Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.
Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.
Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. TEMAN BARU
"Vell, kamu mau ke kantin, tidak?" tanya Alena pelan, menoleh ke arah Vellora saat suara langkah kaki dan gelak tawa siswa lain mulai memenuhi lorong kelas yang bising.
Vellora memasukkan ponselnya ke dalam saku roknya, lalu tersenyum cerah. "Iya, aku mau ke kantin. Apa kamu mau ke kantin bareng?" ajaknya.
Mata Alena berbinar. "Apa boleh?"
"Tentu saja! Ayo!" seru Vellora antusias.
Keduanya pun berjalan beriringan keluar dari kelas. Suasana sekolah di hari pertama terasa sangat hidup, dipenuhi siswa berseragam rapi yang saling bertegur sapa setelah libur panjang.
Saat mereka tiba di anak tangga utama dan hendak turun, sebuah suara melengking yang sangat familier memecah keributan.
"Veeelllll!" teriak Luna dari ujung tangga atas, melambai heboh sambil setengah berlari menuruni anak tangga, nyaris tersandung kakinya sendiri.
"Hei! Hati-hati, Lun! Bagaimana kelas barumu?" sapa Vellora sambil terkekeh melihat sahabatnya yang super energik itu.
"Cukup menyenangkan sih, tapi sayang banget kita pisah kelas! Rasanya ada yang kurang," keluh Luna sambil mengerucutkan bibirnya. Ia lalu celingukan mencari seseorang. "Oh iya, si Kenzi di kelas mana dia? Nyasar ke ruang BK, ya?"
Vellora tertawa pelan. "Dia sekelas denganku. Duduk tepat di belakangku, malah."
"Yaaah! Enak sekali dia! Andai saja aku bisa bertukar tempat dengannya," gerutu Luna, cemberut sambil meremas ujung roknya.
"Tidak apa-apa, jangan berkecil hati. Kita masih bisa bertemu setiap hari, kan? Ayo ke kantin, aku sudah lapar!" hibur Vellora seraya menepuk bahu Luna.
Pandangan Luna tiba-tiba beralih ke gadis manis di samping Vellora. "Eh? Dia siapa, Vell?" tanyanya penasaran.
"Oh, kenalin, ini Alena. Tadi aku baru saja berkenalan dengannya di kelasku," ujar Vellora memperkenalkan.
Dengan gaya percaya diri tingkat dewa khas dirinya, Luna langsung mengulurkan tangan. "Hai, Alena! Aku Luna, sahabat karib Vellora sehidup semati! Kamu sekarang juga temanku, karena musuh temanku adalah musuhku, dan teman Vellora berarti temanku juga!" cerocos Luna ramah.
Alena sedikit terkejut dengan energi Luna, tapi ia segera tersenyum manis dan menjabat tangan itu. "Salam kenal, Luna. Aku Alena."
Setelah ritual perkenalan yang heboh itu, ketiga gadis cantik tersebut berjalan menuju kantin yang sudah padat merayap. Mereka berhasil mengamankan sebuah meja kosong di sudut, tepat di bawah kipas angin.
"Kalian mau makan apa?" tawar Luna bersiap memesan.
"Seperti biasa saja, Lun. Nasi goreng dan es jeruk," jawab Vellora.
"Hemm, baiklah. Kalau kamu, Alena?" tanya Luna.
"Samain saja, Lun," seru Alena lembut.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka bertiga duduk mengobrol santai.
"Eh, ngomong-ngomong, Alena... sepertinya aku baru pertama kali melihatmu di sekolah ini deh. Apa kamu anak pindahan?" selidik Luna, jiwa detektif remajanya meronta-ronta.
Alena tersenyum tipis, pandangannya sedikit menerawang. "Emm, kebetulan iya. Aku baru saja pindah dari Paris ke sini. Orang tuaku... papa dan mamaku baru saja resmi bercerai. Jadi, aku memutuskan ikut Papa tinggal di Indonesia," jelasnya dengan suara tenang.
Luna terkesiap, tangannya refleks menutup mulut. "What?! Ya ampun, Alena... maafkan aku! Aku benar-benar tidak tahu, aku terlalu bawel," pekik Luna merasa sangat bersalah telah mengorek luka orang.
