【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Putus Layar, Mesra di Kenyataan
Masa-masa indah di kelas X IPA 2 yang dihiasi panggilan Nandut dan Antet, bekal roti bakar manis dari rumah, serta kenangan ulang tahun yang mengesan di kolam renang terasa berlalu begitu cepat. Kehadiran Nara dalam hidupku memberikan warna paling terang yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Namun, dinamika kehidupan anak SMA yang belum sepenuhnya matang dalam mengelola emosi dan ego perlahan-lahan mulai menguji ketahanan hubungan kami. Memiliki seseorang yang paling kita sayangi ternyata tidak cuma berisi tawa dan kebahagiaan, tapi juga membawa rasa takut kehilangan dan amarah cemburu yang sukar dikendalikan.
Di pertengahan bulan April, suasana sekolah kami mendadak sibuk menyambut peringatan Hari Kartini dan Kartono. Pengurus OSIS, para guru, dan perwakilan murid dari setiap tingkat disibukkan oleh berbagai persiapan agenda tahunan tersebut. Mulai dari lomba membuat mading, kebersihan kelas, sampai lomba peragaan busana adat pasangan Kartini dan Kartono antar kelas.
Hari Selasa jam pelajaran Wali Kelas usai, Bu Heni mengumumkan persiapan lomba tersebut di depan kelas X IPA 2.
"Anak-anak, untuk perwakilan busana adat Kartini dan Kartono dari kelas kita tahun ini, pengurus kelas dan ibu sudah berdiskusi," ujar Bu Heni ramah dari balik meja guru. "Nara akan mewakili sebagai Kartini, dan dia akan berpasangan dengan salah satu siswa dari barisan tengah untuk Kartono-nya."
Mendengar nama Nara dipanggil sebagai Kartini dan disandingkan dengan cowok lain di depan seluruh anak kelas, dadaku mendadak berdesir panas. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menohok tajam di dalam hati.
Aku menoleh ke arah barisan depan. Nara tidak menunjukkan penolakan. Dia cuma mengangguk pelan, mengiyakan keputusan wali kelas dan pengurus kelas dengan raut wajah yang biasa saja.
Sebagai pacar, seharusnya aku bisa berpikir jernih dan bersikap dewasa. Tapi di usia SMA, rasa gengsi dan amarah cemburu membutakan logikaku sepenuhnya. Kenapa bukan aku yang berpasangan dengannya? Kenapa Nara harus berdandan rapi, berjalan beriringan, dan disandingkan di depan ratusan pasang mata murid sekolah bersama cowok lain, sementara aku cuma bisa duduk menonton di pinggir lapangan?
Sepanjang hari itu, interaksi kami di kelas agak merenggang. Aku memilih banyak diam di bangku belakang, sementara Nara tampak sibuk dengan urusan persiapan lombanya bersama teman-teman panitia.
Rangkaian acara Hari Kartini dan Kartono di sekolah akhirnya tuntas digelar dengan meriah. Seluruh murid saling bersua foto dan bersenang-senang, sementara aku memilih menyendiri di tepi lapangan, memandangi Nara dari kejauhan yang tampak anggun dengan balutan kebaya tradisionilnya.
Sore harinya, usai semua murid pulang ke rumah masing-masing, ketegangan emosi yang seharian kusingkirkan akhirnya meledak.
Aku duduk di tepi kasur kamarku, memegang HP jadoel berlayar kecil. Rasa cemburu melihat Nara berpasangan dengan cowok lain di sekolah hari ini masih membekas di dadaku. Tanpa berpikir panjang, jemariku mulai mengetik pesan lewat layar HP untuk mengekspresikan kekesalanku.
Perdebatan kecil lewat layar HP itu berlangsung sengit dan makin melenceng jauh. Nara yang merasa bahwa dirinya tidak berbuat salah dan itu hanyalah tugas kelas mulai terpancing emosinya. Ego kami berdua sama-sama tinggi malam itu. Tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang mau menundukkan kepala.
Hingga akhirnya, sebuah pesan dari Nara masuk ke layar HP-ku, memupus semua status resmi yang baru saja berjalan satu bulan:
"Kalau kamu gak bisa percaya sama aku cuma gara-gara acara sekolah tadi, ya udah... kita putus aja, Sat."
