Jingga membuka mata, kembali ke masa sebelum tragedi besar menimpa keluarga Amazon.
Kali ini, tidak ada lagi gadis lugu yang mudah dimanfaatkan, matanya penuh dendam dan kebencian.
Hanya ada satu hal, Balas Dendam!
Mari kila mulai permainannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Pura-pura terkilir
"Jingga!" Sebuah teriakan dari belakang langsung membuat Jingga menutup panggilan telepon.
"Kak Jingga," Tasya berlari kecil menghampiri Jingga, memeluk lengan Jingga sambil menatap ponsel di tangan Jingga, "siapa yang kakak telepon sampai suara kakak terdengar sangat manja?" Tanya Tasya.
Kening Arga berkerut, selain dengan mereka bertiga, Jingga tidak pernah berinteraksi dengan orang lain, jadi dengan siapa perempuan ini berbicara begitu manja?
"Kau tidak perlu tahu!" Kata Jingga bersikap acuh menyimpan ponselnya kembali.
Arga mendekat, menghentikan tangan Jingga yang terulur ke saku, "jangan berhubungan dengan orang luar!" Kata Arga dengan suara mengancam.
Jingga tersenyum konyol, "dengan siapa aku berhubungan, apa urusannya denganmu? Memangnya kau ayahku atau ibuku hingga kau pantas mengatur pergaulanku?" Kata Jingga menatap tajam Arga.
"Banyak orang memiliki niat jahat, kalau kau celaka, kami semua yang akan repot!" Kata Arga.
"Oh,,, tentu saja kalian repot, seperti terakhir kali di gunung, kalian begitu repot menolongku saat aku jatuh ke sungai hingga mengirim begitu banyak orang untuk mencari ku seminggu penuh," ucap Jingga.
"Jangan keterlaluan!" Kata Arga dengan dingin.
"Ponselmu kusita!" Bryan mengambil ponsel dari tangan Jingga.
"Kau! Kembalikan ponselku!" Tegas Jingga.
"Ponselmu baru akan dikembalikan setelah kerjasama dengan keluarga Pratama berjalan lancar," ucap Arga.
"Apa maksudmu?" Tanya Jingga.
"Kak Jingga, hari ini kami bertiga pergi untuk bertemu dengan pewaris keluarga Pratama demi membahas kerjasama kedua belah pihak. Tapi pihak Pratama mengatakan mereka tidak mau membahas kerjasama jika bukan kau yang datang," kata Tasya.
"Oh, untuk apa aku pergi berhubungan dengan orang luar? Bagaimana nanti kalau kalian marah dan kembali menamparku?" Gerutu Jingga.
"Jangan banyak bicara! Baca dokumen ini dan hafalkan tanpa kurang satu kata pun! Begitu pihak Pratama menghubungi untuk bertemu, kau akan pergi bertemu mereka dan mendapatkan kerjasama itu! Kalau tidak, jangan harap kau bisa keluar dari kamar!" Tegas Arga lalu berbalik pergi meninggalkan Jingga.
"Ponselmu akan ku kembalikan begitu urusan dengan keluarga Pratama selesai," kata Bryan menyusul Arga.
Jingga memegang erat dokumen di tangannya, menatap punggung Bryan dan Arga yang menjauh, 'seingat ku di kehidupan lalu tidak ada kerjasama keluarga Amazon dengan keluarga Pratama, dulu juga Arga tidak pernah memintaku untuk bertemu dengan pewaris keluarga Pratama, kenapa sekarang jadi berbeda?' Jingga merasa aneh.
"Kak Jingga," Tasya yang memperhatikan Jingga kini berbicara, "kerja sama ini sangat penting, kau harus melakukan yang terbaik demi keluarga Amazon kita."
Jingga tersenyum, berbalik menatap Tasya, "kau tidak usah mengajariku, lebih baik kau khawatirkan dirimu sendiri dulu," kata Jingga kemudian berbalik meninggalkan Tasya.
"Dasar jallang! Lebih baik kau khawatirkan dirimu sendiri! Lagi pula tinggal dua minggu lagi sebelum kau di tendang dari posisimu saat ini!" kata Tasya penuh ekspresi jijik.
Tasya kemudian menyusul Jingga dengan langkah cepatnya, 'lihat bagaimana kamu akan dimarahi lagi!' kata Tasya penuh niat jahat.
Jingga melihat pantulan wajah Tasya di kaca jendela rumah, dia tahu Tasya akan berniat buruk lagi, jadi sebelum Tasya menyentuhnya, Jingga berpura-pura jatuh.
"Akhhh! Kakiku terkilir!" jerit Jingga terduduk di rumput sambil memegang kakinya.
Tasya langsung berhenti, menatap Jingga dengan sangat terkejut, bukankah jalannya rata saja? Bagaimana bisa tiba-tiba jatuh?
"Ada apa ini?" Arga muncul sambil memegang sebuah pena.
"Kak Arga, kakiku terkilir, tolong bantu aku kembali ke kamar. Aku masih harus mempelajari dokumen yang kau berikan," kata Jingga dengan nada lemah.
"Eh?" Arga mengernyit, sebelumnya dia sudah berjanji pada Tasya untuk tidak bersentuhan dengan Jingga, tapi kalau dia tidak menolong Jingga dan kerjasamanya batal, bukankah itu akan sangat merugikan mereka?
"Cepat! Nanti bengkaknya makin parah," kata Jingga sambil meringis.
"Baiklah," Arga mengangguk, segera menggendong Jingga masuk ke rumah.
Di belakang, Tasya mengikuti dengan sangat kesal, 'Jingga sialan! Kamu pasti sengaja!'