Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.
hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.
apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.
dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yurinika 29
Pintu unit apartemen mewah berkarpet tebal itu tertutup rapat dengan suara klik yang berat. Suasana di dalam ruangan berpendingin udara itu terasa begitu menyesakkan, kontras dengan kemewahan interior yang membalutnya.
Begitu pintu terkunci, Sandra langsung melempar tas tangan bermereknya ke atas sofa beludru. Ia berbalik badan dengan dada naik-turun menahan emosi yang meledak-ledak. Ia menatap tajam ke arah Abimana yang berdiri mematung di dekat pintu, menunduk lesu tanpa berani mengangkat wajah.
"Duduk!" perintah Sandra tajam, menunjuk sofa dengan dagunya.
Abimana melangkah gontai, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dengan bahu merosot. Ia menakup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menghela napas panjang yang terdengar seperti isakan tertahan.
Sandra berjalan mondar-mandir di hadapannya, tumit sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan irama tajam yang memecah kesunyian.
"Jadi... selama ini kamu cuma manfaatin aku, Mas?" ucap Sandra dengan suara bergetar dingin, menatap Abimana penuh selidik.
"Kamu pakai jabatanku, kamu pakai koneksi Papaku, kamu injak-injak harga diriku buat ambisi busuk kamu... tapi hati kamu tetap mau balik ke perempuan kampungan itu?!"
Abimana menurunkan tangannya, menatap Sandra dengan sorot mata memohon yang menyedihkan.
"Bukan begitu, Sandra... Tolong mengertilah..."
"Mengerti apa?!" bentak Sandra histeris, menepis vas bunga kecil di atas meja nakas hingga hampir terjatuh.
"Kamu bilang kamu cinta sama dia! Kamu bilang kamu takut kehilangan dia! Terus aku ini apa di mata kamu, hah?! Tempat singgah?! Pelampiasan saat kamu bosan sama istri sah kamu?!"
"Aku salah, Sandra... Aku akui aku serakah," lirih Abimana, suaranya parau.
"Waktu aku kenal kamu, aku terbuai sama dunia kamu yang mewah, jabatan tinggi, dan semua fasilitas yang kamu kasih. Aku pikir aku bisa memiliki semuanya tanpa harus kehilangan Yuri. Tapi... tapi setelah kamu bilang kamu sempat nemuin Yuri... aku sadar aku udah salah besar."
Abimana merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, memohon kepada Sandra dengan gestur yang begitu rendah.
"Sandra, kumohon... batalkan niat kita buat menikah. Aku nggak mau cerai sama Yuri. Kalau sampai Yuri ninggalin aku, aku tak tahu akan bagaimana hidupku setelahnya!"
Mendengar kata-kata itu, alih-alih merasa iba, Sandra justru tertawa renyah, sebuah tawa hampa yang dipenuhi kebencian yang teramat dalam.
"Mau mundur? Sekarang, setelah kamu basah kuyup di tengah lautan dan minta tolong?" cibir Sandra sinis, melangkah mendekat dan mencengkeram dagu Abimana dengan kencang, memaksa pria itu mendongak menatap matanya.
"Dengar baik-baik, Abimana! Perahu kita sudah berlayar jauh ke tengah badai. Kamu pikir dengan memohon padaku sekarang, kamu bisa bebas begitu saja kembali ke pelukan istri sahmu? Jangan mimpi!"
Abimana tertegun, manik matanya bergetar hebat melihat kilatan gelap di mata Sandra.
"Sandra... apa maksud kamu...?"
Sandra melepaskan cengkeramannya dengan kasar, lalu menyunggingkan senyuman miring yang tampak begitu menakutkan di wajah cantiknya.
"Kamu mau pulang ke Yuri? Silakan saja kalau kamu berani," bisik Sandra penuh ancaman.
"Tapi ingat konsekuensinya. Begitu kamu melangkah keluar dari pintu apartemen ini... detik itu juga aku pastikan Papa mencopot jabatan Manajer Utama kamu, menyeret kamu ke jalur hukum atas penyalahgunaan wewenang, dan membuat kamu dan keluargamu menjadi gelandangan di kolong jembatan!"