Membaca kalimat itu, dadaku terasa tertohok keras. Rasa sakit hati dan gengsi anak muda membakar kepalaku. Tanpa ragu, jemariku justru membalas dengan nada yang sangat lugas:
"Yaudah kalau itu mau kamu. Kita putus."
Selesai. Pesan singkat itu terkirim. Status resmi kami sebagai pasangan kekasih resmi kandas malam itu lewat layar HP, tepat usai perayaan Hari Kartini dan Kartono tuntas.
Keesokan paginya, aku melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan perasaan yang agak hampa dan kacau. Kupikir, hubungan kami di kelas bakal berubah canggung setengah mati. Kupikir, kami bakal kembali berjarak dan saling diam seperti bulan-bulan awal sebelum jadian.
Tapi dugaanku salah besar.
Di sekolah, tidak ada satu pun orang—bahkan Diko sekalipun—yang tahu kalau kami sudah putus semalam. Kami tidak membuat keributan di koridor, tidak ada mata sembab yang mencolok, dan tidak ada pengumuman apa pun. Karena kami putus murni lewat pesan di kamar masing-masing, di mata seluruh warga sekolah, aku dan Nara masih kelihatan seperti pasangan kekasih yang harmonis.
Dan hal paling menarik sekaligus membingungkan justru terjadi setelah hari itu.
Meskipun di layar HP semalam kami sudah resmi putus, pada kenyataannya sikap Nara di sekolah justru tetap sama seperti orang berpacaran.
Saat jam istirahat pertama berbunyi, Nara berjalan menghampiri mejaku di barisan belakang seperti biasa. Dia membawa kotak bekal plastik, duduk di kursi sebelahku, lalu tanpa ragu mengambil HP-ku untuk mengecek pesan masuk—memastikan tidak ada cewek lain yang berkirim pesan padaku.
"Nandut, ini siapa kok nge-chat nanya tugas?" tanya Nara menyelidik sambil menatapku dengan mata cokelatnya yang tajam.
Aku mengangkat alis, menyunggingkan senyum tipis. "Itu anak kelas sebelah nanya PR Matematika, Antet. Kenapa? Cemburu?"
Nara langsung mendengus kecil, mencubit pelan lenganku dengan gemas. "Dih, siapa juga yang cemburu! Orang cuma nanya doang!"
Sikapnya itu membuatku bingung sendiri. Suatu sore saat kami duduk berdua di sudut perpustakaan belakang, aku sempat bertanya pelan kepadanya.
"Ra, kan kita semalam udah putus lewat pesan... kok kamu masih ngatur-ngatur dan meriksa HP aku kayak gini?" tanyaku jujur.
Nara terdiam sejenak. Jemarinya memainkan ujung jilbab putihnya. Dia menatap mataku lekat-lekat, lalu memberikan berbagai alasan khasnya. Dia bilang kalau dia sebenarnya masih sangat sayang padaku, merasa nyaman denganku, tapi di sisi lain dia juga punya alasan-alasan pribadi dan belum siap kalau harus benar-benar berpisah sepenuhnya denganku.
Nara tetap memperlakukan aku layaknya seorang pacar: masih memanggilku sayang saat berkirim pesan di malam hari, masih minta diantar pulang usai jam sekolah, dan tetap cemburu berat kalau aku ngobrol terlalu akrab dengan cewek lain di kelas.
Karena aku sendiri masih sangat mencintainya dan tidak pernah ingin kehilangan dirinya, aku menuruti dan menikmati dinamika tanpa status itu begitu saja.
Diko yang duduk di sebelahku di kelas sama sekali tidak curiga sedikit pun. Dia masih sering meledek kami saat kami bercanda bersama di bangku belakang.
"Wah, makin lengket aja nih dua sejoli barisan belakang! Gak ada bosennya berdua terus!" celoteh Diko sambil tertawa ngakak.
Aku cuma tertawa pelan dalam hati mendengar ledekan Diko. Seluruh anak kelas X IPA 2 mengira kami masih berpacaran normal. Padahal, status resmi kami sebenarnya sudah putus di layar HP, tapi dalam kenyataan harian, kami tetap terjebak dalam lingkaran manis sebagai dua orang yang saling mengikat tanpa ada status yang mengikat.