NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:848
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Satu Detak Lagi di Ruang Sidang

Carlo tidak berkata apa-apa selama hampir semenit penuh.

Ia hanya berdiri di ambang dapur Rumah Pulang, tangan tergantung di sisi tubuh, menatap Andien yang masih memegang gelas air dengan jari gemetar. Panci sup mendidih pelan di belakangnya. Seseorang di ruang depan tertawa.

"Mas?" Andien memberanikan diri. "Kalau Mas belum siap..."

"Aku tidak tahu harus berdiri atau duduk," kata Carlo akhirnya, dan suaranya pecah di tengah. "Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis. Aku pernah memimpin rapat dengan sembilan komisaris yang ingin menjatuhkanku, dan tidak pernah sekali pun lututku selemas ini."

Andien tertawa kecil, air matanya jatuh. "Duduk saja, Mas."

Carlo menarik kursi dan terduduk. Lalu, perlahan, seperti orang yang meminta izin pada sesuatu yang suci, ia mengulurkan tangannya dan berhenti di udara, tepat di depan perut Andien.

"Boleh?"

"Belum terasa apa-apa."

"Aku tahu." Ia menelan ludah. "Tapi boleh?"

Andien meraih tangan itu dan menempelkannya di sana. Hangat. Kikuk. Gemetar. Tak ada yang bisa dirasakan, hanya kain kebaya dan kulit di baliknya. Tetapi Carlo memejamkan mata seolah mendengar sesuatu, dan di pipinya, air mata mengalir tanpa suara.

Laras, yang berdiri bersandar di dekat wastafel, memalingkan wajah dan berpura-pura sibuk mengatur gelas, meskipun bahunya bergetar sedikit. Dan di sudut dapur, Raka, yang entah sejak kapan berdiri di sana, buru-buru mengambil lap dan mulai menyeka meja yang sudah bersih.

"Tes kehamilan dulu," ujar Laras akhirnya, suaranya agak serak. "Dan USG minggu depan. Jangan terlalu cepat bahagia sebelum ada bukti."

"Bu Laras sendiri menangis," protes Andien.

"Aku dokter. Menangis itu bagian dari pekerjaanku." Laras mengusap matanya dengan punggung tangan dan tertawa. "Ini hari yang aneh. Pagi hari kita menangkap pengacara di bandara, siang hari kita merayakan bayi."

Carlo mengangkat wajah. "Dien, sidang banding Om Bram bulan depan."

"Saya tahu."

"Kamu tidak harus bersaksi. Dengan kondisimu sekarang, dengan semua yang terjadi..."

"Saya akan bersaksi, Mas." Andien menatapnya mantap. "Justru karena kondisi saya sekarang. Saya tidak mau anak saya tumbuh di dunia di mana orang yang melakukan hal-hal itu bisa kembali bebas hanya karena kesaksian seorang gadis desa dianggap tidak berharga."

Carlo menatapnya lama, lalu mengangguk.

"Aku akan duduk di barisan depan."

"Mas duduk di mana pun Mas mau."

"Di barisan depan," ulang Carlo, tersenyum kecil. "Supaya kamu bisa melihat wajahku."

---

Pengadilan Tinggi dipenuhi lebih banyak orang daripada sidang pertama.

Berita tentang penangkapan Hadi Prasetyo dan rekayasa fitnah itu telah menyebar, dan wartawan yang dulu mengepung Rumah Pulang kini duduk berderet di bangku pengunjung dengan sikap yang jauh lebih berhati-hati. Dita duduk di barisan kedua, tanpa kamera, hanya buku catatan dan wajah yang tegang.

Bram duduk di kursi terdakwa dengan pengacara baru di sampingnya, seorang perempuan paruh baya berwajah dingin yang dikenal karena kemenangannya di kasus-kasus banding yang tampak mustahil. Rambut putih Bram tertata rapi, jas tahanan telah diganti pakaian sipil sederhana. Ia tidak menoleh ke mana pun. Matanya hanya menatap meja di depannya.

Andien dipanggil sebagai saksi pukul sepuluh lewat dua puluh.

Ia berjalan ke kursi saksi dengan kebaya putih gading dan sanggul rendah, tangan kiri sesekali menyentuh perutnya yang belum menunjukkan apa pun. Langkahnya pelan dan tegak. Ketika ia melewati barisan depan, Carlo menatapnya, dan Andien membalas dengan anggukan kecil.

Jaksa penuntut membuka dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana: nama, asal, hubungan dengan terdakwa. Lalu tentang malam di sungai, tentang rekaman di paviliun, tentang rumah di Menteng. Andien menjawab satu per satu, jelas, tanpa berlebihan. Beberapa kali hakim mengangguk pelan.

Kemudian giliran pengacara pembela berdiri.

"Saudari Andien Suparman." Perempuan itu tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Anda mengaku mengenal Carlo Prasetia hanya beberapa minggu sebelum menikah dengannya?"

"Benar."

"Dan Anda menikah dengannya secara diam-diam, di tempat terpencil, tanpa wali dari keluarganya?"

