NovelToon NovelToon
Istri Gendut Yang Diceraikan

Istri Gendut Yang Diceraikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Dendam Kesumat / Cewek Gendut
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.

Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.

Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.

Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.

Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...

“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konsultasi

Kantor Bu Sekar terletak di lantai dua sebuah ruko sederhana, di antara toko fotokopi dan kedai teh. Tak ada plang besar, hanya papan akrilik kecil di samping pintu kaca. Tapi begitu Danti masuk, ia disambut ruangan yang rapi dan hangat, dengan rak penuh map, vas bunga segar di atas meja, dan aroma teh melati yang samar.

Nadia menemaninya sampai ke depan pintu, lalu mengangkat dua jempol. "Aku tunggu di kafe bawah. Semangat."

Bu Sekar berdiri menyambutnya. Perempuan itu berusia sekitar lima puluhan, berkacamata, dengan rambut pendek keperakan dan blazer abu-abu. Senyumnya ramah, tapi matanya tajam, seperti seseorang yang sudah terbiasa membaca orang dalam lima menit pertama.

"Bu Danti? Silakan duduk. Nadia sudah cerita sedikit lewat telepon. Tapi saya ingin dengar langsung dari Ibu."

Danti duduk, meletakkan buku catatan biru di pangkuannya, dan mulai bercerita.

Awalnya terbata, tapi lama-lama lancar

Bu Sekar mendengarkan sambil mencatat, sesekali mengangguk atau bertanya singkat.

"Boleh saya lihat buku itu?"

Danti menyerahkannya.

Bu Sekar membuka halaman demi halaman, membaca catatan tanggal dan jam yang rapi. Ia berhenti pada satu halaman, lalu mengangkat pandangan dengan alis sedikit terangkat.

"Ini sangat bagus, Bu."

"Bagus?"

"Detail dan konsisten. Kebanyakan orang yang datang ke saya baru mengumpulkan bukti ketika segalanya sudah meledak." Ia menutup buku itu dan menyerahkannya kembali. "Catatan seperti ini bisa sangat membantu, terutama kalau nanti ada perbedaan cerita di persidangan. Tapi saya harus menegaskan Bu, ada hal-hal yang perlu kita pisahkan."

Ia lalu menjelaskan dengan bahasa sederhana. Bahwa dalam proses perceraian, ada beberapa hal berbeda yang dibahas. Soal sah-tidaknya alasan perceraian. Soal harta yang dihasilkan bersama selama pernikahan. Soal hak-hak istri yang harus dipenuhi, seperti nafkah selama masa tunggu dan pemberian lain yang layak. Dan soal nafkah yang selama ini tidak terpenuhi.

"Setiap kasus berbeda," tambahnya hati-hati, "dan keputusan akhir tentu di tangan hakim. Tapi Ibu punya hak untuk menyampaikan semua hal itu, dan Ibu tidak perlu pergi dengan tangan kosong."

Danti mendengarkan dengan napas tertahan. Selama ini ia mengira ia akan keluar dari pernikahan hanya dengan sebuah tas pakaian dan rasa terima kasih karena diizinkan pergi.

"Ada beberapa hal yang saya sarankan," lanjut Bu Sekar sambil menuliskan poin-poin di kertas. "Pertama, jangan keluar dari rumah dulu sampai kita bicarakan lebih lanjut. Kedua, kumpulkan semua dokumen... buku nikah, kartu keluarga, bukti penghasilan suami kalau Ibu bisa mengakses, catatan aset bersama. Ketiga, simpan bukti-bukti ini di tempat aman, jangan di rumah. Salin dan titipkan pada orang yang Ibu percaya. Keempat, hindari konfrontasi langsung dan jangan memancing emosi. Biarkan prosesnya berjalan dengan tenang."

"Saya sudah tenang, Bu."

Bu Sekar tersenyum. "Itu terlihat."

Mereka berbicara hampir dua jam. Ketika Danti keluar dari ruangan, ia membawa map tipis berisi daftar yang harus disiapkan, dan satu hal lagi yang tak pernah ia duga ia miliki hari itu... rasa percaya bahwa ia tidak sendirian.

Di kafe bawah, Nadia melambai dengan dua gelas es teh. "Gimana?"

Danti duduk, mengangkat gelasnya dengan tangan yang masih sedikit bergetar, lalu tersenyum.

"Kayaknya," katanya pelan, "aku akan baik-baik saja."

---

Hari Minggu itu, rumah Bu Sumarni dipenuhi bunga.

