay, mencoba mencairkan suasana.

Muthi'ah yang tadinya tegang, hampir tertawa, tapi ditahan. Bibirnya hanya tersenyum sedikit. Senyum pertama yang dia kasih ke Jay hari itu.

"Iya, Gus. Syukron lagi."

Jay keluar dari perpustakaan. Di luar, Zahra yang dari tadi pura-pura beresin rak padahal menguping setengah mati, langsung memeluk Muthi'ah.

"Muth! Ya Allah, kamu keren banget tadi! Berani ngomong gitu di depan Gus Jay!" bisik Zahra heboh pelan.

Muthi'ah langsung lemas, duduk lagi.

"Zah, aku barusan ngomong apa? Aku nolak putra Kiai ya? Ya Allah, aku dosa nggak?" katanya panik.

Zahra memeluk lebih kencang. "Nggak! Kamu nggak menolak! Kamu cuma bilang kamu belum ditanya mau apa enggak. Itu benar, Muth. Itu hak kamu."

Di luar perpustakaan, Jay jalan cepat ke arah masjid. Napasnya ngos-ngosan, padahal jalannya pelan. Tangannya masih dingin.

Dia baru saja melakukan hal paling berani seumur hidupnya. Dan dia baru saja mendengar kalimat yang akan terus dia ingat: Saya belum pernah ditanya apakah saya mau.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!