"Ibu saya hadir. Dua saksi dari desa saya hadir. Penghulu hadir."

"Tapi tidak ada satu pun keluarga Pak Carlo yang hadir. Dan beliau saat itu sudah beristri."

"Saya baru mengetahuinya kemudian."

"Kapan?"

"Sebulan setelah pindah ke kota."

"Dan setelah mengetahuinya, Anda tidak segera pergi?"

Andien terdiam sebentar. Di barisan depan, jemari Carlo mengencang di lututnya. "Saya tidak segera pergi," katanya jujur, "karena saya terlalu takut dan terlalu bodoh. Saya mencintai seseorang yang berbohong kepada saya, dan saya masih ingin mendengar kebenaran dari mulutnya sendiri."

Gumam pelan merambat di ruang sidang.

"Jadi Anda mengakui bahwa Anda bertahan demi keuntungan finansial?"

"Keberatan, Yang Mulia," sela jaksa. "Pertanyaan menggiring."

"Diterima. Silakan ulangi dengan bentuk lain."

Pengacara itu mengangguk, lalu menatap Andien dengan mata yang kini lebih tajam. "Saudari Andien. Anda sedang mengandung?"

Hening. Beberapa kepala menoleh. Jaksa mulai berdiri, tetapi Andien mengangkat satu tangan kecil.

"Iya, Bu."

"Berapa minggu?"

"Enam minggu, kata dokter."

"Dan anak itu adalah anak Carlo Prasetia, pewaris Prasetia Group, yang kini kembali memimpin perusahaan dengan nilai triliunan rupiah?"

"Iya."

"Maka bisakah kita simpulkan," pengacara itu melangkah satu langkah ke depan, suaranya merendah dan halus, "bahwa kesaksian Anda hari ini dipengaruhi oleh kepentingan Anda sendiri? Bahwa menjatuhkan Pak Bramantyo menguntungkan posisi Anda dan calon anak Anda di keluarga Prasetia?"

Ruang sidang menahan napas. Andien menatap perempuan itu lekat-lekat. Di benaknya, ia melihat sungai, gubuk bambu, kebun kangkung, dan seorang ibu tua yang berkata, *tahan, tarik, jangan lepas.*

"Bu," katanya pelan, "boleh saya jawab dengan cerita?"

Pengacara itu ragu, lalu melirik hakim. "Dengan izin Yang Mulia."

"Silakan, Saksi. Singkat saja."

Andien menarik napas.

"Pada suatu malam hujan, saya menemukan seorang lelaki tergeletak di tepi sungai. Saya tidak tahu siapa dia. Saya tidak tahu dia kaya atau miskin. Saya tidak tahu dia punya istri atau tidak, punya musuh atau tidak." Suaranya tenang, tidak bergetar. "Saya hanya tahu dia masih bernapas. Dan kalau saya meninggalkannya, dia akan mati."

Ia menatap Bram. Untuk pertama kalinya hari itu, pria tua itu mengangkat wajah.

"Saya tidak punya kepentingan apa pun malam itu. Dan hari ini pun tidak. Kalau saya menginginkan keuntungan, saya sudah diam sejak awal. Saya tidak perlu mendatangi istri sah suami saya dan mengaku. Saya tidak perlu merekam percakapan yang bisa membahayakan nyawa saya. Saya tidak perlu masuk ke rumah penuh gas untuk menyelamatkan empat puluh orang yang bahkan tidak saya kenal namanya."

Ia kembali menatap pengacara itu.

"Saya hanya orang yang tidak sanggup membiarkan orang lain mati. Itu saja motif saya."

Hening.

Lama sekali.

Dari bangku pengunjung, terdengar sebuah isakan pendek yang cepat-cepat ditutup, entah milik siapa.

---

Pengacara itu membuka mulut, menutupnya lagi, lalu melirik berkas di tangannya tanpa benar-benar membaca.

"Tidak ada pertanyaan lagi, Yang Mulia."

"Saksi boleh kembali ke tempat duduknya."

Andien berdiri, dan saat itulah Bram, yang selama ini membisu, tiba-tiba mengangkat tangan.

"Yang Mulia."

Semua kepala menoleh. Pengacaranya mencondongkan tubuh, berbisik cepat, tetapi Bram menggeleng.

"Saya ingin bicara."

"Terdakwa, sebaiknya Anda berkonsultasi dulu dengan penasihat hukum Anda," kata hakim hati-hati.

"Saya sudah berkonsultasi dengan diri saya sendiri selama enam bulan, Yang Mulia." Bram berdiri perlahan, tubuhnya yang dulu besar kini tampak menyusut. Tangannya, yang gemetar halus, bertumpu di meja. "Saya mohon izin menarik permohonan banding saya."

Ruang sidang meledak oleh gumam kaget. Pengacara Bram berdiri setengah, wajahnya pucat. "Pak Bramantyo, ini tidak..."