Karangan bunga plastik di pagar, balon-balon warna emas di teras, dan spanduk kecil.

Meja-meja panjang di ruang tamu dan halaman dipenuhi hidangan dan para tamu mulai berdatangan sejak siang.

Bu Sumarni mondar-mandir di antara mereka dengan kebaya hijau terbaiknya, perhiasan emas bergemerincing di setiap gerakan. Wajahnya berseri-seri seperti pengantin yang baru menikah untuk kedua kalinya.

"Ya ampun, terima kasih sudah datang, terima kasih," ujarnya pada setiap tamu. "Ini cuma syukuran kecil-kecilan. Rasa syukur karena akhirnya keluarga kami bebas dari beban."

"Beban apa, Bu?" tanya seorang tetangga polos.

"Ya, itu." Bu Sumarni menurunkan suara dan menyentuh lengan tetangganya dengan kedipan penuh arti. "Kamu tahu sendiri. Menantu yang dulu, sebentar lagi selesai. Alhamdulillah, anak saya sudah sadar."

Bude Marni mengangguk-angguk pelan sambil menyeruput teh. "Memang. Dari dulu aku bilang Rizal itu terlalu baik hati. Perempuan seperti itu pasti membuat susah suami."

"Betul, Mbak," timpal Tante Lisna dengan nada yang jelas menyimpan dendam lama. "Aku masih ingat bagaimana dia bicara di arisan kemarin. Kurang ajar sekali."

Para tamu lain mengangguk setuju, sebagian dengan antusias, sebagian hanya karena tak ingin bersilang pendapat di tengah hidangan gratis.

Rizal duduk di sudut ruangan dengan kemeja batik dan wajah kaku. Ia tersenyum ketika disapa, menjawab seperlunya, tapi matanya sering kosong. Sudah dua hari ia tidur di rumah yang sunyi, dengan Danti yang memperlakukannya sopan tapi jauh, seperti tamu yang menumpang menginap. Dan sekarang, di tengah pesta yang disebut-sebut untuknya, ia merasa seperti sedang menghadiri pemakaman orang asing.

"Bang!" Rani muncul di sampingnya, bersinar dalam gaun merah muda. "Jangan cemberut! Ibu lagi senang banget, lho. Tuh, lihat."

"Aku nggak cemberut."

"Ya sudah, senyum dikit. Soalnya sebentar lagi ada kejutan."

"Kejutan apa?"

Rani hanya mengedip dan menghilang ke arah pintu.

Beberapa menit kemudian, pintu depan terbuka dan seorang perempuan muda melangkah masuk.

Vanya mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda, rambut disanggul longgar, wajah dirias tipis. Tas tangannya kecil dan tampak biasa saja. Penampilannya begitu bersahaja hingga beberapa tamu sempat tak memperhatikan, sampai Bu Sumarni sendiri yang berseru dari tengah ruangan.

"Nak Vanya! Ya ampun, akhirnya datang juga!"

Semua kepala menoleh.

Bu Sumarni setengah berlari menghampiri Vanya, menggamit tangannya penuh semangat. Lalu membimbingnya ke tengah ruangan seperti seorang pembawa acara yang hendak memperkenalkan bintang tamu utama.

"Bapak-Ibu sekalian, saya ingin memperkenalkan seseorang yang sangat spesial." Ia berdeham, berdiri tegak dengan dagu terangkat. "Ini Vanya. Dia calon menantu saya."

Hening sepersekian detik, lalu bisik-bisik bergemuruh.

Vanya tersenyum malu-malu, menunduk sedikit, menyalami satu per satu tamu dengan sopan.

Rizal membeku di tempat duduknya. Ia memang tahu rencana ini akan datang, tapi tak menyangka ibunya akan melakukannya secara terang-terangan, di depan seluruh keluarga, di hari yang bahkan belum menjadi hari perceraiannya.

"Bu," ia berbisik cepat ketika ibunya melewati kursinya. "Ini belum waktunya..."

"Waktunya kapan lagi?" Bu Sumarni membalas pelan sambil tersenyum lebar pada tamu lain. "Biar semua orang tahu. Biar nggak ada yang berpikir kamu bakal jadi duda tak punya arah."

Dan ia kembali ke tengah ruangan, merangkul bahu Vanya.

"Dia ini anak orang kaya, lho. Bapaknya punya perusahaan besar, ibunya punya butik dan salon. Tapi lihat, sederhana sekali. Tidak sombong sama sekali. Benar-benar menantu idaman." Ia menepuk tangan Vanya. "Ibu bangga sekali, Nak. Ibu yakin kamu dan Rizal akan bahagia."

