Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 Bimbang
Puskesmas desa sore itu terasa sangat sepi. Hanya terdengar suara detik jam dinding dan sesekali suara perawat yang memanggil pasien.
Di dalam ruang periksa yang sempit dan berbau obat antiseptik, Arman terbaring sendirian di atas ranjang besi yang keras. Kemeja putih yang tadi pagi ia pakai dengan penuh harapan untuk datang ke mediasi kini sudah sobek di bagian lengan dan penuh dengan noda lumpur kering yang kecokelatan. Lutut kanannya diperban tebal dengan perban putih yang sudah sedikit merembes darah, tangan kirinya lecet-lecet merah, dan pelipisnya juga tergores batu.
Wajahnya terlihat sangat pucat. Bukan hanya karena menahan perih di lututnya, tapi karena menahan perih di hatinya. Ia gagal datang ke mediasi. Ia gagal bertemu Alya di pengadilan. Dan yang paling menyakitkan, ia tahu kecelakaan ini terjadi karena ulah ibunya sendiri.
Pintu ruang periksa terbuka dengan pelan.
"Assalamualaikum, Man..."
Bu Ratna masuk dengan langkah yang ragu-ragu. Wajahnya terlihat sangat kusut, matanya sembab karena menangis sejak siang tadi setelah mendengar kabar dari Pak Karim. Di tangannya ia membawa sebuah rantang berisi nasi dan sayur sop yang masih hangat, tapi tangannya gemetar.
"Waalaikumsalam, Bu," jawab Arman pelan tanpa menoleh, menatap langit-langit puskesmas yang putih dan retak.
Bu Ratna mendekati ranjang Arman dan duduk di kursi plastik di sampingnya. Saat melihat dengan jelas keadaan anaknya yang penuh luka dan perban, air mata Bu Ratna yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah dan jatuh deras.
"Ya Allah, Man, anakku, maafkan Ibu, Man. Maafkan Ibu, Man..." Bu Ratna menangis sambil menggenggam tangan Arman yang lecet itu dengan erat.
Arman akhirnya menoleh dan menatap ibunya.
"Bu, kenapa Ibu tega, Bu? Kenapa Ibu kempesin ban motor Arman, Bu?" tanya Arman dengan suara yang lirih dan parau, tapi setiap katanya terdengar begitu menyayat hati.
Bu Ratna terisak semakin kencang, bahunya bergetar.
"Maafkan Ibu, Man. Ibu khilaf, Man. Ibu hanya ingin kamu melupakan Alya, Man. Ibu pikir kalau kamu tidak datang ke mediasi, hakim akan langsung menceraikan kalian dan kamu bisa menikah dengan Mbak Santi, janda penjual emas itu, Man. Ibu pikir itu yang terbaik buat kamu, Man. Ibu tidak menyangka kamu akan jatuh dan berdarah-darah seperti ini, Man. Maafkan Ibu, Man..."
Melihat ibunya menangis sejadi-jadinya seperti itu, hati Arman yang keras karena kecewa pun akhirnya luluh juga. Bagaimanapun juga, itu adalah ibunya, orang yang melahirkannya.
"Bu, yang terbaik buat Arman itu bukan emas, Bu. Yang terbaik buat Arman itu Alya dan anak-anak Arman, Bu. Emas bisa dicari, Bu, tapi kebahagiaan Alya, Nisa, dan Raffi tidak bisa dibeli dengan emas, Bu," ucap Arman sambil air matanya ikut jatuh.
Bu Ratna memeluk Arman dengan erat, pelukan seorang ibu yang baru menyadari kesalahannya.
"Maafkan Ibu, Man. Ibu menyesal, Man. Ibu janji tidak akan menjodohkan kamu lagi, Man. Sekarang kamu istirahat ya, Man, biar luka kamu cepat sembuh."
Di dalam pelukan ibunya itu, Arman menangis. Ia sedih melihat keadaan dirinya yang hancur, sedih melihat ibunya yang menangis karena bersalah, dan sedih karena ia tahu Alya pasti semakin yakin ingin berpisah karena ia tidak datang ke mediasi.
Di sisi lain, di waktu yang bersamaan, di kebun mangga yang asri dan tenang, suasana yang berbeda justru terjadi.
Setelah kejadian Bu Ratna datang dan menghina serta menuduh Alya sebagai penyebab kecelakaan Arman siang tadi, hati Alya kembali guncang. Kata-kata fitnah Bu Ratna yang mengatakan Alya pembawa sial dan dukun yang menyantet Arman terus terngiang di kepalanya.
Nisa dan Raffi sudah tertidur pulas di dalam rumah kecil karena kelelahan menangis melihat ibunya dimaki-maki. Alya duduk sendirian di teras rumah kecilnya sambil memandangi kebun kangkungnya yang tadi terinjak-injak oleh Bu Ratna. Matanya sembab, wajahnya pucat.
Ustadzah Munah yang melihat Alya duduk sendirian dari teras rumah besar langsung menghampirinya dengan membawa dua gelas teh hangat.
"Nak Alya, kamu belum tidur, Nak? Sudah larut malam, Nak," sapa Ustadzah Munah dengan lembut.
Alya mengangkat wajahnya yang penuh dengan air mata.
"Bu, Alya tidak bisa tenang, Bu. Hati Alya tidak tenang lagi, Bu," ucap Alya dengan suara yang bergetar.
Ustadzah Munah duduk di samping Alya dan merangkul pundaknya.