"Saya tahu apa yang saya lakukan." Bram menoleh pada perempuan itu, lalu kembali pada hakim. "Seorang perempuan hamil baru saja bersaksi di depan saya bahwa dia tidak sanggup membiarkan orang mati. Dan saya, yang menyaksikan kakak saya sendiri meninggal tanpa mengangkat telepon, terlalu malu untuk melanjutkan perkara ini."

Hakim menatapnya lama. "Anda yakin?"

"Lebih yakin daripada saya pernah dalam hidup saya." Bram menarik napas panjang. "Saya melakukan kejahatan. Saya mencoba menutupinya dengan fitnah. Saya menyuruh orang menyakiti keluarga orang lain. Saya tidak pantas mendapat kesempatan kedua. Tapi saya masih bisa menolak menambah dosa."

Ia menoleh ke barisan depan, dan matanya bertemu mata Carlo.

"Kamu tidak perlu memaafkanku, Nak. Ayahmu juga tidak minta itu. Aku hanya ingin menepati satu hal yang kakakku minta, walaupun terlambat." Suaranya pecah. "*Jaga Carlo.* Dengan cara ini, hanya ini yang bisa kulakukan."

Carlo tak bergerak. Wajahnya, yang biasanya terlatih untuk menyembunyikan segalanya, kini terbuka seluruhnya. Ia mengangguk perlahan, sekali, dua kali.

Hakim mengetuk palu dengan pelan.

"Permohonan penarikan banding dikabulkan. Putusan Pengadilan Negeri berkekuatan hukum tetap." Ia berhenti sejenak. "Sidang ditutup."

---

Di koridor pengadilan, kerumunan wartawan terbelah memberi jalan ketika Bram digiring keluar oleh dua petugas.

Ia berhenti di depan Andien.

"Nak."

"Pak."

"Berapa bulan lagi?"

"Tujuh, Pak."

Bram mengangguk, matanya basah. "Aku tidak akan di sini untuk melihatnya lahir." Ia menarik napas dalam-dalam. "Tapi kalau suatu hari kamu mau, dan kalau Carlo mengizinkan, bawa dia sekali saja. Bukan supaya aku dimaafkan. Hanya supaya dia tahu bahwa pamannya yang jahat pernah belajar sesuatu."

Carlo, yang berdiri di belakang Andien, melangkah maju.

"Kalau dia sudah cukup besar untuk mengerti," katanya pelan, "aku akan membawanya sendiri."

Bram memejamkan mata. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Hanya mengangguk, dan membiarkan dirinya dituntun pergi dengan langkah pelan, punggungnya tegak untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan.

Di luar, di tangga gedung, sinar matahari siang menimpa wajah mereka. Laras sudah menunggu di sana dengan Bu Rukmini, yang datang dari desa pagi-pagi sekali dengan membawa bungkusan kecil berisi jamu bikinan sendiri.

"Dien," bisik Bu Rukmini, menggenggam kedua tangan putrinya. "Nanti malam kamu minum ini. Ibu sudah tahu dari Laras."

"Ibu sudah tahu?"

"Perempuan itu meneleponku sebelum sidang. Dua kali." Bu Rukmini mendengus, tetapi matanya sudah basah. "Seharusnya kamu yang menelepon dulu."

"Maaf, Bu. Dien mau kasih kejutan."

"Kejutan apa, sudah tiga hari Ibu mimpi ada bayi di bale-bale." Bu Rukmini menepuk pipinya, lalu memeluknya erat-erat, tak peduli puluhan wartawan yang memotret dari bawah tangga.

Carlo berdiri di samping mereka, tangannya yang tadi menggenggam jemari Andien kini perlahan bergerak, dan dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia meletakkan telapak tangannya di punggung Bu Rukmini, ikut memeluk dua perempuan itu sekaligus.

Di kejauhan, jauh di balik atap-atap kota, awan putih bergerak pelan di atas langit yang biru bersih. Tak ada badai. Tak ada sungai yang meluap. Hanya hari biasa yang berjalan, dan tujuh bulan yang menunggu di depan.

"Nama," kata Bu Rukmini tiba-tiba, melepas pelukan dan menatap menantunya. "Sudah kepikiran?"

Carlo terdiam. "Belum, Bu."

"Kalau laki-laki, jangan nama kota. Kalau perempuan, jangan nama bunga yang cepat layu."

"Baik, Bu."

"Dan jangan nama keluarga yang berat-berat," tambah Bu Rukmini sambil menyipitkan mata. "Anak itu lahir di rumah yang menyambut orang pulang. Namanya harus ringan, supaya gampang dipanggil dari jauh."

Andien tertawa, tawa lepas dan jernih yang membuat beberapa wartawan menoleh. Di sampingnya, Carlo tersenyum, dan Laras, yang berdiri sedikit terpisah, menunduk dengan senyum kecil yang tak sepenuhnya ia sembunyikan.

*Ringan,* pikir Andien, memeluk perutnya dengan satu tangan.

*Supaya gampang dipanggil pulang.*

---

*Bersambung ke Bab 31...*

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!