"Tidak masalah, Luna. Semuanya sudah berlalu," senyum Alena menenangkan, menunjukkan kedewasaannya.
Luna menghela napas lega, lalu menatap wajah Alena lebih lekat. "Pantas saja kamu cantik banget, auranya beda! Dan matamu juga indah, warnanya unik... seperti campuran warna hitam pekat yang agak kebiruan tua kalau terkena cahaya matahari," puji Luna tulus.
"Makasih, Luna. Kamu juga sangat cantik, energik lagi," balas Alena tersipu malu.
Obrolan hangat mereka terus mengalir diselingi canda tawa, hingga akhirnya bel masuk berbunyi nyaring, memaksa mereka menyudahi jamuan makan siang itu. Mereka kembali bergegas menuju kelas masing-masing.
Saat menaiki tangga, Alena menoleh pada Vellora. "Vell, sepertinya kamu sangat dekat sekali dengan Luna, ya?"
"Emm, kebetulan kami teman masa kecil. Kami sudah berteman dan tumbuh bersama sejak umur lima tahun," jawab Vellora sambil tersenyum mengenang masa lalu. Keduanya pun tiba di depan pintu kelas dan masuk untuk duduk di bangku mereka.
Suasana kelas seketika hening saat wali kelas masuk, meminta perwakilan siswa untuk membentuk struktur organisasi kelas hari itu juga. Setelah instruksi diberikan, sang guru keluar, meninggalkan mereka untuk berdiskusi mandiri.
"Baiklah, siapa yang bersedia menjadi Ketua Kelas?" seru seorang siswa laki-laki dari depan kelas memimpin musyawarah.
Keheningan melanda. Tidak ada satu pun yang berani mengangkat tangan karena enggan menanggung beban berat sebagai ketua. Namun, tiba-tiba Hanzo—siswa laki-laki berwajah tegas—mengangkat tangannya.
Melihat itu, Alena pun dengan percaya diri mengangkat tangan. "Aku bersedia menjadi Wakil Ketua Kelas!" serunya.
Pemungutan suara dan musyawarah cepat pun dimulai. Hasilnya sudah mutlak: Hanzo resmi menjabat sebagai Ketua Kelas XII-3A, dan Alena sebagai wakilnya.
Vellora bertepuk tangan bangga untuk teman barunya itu. Sementara itu, posisi Bendahara dengan cepat disambar oleh Sekar si gadis teliti, dan posisi Sekretaris... jatuh ke tangan Vellora karena tulisannya yang sangat rapi.
Setelah struktur kelas terbentuk dan buku LKS dibagikan dari perpustakaan, pengumuman menyenangkan dari speaker sekolah terdengar. Karena hari pertama sekolah masih dalam tahap persiapan administrasi, seluruh siswa diperbolehkan pulang lebih awal!
"Baik, anak-anak, karena kegiatan hari ini sudah selesai dan belum ada pelajaran efektif, kalian boleh pulang sekarang," ujar wali kelas.
"Iyaa, Buuu!" seru para murid serentak dan gembira.
Begitu bel pulang berdengung, Vellora dan Alena langsung membereskan buku mereka dan melesat keluar kelas, bertemu Luna di gerbang.
"Luna, Alena, aku duluan, yah! Kak Leo sudah menunggu di depan," ujar Vellora melihat mobil sport kakaknya sudah terparkir mencolok.
"Iya, Vell! Hati-hati!" senyum Luna dan Alena kompak melambaikan tangan.
Sepeninggal Vellora, Luna menoleh pada Alena. "Eh, Alena, kamu pulang sama siapa?"
Sebuah mobil sedan hitam elegan menepi tak jauh dari mereka. "Emm, aku dijemput. Itu sopirku sudah datang. Duluan yah, Luna!" pamit Alena dengan senyuman manisnya.
"Iya, Alena! Sampai besok!"
Mereka pun berpisah. Hari itu, hanya tersisa Luna di gerbang sekolah, sendirian menunggu Kenzi karena ia masih ada urusan OSIS yang harus diselesaikan. Sebuah permulaan tahun ajaran yang sangat dramatis dan penuh kejutan bagi mereka semua.