Abimana membelalak ngeri, napasnya tersangkut di tenggorokan. Ancaman itu nyata. Ia berdiri di tepi jurang yang curam, melangkah ke kiri berarti kehilangan Yuri selamanya dan hidup dalam cengkeraman monster bernama Sandra, melangkah ke kanan berarti kehilangan segalanya dan menjadi pesakitan yang hancur berkeping-keping. Dia tak mengira kalau Sandra adalah wanita selicik itu.
Di tengah keputusasaan yang mencekik lehernya, Abimana hanya bisa terduduk kembali di sofa, menangisi kebodohannya sendiri sementara jam dinding terus berdetik menghitung mundur kehancuran hidupnya.
Ruangan mewah itu terasa semakin sempit, dipenuhi aroma parfum mahal yang kini justru menyesakkan dada Abimana. Pria itu menatap Sandra dengan tatapan nanar, sisa-sisa harga diri dan keangkuhannya sebagai seorang eksekutif telah runtuh tak bersisa. Ia merosot dari sofa, berlutut tepat di lantai marmer dingin di hadapan Sandra.
"Sandra... kumohon..." suara Abimana pecah, berubah menjadi isakan putus asa yang menyedihkan. Jemarinya mencengkeram ujung kain dress satin yang dikenakan Sandra.
"Jangan buat aku memilih antara kehancuranku dengan Yuri atau kehancuranku dengan kamu. Tolong... bantu aku selesaikan masalah ini."
Sandra, yang berdiri dengan tangan bersilang di dada, menunduk memandang pria yang kini bertekuk lutut di kakinya. Alih-alih melunak, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyuman sinis penuh kemenangan. Ia menikmati momen di mana Abimana, pria yang selama ini diagung-agungkan di kantor, kini bersujud memohon belas kasihannya.
"Membantu kamu menyelesaikan masalah?" ulang Sandra dengan nada suara mengejek. Ia menarik ujung gaunnya dari genggaman Abimana dengan kasar.
"Tolong biarkan aku menemui Yuri dulu dan menyelesaikan masalah kami berdua. Setelahnya aku akan kembali kepada kamu..."
"Apa ucapan kamu bisa aku pegang Abimana? Kau tak sedang main-main dengan ucapanmu kan?" Tanya Sandra.
Abimana mendongak dengan tatapan penuh permohonan yang amat memelas. Air matanya terus menetes membasahi pipi, membasahi lantai marmer dingin tempatnya bersimpuh.
"Aku sumpah, Sandra... Aku bersumpah!" bisik Abimana dengan suara serak, memegang dada kirinya yang terasa sesak luar biasa.
"Aku cuma butuh waktu sebentar. Aku harus bicara sama Yuri, melihat dengan mata kepala sendiri gimana respons dia... Aku mau pastikan dia nggak menghancurkan aku dari belakang. Setelah semua urusanku sama dia selesai, aku bakal kembali ke kamu dan menuruti semua kemauanmu."
Sandra berdiri tegap dengan kedua tangan melipat di dada, menatap pria di bawah kakinya itu seperti melihat mainan yang sudah rusak namun masih berguna untuk kepuasannya. Senyuman miring yang begitu dingin mengukir bibirnya yang berpoles gincu merah membara.
"Oke," sahut Sandra singkat, nadanya terkesan sangat santai namun begitu menekan.
"Aku kasih kamu kesempatan sampai nanti malam."
Abimana menelan ludahnya yang pahit, napasnya sedikit lega meski kepalanya masih terasa mau pecah.
"Nanti malam...?"
"Iya, nanti malam!" potong Sandra tegas, menunjuk dada Abimana dengan jari lentiknya yang berkuku tajam.
"Kamu punya waktu beberapa jam dari sekarang untuk nemuin perempuan itu. Selesaikan semuanya, minta dia tanda tangani berkas apa pun kalau perlu, dan pastikan dia nggak bakal ngerecoki kehidupan kita lagi!"
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