"Ada apa lagi, Nak? Ceritakan sama Ibu, Nak. Jangan kamu pendam sendiri."
"Bu, tadi kan Bu Ratna datang dan bilang Arman kecelakaan, Bu. Terus Bu Ratna menuduh Alya yang membuat Arman kecelakaan, Bu. Bu Ratna bilang Alya pembawa sial, dukun, tukang santet, Bu. Hati Alya sakit sekali mendengarnya, Bu. Padahal Alya tidak tahu apa-apa, Bu. Alya baru tahu Arman kecelakaan dari mulut Bu Ratna sendiri, Bu."
Air mata Alya jatuh semakin deras.
"Terus yang membuat Alya bimbang lagi, Bu, tadi di pengadilan mediasi dinyatakan gagal karena Arman tidak datang, Bu. Alya senang karena proses gugatan Alya berjalan lancar, Bu. Tapi setelah mendengar Arman kecelakaan, Alya jadi merasa bersalah, Bu. Apakah Alya berdosa, Bu? Apakah gara-gara gugatan cerai Alya, Arman jadi kecelakaan, Bu? Apakah Alya harus mencabut gugatan Alya, Bu?"
Pertanyaan-pertanyaan itu keluar dari mulut Alya dengan penuh kebingungan. Ia benar-benar berada di persimpangan jalan antara mantap ingin berpisah dan rasa kasihan karena mantan suaminya celaka.
Ustadzah Munah mendengarkan semua keluh kesah Alya dengan sabar, lalu mengelus kepala Alya dengan penuh kasih sayang seperti seorang ibu kepada anaknya.
"Nak Alya, dengarkan Ibu baik-baik ya, Nak," ucap Ustadzah Munah dengan suara yang lembut dan bijaksana.
"Pertama, kamu tidak perlu merasa bersalah atas kecelakaan Arman, Nak. Kecelakaan itu adalah takdir dari Allah, bukan karena kamu, bukan karena gugatan cerai kamu. Kamu tidak pernah mendoakan yang buruk untuk Arman, kan, Nak? Kamu tidak pernah menyantet Arman, kan, Nak?"
Alya menggeleng dengan cepat.
"Tidak, Bu, demi Allah tidak, Bu. Alya tidak pernah mendoakan buruk untuk Arman, Bu."
"Nah, kalau begitu kamu tidak salah, Nak. Jangan kamu masukkan ke dalam hati fitnah dari Bu Ratna itu, Nak. Orang yang hatinya sedang kalut memang sering menyalahkan orang lain. Itu bukan salah kamu, Nak. Itu murni kecelakaan."
Alya mengangguk pelan, hatinya sedikit lebih lega mendengar nasehat Ustadzah Munah.
"Lalu yang kedua, Nak, tentang gugatan cerai kamu. Ibu masih ingat, Nak, kamu sudah istikharah dua kali dan hati kamu mantap ingin berpisah. Jangan karena satu kejadian ini, yaitu kecelakaan Arman, kamu jadi bimbang lagi dan mencabut gugatan kamu, Nak. Rasa kasihan itu memang baik, Nak, tapi jangan sampai rasa kasihan itu membuat kamu kembali masuk ke dalam rumah yang membuat kamu dan anak-anak kamu terluka setiap hari."
"Tapi Bu, bagaimana kalau Arman butuh Alya, Bu?" tanya Alya.
"Nak, Arman butuh kamu sebagai perawat saat dia sakit, tapi anak-anak kamu butuh kamu sebagai ibu yang bahagia dan tenang setiap hari. Mana yang lebih penting, Nak? Kamu harus pikirkan masa depan Nisa dan Raffi, Nak. Kamu lihat sendiri, selama satu bulan di sini, Nisa dan Raffi jauh lebih sehat, lebih gemuk, lebih ceria. Itu karena kamu tenang, Nak."
Kalimat Ustadzah Munah itu membuat Alya tersadar.
"Jadi Alya harus bagaimana, Bu?"
"Jika hati kamu masih bimbang, lakukan lagi apa yang Ibu ajarkan kemarin, Nak. Sholat istikharah lagi malam ini, Nak. Minta petunjuk lagi kepada Allah untuk ketiga kalinya. Ceritakan kebimbangan kamu yang baru ini. Jika setelah istikharah ketiga ini hati kamu masih mantap ingin berpisah, berarti Allah memang sudah menetapkan itu jalan terbaik untuk kamu, Nak. Jangan ragu lagi, Nak."
Alya mengusap air matanya dan mengangguk mantap.
"Baik, Bu. Malam ini Alya akan istikharah lagi, Bu. Alya akan minta petunjuk lagi sama Allah, Bu. Terima kasih banyak, Bu, Alya jadi lebih tenang setelah dinasehati Ibu, Bu."
Ustadzah Munah tersenyum dan memeluk Alya.
"Sama-sama, Nak. Sekarang masuklah, malam sudah larut. Sholatlah sebelum kamu tidur dan tenangkan hati kamu."
Malam itu, di dua tempat yang berbeda, dua hati sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Di puskesmas, Bu Ratna menangis sedih melihat keadaan Arman yang terluka karena ulahnya sendiri. Dan di kebun mangga, Alya kembali bersiap untuk melaksanakan sholat istikharah ketiganya untuk memantapkan hatinya yang sempat bimbang karena fitnah dan rasa bersalah.
Bersambung...