"Aduh, Bu," Vanya tersipu, "jangan berlebihan. Saya cuma..."

"Rendah hati, rendah hati," potong Bude Marni dengan mata berbinar. "Beda sekali dengan yang dulu."

"Memang jauh," tambah Tante Lisna. "Yang dulu itu, ya ampun, jangan disebut."

Sorak-sorai kecil menyambut kalimat itu. Beberapa ibu-ibu bertepuk tangan. Bu Sumarni menegakkan dada dan mengangkat gelasnya.

"Mari kita doakan, semoga semua urusan lancar. Semoga rumah tangga baru anak saya penuh berkah!"

"Aamiin!"

Ruang tamu bergemuruh. Di tengah kemeriahan, hanya satu orang yang tampak tak ikut tersenyum... Rizal. Ia menatap ibunya, menatap Vanya, menatap para tamu yang bertepuk tangan, dan perutnya terasa seperti ditekan sesuatu yang berat.

"Danti belum pergi dari rumahku," pikirnya getir. "Dan semua orang sudah merayakan seolah ia tak pernah ada."

---

"Permisi."

Suara itu rendah dan tenang, tapi cukup untuk membuat seluruh ruangan senyap seketika.

Di ambang pintu berdiri seorang perempuan sepuh berbaju batik cokelat, rambut putih disanggul rapi, tongkat kecil di tangan kanannya. Matanya yang setajam elang menyapu seisi ruangan.

Bu Hesti.

Wajah Bu Sumarni langsung pucat. "M-Mbak? Kok... Mbak datang?"

"Aku mendengar dari tetangga sebelah." Bu Hesti melangkah masuk perlahan, tongkatnya mengetuk lantai dengan irama yang membuat para tamu menyingkir tanpa sadar. "Katanya ada syukuran. Aku jadi heran, kenapa aku tak diundang."

"Aduh Mbak, ini cuma acara kecil-kecilan. Saya pikir Mbak nggak mau repot..."

"Nggak mau repot?" Bu Hesti berhenti tepat di depannya. Sorot matanya begitu dingin hingga Bu Sumarni mundur setengah langkah. "Kamu tidak mengundangku karena kamu tahu aku akan menegurmu."

Beberapa tamu terbatuk. Seorang sepupu menunduk, pura-pura sibuk dengan ponselnya.

"Sumarni," ujar Bu Hesti dengan suara yang tidak keras, tapi terdengar sampai sudut ruangan, "ini syukuran apa?"

"Syu... syukuran biasa, Mbak. Karena..."

"Karena anakmu hendak bercerai?"

Bu Sumarni menelan ludah. "Mbak, tolong jangan di depan banyak orang..."

"Kamu yang membuat ini di depan banyak orang." Bu Hesti menoleh pada spanduk dan balon, lalu kembali pada adiknya. "Kamu merayakan perceraian anakmu sendiri dengan nasi kuning dan balon? Kamu mengenalkan perempuan lain sebagai calon menantu, padahal menantumu yang sah belum pergi dari rumahnya, padahal sidang bahkan belum dimulai?"

"Mbak, Danti itu..."

"Danti itu menantumu." Bu Hesti memotong tegas. "Perempuan yang terkilir tangannya sambil memasak dua puluh lima kilo ayam untuk arisan keluarga ini. Perempuan yang kamu suruh berutang atas namamu. Perempuan yang kamu hina di depan semua orang hanya karena tubuhnya berubah akibat obat yang ia minum demi memberimu cucu."

Hening.

Hening yang begitu dalam hingga suara kipas angin terdengar seperti deru mesin.

Wajah Bu Sumarni dari pucat berubah merah, lalu pucat lagi. Bude Marni dan Tante Lisna, yang tadi berseri, kini menunduk menatap piring masing-masing. Para tamu lain saling melirik dengan canggung. Vanya mencoba tetap tersenyum, tapi jemarinya mencengkeram tali tasnya.

"Kamu tidak punya malu, Sumarni," lanjut Bu Hesti, kali ini lebih lirih tapi menusuk. "Kamu ibu Rizal. Tapi bukan begini caranya seorang ibu mendidik anak. Dulu kamu menangis di pundakku karena dihina keluarga suamimu. Sekarang kamu melakukan hal yang sama pada perempuan lain."

"Itu... itu beda, Mbak!"

"Apa bedanya?"

Bu Sumarni membuka mulut, tapi tak ada satu pun kalimat yang keluar. Matanya berkaca-kaca, bukan karena haru, melainkan karena malu yang luar biasa di depan orang-orang.

Bu Hesti berpaling pada Rizal.

"Dan kamu, Zal."

Rizal terlonjak. "Y-ya, Bude?"

"Kamu laki-laki dewasa. Kamu punya kepala dan hati sendiri. Jangan jadikan ibumu alasan atas segala keputusan burukmu." Ia menatapnya lama, tanpa kemarahan, hanya kekecewaan yang dalam. "Danti itu mutiara yang kamu lempar ke lumpur. Suatu hari kamu akan sadar. Dan ketika hari itu datang, semoga tidak terlambat."

Tak ada yang berani bernapas.

Bu Hesti memandang Vanya sekilas. Tatapannya tidak jahat, tapi penuh penilaian, seperti seseorang yang sedang membaca halaman pertama sebuah buku yang tak ia percayai. "Kamu masih muda, Nak. Hati-hati. Jangan masuk ke rumah yang pintunya masih terbuka bagi orang lain."

Vanya tersenyum kikuk dan mengangguk.

Lalu Bu Hesti berbalik, tongkatnya mengetuk lantai sekali lagi.

"Aku datang bukan untuk makan. Aku datang untuk bicara, dan aku sudah bicara." Di ambang pintu, ia berhenti tanpa menoleh. "Aku akan mampir ke rumah Danti. Sudah lama aku tidak melihat anak itu."

Ia melangkah keluar, dan pintu depan menutup di belakangnya dengan bunyi pelan.

1
Muft Smoker
gmn kabar tetangga yx ,, klo liat Danti Skrang jd model🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
kamu hebat danti 🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
ryuka
Iya benar danti itu kamu.. 😍😍😍🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
bodoh nya kamu rizal.. bodoh bodoh.. 🫠🫠
Kusii Yaati
haduh lama" kok ikutan esmosi aq ....
Kusii Yaati
kalau aq yg jadi danti, udah ku ajak gelut si Rizal, mulutnya lemes banget, nggak ada otak juga
Ayudya
ayo Danti jangan mau jadi hinaan buktikan kalau juga bisa cantik dan seksi🤣🤣🤣🤣🤣
ryuka
dantiii kamu kereeennm

Nadia kamu juga kerennn 😍😍😍😍😍😍😍😍
Muft Smoker
skarang waktu ny buat dunia mu bahagia Danti ,, semangat trus
ryuka
semangat dantii... kamu harua bahagia.. tinggalin itu si rizall bodoh di dasar laut selama nya
Muft Smoker
menyesal banget yx zal ,, tp sayang ny smua udh trlambat ,,, tu laa laki2 yg gx bisa tegas dg keputusan ny ,, dgerin omongan org tua boleh ,, malah d anjur kan ,, tp sebagi laki2 dan kepala rumah tangga ,, harus bisa memilih dan memilah mana yg baik buat rumah tangga mu ,, mana yg justru menghancurkan rumah tangga mu ,,
ryuka
wahahahaha.. aku juga tertawa bersamamu dantiii 😍😍🤣😍😍🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
udh cerai zal ,, keinginan mu telah terkabul ,, silahkan km melangkah ke jenjang yg lbih serius ,, kn udh punya calon ny ,, yg cantik , lngsing dan kaya seperti mau ibu mu😏
ryuka
wkwkwkwk.. mampus kamu rizal.. menyesal menyesal deh kamu ampe ke dasar jurang
Muft Smoker
jgn menyesal yx Rizal ,, istrii mu Danti udh brubah dan tdk terjangkau lgi😏😏
Muft Smoker
pesen yg kaya bude hestiii 1 ,, buat jd mertua kuuuuu ,,
ryuka
bude hestiii kamu kereeennnnn 🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Muft Smoker
cuma bude Hesti kyaknya yg manusia sejati ,, sisa ny cuma makhluk tak kasat mata😒😒😒😒
ryuka
bude hesttiiii cuma kamu yg waras di keluarga itu 🔥🔥🔥🔥🔥🔥 hebaaattt
Muft Smoker
ayoo dantii ,, tegakan kepala mu ,, jgn mau trus di hina dan di rendah kan oleh keluarga Rizal ,, biar hanya mereka yg tenggelam dlm kehancuran ,, sedangkan km harus ttap terbang tinggi ,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!